Pythia Andromeda Alexa, terdampar di sebuah pulau dalam dunia paralel. Ia mengalami hilang ingatan sampai kedatangannya dikaitkan sebagai titisan Dewi Yunani karena warna kulit putihnya yang bercahaya. Mereka percaya jika dengan menikahi Pythia bersama sang raja, akan membawa cinta dan kebahagiaan untuk alam semesta.
Pertemuan pertama memberikan kesan menarik saat bermalam bersama di dalam gua, di tengah badai besar, Pythia dan Xavier merasakan kehangatan.
Dapatkah ramalan kebahagiaan itu benar-benar terjadi saat cinta diantara keduanya mulai bersemi? Atau kehancuran yang akan tiba. Lalu bagaimana dengan kehidupan Pythia yang sebelumnya, yang jelas-jelas ia sudah bertunangan? Simak kisahnya yang penuh misteri dan cinta bergelora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meldy ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
Baru ini kali pertama, Xavier mencicipi teh manis serta makanan ringan buatan Pandora. Meskipun pernikahannya sudah berlangsung dua bulan, tetapi keduanya masih terlihat seperti orang asing yang hanya sekedar berteman. Status menikah, tetapi menjalani kehidupan secara pribadi.
"Tehnya lumayan pas. Aku pun tidak begitu suka kalau terlalu manis. Um, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini, Pandora. Pythia sedang menungguku, sebentar lagi akan gelap, jadi maaf kalau terkesan buru-buru," tolak Xavier secara halus.
"Ya tidak apa-apa. Aku sangat mengerti, tapi setidaknya habiskan teh manisnya dulu, Xavier. Kau mungkin tidak akan sering lagi ke sini, jadi daripada terbuang sia-sia."
"Pasti, akan aku habiskan," sahut Xavier sembari menghabisinya dengan sekali tegukan.
Pandora tersenyum seraya menunggu reaksi dari obat yang sebentar lagi akan berjalan. Dengan tenang Xavier bangkit dari duduknya, namun di langkah pertama ia mulai merasa pusing hingga pandangannya terlihat kabur.
Seketika Xavier terjatuh ke dalam rangkulan Pandora, saat wanita itu sudah siap siaga.
"Bagus sekali, Xavier. Aku mungkin tidak bisa mendapatkan cintamu, tapi aku mungkin bisa mendapatkan dirimu malam ini," gumam Pandora sembari menarik tubuh Xavier untuk tidur di atas ranjangnya.
Mengunci pintu kamarnya dari luar, lalu Pandora bergerak ke ruangan pribadi milik Frederick dengan sangat berhati-hati.
"Ke sini sebentar," bisik Pandora dengan bahasa isyarat menggunakan tangannya.
Frederick segera menarik Pandora masuk setelah memastikan tidak ada yang melihat gerak-gerik mereka berdua.
"Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Frederick yang merasa kebingungan seraya terus memutar balikan tubuh Pandora agar bisa memastikan keadaannya.
"Bodoh, bukan aku! Kau ini! Sekarang Xavier berada di dalam kamarku, dan dia sudah terlelap karena aku sudah memberikan obat tidur untuknya. Tapi, saat ini Pythia pasti sedang menunggu Xavier di lapangan kuda. Katanya ia ingin belajar menunggangi kuda. Sebaiknya bantulah aku agar wanita itu mengira Xavier benar-benar datang," pintanya.
"Maksudnya aku, begitu? Tidak, Pandora. Bagaimana kalau sampai Baron tahu kalau yang datang bukanlah majikannya, melainkan diriku? Kau tahu sendiri kalau Baron sialan itu selalu saja mengekor kemanapun Xavier pergi. Aku bisa digantung hidup-hidup. Sudahlah ini sangat menyulitkan, aku tidak mau, kau saja!"
"Mana mungkin aku! Hei, aku seorang wanita, dan kau orang yang cocok. Lagi pula katamu ingin membantuku, tapi sekarang kau sudah mulai menyerah. Ayolah ... Frederick ... please! Aku mohon bantu aku sekarang. Setelah itu aku akan berjanji melakukan yang kau inginkan, apapun itu."
"Kau serius?" tanya Frederick yang berusaha memastikannya terlebih ia mulai tersenyum nakal.
"Iya serius! Tapi, wajahmu ini pasti sedang berpikir mesum, ya?"
"Enggak! Udahlah, aku menolak untuk membantumu."
"Eh jangan ... iya deh iya ... janji apapun itu akan aku lakukan sesuai perintahmu," sahut Pandora sembari mengulurkan jari kelingkingnya.
Menerima kesepakatan Pandora, Frederick mulai beraksi untuk pertama kalinya, ia berusaha membuat Baron sibuk dengan meminta pertolongan dari penyusup agar keadaan istana kacau balau.
***
Hari mulai gelap, namun sejak sore hari Pythia sudah menunggu lama kedatangan Xavier seperti janjinya. Ia terus menatap ke arah kuda yang sedang bersantai.
Membuat Pythia tidak menyadari jika keadaan istana sedang kacau balau, bahkan Baron sedang bermain pedang dengan sangat lincah.
Keberadaan lapangan kuda yang sedikit jauh dari istana utama, membuat Pythia sama sekali tidak berpikir tentang hal yang buruk, terlebih ia sudah sepenuhnya percaya kepada seluruh penghuni istana, namun terkecuali dengan Frederick.
Duduk dengan memeluk kedua lututnya, sampai rasa kantuk mulai berdatangan, tetapi lagi-lagi Pythia masih terus menunggu hingga ia tidak tersadar tertidur lelap di tempat itu sampai larut malam.
Terbangun saat rintik-rintik hujan mulai turun membahasi tubuhnya. Pythia berusaha berteduh dengan perasaan penuh kekecewaan.
"Apa mungkin Xavier tidak serius untuk membantuku belajar berkuda? Padahal, dia sudah berjanji, tapi aku berharap dia mau datang meskipun larut malam, aku akan tetap menunggunya di sini," gumam Pythia.
Hujan mulai turun semakin lebat, sampai membuat Pythia tidak bisa kembali ke dalam istana dengan cepat. Ia merasa sangat kedinginan hingga berusaha menyelimuti tubuhnya meskipun tidak cukup hangat.
Namun tiba-tiba, sebuah jubah dengan aroma tubuh Xavier mulai menyelimuti tubuhnya dari arah belakang. Pythia berpikir jika itu suaminya, sampai ia berusaha memberi pelukan dengan sengaja.
"Aku tahu kalau kau pasti akan datang menemui ku, Xavier. Tidak apa-apa, aku tidak akan marah, pasti kau memiliki banyak tugas di istana kerajaan, kan?" tanya Pythia yang masih berada di dalam pelukan.
"Tenanglah, aku di sini sekarang untukmu," sahut Frederick dengan suaranya yang berusaha ia coba menyamarkan suara Xavier, namun masih sangat terlihat berbeda.
Menyadari ada keanehan, segera membuat Pythia melepaskan pelukan sembari dengan jubah pemberian dari Frederick.
"Kau bukan Xavier! Siapa kau?" tanya Pythia saat ia merasa kesulitan melihat wajah pria itu dalam kegelapan.
Dengan perlahan Frederick mulai menyinari wajahnya langsung dengan cahaya sebelum berucap. "Akhirnya aku pun ketahuan."
"Kau Frederick? Lalu di mana Xavier sekarang? Apa jangan-jangan kau sudah melakukan sesuatu padanya? Katakan di mana suamiku berada?!" tanya Pythia dengan penuh amarah. Hingga membuatnya memukul Frederick berkali-kali.
Namun sayangnya, pukulan Pythia yang sama sekali tidak membuat Frederick kesakitan, justru tangan wanita itu yang berusaha ia genggam dengan erat.
"Tidak penting Xavier ada di mana sekarang, tapi yang jelas kau sekarang bersamaku, Pythia. Bahkan kau berusaha berbohong atas titisan dewi, hah! Aku baru tahu ternyata manusia asing satu ini sangat pintar berbohong, ya."
"Apa maksudnya? Aku bahkan tidak tahu yang sedang kau bicarakan, tapi yang jelas sekarang katakan di mana Xavier berada? Aku pasti akan memberitahukan niat buruk mu kepada Baron! Lihat saja!" ancam Pythia yang ingin berlari pergi.
Namun dengan cepat, Frederick berusaha menggendong tubuhnya dan segera membawa wanita itu pergi.
"Turunkan aku, Frederick! Aku mau turun!" Pythia terus berusaha berontak sembari memukul punggung pria itu saat kepalanya berada di belakang.
"Mau sampai suaramu hilang berteriak pun, tidak akan ada yang bisa mendengarnya karena seisi istana sedang kacau dengan kedatangan penyusup," sahut Frederick dengan sangat santai.
"Sialan! Kau seorang iblis! Aku tidak mau denganmu!"
"Ya ampun ... buat telingaku lelah saja," keluh Frederick sembari membawa Pythia turun saat mereka ingin naik ke atas tangga.
Berusaha menarik tangan Pythia untuk ikut naik tangga, namun justru wanita itu terus meronta-ronta sampai tidak menyadari keseimbangan kakinya tidak tepat menginjak anak tangga.
Begitupun dengan Frederick yang tidak mau tahu, yang terpenting ikut dengannya. Hingga dengan sengaja Pythia mengigit tangan pria itu dengan keras, namun ternyata ia tidak sadar kakinya mulai salah menginjak anak tangga.
Membuat Frederick lepas kendali untuk berpegangan erat, sampai Pythia berguling-guling jatuh ke bawah sana.
Seketika Frederick terdiam mematung saat melihat darah segar mulai mengalir dari kepala Pythia, ia mulai merasa ketakutan hingga membuatnya berlari dan meninggalkan Pythia dalam keadaan tidak sadarkan diri.
aduh ga sabar sayaa
eh rupanya udah up thor