Shasa Ernita, gadis Desa yang baru berusia 19 tahun yang hidupnya biasa-biasa saja, tidak populer. Bahkan sering dapat ejekan, karena ia memiliki tubuh yang gendut. Akan tetapi ia tetap percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang seperti itu. Bahkan ia memiliki tekad kuat kalau dirinya akan menjadi orang yang sukses.
Dengan hanya berbekal sebuah ijazah SMA saja. Shasa memberanikan diri untuk mengadu nasib ke kota. Dan tidak disangka-sangka, ia malah diterima kerja disebuah perusahaan yang cukup besar. Walaupun ia cuma hanya sebagai OB, namun ia tetap selalu bersyukur.
Akan tetapi semenjak Shasa bertemu dengan seorang pria tampan, yang ternyata adalah CEO. Membuat ia tak betah lagi untuk bekerja disana. Sebab ia selalu mendapatkan perlakukan yang aneh dari bosnya. Membuat ia jadi merasa kalau bos sedang mempermainkan dirinya. Akankah ia bisa keluar dari perusahaan bosnya itu?
Yuk, ikuti cerita Author Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya ya Guys...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAKI-LAKI MESUM.
Satu Minggu kemudian.
Setelah mengetahui kejahatan Weni dan Hilda. Sikap Shasa langsung berubah kepada kedua rekan kerjanya itu. Namun ia tak menyangka kalau keduanya malah dipecat secara mendadak. Padahal yang mengetahui kalau kedua rekannya itu, orang yang licik hanya dia, menurutnya. Dan hal itu membuat ia jadi penasaran, apa penyebab mereka di pecat. Dan disaat ia masih memikirkan kedua rekan kerjanya itu tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
"Permisi Nona," ucap pria itu, membuat Shasa langsung tersentak.
"Eh! Pak Verri?!" Sentak Shasa dan dengan spontan ia langsung bangkit dari duduknya. Padahal ia terlihat hendak makan siang bersama rekan kerjanya yang lainnya.
"Ada apa Pak?" Tanyanya lagi terlihat penasaran.
"Begini Nona, saya di titah oleh pak CEO untuk memanggil Anda. Dan beliau sudah menunggu Anda diruangannya," balas Verri dengan sopan.
"Ah.. a-ada apa Pak CEO memanggil saya Pak?" Tanya Shasa langsung gugup. Terlihat sekali kalau ia sedikit takut.
"Saya juga tidak tahu Nona, sebaiknya Anda ikut saya keruangan beliau. Mari Nona," balas Verri, terlihat sedikit mendesak Shasa agar segera ikut dengannya.
"Baiklah Pak, mari," kata Shasa tampak pasrah. Dan ia pun langsung mengikuti langkah Verri yang terlihat sudah lebih dulu berjalan menuju ke lift.
Selama di dalam lift, Shasa terlihat gelisah. Dan Verri tahu apa penyebab gelisahnya. Namun ia berpura-pura tidak tahu, karena sebenarnya setiap langkahnya sedang diawasi oleh bosnya. Dan tak berapa lama pintu lift pun terbuka. Verri pun kembali melangkah duluan dan tentu saja Shasa langsung mengikutinya dari belakang. Lalu mereka langsung berjalan menuju ke sebuah ruangan yang sudah pasti itu ruangannya Brian. Setibanya di depan pintu, Verri pun langsung mengetuk pintunya dan tak lama terdengar seruan dari dalam.
"Masuk!" Verri pun langsung membuka pintu tersebut.
"Silakan masuk Nona," katanya setelah pintu terbuka.
"Eh! Apakah Pak Verri tidak ikut masuk?" Tanya Shasa, terlihat begitu enggan untuk memasuki ruangan Bosnya itu.
"Maaf Nona! Saya ada tugas lainnya. Jadi sebaiknya Anda segera masuk," balas Verri, sambil tangannya mempersilahkan Shasa untuk masuk.
"Aah.. baiklah!" Ucap Shasa. Lalu dengan langkah kaki keterpaksaannya, akhirnya ia pun memasuki ruangannya Brian. Dan tampaklah olehnya Brian yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan pandangan terlihat sedang fokus pada layar laptopnya.
"Pe-permisi Pak, a-apa benar Anda memanggil saya?" Tanya Shasa, dengan posisi berdiri tepat di depan pintu yang telah ditutup kembali oleh Verri dari luar.
"Kamu sudah datang? Kalau begitu kemarilah, temani aku makan siang," balas Brian, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung melangkah menuju kesebuah sofa, yang berada di ruangan itu juga. Dan ternyata di meja yang berada di tengah-tengah susunan sofa, sudah dipenuhi berbagai macam makanan. Membuat Shasa yang meliriknya sedikit tergiur.
Namun ia langsung mengalihkan pandangannya dan langsung menundukkan wajahnya, seraya berkata, "Maaf Pak, rasanya tidak pantas, seorang OB duduk disana. Jadi saya disini saja Pak,"
Brian menyunggingkan senyuman tipisnya, karena ternyata ia tadi sempat melihat Shasa, sempat menelan air liurnya saat melihat makanan yang ada di meja.
"Ooh.. sepertinya kamu ingin aku mengendong kamukan? Baiklah Aku akan turuti keinginan kamu," kata Brian, seraya ia bangkit dari sofa yang baru saja ia duduki.
Mendengar perkataan Brian, Shasa langsung kaget, "Eh! Tidak-tidak Pak! Bukan seperti itu. Sa-saya..." Balas Shasa, yang terlihat ia mulai kelagepan saat melihat Brian mulai melangkah kearahnya.
"Eh! Sa-saya akan kesana sendiri Pak!" Lanjutnya, dan ia pun langsung bergegas menuju ke sofa. Bahkan ia langsung duduk di sofa tunggal yang terletak paling sudut.
Brian pun tersenyum smrik saat melihat wajah ketakutannya Shasa. "Heh.. mengemaskan sekali sih dia," gumamnya seraya ia berjalan kembali ke Sofanya. Lalu ia pun duduk disalah satu sofa yang terlihat paling panjang.
"Duduklah di sini Shasa," katanya terdengar lembut. Seraya ia menepuk sofa tepat di sampingnya.
"Tidak Pak saya disini saja!" Balas Shasa, yang terlihat ia tetap bersikeras untuk duduk di tempatnya saat ini.
"Hmm.. seperti kamu lebih suka, sesuatu yang dipaksa ya? Oke, aku akan memaksa kamu!" Kata Brian, seraya ia menarik tangan Shasa secara tiba-tiba. Membuat tubuh Shasa yang tidak punya kesiapan langsung mengikuti oleh tarikannya. Dan seketika ia sudah berada di pangkuannya Brian.
"A-apa yang Anda lakukan Pak! Tubuh saya sangat berat!" Ujar Shasa, seraya ia bermaksud ingin bangkit dari pangkuannya Brian. Namun usahanya sia-sia. Karena Tangan Brian kembali menahan tubuhnya, dengan cara melingkarkan tangannya di perut Shasa yang lumayan besar.
"Kata siapa kamu berat? Ini sama sekali tidak berat. Begini justru sangat nyaman," balas Brian, sambil mencium tengkuknya Shasa yang tertutup oleh hijabnya.
"Aah.. turunkan Saya pak! Justru saya yang tidak nyaman!" Seru Shasa sambil berusaha melepaskan jeratan tangannya Brian yang masih melingkar di perutnya.
"Baiklah, tapi kamu harus tetap duduk disampingku, oke?"
"Oke, tapi lepas tangan Anda dari perut saya Pak!"
"Baiklah sekarang duduklah dengan nyaman," kata Brian, yang akhirnya ia menurunkan tubuh Shasa, dan duduk tepat disampingnya.
"Sekarang kita makan ya? Karena aku sudah lapar sekali," kata Brian, yang kemudian ia mengambil sendok dan kemudian ia menyendokkan makanan yang ada dihadapannya. Setelah sendok telah berisi makanan, ia pun langsung menyodorkan sendok itu kemulutnya Shasa.
"Eh! Saya bisa makan sendiri Pak! Jadi Anda tidak perlu menyuapin saya!" Kata Shasa seraya ia menggeser sedikit tubuhnya agar sedikit menjauh dari Brian.
"Apa perlu, saya menyuapkan kamu pakai mulut saya sendiri, hm? Baiklah kalau itu mau kamu, say.."
Mendengar perkataan dari sang bos, dengan spontan Shasa langsung melahap, isi sendok yang disodorkan oleh Brian. Karena ia tahu, bosnya itu orangnya tidak main-main dalam perkataannya.
"Hmm.. anak yang penurut. Begitu dong dari tadi, sayakan tidak harus memaksa kamu," katanya, sambil ia menyendokkan kembali makannya. Namun kali ia ia masukkan kedalam mulutnya sendiri. Membuat Shasa yang melihatnya langsung tersedak, sebab ia tak menyangka, Brian tak merasa jijik karena telah memakai sendok yang sama dengannya.
Uhuk, huk..uhuk..huk..!
"Eh, minumlah air putih ini, Shasa," kata Brian seraya ia menyodorkan segelas air putih pada Shasa. "Kenapa bisa ter sedak sih? Kayak anak kecil saja kamu makan," lanjutnya seperti meledek Shasa.
"Aah.. ini semua gara-gara Bapak tau! Kenapa anda memakai sendok yang bekas saya? Itukan jorok Pak!" Balas Shasa, yang tampaknya ia tak suka dikatakan seperti anak kecil.
"Eh! Kok gara-gara saya? Emangnya kenapa, kalau kita memakai sendok yang sama, hm? Bukankah itu bagus ya? Atau kamu lebih suka aku langsung lewat mulut kamu," kata Brian, yang tiba-tiba saja, ia langsung meraih bibirnya Shasa. Membuat mata Shasa langsung membulat sempurna. Dan ketika sadar ia pun langsung mendorong tubuh Brian dan..
PLAAK!!
"Dasar laki-laki mesum! Saya benci Anda!!"
mau nanya nih tor... ada beberapa kosakata yg bisanya itu sering terdengar di Sumbar... apa dirimu dari sana y...semangat nulis y👍🫰
tetap menjadi sasha yang sederhana
kisah emaknya hanya pas dirawat di RS saja.selanjutnyq tidka pernah dikeluarkan lagi...
terus semangat berkarya thor 🥰🥰🥰
semangat💪