Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja mengetahui kalau Awan sudah kehabisan uang
Awan tetap ngotot akan membeli sesuatu buat Mama Senja, padahal uangnya belum tentu cukup. Senja tau harga barang di sekitar tempat yang mereka singgahi itu mahal-mahal semua maka ia melarang Awan untuk membelinya.
"Gak usah deh Mas, simpan aja uang mu," sahut Senja menolak dengan halus.
"Gak apa-apa Senja aku iklas kok," ujar Awan.
"Ya sudah terserah kamu saja. Kamu mau belikan Mama apa aja boleh deh, Mama pasti suka kok pemberianmu dan akan menerimanya," ujar Senja.
Awan pun singgah di toko kue ia akan membelikan Mama Senja kue sebagai oleh-oleh. Senja kasian pada Awan karna ia berusaha untuk jadi yang terbaik buat dirinya padahal sisa uang Awan tinggal sedikit lagi, belum lagi mau bayar bensin. Senja mengetahui saat Awan di toilet ia mengintip isi dompet Awan di laci mobil yang entah sengaja atau tidak ia simpan di situ, Senja diam-diam sudah membuka dompet tersebut untuk memastikan ada atau tidak ya Awan punya uang dan Senja tertawa saat melihat isinya yang tinggal recehan.
Diam-diam Senja ikut turun ia memberi tips pada pelayan di toko kue tersebut, agar memberi Awan dengan harga murah. Senja berhasil keluar dengan diam-diam seolah-olah tidak tau apa-apa.
"Sayang ini kue Mama," ucap Awan sambil memberikan sekotak kue pada Senja.
"Oh sudah ya," ucap Senja pura-pura sibuk sendiri.
Senja bernapas lega karna bisa membantu Awan.
Setelah itu mereka pun pulang.
Untung aja kue nya gak terlalu mahal, jadi cukuplah buat sekotak kue buat Mama Senja, batin Awan lega.
Senja melirik kearah Awan dengan tatapan iba, ia berniat akan menawari awan kartu kredit yang tidak di pakainya tapi ia bingung bagaimana caranya ngomong, karena ia takut Awan tersinggung. Senja sibuk dengan pikirannya ia memikirkan bagaimana caranya membantu Awan.
"Kamu kenapa diam Say?" tanya Awan melirik Senja.
"Em aku perlu bantuan mu, kamu mau belikan aku sesuatu gak di supermarket itu," tunjuk Senja di sebuah supermarket di seberang jalan.
"Iya boleh, emang kamu mau beli apaan?" tanya Awan sedikit gugup karna ia sudah tidak punya uang lagi.
"Aku cuma mau beli tisu dan beberapa Snack aja kok, ini kartu kredit aku kamu pakai aja, kamu yang belinya ya, karna aku capek mau jalan," ucap Senja beralasan ia memberikan kartu kardnya dan menyebutkan kata sandinya pada Awan. Awan jadi tidak enak tapi ia terpaksa menerimanya karena di dompetnya tinggal beberapa ribu lagi mana mungkin cukup untuk membeli benda tersebut.
Hugh malu-maluin, inilah nasib orang kere. Masa cuma mau beli Snack aja gak ada duit sih, lirih Awan merasa malu sendiri pada dirinya. Ia pun turun dan pergi ke supermarket seberang jalan sedangkan Senja hanya menunggu di mobil.
Awan pun selesai membeli ia mengembalikan kartu kredit Senja. Namun, Senja menyodorkan kartu kredit itu kembali pada Awan.
"Itu Kartu kredit lama aku, kamu pegang aja ya!" pinta Senja.
"Nggak-nggak! aku tidak butuh. Ambil saja," tolak Awan ia tau jumlah uang di kartu itu tidak sedikit ia jadi tidak enak untuk menerimanya.
"Gak apa-apa Mas ambil saja, lain kali kan kalau kita jalan kita bisa gunakan itu karena biasa aku sering lupa bawa dompet kalau kemana-mana. Pliss gak apa-apa kamu pegang aja ya, itu masih ada sisa uang sedikit, tapi cukup buat kita makan satu dua kali buat cadangan saja," jelas Senja.
Senja memasukan kartu kredit itu di saku baju Awan dan Awan tidak bisa menolak lagi karna Senja terus memaksa. Awan jadi sungkan dan serba salah ia merasa tidak enak.
Pasti Senja tau kalau aku sudah tidak punya uang lagi duh malunya, batin Awan sambil meraba dompetnya dan ternyata dompetnya tidak ada di saku celana dan ada di laci mobil. Kenapa dompet aku jadi keluar begini? pantas aja Senja tau kalau aku gak punya duit di dompet ini kan tinggal beberapa ribu uang lagi. Aku kok bisa lupa sih simpan dompetnya. Seketika itu raut Awan berubah pucat dan gugup bercampur malu juga.
"Mas Awan, Mas ... kamu kok bengong ayo jalan ...!" pinta Senja menyadarkan Awan dari lamunannya.
"Oh iya. Ayo!" ucap Awan terbelalak.
"Senja kita langsung pulang aja ya?" ucap Awan.
"Iya makasih ya sudah membelikan Snack, Snack nya enak aku suka," ucap Senja sambil tersenyum menatap Awan.
"Hem sama-sama." Awan tidak enak hati pada Senja dan ia malu banget karna tidak bisa membelikan Senja dengan uangnya sendiri dan Senja mengetahuinya ia mengajak Awan mengobrol untuk menghilangkan ketegangan pada raut Awan agar sedikit rileks.
Mereka sudah sampai di rumah Pak Agung saat itu sudah gelap lampu dirumah Senja sudah hidup Awan jadi kuatir kalau-kalau Papa dan Mama Senja marah karna telat pulang. Ternyata saat mereka datang Papa dan Mama Senja sudah ada di depan teras rumah mereka. Mereka menyambut kedatangan Awan dan Senja.
Awan pun bernapas lega ternyata orang tua Senja pada baik-baik semua, mereka tidak membahas masalah telat pulang. Malah, Papa dan Mama Senja mengajak Awan masuk dan mengobrol dengan mereka. Namun, Awan saja merasa sungkan dan malu ia pun pamit pulang.
"Hati-hati ya Awan," ucap Mama Lita.
"Baik Tante, Awan pulang dulu ya Om, Tante," ucap Awan pamit sambil bersalaman.
"Makasih lho, oleh-olehnya," ujar Mama Lita lagi.
"Iya sama-sama Tante," ujar Awan berlalu di hadapan mereka. Senja melambaikan tangan pada Awan Awan pun menoleh tersenyum kearah Senja.
Awan masuk dalam mobilnya dan membunyikan klakson tanda pamitnya pada orang tua Senja.
Senja terseyum melihat kepergiannya sampai mobil Awan menghilang dari pandangan matanya.
"Senja sini!" ajak Pak Agung.
"Iya Pa ada apa?"
"Apa kamu sudah mantap dengan pilihanmu ini? maksudnya dengan Awan," tanya Pak Agung.
"Iya Pa, Senja bahagia saat bersama Awan dan Senja sudah mantap memilih Awan sebagai calon suami," ucap Senja.
"Yakin? gak salah pilih? bukan cuma dengan orangnya saja ya kamu bahagia. Tapi, kehidupan kamu juga harus lebih bahagia lagi. Papa tidak mau kamu salah memilih jodoh dan nantinya akan sengsara," jelas Pak Agung memberi pengertian pada Senja.
"Gak mungkin salah kok Pa, Mas Awan sudah cocok di hati Senja dan Senja menerima dia apa adanya," ujar Senja.
"Baiklah Papa yakin, Awan bisa membahagiakan kamu. Tapi, kok Pak Alam saat ke sini gak pakai mobil itu ya?" tanya Pak Agung tiba-tiba membahas hal lain.
"Em, mungkin mobilnya lagi di servisnya Pa," sahut Senja berbohong.
"Oya, mungkin saja itu," ujar Pak Agung mengangguk.
"Saat kamu dan Awan sudah menikah nanti kamu gak usah meneruskan kuliah kamu lagi ya," pinta Pak Agung yang tidak mau anaknya sibuk dengan dunianya.
"Lho kok gitu Pa? Senja kan masih ingin meneruskan kuliah. Senja yakin Mas Awan akan mengijinkan Senja kok," ucap Senja yakin.
"Emang apalagi yang akan kamu cari Senja? Papa dan Pak Awan sama-sama tidak kekurangan harta, jadi untuk apalagi kamu susah-susah kuliah? mau berkerja apalagi? Itu hanya membuat kamu capek Senja, dan Papa tidak mau kamu kecapean."
"Hem ... iya Pa, Senja pikirkan lagi. Senja cepek masuk dulu ya Pa," pamit Senja ia langsung pergi ke kamarnya.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir