Hawwa Ananda Putri Abizar (Hawwa) Gadis yang baru duduk di Kelas 12 memaksa menikahi Sepupu nya, Juliandra Adam Elvano.(Adam) CEO perusahaan minyak terbesar di negara nya, Meski mendapatkan banyak pertentangan, dengan segala cara akhirnya Adam menyetujui untuk menikahi nya namun hanya sebatas Istri sirri nya saja, karena ada Cinta yang lain di hati Adam.
"Aku selalu berharap bisa menjadi bunga dalam genggaman mu, yang bisa kau petik lalu kau sunting, meski aku sadari ada bunga yang lain dalam dekapanmu, walau aku tahu suatu saat aku akan tercampakkan begitu saja seperti cermin retak yang tak berharga," Hawwa.
"Hadirmu selalu ku hindari, Cintamu tak pernah ingin kumiliki, namun kepergianmu membuatku menyadari Ada ikrar suci yang tak bisa aku ingkari," Adam.
"Ya Allah, jika dia benar-benar untuk ku, dekatkan hatinya dengan hatiku, jika dia bukan milikku damai kan aku dengan ketentuanmu," Hawwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Gila.
"Ya ampun... Apakah ini yang dikatakan cinta kolam renang itu?'' ledek Boy, namun sesaat kemudian ia mendapat tatapan tajam dari Adam, yang membuat nya susah menelan Saliva.
Glek.
''Kau juga, Siapa suruh tidak bisa berenang kau itu kan laki-laki, Bagaimana jika suatu saat anak atau istrimu ada yang tenggelam Apa kau akan diam saja melihatnya? seharusnya kau belajar dari pengalaman yang sudah ada?'' Ucap Boy kembali meng ingatkan.
"Aku sudah berusaha Boy, Aku sudah berusaha melawan rasa takutku, tapi aku tidak bisa, dan kau tahu ini semua itu gara-gara siapa?" Boy hanya mengidikkan kedua bahunya sebagai isyarat Jika ia tidak mengerti dan tidak mengetahui.
"lni semua karena Hawwa" tutur Adam menatap jauh kedepan.
"What…? Hawwa…? Memangnya apa hubungannya dengan Hawwa?" tanya nya mulai penasaran. Adam pun menarik napas sebelum ia memulai cerita nya.
"Dulu ketika kami kecil Aku paling suka berenang, bahkan di antara semua teman-temanku, Akulah Yang Selalu juara 1, hingga suatu saat sekolahku mengadakan perlombaan tingkat Nasional dan akulah yang terpilih untuk mewakili, saat itu Hawwa berusia 5 tahun Ia memaksa untuk ikut, Terpaksa aku pun membawanya ikut karena kedua orang tua kami juga ikut.
Hawwa adalah anak yang paling lincah, Dia tidak bisa diam, awalnya Hawwa duduk bersama kedua orang tua kami, hingga aku mulai memasuki area pertandingan, namun di saat akan start tiba-tiba saja Hawwa berteriak memanggil namaku dari kejauhan, dan kau tahu apa yang terjadi setelah dia berteriak memanggil namaku tiba-tiba saja dia terpeleset jatuh ke kolam renang yang paling dalam sontak tanpa pikir panjang lagi aku pun segera berlari untuk menyelamatkannya. Namun sayang bukannya berhasil menyelamatkannya tapi akulah yang tenggelam Karena tiba-tiba saja kaki dan perutku terasa keram hingga aku tidak bisa untuk berenang beruntung tim penyelamat segera memberikan pertolongannya untukku, Dan mulai saat itulah aku takut dengan air kolam renang, bahkan aku mulai kesal dengan Hawwa karena apapun tindakan yang ia lakukan akan membawaku ke dalam masalah seperti kemarin dia membawaku ke dalam masalah dengan menampar Alexa, sedangkan Alexa sendiri mulai menghindariku, Dia akan mulai berbicara denganku jika Hawwa datang kepadanya untuk meminta maaf secara langsung," Ucap Adam mengakhiri cerita yang begitu panjang.
Kini Boy manggut-manggut mengerti.
"Hmmm...kalau menurutku seharusnya kau jangan terlalu membenci Hawwa, biar bagaimana pun Dia itu adik sepupumu, masa lalu kalian pun sudah lama terjadi, dan tentang masalah perasaannya, mungkin karena ia masih dalam keadaan puber, apa lagi kau pernah bilang jika Hawwa tak pernah jatuh cinta pada lelaki lain, tapi aku heran darimana kau tahu jika Hawwa tak pernah bermain hati dengan lelaki lain?" tanya Boy heran.
"Alaya, Dia yang menceritakan semuanya padaku," setelah mendengar dan menceritakan permasalahan yang membuat keduanya terlibat dalam percakapan panjang di pagi hari, keduanya pun memutuskan untuk sarapan di Cafe depan kantor mereka.
*
"Boleh aku duduk di sini Kak?" Tanya Hawwa di saat melihat melihat Adam hanya duduk sendiri di kursi taman sekitar kediaman mereka.
"Silakan, tidak ada yang akan melarangmu untuk duduk dan juga tidak ada orang yang memaksamu untuk duduk di dekatku!" jawab Adam dengan datar.
"Apa kau masih marah padaku Kak,?" Adam hanya tersenyum dengan setengah bibirnya menyeringai. "Kalau memang iya, Apa pedulimu?" kembali Adam memberikan kata-kata yang pedas untuk Hawwa. Hawwa pun hanya menunduk terdiam mendengar ucapan tak bersahabat dari Adam.
"Maafkan aku, Aku tak bisa mengontrol perasaanku." Ucap Hawwa setelah beberapa saat terdiam, lalu ia pun menarik napas panjangnya.
"Untuk apa kau meminta maaf padaku? kenapa kau tidak meminta maaf padanya?" tanya Adam yang masih enggan menatap adik sepupunya itu.
"Aku yang salah, untuk itu maafkan Aku?" ucap Hawwa penuh sesal.
"Baguslah, jika kau sadar kalau kau itu memang bersalah, kau memang salah dan seharusnya meminta maaf bukan hanya padaku saja, tapi kepada Alexa juga, karena kau sudah menamparnya," terang Adam penuh penekanan.
"Tidak…! Aku tidak akan pernah minta maaf padanya karena dia memang salah" Tolak gadis itu, karena ia memang merasa tidak bersalah, bahkan menurut nya apa yang ia lakukan sangat benar.
"Apa kau tahu, keras kepalamu ini membuat semuanya hancur, kau sudah membuat hubunganku dengan Alexa berantakan!" Sentak Adam.
"Baguslah, Justru itu yang aku harapkan," ucap Hawwa tersenyum bahagia, karena telah berhasil mengacaukan hubungan Adam dengan Alexa. "Hawwa... seharusnya kau bisa berpikir dengan bijak dengan apa yang kau katakan, dan apa yang kau inginkan tidak semuanya bisa kau Dapatkan dengan sesuka hatimu" Ucap Adam mulai geram dengan tindakan Hawwa dan perkataan gadis itu.
"Apa aku salah? karena terlalu mencintaimu kak? dan bahkan rasa cintaku ini mungkin sudah tumbuh semenjak aku dilahirkan ke dunia ini," ungkap Hawwa, dengan suara menghiba ia masih berharap jika Adam berubah mencintainya juga setelah mendengar semua ungkapan perasaan nya itu.
"CK," Adam hanya berdecak kesal mendengar semuanya.
"Kau itu jangan terlalu berlebihan Hawwa! kau tidak bisa memaksakan cinta dan perasaan seseorang, karena kau tidak akan pernah bahagia di dalamnya." "Siapa bilang Aku tidak bahagia? aku akan selalu bahagia jika kau berada di sisiku Kak, untuk itu aku mohon cintai Aku" pintanya dengan tatapan sendu, dan sungguh-sungguh.
"Hawwa Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? ini sudah berulang kali kau mengatakan nya dan Aku sudah berulang kali menjelaskannya apa kau sudah gil__''
''Kak, Apa kau kira aku gila karena mencintaimu?'' sela Hawwa menjeda kalimat Adam.
''Kau tidak gila, tapi kau sakit Hawwa. Dengarkan Aku, lupakan perasaanmu itu, karena itu akan membuatmu terluka, karena aku tidak akan pernah mencintaimu, sampai kapan pun karena Aku hanya mencintai Dia, sekarang dan selamanya dan hingga nanti, Lebih baik kau segera masuk tidur! agar besok pagi kau tidak terlambat bangun" setelah berucap demikian Adam pun meninggalkan Hawwa yang tengah duduk mengepalkan kedua tangannya, hatinya begitu bergemuruh dadanya terasa begitu sesak sedangkan jantungnya seolah-olah Berhenti Berdetak saat kata demi kata yang keluar dari mulut Adam bagaikan senjata yang menghujam hingga membuatnya terdiam Tanpa Kata.
"Aku tidak akan pernah menyerah, tidak boleh. Aku akan berjuang demi cintamu Aku pun akan berjuang untuk mendapatkan dirimu Kak Adam.' Lirihnya.
Pagi.
''Adam sayang!'' seru Yumna pada putranya itu
''Iya Bunda ada apa?'' jawab Adam mendekat
''Antarkan Hawwa dulu nak!''
''Tapi Bun, Adam kan__''
''Adam mulai sekarang Ayah memintamu setiap hari mengantarkan Hawwa ke sekolah dan jangan pernah membantah apa kata ayah dan bunda!'' Sela Vano menatap datar.
''Baiklah Ayah, Bunda, Maafkan Adam, kalau begitu Adam pamit dulu Ayah, Bunda, Assalamualaikum,'' ''Waalaikumsalam kalian hati-hati di jalan ya!''
''Iya Ayah Bunda'' ucap keduanya meninggalkan Yumna dan Vano.
''Alaya? Apa kau tidak berangkat sekolah Sayang?''
''lni lagi siap-siap Bunda" jawab Alaya.
''Kenapa sih kamu tidak ingin satu mobil lagi dengan Hawwa?'' tanya Yumna menyelidik.
''Bunda, Bukannya tidak mau, tapi lebih tepatnya tidak ingin, karena sepertinya Kak Hawwa itu lebih suka diantar oleh Kak Adam, Apa Bunda mau tahu kalau Kak Hawwa itu sebenarnya menyukai Kak Adam,'' Tutur Alaya panjang lebar.
''Apa? Dari mana kau tahu?'' Yumna pun membulat kan matanya dengan sempurna sembari terkejut.
''Bunda lihat sendiri bagaimana tatapan mata kak Hawwa saat menatap Kak Adam" sejenak Yumna terdiam, dan membenarkan ucapan putrinya itu di dalam hati.
ada setangkai mawar utk mu