Sekretaris lama bernama Indira Maheswari adalah sekretaris yang memiliki kompenten tinggi walaupun penampilannya tidak menarik.Dengan kacamata super tebal dan rambut yang selalu di ikat.Indira sangat tidak menyukai bos barunya anak dari bapak Abraham yang bernama Danish Bastian Abraham karena perlakuannya yang sering membawa keluar masuk wanita cantik dan sexy di kantornya.Begitupun dengan Danish yang tidak menyukai sekretarisnya yang cupu.
Danish akhirnya terperangkap dengan sekretarisnya karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pria yang telah menghamili Indira.
yuk...guys baca dan nantikan per episodenya💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Riskiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.Kembali
Keesokan harinya, Dira makin tak berupa dengan handuk yang masih tetap melekat di tubuhnya. Entah berapa lama ia menangis meratapi nasibnya hingga membuatnya tertidur di kasur.
Dira memutuskan untuk tetap bekerja. Kalau bukan karena ibunya yang semalam menelfon, merasa senang karena kiriman darinya yaitu sebuah mesin cuci, perabotan rumah dan semua yang di inginkan ibunya.
Dira membelikannya karena gaji yang sangat cukup. Dira tidak akan pernah melupakan bagaimana ibunya berusaha menyekolahkan Dira dari masih kecil sampai menjadi sekretaris di perusahaan besar, ibunya terlihat bangga dengan Dira. Sehingga Dira tidak akan melenyapkan rasa bahagia dan bangga dari ibunya terhadap dirinya.
Jika Dira tidak memikirkan ibunya yang sekarang terlihat bahagia dan tidak bekerja lagi, karena Dira yang mengirim uang setiap bulan kepadanya. Mungkin Dira tidak akan sudi lagi menapakkan kakinya di lantai kantornya dan bertemu dengan pria yang berhasil menghancurkannya dalam waktu semalam.
Di tambah angsuran apartement dan mobilnya, mengharuskan Dira berpura-pura tidak ingat dengan kejadian malam itu. Dira harus bangkit bagaimana pun juga. Kini giliran Diralah yang membalas semua pengorbanan ibunya walaupun Dira tau tidak akan pernah cukup.
Dira menyeka air matanya yang tetap turun begitu saja. Ia berusaha menyunggingkan senyumnya walaupun hatinya terasa sesak. Dira segera bangun dari tidurnya dan bergegas mandi dengan rasa yang masih sama, yaitu perih di bagian bawahnya.
" Benar, Aku harus bangkit! Aku harus mengesampingkan rasa pribadiku. Jika aku terus- terusan begini, apa yang aku dapat? Ibuku juga akan ikut menderita! Dia pun juga tidak akan tahu kan? Bagaimana jika dia tau? Apakah dia akan memecatku? " Batin Dira menerka-nerka dan segera membersihkan tubuhnya.
...****************...
Dira mengatur nafasnya agar dirinya tidak bertambah panik. Dira masih belum turun dari mobilnya. Dira sangat takut. Apakah Danish bisa menerima kejadian malam itu? Pikiran Dira masih kalut.
Entah sampai kapan Dira terdiam di mobilnya. Dan rasa berani yang entah datang dari mana sehingga Dira akhirnya turun dari mobilnya juga. Dira merasa sangat gugup. Dira mengepalkan tangannya dengan kuat saat Dira telah sampai di depan pintu ruangan bosnya.
Akhirnya Dira juga mengetuk pintu, dan masuk. Dira berdoa semoga saja Danish tidak mengingatnya. Dira telah memantapkan hatinya agar siap di terjang kembali oleh bosnya.
Disisi lain Danish menatap Dira. Akhirnya, Dira menampakkan wajahnya di depan Danish. Danish tersenyum tipis dan Dira yang masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang terlihat panik dan menyedihkan.
" Apakah ini perusahaan nenek moyangmu?sehingga kau seenak hati tidak masuk tanpa ada kabar?" Ucap Danish menatap tajam kepada Dira yang masih menyembunyikan wajahnya.
Dira menghembuskan nafasnya kembali, Ini yang di inginkan Dira. Lebih baik Danish marah kepadanya daripada mengingat kejadian saat Danish menyicipi tubuhnya.
"Maaf pak!" Ucap Dira tetap menunduk, seakan suaranya tercekat di tengah tenggorokannya.
"Apa? maaf??? hampir saja aku gagal bekerja sama dengan klean Pt.Pluto. Karena kau yang tiba-tiba saja menghilang. Apakah kau menganggap kemarin itu hari sabtu atau minggu? Sadarlah, hari ini masih hari rabu. Jadi kau tau sendiri kemarin hari apa???" Jelas Danish menyentak Dira yang masih terdiam dengan fikiran yang melayang menuju malam pergulatannya.
" Maaf pak, saya tidak enak badan." Jawab Dira beralasan tidak berani mengangkat kepalanya menghadap Danish yang begitu menakutkan dan membuatnya begitu trauma.
" Owh kau sakit? Kenapa kau tidak bisa menerima panggilanku. Atau kau memang lumpuh sehingga tidak mampu mengangkat telfonku?" Ucap Danish lagi tersenyum sinis.
" Dia tidak benar-benar ingat! apakah dia amnesia? Hanya karena mabuk. Huh..Sungguh kau pria brengs*k!! Terbuat dari apa otak dan hatinya coba? benar-benar jauh dari ayahnya, pak Abraham!" Batin Dira merutuki sikap Danish.
" Saya menggigil pak demam, jadi saya hanya minum obat dan tertidur." Ucap Dira. Sungguh alasan yang tidak masuk akal bagi Danish. Sampai tidak memberi kabar sehingga beberapa pekerjaan harus di undur karena Danish jujur tidak dapat mengatasi seorang diri, keberadaan Dira sangat penting baginya.
" Apa?? Kau tidak punyak otak?? Semua jadwal menjadi berantakan karenamu. Kau sudah lupa jika kau adalah sekretaris!" Ucap Danish menatap Dira yang tertunduk.
Danish benar-benar marah karena jadwalnya yang tidak kondusif dan Danish menganggap Dira semena-mena. Padahal hati Dira sangat hancur karenanya. Danish masih belum tau jika Danish telah merenggut mahkotanya malam itu.
" Baiklah...jangan sampai kau tidak masuk tanpa kabar lagi! Jika tidak...aku anggap kau sudah resign tanpa pemberitahuan!" Ucap Danish. Dia mengingat betapa frustasinya ketika menghadapi pekerjaan yang tidak kondusif.
" Resign? Asalkan kamu tau jika aku juga sangat menginginkannya. Andai saja aku berkecukupan, mungkin aku sudah mencari pekerjaan lainnya. Daripada harus terus bersama dengan pria brengs*k sepertimu! " Batin Dira kembali merutuki sikap Danish.
" Baik pak! " Ucap Dira lalu menundukkan kepala dan bergegas pergi dari ruangan bosnya sesegera mungkin.
...****************...
Jam istirahat kantor membuat semua karyawan berkeliaran di sekitarnya untuk mengisi tenaga. Begitu pun dengan Friska dan Dira yang sudah lama berbincang. Kini mereka duduk berhadapan di cafe terdekat dari kantornya.
" Kenapa lo gak bilang Dir kalau sakit, tau begitu kemarin gue langsung capcus kerumahmu sepulang kerja." Ucap Friska mengaduk-ngaduk minumannya yang baru saja di letak oleh pelayan cafe.
" Gue hanya perlu istirahat Fris." Jelas Dira beralasan. Dimana kejadian yang menimpanya tidak sedikit pun ingin diingatnya.
" Lo ada masalah kan Dir? Gue ini tau tampang lo kayak gimana kalau lagi ada beban." Ucap Friska yang telah lama bersahabat dengan Dira.
" Tidak ada Fris, gue benar-benar sakit." Ucap Dira. Dira rasa Friska tidak perlu tau dengan masalahnya kali ini. Bahkan Dira ingin benar-benar melupakannya sehingga malam itu tidak menggangu fikirannya kembali.
" Baiklah, kalau lo gak mau cerita. Gue harap kalau lo sudah siap menceritakan semua sama gue. Gue siap dengerin Dir. Siapa tau aja gue bisa bantu!" Jelas Friska yang tau jika beban Dira masih belum siap untuk di sampaikan kepada Friska. Dira hanya mengangguk lalu menyeruput jus buahnya.
...****************...
Dira memegang terlalu banyak dokumen yang berada di tangannya. Sehingga membuat Dira terlihat kerepotan sampai-sampai dokumen tersebut terjatuh di lantai dan menjadi berserakan kemana-mana.
Entah datangnya dari mana seorang pria juga membantu Dira mengumpulkan dokumen tersebut. Dira terperanjat melihat sosok pria tersebut yang ternyata juga tampan dan tersenyum manis kepada Dira.
" Terima kasih." Ucap Dira.
Pria tersebut tersenyum manis. Dira membalas senyumannya. Sebelumnya Dira tidak pernah melihat pria tersebut. Bahkan ini baru pertama kalinya Dira melihatnya di kantor. Dira masih memandang punggung pria tersebut yang menghilang dari pandangan Dira.