Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Siang itu, matahari bersinar malu-malu di balik hamparan awan. Meski begitu, langit sama sekali tak mendung. Angin sejuk berembus lembut, membelai helai-helai daun ketapang kencana sekaligus menyapu perlahan rambut seorang gadis yang tengah terduduk tenang di bawah naungan pohon bertajuk pagoda tersebut.
Tatapannya terlempar jauh ke depan. Di atas hamparan rumput hijau, mahasiswa tampak duduk berkelompok mengitari layar laptop masing-masing. Ada pula yang sekadar berbincang hangat berpasangan, hingga beberapa pria paruh baya yang tenang memegang joran pancing di tepi danau. Namun, seluruh riuk kesibukan di hadapannya itu sama sekali tak mampu menyentuh lamunannya.
Sejak video klarifikasinya diunggah kemarin, topik tentang kebohongan dan kehamilannya mendadak menguap tanpa jejak. Semua berjalan seolah kegaduhan itu tak pernah melanda hidupnya. Hanya bisik-bisik samar dari beberapa mahasiswi saat ia melintas di koridor atau duduk di dalam kelas. Namun, kasak-kusuk itu tak terlalu mengusiknya. Selebihnya, hari-harinya bergulir normal seperti biasa, damai, sunyi, seolah kekacauan itu tak pernah ada.
Anehnya, video viral yang sempat meremukkan nama baiknya itu menguap begitu saja dari dunia maya. Tak ada jejak tersisa, bahkan grup percakapan angkatannya pun mendadak bersih. Seolah-olah kekacauan yang menghantamnya kemarin hanyalah sebuah mimpi buruk semalam, bunga tidur kelam yang menguap disapu pagi.
Mungkinkah ini perbuatan Papanya? Nadya dengan cepat menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Papanya sama sekali tidak tahu-menahu tentang masalah ini, lagipula sikap sang Papa padanya masih biasa-biasa saja.
Atau...
Nadya enggan berandai-andai pada opsi berikutnya. Rasa-rasanya mustahil pria itu mau membuang energi demi dirinya. Mana mungkin pria itu sudi repot-repot melakukannya? Kemarin saja pria itu tampak acuh tak acuh saat Mayor Ardi menekannya habis-habisan, bahkan membentaknya. Tidak ada alasan bagi pria dingin itu untuk memedulikan nama baiknya, sebab sejak awal, yang pria itu pedulikan hanyalah reputasi diri dan instansinya sendiri.
Semalam suntuk ia bergulat dengan perasaannya. Mungkinkah ini ujung dari alur panjang perjuangannya mendapatkan Rexsaka, cinta pertamanya? Bohong rasanya jika ia mengaku tidak lelah. Hatinya sudah teramat letih terus berlari, sementara pria yang ditujunya bukannya berbalik mengejar, bahkan sekadar berhenti melangkah pun tidak. Ia seolah bertaruh pada fatamorgana yang tak pernah bertepi, hingga pada akhirnya... ia sendiri yang kehabisan napas dan menyerah.
Nadya akhirnya menyerah. Ia menyandarkan punggungnya yang berat ke kursi besi taman, menghela napas panjang seraya memalingkan wajah ke samping. Di sana, deretan bugenvil merah muda terpangkas rapi, berdiri tegak menyerap sisa-sisa sinar matahari.
Katanya, bugenvil adalah simbol kasih sayang yang tulus, bunga yang rela mekar penuh warna meski tumbuh di tanah gersang dan harus melindungi dirinya dengan duri-duri tajam.
Nadya menatap jemarinya yang saling bertaut. Bukankah selama ini ia bertindak persis seperti bunga itu? Ia memaksakan cintanya terus mekar di hati Rexsaka yang dingin dan gersang, mengabaikan duri-duri penolakan yang berulang kali menancap di dadanya. Namun, tidak seperti bugenvil yang sanggup bertahan dalam cuaca paling ekstrem sekalipun, tanah di hatinya kini telah terlalu gersang. Ia tak lagi punya alasan untuk terus mekar sendirian.
Terlalu lelap dalam riuh pikirannya sendiri, Nadya sama sekali tak menyadari langkah kaki yang makin mendekat. Tanpa peringatan, sebuah cengkeraman kasar mendarat di lengannya. Dalam sekali sentak, tubuh gadis itu ditarik paksa hingga berdiri dari kursi besi taman.
"Arnold?! Apa yang lo lakukan?!"
Sisa-sisa raut sendu di wajah Nadya seketika sirnah, berganti binar terkejut yang berbaur dengan rasa waspada yang tajam.
Arnold tak langsung menjawab. Pria itu justru mengikis jarak, menatap Nadya dengan sorot mata liar yang membara oleh amarah dan rasa memiliki yang berlebihan.
Cengkeramannya di lengan Nadya makin menguat, seolah enggan membiarkan gadis itu meloloskan diri meski sebuku jari.
"Harusnya gue yang bertanya pada lo" bisik Arnold penuh penekanan, matanya menatap lekat-lekat pada manik mata Nadya. "Lo milik gue Nadya. Sejak awal lo milik gue! Lalu bagaimana bisa mulut manis ini tanpa ragu mengaku hamil anak bajingan itu?!"
"Gue bukan milik siapa-siapa, apalagi milik lo! Dan Kak Rex bukan bajingan!" sentak Nadya,
Meski hatinya telah memilih melangkah mundur dan menyerah pada Rexsaka, nalurinya tetap tak terima mendengar orang lain mencerca pria itu. Di dalam dadanya, rasa cinta dan penghormatan itu masih terlalu utuh untuk dibiarkan diinjak-injak oleh Arnold.
"Kenapa lo masih bisa berkeliaran bebas di saat kejahatan Lo sudah begitu menggunung?! Seharusnya lo mendekam di penjara, sialan!" cecar Nadya dengan nada melengking.
Ia tak peduli lagi pada pasang-pasang mata yang kini mulai tertuju ke arah mereka. Toh, siapa juga yang berniat melangkah campur tangan menghadapi Arnold? Pria itu bukan cuma bintang kampus berparas rupawan, melainkan putra tunggal dari pejabat tinggi negeri, sosok dengan kekuasaan yang cukup untuk membuat siapa saja memilih bungkam.
"Oh... berani lo menyumpahi gue sekarang? Sudah tak takut lagi, hum?" kekeh Arnold dingin, menyunggingkan senyum miring yang sarat akan ancaman.
Nadya menyentak kepalanya tegak, mengunci tatapan Arnold tanpa gentar. "Untuk apa gue takut sama lo?!"
"Bagus kalau begitu," bisik Arnold, suaranya mendadak meliuk berbahaya. "Artinya, lo sudah siap menerima hukuman."
Tanpa memberi jeda, Arnold kembali mencengkeram dan menghentak lengan Nadya, menggeretnya paksa. Nadya membelalak, mulai memberontak sekuat tenaga, memukul dan menarik tangannya demi melepaskan diri dari cengkeraman besi pria itu.
"Tidak! Lepaskan gue, sialan!" jerit Nadya frustrasi.
Tanpa pikir panjang, Nadya mendaratkan gigitan tajam di lengan Arnold.
"Argh, sial!" erang Arnold kesakitan.
Cengkeraman pria itu terlepas seketika, namun dorongan balasan dari Arnold begitu kuat hingga melempar tubuh Nadya ke belakang. Sol sepatu sneakers-nya terantuk batu tepi jalan. Nadya hilang keseimbangan dan jatuh telentang. Ia memejamkan mata erat-erat, pasrah menanti detik-detik saat kepalanya terhantam kerasnya pinggiran jalan setapak taman.
Namun, rasa sakit yang ia tunggu tak kunjung datang.
Alih-alih rasa nyeri, yang ia rasakan justru sebuah kehangatan. Lengan kokoh merengkuh pinggangnya dengan sigap, menyanggah tubuhnya tepat sebelum menyentuh tanah. Punggung dan kepalanya kini bersandar aman di dada tegap seseorang. Dalam keterpakuannya, aroma cologne berpadu mint lembut yang begitu familiar berembus menenangkan indranya.
Saat matanya perlahan terbuka, sosok yang sejujurnya tak ingin ia temui lagi, pria bertatap tegas dengan paras tampan yang selalu menghiasi mimpinya, sosok my little T-Rex-nya, kini berdiri menopangnya.
"Wah... anjing penjaga Lo datang tepat waktu, sayang," ejek Arnold dengan tawa miring yang meremehkan. Sorot matanya menatap Rexsaka dari atas ke bawah sebelum kembali menatap Nadya. "Hebat juga cara lo melatih dia. Cukup menggonggong sedikit, anjing penurut lo ini langsung berlari menyelamatkan tuannya."celetuk Arnold, melontarkan umpatan kasar dengan nada yang sarat akan provokasi. Bibirnya mengukir senyum culas, sengaja menyulut api permusuhan di antara mereka.
"Jaga bicara Lo! Lo yang anjing bajingan!" bentak Nadya penuh amarah.
Makian itu seketika membuat wajah Arnold menggelap. Pria bersumbu pendek itu tersulut emosi, ia melangkah maju hendak mencengkeram lengan Nadya kembali. Namun, refleks Rexsaka jauh lebih cepat. Secepat kilat, Rexsaka memotong pergerakan Arnold dan mencengkeram pergelangan tangannya hingga cengkeraman pria itu terhempas lepas dari Nadya.
Tanpa memberi jeda, Rexsaka memelintir tangan Arnold ke belakang punggungnya lalu menghentakkan tubuh pria itu kuat-kuat, mendorongnya hingga tersungkur di atas hamparan rumput taman.
Tak terima dipermalukan, Arnold segera bangkit. Dengan napas memburu, ia menerjang maju dan mencengkeram kasar kerah kemeja yang dikenakan Rexsaka.
"Bangsat! Berani banget Lo perlakuan gue begini?!" sergah Arnold seraya mendongak sengit. "Sadar diri, Lo itu cuma anjing peliharaannya Sismoko!"
Tatapan Rexsaka justru makin tajam dan menghujam. Sama sekali tak terpengaruh gertakan itu, ia membiarkan Arnold mencengkeramnya, sementara ia sendiri memangkas jarak. Rexsaka mendekatkan bibirnya ke telinga Arnold, membisikkan kalimat dengan intonasi rendah yang dingin namun memancarkan dominasi mutlak.
"Jauhi dia. Mulai hari ini dia berada di bawah perlindungan saya.," desis Rexsaka, napas hangatnya menyapu kulit Arnold dengan ancaman terselubung yang seksi sekaligus mengerikan."Pergilah sekarang, sebelum saya membuat Anda mempermalukan diri sendiri lebih jauh dari ini."
Dengan satu sentakan dingin, Rexsaka menghempaskan tangan Arnold hingga terlepas kasar dari kemejanya. Arnold tertegun, lalu melirik ke sekeliling. Pasang mata para mahasiswa kini tertuju padanya dengan bisik-bisik yang mulai riuh. Sadar situasi tak lagi berpihak padanya dan harga dirinya kian terancam, ia memilih mundur beberapa langkah.
"Awas Lo, brengsek! Gue bakal balas!" ancam Arnold seraya menunjuk Rexsaka dengan tatapan sarat dendam, sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan area taman.
Keheningan perlahan menyapu kembali area taman di bawah naungan deretan bugenvil.
Arnold telah berlalu, menyisakan Nadya yang masih berdiri membeku beberapa langkah di belakang punggung tegap Rexsaka. Gadis itu menatap lekat pria di depannya, bertanya-tanya dalam hati, kata-kata sakti apa yang baru saja dibisikkan Rexsaka hingga mampu membuat musuh bebuyutannya itu mundur tanpa perlawanan.