Saat bangun tidur. Nara tiba-tiba menjadi sosok yang bukan dirinya, dan itu membuatnya merasa syok.
Apa semua ini karena ucapan sang ibu? pada waktu itu hingga dirinya berada di tubuh seseorang?
Yuk simak dalam kisah Nara, dengan judul.
Jiwa yang tertukar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. gue bukan produk gagal
"Sepertinya lo cocok sama Nara," kata Jali, dengan nada mengejek.
"Dulu gue emang suka, tapi sekarang itu anak berubah jadi genit. Idih ogah ah takut," balas Dani sambil bergidik ngeri kalah membayangkan, betapa ngerinya saat dirinya bertandang ke rumahnya tadi.
Sedangkan Angga hanya mendengarkan tanpa harus ikut berbicara, ada rasa kesal dan juga senang. Itu karena Dani tengah menyimpan rasa untuknya.
Angga tidak menyangka bahwa Dani menyukainya, tapi sepertinya itu tidak lucu. Mereka berdua seperti langit dan bumi jadi sangat jauh perbedaannya.
"Eh, lo laki. Tuh Dani suka sama lo," ujar Jali yang beralih menatap Angga. Tidak lupa sambil memainkan satu matanya, seakan itu adalah kode yang diberikan oleh Jali.
"Gue masih normal ya. Jadi jangan suruh gue buat belok," tegas Dani pada Jali. Sedangkan Angga terus tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Eh, lo lagi. Siapa sih lo berasa duduk bareng produk gagal," kini pandangan Dani beralih pada Angga, dan menatapnya penuh keheranan kenapa bisa Jali berteman sosok lelaki yang gemulai.
"Eh buset, belum pernah gue hajar beneran ya!" Angga yang sudah kesal akhirnya angkat bicara, karena sedari tadi dirinya terus menerus. Dijadikan bahan ledekan oleh Dani.
"Dani, berhenti mengolok-olok Nara!" bentak Jali karena menurutnya Dani sudah kelewat batas.
"Mana ada Nara, itu anak kan ada di rumah. Apa mata lo minus sampai gak bisa bedain mana cewek, dan mana cowok." Jawaban Dani membuat Jali menghela nafas. Entah mengapa jika Dani sangatlah bodoh.
"Maka diam lah jika tidak tahu apa-apa, karena keberadaan lo di sini hanya membuat suasana tidak mengenakkan." Jali pun berkata dengan nada serius hingga membuat Dani diam.
"Baik, sekarang katakan apa yang belum gue denger dari lo." Dani pun mencoba mendengarkan Jali, dan apa ingin disampaikannya. Membuat Dani sedikit penasaran.
"Lelaki yang ada di sebelah kamu itu Nara." Jali pun mencoba memberitahu siapa lelaki itu dan mengapa bisa Nara berada di tubuhnya juga.
"Mana mungkin," elak Dani.
"Maka denger jangan bacot mulu itu mulut," ucap Jali yang kehabisan kata-kata.
"Ini Nara yang asli. Sedangkan yang lo temui itu Nara palsu, yang sebenarnya gue sama Nara juga belum yakin jika yang mengambil alih adalah, jiwa dari pemilik tubuh yang ditempati Nara sekarang." Dani masih mencermati akan kata-kata Jali, rasanya tidak masuk akal menurutnya.
"Li, tapi ini di luar nalar. Kenapa bisa coba, ini kan dunia nyata. Bukan komik," ucap Dani yang belum bisa percaya begitu saja, karena rasanya sulit untuk dipahami.
"Tetapi, kenyataannya memang seperti itu. Gue juga belum bisa percaya tadinya tapi … Nara tahu semuanya tentang kita dan itulah membuat gue percaya pada akhirnya," kata Jali panjang lebar.
"Apa lo benar Nara, teman kami?" tanya Dani menatap Angga dengan sangat intens.
"Iya, gue Nara. Nama lo Muhamad Ramdani kan, pemilik dari bengkel Bintang kejora." Jawaban dari Angga membuat Dani langsung terdiam.
"Gue gak ngerti apa yang menimpa Nara, tapi semuanya bener apa yang baru saja diucapkannya." Dani membatin seraya memikirkan, kenapa bisa. Sungguh di luar nalar bukan, seakan-akan ini adalah komik yang kerap ia baca.
"Kenapa bisa seperti ini, dan bagaimana ceritanya sampai-sampai raga lo berpindah?" tanya Dani lagi.
Akhirnya Angga pun menceritakan awal kejadian tersebut. Hingga pada akhirnya raganya masuk ke tubuh lelaki.
"Kalian sudah tahu, lantas apa rencana kalian agar gue bisa kembali seperti semua." Mendengar itu, Dani dan juga Jali. Hanya bisa diam karena belum tahu untuk memecahkan masalah ini. Mereka juga harus memulainya dari mana belum bisa mengambil keputusan. Namun, keduanya berjanji kalau sesegera mungkin akan membantu Nara, agar tidak terbelenggu di tubuh seseorang.
“Sementara mencari informasi, karena kita tidak tahu juga. Caranya untuk mengembalikan raga elo,” ujar Jali.
“Iya, lagian kita belum tahu elo pindah ke tubuh seseorang di sebabkan karena apa.” Dani pun ikut menimpali.
“Baiklah. Gue berharap kalau tubuh gue secepatnya bisa gue tempati lagi,” kata Angga yang penuh dengan harapan.
“Coba deh lo inget-inget. Apa lo pernah nyakitin hati seseorang ataupun berbicara yang membuat orang itu tersinggung. Sehingga lo di kutuk,” ucap Jali tiba-tiba, karena menurutnya kejadian ini sangat tidak logis jika dipikir.
“Iya, gue juga setuju apa yang dikatakan sama si Jali-Jali…”
“Woe, kalau manggil cukup satu kali kenapa. Berasa lagu betawi nama gue.” Jali pun langsung menyahuti ucapan Dani, karena jika temannya yang somplak itu, tidak cukup kalau memanggilnya dengan sekali, dan itu selalu dobel.
“Lebih enak dobel,” kata Dani tanpa punya rasa salah sedikitpun.
“Lo kira oreo apa,” dengus Jali.
“Woe … kenapa kalian jadi berantem,” hardik Angga karena jika sudah berkumpul. Tidak ada perdebatan terasa anyep seperti sayur yang lupa dengan bumbu-bumbunya.
“Lagian tuh anak yang mulai dulu, bisa-bisanya nama gue dibuat dobel.” Jali pun mengadukannya pada Angga, tak ada respon hanya sebuah decitan yang keluar dari bibir Angga.
“Salah lo sendiri, nama kok bisa dibuat lagu.” Dani langsung menimpali ucapan Jali.
“Masa iya salah gue. Lagian nama gue bukan Jali, kenapa pula kalian manggilnya Jali, huh!” Jali tidak habis pikir, mereka yang memberi panggilan itu, kenapa mereka juga yang mengolok-olok namanya. Sungguh terlalu pikir Jali.
Keduanya ingin sekali tertawa, namun takut jika Jali bertambah murka.
“Ada lagi yang ingin dibahas?” Jali pun bertanya dan menatap keduanya dengan cara bergantian.
“Untuk saat ini tidak, tapi gue harap kalian menepati janji. Untuk segera menyelesaikan masalah ini,” kata Angga dan setelah itu berlalu pergi, meninggalkan mereka berdua.
“Lo mau ke mana!” teriakan Jali tidak dihiraukan oleh Angga, ia tetap melangkahkan kakinya, menuju luar cafe.
“Sudahlah, jangan teriak-teriak.” Dani pun memberitahu agar Jali berhenti memanggil Angga.
Setelah kepergian Angga, kini tinggal mereka berdua. Keduanya masih belum bisa menerima kenyataan akan nasib temannya, yang sangat memilukan.
………
Detik-detik telah berlalu. Sebulan sudah, jiwa Nara dan Angga tertukar.
Mereka belum menemukan titik terang dari masalah yang sedang dihadapinya.
Sedangkan di rumah Mak Rohayah. Dimana Nara yang sedang tertidur, tiba-tiba merasakan perutnya yang teramat sakit, dan itu hampir membuatnya ingin pingsan.
“Duh ini perut kenapa sih?” gumam Nara yang terus memegangi perutnya. Lalu berusaha untuk bangun namun setelah itu.
“Huaaaa … Emakkkk!”
mampir lg y kak.
maaf lma