Tidak mudah menjadi seorang putri dari pengusaha kaya raya yang terkenal. Terlebih lagi jika pengusaha itu adalah pengusaha yang menjalankan bisnisnya di dunia hitam sekali pun. Dunia yang setiap harinya harus bermain dengan obat-obatan terlarang, hingga peredaran senjata api ilegal.
Hal itulah yang terjadi pada Alika Tiffany Raendra. Bukan hanya pihak berwajib yang sering mengincarnya agar dapat menangkap sang ayah, tetapi musuh ayahnya pun kerap kali ingin mencelakakannya, sehingga sang ayah meminta beberapa bodyguard untuk mengawasi Tiffany.
Siapa sangka Tiffany malah jatuh cinta pada salah satu bodyguard bertugas untuk menjaganya, bodyguard itu bernama Rama. Walau pada awalnya mereka kerap bertengkar, tetapi Tiffany akhirnya balik mengejar Rama dan bertekad untuk mendapatkan cinta dari Rama.
Akan tetapi, saat akhirnya Rama mulai tersentuh dengan ketulusan dari Tiffany, sebuah musibah datang.
Apakah musibah itu?
Dan apakah Tiffany dan Rama dapat melewati musibah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BODYGUARD JUGA MANUSIA
Rama berusaha terlihat sesantai mungkin saat ia melangkah menuju jalan masuk pantai. Ia berusaha agar terlihat seperti orang biasa yang ingin mengusir kegalauan di tepi pantai yang indah.
Akan tetapi, usahanya itu tidak dapat mengelabui para penjaga yang tetap menghadang langkahnya.
"Anda tidak boleh masuk," ujar salah satu pria berpakaian serba hitam, sambil menahan lengan Rama.
Rama berpura-pura terkejut dan memasang tampang bodoh. "Tapi kenapa? Aku biasa datang ke sini setiap malam dan duduk di tepi pantai sambil mendongak menatap langit malam yang ditaburi bintang, lalu perlahan aku akan merasakan air asin yang dingin menggelitik di bawah kakiku, dan suara ombak yang memecah keheningan dipadu dengan embusan angin yang sejuk membuatku semakin ingin berlama-lama di dalam sana. Biasanya tidak ada yang melarang, tapi kenapa sekarang aku tidak boleh masuk?" Rama berujar panjang lebar, yang membuat si pria berpakaian serba hitam menjadi kesal.
"Kalau aku bilang tidak boleh, ya, tidak boleh!" bentak si pria, sambil mengeluarkan senjata api dari bagian dalam jaket hitamnya dan mengarahkan senjata itu ke wajah Rama.
Rama berjengit. "Astaga, apa yang Anda lakukan, Pak. Aku sedang sedih karena baru saja melihat kekasihku berselingkuh. Aku ke sini ingin mencari ketenangan, tapi malah ditodong senjata api begini!" seru Rama.
Seorang pria yang juga berpakaian serba hitam datang menghampiri Rama dan menjauhkan senjata api dari hadapan wajah Rama. "Jangan begitu. Dia hanya pengunjung yang terlalu melankolis," ujar si pria sambil tertawa. Pria itu kemudian menatap Rama dan berkata, "Sedang ada sesi foto prewedding di dalam, itulah sebabnya orang lain di larang masuk."
Rama menggaruk kepalanya. "Oh, begitu. Sial sekali aku. Jadi pantai ini sudah disewa? Atau dibeli?"
Si pria berpakaian serba hitam saling pandang, dan di saat itulah Rama menarik senjata api keduanya dan menodongkan senjata api itu ke kepala kedua pria tersebut.
"Sialan! Beraninya kamu!" teriak salah seorang pria, yang kemudian teriakannya itu menarik perhatian penjaga lainnya yang masih mondar-mandir di dekat pintu masuk.
Melihat semakin banyak penjaga yang datang ke arahnya, Rama segera menarik salah satu pria yang tadi sempat ingin menembaknya, dan Rama menjadikan pria itu sebagai sanderanya.
"Jika ada yang coba mendekat, aku akan menembaknya. Aku tidak main-main!" teriak Rama. "Turunkan senjata kalian!"
Para penjaga yang mengelilingi Rama saling pandang, tetapi tidak ada yang mencoba untuk menurunkan senjata mereka.
Rama kemudian menarik pelatuk dan menembakkan satu buah peluru ke pohon yang ada di dekatnya untuk membuktikan pada para penjaga di hadapannya bahwa ia serius dengan apa yang ia ucapkan.
***
Tiffani mendengar suara tembakan. Ia sedikit terkejut dan ketakutan, tetapi detik berikutnya ia merasa tenang karena ia menebak bahwa yang datang dan menembak pastilah orang-orang suruhan ayahnya.
"Itu pasti orang-orang ayahku! Kamu akan mati saat orang-orang ayahku menangkapmu!" ujar Tiffani, pada pria mesum yang masih berdiri di hadapannya.
Si pria tertawa terbahak-bahak. "Jangan terlalu percaya diri. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan sana, yang aku tahu hanyalah bahwa sedang ada gadis cantik berdiri di hadapanku saat ini, dan aku sangat menginginkan gadis itu menggeliat di bawah tubuhku."
Tiffani merasa mual mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu. Ia jijik sekali membayangkan tubuhnya menggeliat dan meronta di bawah tubuh si pria berpakaian serba hitam, dan ia tidak membuang-buang waktu untuk menyelamatkan diri sementara si pria masih sibuk dengan pikiran mesumnya.
Tiffani berbalik dan berlari ke arah terdengarnya suara tembakan. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa pria mesum yang sejak tadi menguntitnya tidak mengejarnya. Namun, harapannya sia-sia belaka. Pria itu tetap mengejarnya.
"Sedikit lagi, sedikit lagi," gumam Tiffani sambil terus berlari.
Tiffani adalah pelari yang cepat, bukan karena ia pernah mengikuti ekstrakurikuler olahraga saat ia masih duduk di bangku SMA atau SMP, tetapi karena ia sudah sering berlaril--menghindar dari penjahat yang datang untuk menculiknya. Terkadang Tiffani harus berlari beberapa kilometer sebelum akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di tempat-tempat yang tidak seharusnya, seperti bak sampah atau di bawah kolong-kolong meja sebuah restoran. Hanya begitulah cara Tiffani untuk menyelamatkan diri dari orang-orang yang berusaha untuk mencelakaianya.
Biasanya Tiffani selalu lolos, tetapi kali ini berbeda. Kaki Tiffani yang tidak mengenakan sepatu menginjak sesuatu yang tajam di hamparan pasir putih dan membuatnya terjatuh karena sengatan rasa sakit yang mengejutkan.
"Aah!" Tiffani menjerit.
Si pria yang mengejarnya tertawa terbahak-bahak saat melihat Tiffani terjatuh. Ia langsung berlutut di samping Tiffani dan menyentuh kaki Tiffani yang berdarah "Ckckck, kasihan sekali," gumamnya, dan dengan kurang ajar sentuhan pria itu semakin naik hingga berhenti di paha Tiffani.
Tiffani menendang tangan pria itu dengan sebelah kakinya yang tidak terluka. Tindakan Tiffani jelas saja membuat si pria marah dan langsung menampar wajah Tiffani dengan keras.
Plak!
Tiffani meringis kesakitan. Ia bahkan merasa jika sudut bibirnya berdarah.
"Jangan kurang ajar kamu, ya. Jika aku mau, mudah saja bagiku untuk melenyapkanmu dari dunia ini. Dasar, ******!" Si pria kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, berniat untuk menampar wajah Tiffani sekali lagi.
Tiffani menutup mata, ia tidak kuasa untuk menghindar. Namun, bukannya merasakan tamparan pria itu kembali mendarat di wajahnya, Tiffani malah mendengar si pria menjerit kesakitan.
"Argh! Argh!"
Tiffani membuka mata dan mendapati Rama sedang memelintir tangan pria yang tadi menamparnya sedemikian rupa, hingga Tiffani menebak bahwa tangan pria itu pasti akan patah tidak lama lagi.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Rama.
"Lepaskan aku! Argh ... cepat lepaskan tanganku, Bedebah."
Rama mengangkat kedua bahunya. "Oke. Akan aku lepaskan!"
Krak!
Tiffani menutup mulut dengan tangan saat ia mendengar suara yang membuatnya ngilu. Tangan pria penguntit itu sekarang telah patah.
Rama melepaskan si pria sambil mendorong tubuh pria itu hingga terjatuh di atas pasir.
"Argh!" Si pria penguntit bergulung-gulung di atas pasir dan menatap tangannya sendiri dengan tatapan ngeri. "Sialan! Siapa kamu, hah? Beraninya kamu berbuat begini padaku!" si pria penguntit berteriak dan mengeluarkan senjata api dengan sebelah tangannya dari balik jaket hitam yang kenakan dan langsung mengarahkan senjata api itu ke Rama.
"Awas, Ram!" Tiffani berteriak.
Rama langsung menendang tangan si pria hingga senjata apinya terlempar ke udara dan jatuh di bibir pantai. Setelah itu Rama kembali menendang wajah si pria penguntit dengan kuat hingga pria itu tidak sadarkan diri.
"Ah, sudah lama aku tidak membuat orang pingsan!" seru Rama, lalu kemudian ia menghampiri Tiffani yang masih duduk di atas pasir. "Kamu baik-baik saja?" tanya Rama.
Belum lagi Tiffani menjawab, suara tembakan terdengar dari kejauhan, para penjaga yang tadinya berjaga di depan pintu masuk dan berhasil dilumpuhkan Rama untuk sementara berlarian menghampiri Rama dengan senjata mengarah ke Rama dan juga Tiffani.
"Astaga, mereka banyak sekali!" seru Tiffani.
Rama menarik lengan Tiffani agar gadis itu bangkit berdiri. "Kamu bisa berlari?" tanya Rama.
"Lari? Bukankah seharusnya kamu melawannya? Kamu itu bodyguard!"
Rama menggeleng. "Tidak selamanya musuh harus dilawan, sesekali kita perlu mengalah,dan bodyguard juga manusia, terkadang aku tidak tega."
"Hah! mengalah. Tidak tega! Dasar pembual."
Rama menggenggam pergelangan tangan Tiffani. "Ayolah, jangan banyak protes, kita tidak punya waktu lagi!"
"Kakiku terluka, aku rasa aku tidak bisa berlari."
"Benarkah? Kalau begitu berpeganganlah padaku!" ujar Rama,
Tiffani terlihat bingung, ia tidak mengerti maksud ucapan Rama, tetapi beberapa saat kemudian rasa bingungnya menghilang dan digantikan dengan rasa terkejut saat Rama tiba-tiba menggendongnya. "Lingkarkan tanganmu di leherku jika kamu tidak ingin terjatuh."
Tiffani menurut. Ia langsung melingkarkan tangannya di leher Rama yang berkeringat. Bukan hanya karena ia tidak ingin jatuh, tetapi karena ia memang sangat ingin menyentuh Rama.
***
Suasana tegang sedang terjadi di kediaman Richard Raendra. Richard telah kembali dari perjalanan rahasianya. Seperti biasa, saat tiba di rumah, yang dilakukan Richard pertama kali adalah menghampiri sang putri yang berada di dalam kamar. Setelah melihat keadaan sang putri barulah ia pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuh sebelum makan malam bersama.
Akan tetapi, kali ini kebiasaan itu terhenti seketika saat ia tidak menemukan Tiffani di dalam kamar. Ia bahkan tidak menemukan Tiffani di perpustakaan, di mana Tiffani sering menghabiskan waktu dengan membaca buku.
Ketidakhadiran Tiffani tentu saja menjadi pertanyaan bagi Richard, dan juga kekhawatiran. Ia segera saja mengumpulkan para penjaga dan pelayan, tidak lupa ia memanggil Mona yang bertugas untuk mengawasi Tiffani juga.
Semua penjaga dan pelayan dikumpulkan di ruang kerja Richard yang berukuran sangat luas. Dan sekarang mereka semua sedang gemetar ketakutan. Mereka tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika sampai sang Tuan tahu bahwa Tiffani menghilang.
"Di mana Tiffani?" tanya Richard, dengan suara beratnya nyang sedikit serak.
Hening, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Richard.
"Mona! Di mana Tiffani dan Rama? Bukankah kalian seharusnya pergi bersama ke mana pun? Kenapa kamu ada di rumah tapi Tiffani tidak ada?"
Mona meneguk saliva, ia sungguh bingung harus mengatakan apa pada Richard.
"Mona! Jawab pertanyaanku." Richard kembali berteriak, membuat Mona terlonjak kaget.
"Tiffani menghilang, Om. Dia menghilang."
Kedua mata Richard melotot. "Apa katamu?!"
Bersambung.