Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 sisi lain Ratih.
Di malam yang sepi, tampak seorang perempuan muda masih melakukan aktivitasnya di dalam ruangan. Jam sudah menunjukkan pukul 12 Malam, Ratih masih berkutat dengan pola baju yang di desain sendiri. Ia masih mengerjakan dua desain lagi, karena permintaan dari klien yang ingin dibuatkan gaun secepat mungkin. Karena akan ia kenakan dua minggu lagi.
Setelah memastikan desainnya selesai, Ratih membereskan semua peralatan yang digunakan tadi. Ia lalu mengambil laptop kerjanya, dan memasukkan kedalam Bag yang sudah menjadi rekan selama ia bekerja.
Saat akan mengunci pintu butiknya, tiba-tiba seseorang dari arah belakang membekap mulut Ratih menggunakan sapu tangan. Beruntung, Ratih bisa melawan dan ia masih dalam kesadaran penuh. Ternyata, sejak tadi sore Butiknya sudah diintai oleh seseorang.
"Siapa kamu? Kenapa ingin mencelakai saya?" tanya Ratih dengan penuh kewaspadaan, kepada seseorang yang tengah berdiri di depannya menggunakan penutup wajah. Seperti seorang perampok.
"Mau ikut denganku, secara baik-baik atau dengan kekerasan. Silahkan di pilih karena aku buka orang yang menawarkan sesuatu untuk kedua kalinya!" ujar lelaki di balik topeng itu.
"Tidak dua-duanya. Siapa kamu? Dan kenapa aku harus ikut denganmu, kita tidak saling mengenal." Ratih tersenyum miring.
"Rupanya kamu punya nyali yang besar, Nona. Maka rasakan ini." Lelaki bertopeng itu maju dan ingin memegang tangan Ratih. Namun Ratih dengan sigap menghindar dan memberi pukulan pada punggung lelaki tersebut. Sehingga lelaki itu tersungkur ke depan.
"Kurang ajar! dasar wanita sial." lelaki itu kembali menyerang, namun lagi-lagi gagal. Tak sedikitpun tubuh Ratih bisa di gapai olehnya.
Karena merasa dipermainkan lelaki itu mengeluarkan pisau lipat dari balik bajunya. Ia tampak begitu marah karena merasa diremehkan oleh seorang wanita.
"Sudah cukup bermainnya cantik, kamu sudah membuatku marah!" lelaki itu mengarahkan pisau ke perut Ratih, dengan sigap Ratih menahan tangan lelaki itu dan menendang perut buncit lelaki berbadan tinggi besar tersebut. Sehingga Ratih berhasil menjaga jarak dari lelaki bertopeng itu.
("Aku butuh bantuanmu, saat ini aku tidak bisa melawannya." Ratih menghubungi seseorang yang terhubung dengannya melalui intercom.)
"Siapa yang menyuruhmu menyerangku, dan apa yang kamu inginkan?" tanya Ratih kepada lelaki itu.
"Siapa yang menyuruhku itu tidak penting, tugasku hanya membuatmu berada di alam lain." Lelaki bertopeng i itu begitu percaya diri.
"Apa kamu yakin bisa membunuhku? sekarang saja kamu tidak bisa menyentuhku secuilpun. Setelah ini, kuharap kamu tidak menyesali tindakanmu karena mengusik hidupku. Karena hari esok, kamu akan merasakan sesuatu yang tidak pernah kau rasakan. Kamu akan meminta untuk mati saja,ketimbang hidup. Namun seperti akan mati." Ratih tersenyum begitu mengerikan.
"Jangan banyak bicara, kamu yang akan aku buat berada di alam baka, malam ini." lelaki itu maju ingin menyerang kembali, namun berhasil dilumpuhkan oleh seseorang yang berpakaian serba hitam. Yang sudah berdiri di depan Ratih.
"Bawa dia ke markas, berikan dia sambutan yang menyenangkan!" perintah Ratih dengan nada dingin.
"Baik Queen." para lelaki berpakaian hitam itu menyeret lelaki yang menyerang Ratih, masuk kedalam mobil van hitam.
"Lepas...kamu mau membawaku kemana? Lepaskan aku? !" teriak lelaki itu seiring mobil van yang membawanya melaju.
"Kamu tidak tau siapa aku, jangan main-main denganku!" ujar Ratih dengan seringai mengerikan.
"Maaf sayang, mami harus kembali ke dunia ini, dunia yang sudah lama Mami tinggalkan. Karena lawan mami bukan orang sembarangan." Ratih mengelus sayang perutnya yang tampak belum mengalami banyak perubahan.
Setelah berkendara 30 menit lamanya, akhirnya mobil kesayangannya terparkir cantik di dalam garasi rumah itu.
Saat melangkahkan kaki masuk, semua lelaki berpakaian hitam tampak berjejer rapi menyambut kedatangannya. Mereka semua hormat kepada Ratih.
"Di mana tikus kecil itu?" tanya Ratih kepada salah satu anggotanya.
"Di dalam penjara Queen," jawab Lelaki tersebut.
"Apa kalian sudah memberi sambutan hangat kepadanya?" tanya Ratih lagi.
"Seperti yang diperintahkan tadi Queen, kami sudah memberikan sambutan." lelaki itu tersenyum mengerikan.
"Bagus! dia akan tahu sedang berhadapan dengan siapa!" Ratih tersenyum penuh arti.
"Tolong... Lepaskan aku! Aku tidak akan mengganggumu lagi!" ucap Lelaki itu dengan nada lirih saat melihat kedatangan Ratih.
"Dimana keberanianmu, tadi? Yang katanya ingin memindahkannya ke alam baka? Yang ingin melenyapkan ku? Kenapa sekarang kamu memohon?" Ratih tersenyum mengejek.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Ratih.
"Mira, dia orang yang menyuruhku...!" ucap Lelaki itu.
"Kamu dari kelompok mana?" tanya Ratih mengintimidasi.
"Saya hanya orang biasa, bukan dari kelompok manapun," jawab lelaki itu berbohong.
"Bohong! Kamu pikir aku sebodoh itu, aku tau kamu saat ini berbohong. Demi menutupi identitas kelompokmu." Ratih memegang sebuah tang.
"Apa kamu tidak mau memberitahu, siapa kelompokmu?" tanya Ratih sekali lagi.
"Saya tidak berbohong,saya hanya orang biasa, orang sewaan tidak lebih!" jawab lelaki itu, yang tampak ketakutan melihat tang yang berada di tangan Ratih.
"Ternyata kamu setia juga, baiklah sebagai hadiahnya kamu akan mendapatkan sesuatu hal yang menyenangkan." Ratih memberi tang tersebut kepada salah satu anggotanya.
"Cabut k*k*nya biarkan dia berteriak kesakitan. Aku ingin tau sampai di mana dia akan diam." Ratih duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Akhhh...! Berhenti aku mohon!" Rintih lelaki itu , setelah satu Ku-ku jarinya terlepas.
Ratih yang mendengar jeritan kesakitan itu, tersenyum puas. Ia seakan menikmati semua pemandangan mengerikan yang ada di depannya itu.
"Jika kamu tidak mau mengatakan, kamu dari kelompok mana? maka kamu akan merasakan hal yang lebih dari ini."
"Lanjutkan! dia sepertinya memilih kesakitan daripada harus mengatakan semuanya." Ratih semakin menikmati pemandangan di depannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mengatakan apapun. Dasar wanita iblis...! Lelaki itu berteriak penuh emosi diiringi jeritan kesakitan setelahnya.
"Baik, jika kamu tidak mau memberitahu. Sebenarnya aku sudah tau kamu, dan berasal dari mana. Namun, aku tetap akan menanyakannya, aku mau lihat apakah kamu akan diam setelah melihat rekaman ini!" Ratih menunjukkan sebuah rekaman, seorang wanita bersama dengan seorang gadis remaja, tengah disandera oleh lelaki berpakaian hitam.
"Aku mohon. jangan! tolong lepaskan mereka, jangan libatkan mereka. Mereka tidak tahu apa-apa!" lelaki itu bersujud di kaki Ratih dengan semua permohonannya.
"Aku tidak akan melakukan apapun kepada mereka. jika kamu mau menjawab semua yang aku tanyakan tadi!" Ratih tersenyum penuh kemenangan. Jangan meremehkanku, hanya karena aku seorang wanita. Tentu kamu tahu apa yang bisa ku lakukan kepada mereka, jika kamu tetap diam.
"Aku dari kelompok Naga Merah, mereka yang mengutusku untuk melumpuhkanmu, karena suruhan dari Bu Mira."
"Ada hubungan apa Bu Mira dengan kelompok kalian?" tanya Ratih semakin penasaran.
"Dia tidak punya hubungan apapun, hanya saja dia mengenal pemimpinku," jelas lelaki itu.
"Banyak teka teki di sini, Siapa Bu Mira sebenarnya dan apa hubungan Bu Mira dengan Naga Merah?" tanya Ratih pada dirinya sendiri.
good Author