"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Tamparan Pertama
"Saya selamatkan dua-duanya."
Kalimat itu terdengar terlalu berani di depan pintu Ruang Operasi.
Pak Bambang tidak membantah. Ia hanya menatap Rangga selama satu detik, lalu mendorong pintu dengan bahunya.
"Masuk."
Lampu operasi menyala.
Pasien hamil itu dipindahkan ke meja. Tubuhnya menggigil karena demam dan nyeri. Tim anestesi bergerak cepat, sementara monitor memunculkan angka-angka yang tidak memberi ruang untuk ragu. Denyut jantung ibu cepat. Tekanan darah mulai turun. Dari monitor janin portable, suara detak kecil terdengar rapuh tapi masih ada.
Masih ada.
Rangga berdiri di sisi meja dan mengenakan sarung tangan steril. Teknik Bedah Apendektomi Kelas Dunia kini terbentang jelas dalam benaknya, lengkap seperti peta.
Rahim yang membesar mengubah posisi organ.
Apendiks terdorong lebih tinggi.
Perforasi berarti nanah dan infeksi bisa menyebar ke rongga perut.
Salah satu gerakan kasar bisa memicu kontraksi.
"Sayatan kecil, arah miring lebih tinggi dari titik klasik," kata Rangga. "Kita minimalkan manipulasi rahim."
dr. Yoga, yang berdiri sebagai asisten, spontan menatap Pak Bambang.
Pak Bambang tidak mengatakan apa-apa.
Itu izin.
Rangga mulai.
Pisau bedah membuka kulit dengan garis pendek. Tidak terburu-buru, tapi setiap gerakan memangkas waktu. Lapisan demi lapisan dilewati. Saat rongga perut terbuka, bau infeksi menyengat naik, membuat seorang perawat menahan napas.
"Perforasi," kata dr. Alya pelan.
Rangga mengangguk. "Suction."
Cairan keruh disedot. Bidang operasi dibersihkan. Apendiks yang meradang tampak bengkak dan pecah di satu sisi, seperti bara kecil yang hampir membakar seluruh ruangan di dalam tubuh pasien.
"Kalau ini terlambat satu jam lagi..." dr. Yoga tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Jangan pikirkan satu jam lagi," kata Rangga. "Pikirkan lima menit ini."
Ia mengangkat jaringan dengan sudut yang membuat Pak Bambang menyipitkan mata. Sulit, sempit, tetapi tidak menyentuh rahim secara kasar. Benang masuk. Ikatan jatuh tepat. Sumber infeksi dipisahkan, diangkat, lalu area dicuci sampai bersih.
Gerakannya bukan gaya pamer.
Justru karena terlalu bersih, semua orang bisa melihat jarak antara kemampuan biasa dan kemampuan yang membuat orang lupa bertanya usia.
Monitor janin tiba-tiba berbunyi cepat.
"Detak janin turun!" kata perawat.
Suasana menegang.
Suami pasien tidak dapat melihat proses di dalam. Dari koridor, suaranya terdengar pecah saat memanggil istrinya.
Rangga tidak mengangkat kepala. "Kurangi tarikan. Posisi meja sedikit miring kiri. Cairan lanjut. Dokter Alya, pantau tekanan darah ibu. Jangan beri tubuhnya alasan untuk kontraksi."
dr. Alya mengikuti cepat. "Tekanan mulai naik sedikit."
Detak janin masih rendah.
Rangga menunggu dua detik.
Dua detik itu terasa seperti dua menit.
Lalu suara kecil di monitor perlahan kembali.
Tuk... Tuk... Tuk.
Lebih stabil.
Seorang perawat menghembuskan napas tertahan.
"Janin kembali," katanya.
Rangga melanjutkan penutupan luka.
Pak Bambang, yang sejak awal berdiri siap mengambil alih, akhirnya mundur setengah langkah. Di matanya tidak ada lagi sekadar rasa ingin tahu. Ada rasa kagum yang ia tahan mati-matian agar tidak berubah menjadi ekspresi bodoh.
Saat jahitan terakhir selesai, jam di dinding menunjukkan malam sudah turun di luar rumah sakit.
"Operasi selesai," kata Rangga.
dr. Alya melihat monitor ibu, lalu monitor janin.
"Ibu stabil. Janin stabil."
Kalimat itu lebih kuat daripada tepuk tangan.
Kali ini seorang perawat mulai bertepuk tangan dan beberapa orang menyusul. dr. Yoga segera menurunkan tangannya. Tatapannya kepada Rangga menunjukkan betapa pahit kenyataan yang baru ia terima.
Pak Bambang melepas masker.
"Saya tidak bisa mengajarimu apa-apa lagi," gumamnya.
Rangga menoleh cepat. "Pak?"
Pak Bambang mendengus, seolah menyesal sudah bicara terlalu jujur. "Maksud saya, untuk teknik yang kamu tunjukkan malam ini. Untuk hal lain, kamu masih anak kemarin sore. Jangan besar kepala."
"Baik, Pak."
"Tapi operasi ini..." Pak Bambang melihat pasien yang mulai dipindahkan. "Ini bukan keberuntungan."
Rangga tidak menjawab.
Di kepalanya, suara sistem muncul lagi.
[Misi selesai.]
[Tingkat Penyelesaian: 90%.]
[Hadiah tunai sebesar Rp 200.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]
Ponselnya, yang ditinggal di loker ruang ganti, belum ia lihat.
Namun ia sudah tahu hidupnya kembali berubah.
Di luar ruang operasi, suami pasien hampir jatuh saat mendengar kabar itu. Kedua lengannya masih nyeri setelah dikembalikan, tetapi ia tetap berusaha mengatupkan tangan di depan dada.
"Dokter... istri saya?"
Pak Bambang menjawab, "Istri Bapak selamat. Janinnya juga stabil. Masih harus dipantau ketat, tapi operasi berhasil."
Pria itu menatap Rangga.
Kali ini tidak ada kapak, tidak ada amarah, tidak ada suara besar. Hanya air mata.
"Saya... saya tadi mengancam kalian. Maaf, Dokter. Saya bodoh."
Rangga menatap kedua bahunya. "Sendi Bapak masih sakit?"
"Sakit, tapi tidak apa-apa."
"Besok diperiksa lagi. Jangan banyak menggerakkan lengan dulu. Dan jangan pernah membawa senjata ke UGD lagi."
Pria itu mengangguk cepat. "Tidak akan. Demi Allah, tidak akan."
"Jaga istri Bapak. Dia yang paling lelah malam ini."
Ucapan itu membuat pria itu menangis lebih keras.
Beberapa staf UGD menyaksikan dari jauh. Malam itu, nama Rangga mulai berjalan dari mulut ke mulut. Bukan lagi sekadar dokter muda yang menghentikan perdarahan di Jalan Cahaya Bangsa. Sekarang ia juga dokter muda yang menyelamatkan ibu hamil dan janinnya setelah melumpuhkan suami bersenjata dalam tiga detik.
Berita di rumah sakit selalu bergerak lebih cepat daripada troli obat.
Ketika Rangga akhirnya masuk ruang ganti, notifikasi bank sudah menunggu di layar ponsel.
Transfer masuk: Rp 200.000.000
Pengirim: Yayasan Dana Abadi Cakrawala
Ia menatap angka itu lama.
Rp 150.000.000 tadi sore.
Rp 200.000.000 malam ini.
Saldo yang pagi tadi terasa seperti lubang kini berubah menjadi gunung yang belum sempat ia pahami.
Hal pertama yang ia lakukan bukan membeli apa pun.
Ia membuka aplikasi bank, memasukkan nomor rekening ibunya, lalu mengetik jumlah:
Rp 10.000.000.
Keterangan: Untuk Ibu.
Jarinya berhenti di tombol kirim.
Bu Suryani pasti akan panik. Ayahnya mungkin akan menelepon tiga kali. Mereka akan bertanya dari mana uang sebanyak itu. Selama ini, keluarga mereka selalu menghitung pengeluaran dalam ribuan.
Rangga menekan kirim.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Ibu.
Ia mengangkat.
"Nak?" suara Bu Suryani terdengar gemetar. "Kamu salah kirim? Ini uang apa? Sepuluh juta, Nak. Ibu sampai kaget."
Rangga bersandar ke loker, menutup mata sebentar.
"Tidak salah, Bu. Itu dari uang insentif praktik dan bantuan orientasi."
"Sebanyak ini?"
"Rumah sakit sedang ada program, Bu." Ia berbohong dengan suara yang dibuat stabil. "Ibu pakai untuk obat, belanja, dan bayar kebutuhan rumah. Jangan ditahan-tahan."
Di seberang sana, Bu Suryani terdiam. Lalu terdengar isakan kecil.
"Kamu makan cukup, Nak?"
Pertanyaan itu membuat tenggorokan Rangga tercekat.
Rp 350 juta di rekening, dan ibunya masih bertanya apakah ia makan cukup.
"Cukup, Bu."
"Jangan kerja terlalu keras."
"Iya."
"Ibu bangga sama kamu."
Rangga membuka mata.
Di cermin loker, wajahnya tampak lelah, rambutnya berantakan, dan ada noda darah kering di dekat rahangnya. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti orang yang hanya bertahan.
"Terima kasih, Bu."
Keesokan siang, rumah sakit sudah punya versi ceritanya sendiri.
Di kantin RSUD Harapan Bangsa, kursi-kursi plastik penuh oleh dokter, perawat, koas, dan pegawai administrasi. Aroma nasi, sambal, gorengan, dan es teh manis bercampur dengan suara sendok dan obrolan cepat.
Dedi duduk di depan Rangga dengan mata menyala.
"Gue tinggal telepon sehari, lo langsung jadi legenda UGD?" katanya sambil menusuk ayam goreng. "Serius, Ga, orang lab aja sudah cerita. Katanya lo bisa menjahit arteri sambil mata merem."
Rangga mengaduk nasi. "Jangan dilebih-lebihkan."
"Terlambat. Versi kantin sudah sampai tahap lo bisa menatap pasien lalu penyakitnya takut sendiri."
Rangga hampir tertawa.
dr. Alya lewat membawa nampan. Ia berhenti sebentar di samping meja.
"Boleh duduk?"
Dedi langsung duduk lebih tegak. "Silakan, Dokter. Saya mendadak merasa meja ini naik kelas."
dr. Alya tersenyum kecil. "Dedi, kan?"
"Wah, Dokter tahu nama saya. Hari ini resmi hari baik."
Rangga menggeleng pelan. "Jangan ganggu, Ded."
"Saya cuma menghargai senior."
dr. Alya duduk, lalu menatap Rangga. "Pasien hamil tadi pagi sudah dipindah ke ruang rawat intensif. Janinnya stabil."
"Syukur."
"Suaminya minta maaf lagi ke semua perawat."
"Bagus."
"Dia juga bilang kalau bertemu kamu, dia mau mencium tanganmu."
Dedi hampir tersedak. "Bro, level lo sudah naik ke tokoh masyarakat."
Rangga baru akan menjawab ketika suara kursi diseret kasar terdengar dari pintu kantin.
Obrolan di beberapa meja langsung turun.
Bimo masuk bersama Nadia.
Wajah Bimo gelap. Ia jelas sudah mendengar kabar itu. Anak orang biasa yang pagi kemarin ia sebut sampah, hari ini menjadi bahan pembicaraan seluruh rumah sakit. Lebih buruk lagi, kabar lain ikut sampai ke telinganya: Pak Bambang menjadikan Rangga anak didik.
Itu bukan hal kecil.
Di RSUD Harapan Bangsa, Pak Bambang bukan sekadar kepala UGD. Ia dokter senior yang bahkan Pak Hendra dengarkan. Menjadi anak didiknya berarti Rangga tiba-tiba mendapat sandaran yang tidak bisa diinjak sembarangan.
Bimo tidak menyukai itu.
Sama sekali.
"Wah," katanya keras. "Ternyata pahlawan kita sedang makan."
Nadia memegang lengan Bimo. "Bimo, jangan di sini."
"Diam, Sayang." Bimo menepis tangannya tanpa melihat.
dr. Alya menaruh sendok. Tatapannya berubah dingin.
Dedi berbisik, "Ga..."
Rangga tetap duduk. "Ada perlu, Bimo?"
"Ada." Bimo melangkah mendekat. "Gue mau lihat wajah orang yang baru sehari dapat panggung, langsung merasa dirinya dewa."
Beberapa perawat saling pandang.
Bimo menunjuk Rangga. "Lo pikir karena Pak Bambang memuji lo, lo sudah jadi siapa? Dokter tetap? Spesialis? Orang penting? Jangan mimpi."
Rangga mengambil tisu, membersihkan ujung jarinya. "Kalau selesai, saya mau makan."
Sikap tenang itu menyiram minyak ke api.
"Masih sok tenang?" Bimo tertawa kasar. "Kemarin gue bilang sampah. Kayaknya kurang tepat."
Ia membungkuk, suaranya sengaja dilempar ke seluruh kantin.
"Lo bukan cuma sampah. Lo limbah industri. Bau, murah, dan bikin orang normal jijik."
Kantin membeku.
Nadia memucat. "Bimo, cukup."
"Kenapa? Takut mantan miskinmu tersinggung?"
Rangga berdiri.
Tidak cepat. Tidak marah. Ia hanya berdiri, dan entah kenapa, meja di sekitarnya terasa lebih sempit.
"Minta maaf ke Nadia," katanya.
Bimo terdiam sesaat, lalu tertawa. "Apa?"
"Kamu boleh menghina saya. Itu utang kita berdua. Tapi jangan menyeret dia untuk mempermalukan orang."
Nadia menatap Rangga dengan mata gemetar.
Bimo melihat tatapan itu.
Kemarahan di wajahnya meledak.
"Jangan sok jadi pria baik!"
Tangannya melayang ke kerah Rangga.
Rangga bergerak setengah langkah.
Jari Bimo belum sempat mencengkeram kain ketika pergelangannya sudah berada di tangan Rangga. Satu putaran kecil. Siku dikunci. Bahu diturunkan.
Klik.
Suara itu pelan.
Tapi jeritan Bimo membuat seluruh kantin berdiri.
"Aaaakh!"
Tubuh Bimo jatuh berlutut, satu lengannya menggantung lemas. Wajahnya pucat, keringat langsung keluar di pelipis.
Rangga tidak menendang. Tidak memukul. Tidak menambah gerakan.
Ia hanya menahan posisi itu agar Bimo tidak melawan dan tidak cedera lebih jauh.
"Sendi bahumu lepas," kata Rangga datar. "Bisa dipasang kembali. Tidak akan cacat."
Bimo menggigil kesakitan. "Lo... lo berani..."
"Kamu yang menyerang dulu."
dr. Alya berdiri. "Semua mundur. Jangan sentuh bahunya sembarangan."
Dedi menatap Rangga dengan mulut terbuka. "Gila..."
Nadia berdiri kaku, wajahnya seputih kertas. Di matanya, Bimo yang selama ini ia anggap aman dan kuat sedang berlutut sambil menahan sakit. Sementara Rangga, pria yang ia tinggalkan karena terlalu miskin, berdiri tenang tanpa satu gerakan pun yang sia-sia.
Rangga menunduk menatap Bimo.
"Saya bisa pasang kembali sekarang. Tapi sebelum itu, ingat baik-baik."
Ia mendekat sedikit.
Suaranya tidak keras, tapi semua orang mendengar.
"Jangan jadikan saya panggung untuk membuang rasa takutmu. Berhenti memanggil saya sampah."
Bimo menggertakkan gigi. "Ayah saya..."
"Ya," Rangga memotongnya. "Kita akhirnya sampai ke bagian itu."
Ia melepaskan kunci sedikit, lalu dengan satu dorongan terukur memasang kembali sendi Bimo.
Klik.
Bimo menjerit lagi, lalu terengah-engah di lantai.
"Bawa dia ke UGD untuk diperiksa," kata Rangga kepada dua pegawai yang mendekat. "Catat sebagai dislokasi bahu karena percobaan kekerasan fisik. Tidak perlu dibuat lebih besar dari itu."
Kalimat itu membuat beberapa orang menahan napas.
Balasan itu sekaligus mengunci narasi.
Bimo dibantu berdiri oleh dua orang. Wajahnya merah oleh malu dan sakit. Ketika sampai di pintu kantin, ia menoleh, matanya penuh kebencian.
"Kamu akan menyesal! Ayah saya tidak akan diam!"
Kantin sunyi.
Rangga mengambil nampannya, seolah makan siangnya hanya tertunda sebentar.
"Sampaikan salam saya untuk ayahmu."