ig : @es.pucil
_____________
Ada banyak alasan mengapa Karina dengan sangat mudah diterima di keluarga Eduardo. Ia seorang aktris terkenal yang selalu sukses menjadikan filmnya selalu laris di bioskop, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang sangat baik.
Namun, ada juga beberapa alasan yang sangat kuat mengapa Karina harus memilih Erik Eduardo sebagai kekasih meski usia mereka terpaut 19 tahun. Selain kaya raya serta sukses di bidang bisnis, Karina juga harus memilih Erik untuk ... balas dendam. Demi menebus kematian dirinya dan sang kakak 19 tahun silam, karena keserakahan Erik untuk memiliki sang anak hasil hubungannya dengan sang kakak: Bella ... yang membuahkan gadis kecil bernama Eliza dengan fisik sangat menyerupai mendiang Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Es Pucil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Bella Kedua
Karina membaca pesan tentang keberadaan Erik dan putrinya, dan dengan dibantu oleh seorang pelayan perempuan, ia akhirnya tiba di sebuah ruangan VIP yang tertutup.
“Terima kasih,” kata Karina, tanpa lupa memberikan senyum terbaik pada si pelayan, juga sedikit anggukan. Ia awalnya menerima anggukan hormat yang sama, tetapi setelah Karina melepaskan maskernya, pelayan itu langsung melotot terkejut.
“K—Karina kan ya?” tanya si pelayan terbata.
Karina memberikan anggukan anggun dua kali, sebagai bentuk pengiyaan. Seperti sudah setelah otomatis, saat ia dikenali oleh penggemarnya, hal yang pasti diminta dari Karina adalah foto. Gadis itu meladeni dengan sangat baik, lalu dipersilakan masuk setelah memberikan tanda tangannya.
Setelah kepergian si pelayan, Karina sempat mengembuskan napas secara kasar dengan mata yang berotasi malas. Usai memperbaiki sikap, ia baru berbalik sembari memperbaiki posisi rambut terurainya. Memberikan isyarat pada dua penjaga di sisi kanan-kiri pintu untuk membukakannya jalan memasuki ruangan.
Ada empat manusia di dalam ruangan, dua di antaranya adalah pelayan, seorang lagi adalah Erik, dan yang keempat sempat membuat Karina menghentikan langkah dan napasnya sesaat. Perempuan asing berambut sebahu itu baru pertama kali Karina temui, tetapi ia sudah sangat familier dengan wajahnya. Karina hanya perlu sedikit berusaha, dan ia sudah menemukan ingatan tentang perempuan itu. Membuatnya sempat menggerakkan bibir tanpa suara, menyebut satu nama.
“Bella?”
“Karina, kemari.” Erik berdiri, tidak lupa mengentalkan jasnya untuk mengusir kusut di sana. Karina mengikuti instruksi itu meski sedikit canggung dan kaku, dengan pandangan hampir tidak pernah berhenti mengarah pada si perempuan. “Kenalkan, ini putri tunggal saya: Eliza Eduardo.”
“Pu-tri?” Karina mengeja satu kata itu dengan susah payah. Ia mengulurkan tangan ke arah si gadis berwajah dingin itu. “Hai, saya Karina.”
Untuk Eliza, perempuan itu butuh pelototan dari ayahnya sebelum menerima uluran tangan tersebut. Karina sempat mendapatkan tatap malas dari Eliza ketika perempuan itu menyebutkan namanya dengan sangat singkat.
“Eliza.”
Jabatan tangan dilepaskan, tetapi tidak menghentikan rasa penasaran Karina. Ia bertanya-tanya, apa kakaknya di masa lalu juga mengalami reinkarnasi? Namun jika iya, mengapa tidak mengingat Siska sedikit pun? Karina bahkan ingat masa lalunya hanya dengan bertemu Erik, bagaimana bisa perempuan ini tidak mengingat apa pun?
Atau, hanya Karina di sini yang diizinkan untuk menuntut keadilan di masa lalu? Tapi yang bermasalah di sini adalah Bella dan Erik, sementara Siska tidak memiliki urusan apa pun dengan mereka, tetapi tetap mengalami kehidupan lagi. Atau bagaimana?
Karina masih belum menemukan jawaban dari setiap kebingungannya ketika suara bariton Erik terdengar.
“Silakan duduk, Karina.”
Arahan tersebut dipatuhi dengan baik. Karina duduk di salah satu sofa single, usai meletakkan tas tangan hitam bermerek di sampingnya.
Makanan dipesan oleh Erik, dengan persetujuan Karina untuk menyamakan menu. Selanjutnya, obrolan panjang yang didominasi tentang pencapaian Erik sepanjang hidupnya. Selama pria itu sibuk bercerita, Karina hanya menimpali sesekali, dan lebih sering sibuk memperhatikan Eliza yang benar-benar tidak menunjukkan tanda mengenali Karina sebagai adiknya di masa lalu.
“Eliza pasti sehebat ayahnya,” kata Karina memberikan tanggapan setelah Erik berhenti menjelaskan sebentar. “Bagaimana dengan dia?” tanya Karina.
“Sayangnya, Karina, dia didominasi mendiang ibunya. Padahal saya juga berekspektasi bahwa dia akan mengikuti jejak saya: hebat di segala bidang.”
Karina memberikan anggukan dua kali secara anggun.
“Mungkin dia ahli di suatu bidang, dan Anda hanya perlu mencari untuk mendukungnya, Pak,” timpal Karina.
“Dia cuman bisa di bidang musik,” jawab Erik. “Bagus sebenarnya, tapi karena dia introvert akut, dia bahkan tidak bisa tampil di depan banyak orang dan tidak bisa saya usahakan agar bisa menjadi penyanyi hebat.”
“Sangat disayangkan kalau begitu.” Karina masih tidak bisa berhenti memperhatikan Eliza, dan gadis itu tampaknya mulai risi terus diperhatikan.
“Saya semakin takjub, Karina, karena kami yang lebih muda dari Eliza, jauh lebih berbakat, hebat, dan bisa memanfaatkan potensi dengan baik. Saya sebenarnya iri, ingin memiliki anak sepertimu, tapi setelah saya pikir-pikir, kenapa saya tidak menghasilkan saja anak seperti kamu, dari pernikahan kita nantinya?”
Eliza tampak melotot maksimal mendengarnya, bahkan kini menoleh cepat pada Erik yang tampak santai. Sementara Karina, karena sudah dikejutkan beberapa kali, ia tampak lebih biasa kali ini. Bahkan sudah memasukkan pernikahan dalam salah satu bagian dari rencana menuntut keadilannya.
“Ya. Saya pikir akan semakin sempurna jika anak itu mewakili gen terbaik dari kita berdua—“
“Kalian gila?” Eliza yang sedari tadi hanya diam, kini angkat suara dengan tatap sinis mengarah ke Karina dan Erik secara bergantian. “Kamu—“ Ia menunjuk Karina dengan tajam, “Mau jadi ibu tiri saya? Lupa umur, Dek? Kamu bahkan lebih muda dari saya!”
“Menggebu-gebu ini, apa turunan dari mendiang ibunya juga, Pak Erik?” tanya Karina, mengabaikan kemarahan Eliza. Ia tetap fokus pada rencananya: merebut perhatian pria tua itu.
“Sayangnya, iya. Hampir tidak ada yang diwariskan dari saya ke dia,” ucap Erik dengan suara lesu.
Karina membiarkan mantel yang sebelumnya tersemat di pundak untuk menutupi bahu terbukanya jatuh begitu saja. Ia memajukan tubuh, dan menggenggam tangan Erik dengan lembut.
“Tidak masalah. Saya bisa memberikan anak sempurna untuk Anda, Pak Erik. Bahkan walaupun dia tidak didominasi oleh gen Anda, saya pastikan dia akan penurut dan tahu sopan santun,” Karina menatap teduh pada Eliza yang semakin marah, “Apalagi di hadapan orang tua sendiri. Sangat disayangkan ibunya meninggal dan tidak sempat mengajarinya tata krama.”
Erik tertegun sejenak melihat senyum anggun yang Karina tampilkan. Seolah dalam kondisi setengah sadar, pria itu memberikan dua buah anggukan.
“Omong-omong, saya kemungkinan sulit mendapatkan restu orang tua,” kata Karina sembari menarik tangannya dari kulit Erik. “Jadi, apa Anda mau sedikit berusaha untuk mendapatkan restu orang tua saya, Pak Erik?”
Pria itu segera mengiyakan tanpa beban. “Saya pastikan mereka akan segera memberikan restu.”
Karina tersenyum, seolah menyukai optimisme dari pria ini. “Apa kita juga membutuhkan restu dari putri Anda, Pak? Saya tidak keberatan jika harus berusaha—“
“Tidak perlu,” kata Erik cepat.
Hak itu membuat Eliza memukul meja dengan kasar. Ia sempat memberikan tatap tajam ke Karina dan Erik secara bergantian, lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa.
“Tapi saya akan tetap berusaha,” ucap Karina sembari memandangi pintu yang baru saja ditutup kasar. “Melakukan pendekatan untuk putri Anda agar tidak ada masalah di kemudian hari. Saya jelas tidak mau Anda terbagi dua antara harus memilih saya atau putri Anda.”
Jawaban Karina terdengar sangat bijak, yang berbanding terbalik dengan niatan asli yang ia rencanakan dalam hatinya.
Bahwa ia harus mencari tahu apakah Eliza juga memiliki ingatan yang sama dengannya atau tidak.
jam 12.10 WIB
jam 00.10 WIB
info cerita :
ig : es.pucil
fb : Es Pucil III
#Menarik 😳
Sugar Daddy nya cakep bner kak Chil..mau dah w jg klo bgtu mh 🙈