Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perundungan
Suasana di sebuah sekolah menengah atas itu tampak hening. Murid-murid lain sepertinya sudah pulang, kecuali lima orang yang berada di atap gedung.
Salah satu dari mereka, seorang remaja perempuan tampak sedang ditindas oleh empat orang sisanya.
"Hei, yatim! Kenapa uangnya kurang?! Sudah kukatakan hari ini harus ada 500 ribu!" bentak salah seorang dari mereka.
Remaja perempuan itu gemetaran. Dia telah mengalami perundungan berat selama beberapa bulan terakhir, tepatnya semenjak kehadiran murid baru di sekolah mereka.
Dia tidak bisa melawan, dan tidak ada satu pun orang yang bersedia menolongnya.
Setiap hari dia dipukuli, dihina, bahkan dilecehkan secara keji—dipaksa melepas pakaian lalu direkam menggunakan kamera ponsel.
"A-aku sudah tidak punya uang lagi..." gumamnya lirih.
"Ya kerja, bodoh! Kamu bisa ambil pekerjaan paruh waktu lebih banyak lagi!"
Siswa yang berdiri paling depan menginjak jemari tangannya dengan keras. "Awas saja kalau besok kamu tidak bawa sisanya... videomu bakal kami sebarkan!"
Mereka tertawa puas, lalu berbalik pergi meninggalkannya.
Sementara itu, sang remaja hanya bisa terisak di atas lantai dingin, menahan sakit dan rasa hina yang teramat sangat.
Dia hanyalah seorang yatim piatu yang tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya.
"Ibu... Ayah..." bisiknya pilu.
Sore harinya, dia berjalan gontai menyusuri jalanan.
Seragam sekolahnya kotor dan robek akibat perundungan tadi.
Orang-orang di sepanjang jalan menatapnya dengan pandangan heran, namun tak ada satu pun yang peduli.
Rasa terasing dan terkucil menggerogoti hatinya.
Katanya, di dunia ini ada banyak orang baik.
Namun baginya, dunia ini terasa begitu sempit dan orang baik itu tidak ada.
Hidupnya terasa sudah hancur dan tidak berguna lagi.
Dia hanya bisa memendam semua penderitaan dan ketidakberdayaan ini sendirian.
Dia tiba di rumah dengan rasa putus asa yang mendalam.
Walaupun niat untuk mengakhiri hidup terus membayanginya, selalu ada keraguan yang menahannya.
Air matanya menetes perlahan. "M-memangnya... kalau aku mati, mereka akan sedih? Apa mereka akan menyesal?"
Tentu saja tidak. Kematian seorang siswi biasa tidak akan mengubah apa pun di dunia ini.
Kenyataan pahit itulah yang memicu amarah, kekecewaan, dan keputusasaan di dadanya. Dia ingin para perundungnya menerima balasan.
Meskipun rasa ingin mati itu terus menghantuinya, dia tetap memaksa diri untuk bertahan hidup, menerima siksaan demi siksaan, meski semakin hari jiwanya semakin kehilangan semangat.
Hingga pada suatu hari, saat dia berdiri di atas kursi dengan tali yang siap dipasangkan ke lehernya, siaran televisi yang menyala di ruang tengah menayangkan sebuah berita.
"Seorang mahasiswa membawa senjata api dan bom rakitan ke dalam kampus, membunuh banyak korban. Pelaku mengaku melakukan aksi nekat tersebut karena dendam akibat di-bully..."
Mata gadis itu membelalak lebar. Tatapannya yang tadinya mati mendadak menyala.
Dia seperti mendapatkan sebuah harapan baru.
Sejak saat itu, dia mulai mempelajari cara merakit sesuatu secara sembunyi-sembunyi, mengumpulkan uangnya perlahan-lahan sambil terus bertahan dari siksaan para perundung di sekolah.
Dalam waktu tiga bulan, seluruh persiapannya berhasil diselesaikan. Sebuah senyum lebar yang kelam terukir di wajahnya.
"Hahaha! Aku akan membalas semua perbuatan kalian semua!"
"Bunuh...!"
"Bunuh...!"
"Penjahat harus mati!"
Dia memasukkan seluruh peralatan yang telah disiapkannya ke dalam tas sekolahnya. Dengan wajah yang penuh luka lebam dan memar, dia telah siap untuk melakukan aksi balas dendam.
Dia melangkah keluar dari rumahnya, lalu menggigit bibirnya rapat-rapat.
"Ayah... Ibu... aku akan segera menyusul kalian."