NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertarungan dimalam pertama

Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, mengeluarkan uap hangat bersamaan dengan aroma sabun lavender yang harum semerbak. Viona melangkah keluar, sudah berganti pakaian menggunakan piyama sutra berwarna putih gading yang longgar namun tetap tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuh indahnya. Rambut panjangnya yang masih sedikit agak basah dibiarkan tergerai menutupi bahunya. Begitu kakinya menginjak area kamar, dia mengedarkan pandangan dan mendapati pintu balkon terbuka lebar.

Viona berjalan mendekat ke arah balkon, lalu langkahnya terhenti di ambang pintu. Dia sedikit terkejut melihat sikap Bima yang sedang duduk santai menikmati kopi dan rokoknya di bawah temaram cahaya bulan. Pemuda itu terlihat sangat tenang, sangat santai, seolah-olah pernikahan mewah dengan cucu konglomerat terkaya di wilayah Utara ini tidak memberikan dampak apa-apa pada mentalnya. Di mata Viona, Bima terlihat seperti pria yang sama sekali tidak memiliki ambisi atau ketertarikan pada harta melimpah yang baru saja diserahkan oleh neneknya.

Menepis rasa herannya, Viona berdehem pelan untuk memecah keheningan malam. "Bima," panggil Viona dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan berwibawa, mencoba mempertahankan benteng pertahanan dirinya sebagai seorang gadis tsundere.

Bima yang mendengar panggilan itu langsung mematikan puntung rokoknya di asbak, menyesap sisa kopinya, lalu bangkit berdiri. Dengan langkah tegap namun santai, Bima berjalan mendekat memasuki kamar. "Ada apa, Viona?" tanya Bima tenang.

Viona tidak langsung menjawab. Dia berbalik menuju meja rias, mengambil selembar kertas yang tampaknya sudah dia persiapkan sejak tadi, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Bima. "Coba kamu baca ini," perintah Viona ketus.

Bima menerima kertas tersebut dengan tenang. Matanya dengan cepat memindai tulisan tangan rapi di atas draft tersebut yang berisi tiga poin utama:

Pernikahan kita hanya untuk menyenangkan Nenek.

Kamu tidak boleh memaksakan kehendak apa pun padaku.

Kamu juga harus mengikuti semua aturanku, baik yang tertulis ataupun tidak tertulis.

Setelah selesai membaca, Bima tidak menunjukkan reaksi marah atau tersinggung sama sekali. Alih-alih memprotes aturan sepihak yang sangat egois tersebut, bibir Bima justru mengukir sebuah senyuman tipis yang misterius, membuat Viona yang sedari tadi tegang menunggu reaksi suaminya menjadi bingung sendiri.

Bima menurunkan kertas itu, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata indah Viona.

"viona Sepertinya kamu melupakan sesuatu, ," ujar Bima pelan.

Dahi Viona mengernyit, alisnya bertaut karena penasaran.

"Apa itu, Bima? Apa yang kurang?" tanya Viona heran.

"Materai,"

jawab Bima singkat sambil terkekeh pelan.

"Sebuah perjanjian tertulis di atas kertas tanpa adanya materai itu kurang sah hukumnya.

Jadi rasanya kurang sip."

Mendengar ucapan Bima, wajah Viona merona merah karena malu sekaligus kesal karena merasa kebodohannya digerayangi oleh suaminya sendiri. "C-cih! Bilang saja dari tadi!" ketus Viona menutupi rasa canggungnya. Dia pun bergegas berjalan menuju laci meja kerja di sudut kamar, mengobrak-abrik isinya sejenak, lalu kembali membawa selembar materai. Dengan gerakan cepat, dia menempelkan materai tersebut di bagian bawah kertas, lalu menyodorkan sebuah pena perak ke arah Bima. "Nih! Sekarang tanda tangan!"

Dengan sikap yang sangat santai tanpa beban, Bima menerima pena tersebut dan langsung membubuhkan tanda tangannya yang tegas di atas materai, menyetujui semua aturan yang dibuat oleh istrinya. Viona tersenyum puas dalam hati melihat kemenangan pertamanya malam ini. Dia merebut kembali kertas itu dan berniat berbalik untuk menyimpannya ke dalam laci. Namun, baru saja Viona memutar tubuhnya setengah lingkaran, suara bariton Bima kembali terdengar, menghentikan langkah kaki sang istri.

"Sekarang kita sudah sah menjadi suami istri," kata Bima, melangkah satu tindakan lebih dekat hingga bayangan tubuh tegapnya menutupi Viona. "Kamu sudah membuat peraturanmu sendiri. Maka adil rasanya jika aku pun juga memiliki peraturan untukmu. Dan saya rasa, sebagai cucu dari seorang bangsawan yang sangat dihormati, kamu pasti sangat menjaga etika dan komitmen dalam sebuah hubungan, bukan?"

Kata-kata Bima yang tenang namun sarat akan jebakan logika itu membuat Viona tidak bisa berkutik. Dia berbalik kembali dengan wajah cemberut, bersedekap dada. "Hmph! Peraturan apa lagi? Jangan harap kamu bisa membuat aturan yang aneh-aneh ya!" ancam Viona ketus.

Bima tidak membalas ancaman itu dengan kata-kata. Dia mengambil selembar kertas kosong baru dari atas meja, lalu menggunakan pena perak tadi untuk menuliskan draft versinya sendiri dengan gerakan tangan yang mantap. Hanya butuh waktu semenit bagi Bima untuk menyelesaikan tulisannya, sebelum akhirnya menyodorkannya ke hadapan Viona.

Viona menerima kertas itu dengan malas, namun begitu matanya membaca tiga poin yang tertulis di sana, seluruh tubuhnya mendadak menegang dan matanya terbelalak kaget setengah mati:

Kita menikah secara sah tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

Aku mau kamu melahirkan anak untukku demi menyenangkan Nenek.

Jagalah kehormatan keluarga kita dengan baik.

"B-Bima! Apa-apaan maksudnya ini?!" pekik Viona dengan wajah yang kini sudah memerah sempurna, panas sampai ke ujung telinganya. Dadanya naik turun akibat rasa syok yang luar biasa, terutama saat matanya tertuju pada poin kedua yang tertulis dengan sangat gamblang di sana.

Bima hanya tersenyum simpul, menampilkan ekspresi wajah yang sangat polos seolah tidak bersalah. "Kamu sudah dewasa, Viona. Aku yakin kamu pasti sangat paham dengan maksud dari tulisan itu," jawab Bima dengan nada santai. "Tanda tangan saja di sini. Tidak susah, kok."

"Tapi—tapi poin nomor dua ini keterlaluan! Siapa juga yang mau—" Viona mencoba memprotes dengan suara terbata-bata, namun ingatan tentang peringatan keras dari neneknya tadi sore di ruang tamu mendadak melintas di kepalanya. Neneknya secara spesifik meminta mereka memberikan keturunan untuk keluarga Utara. Mengingat janji ketat pada neneknya serta sindiran Bima tentang 'etika bangsawan' tadi, Viona benar-benar merasa tersudut dan kalah telak oleh permainan suaminya sendiri.

Dengan perasaan campur aduk antara kesal, malu yang meledak-ledak, dan gengsi yang runtuh, Viona menyambar pena dari tangan Bima. Dia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut dengan hentakan yang kasar, meluapkan seluruh emosinya. Setelah selesai, dengan gerakan cepat dan kasar, dia menyatukan kedua lembar draft perjanjian malam pertama mereka, memasukkannya ke dalam sebuah map dokumen, lalu membanting map itu ke dalam laci meja dan menguncinya rapat-rapat.

Viona berbalik kembali menghadap Bima, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Efek dari ketegangan perang draft tadi membuat suasana di dalam kamar terasa semakin canggung. "A-aku... aku belum terbiasa tidur satu ranjang dengan orang lain," ujar Viona dengan suara yang sedikit bergetar, pandangannya beralih ke arah ranjang king size yang mewah di tengah kamar. "K-kamu tidur di sofa dulu untuk malam ini!"

Bima tidak mendebat. Dia hanya tersenyum hangat melihat tingkah menggemaskan dari istri tsundere-nya itu. "Baiklah, tidak masalah," jawab Bima lembut. Dia berjalan menuju ranjang, mengambil satu bantal ekstra serta sebuah selimut tebal, lalu berjalan menuju sofa panjang yang terletak di sudut kamar dekat jendela. Bima merebahkan tubuh tegapnya di sana, memposisikan dirinya senyaman mungkin, lalu memejamkan mata. Mantan prajurit pasukan khusus seperti dirinya sudah terbiasa tidur di mana saja, bahkan di tengah hutan belantara sekalipun, jadi tidur di sofa mewah seperti ini adalah sebuah kemewahan tersendiri baginya. Tak butuh waktu lama, terdengar embusan napas yang teratur dari arah sofa—Bima sudah tertidur dengan sangat pulas.

Namun, kedamaian Bima justru berbanding terbalik dengan kondisi batin Viona yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang. Gadis itu menatap sosok Bima yang tertidur pulas dengan pandangan yang dipenuhi rasa kesal yang amat sangat mendalam. Dia meremas bantal di pelukannya dengan gemas, giginya bergeletuk menahan rasa dongkol.

"Bima! Bima! Kamu itu bodoh atau bagaimana, sih?!" jerit Viona frustrasi di dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah sofa. 'Malam ini kan malam pertama kita! Aturan di kertas itu kan cuma buat formalitas saja! Harusnya sebagai laki-laki kamu itu menerkam aku,mau gaya apapun kita lakukan malam ini Bima! Paksa aku sedikit kenapa! Malah langsung tidur nyenyak begitu di sofa!'

Gadis cantik itu mendengus kasar, melempar bantalnya ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi sofa. Rasa kesal, gengsi yang tertinggal, serta ekspektasi malam pertamanya yang hancur berantakan akibat kepolosan sekaligus ketegasan Bima sukses membuat Viona terjaga semalaman. Sepanjang malam yang sunyi itu, yang terdengar hanyalah suara jangkrik di luar villa dan gerutan kesal dari sang putri konglomerat Utara yang terpaksa meratapi malam pertamanya dalam kesendirian, sementara suaminya tertidur tanpa beban di sofa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!