"Perjodohan?? Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Pah..."
Naomi menolak keras perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Tidak bisa menolak, ini wajib hukum nya Nao...."
Bagaimana mungkin dia akan menikah dengan adik dari sang mantan pacar yang sampai saat ini masih di cintai nya...
Apakah nanti rumah tangga nya akan semulus jalan tol? atau seperti jalan jalan yang penuh dengan lubang dan juga kerikil tajam?
Simak kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita
Naomi mendongakkan wajahnya ketika ia mendengar apa yang dibicarakan oleh laki-laki yang barusan ditabraknya, ia memang salah dan Naomi juga tidak mau berdebat panjang lagi karena moodnya sekarang tidak baik-baik saja.
"Maaf."
Hanya itu yang Naomi ucapkan, kemudian gadis cantik itu pergi dari sana dan mendirikan laki-laki yang tampaknya masih marah dengan kelakuan Naomi.
Tetapi Naomi sama sekali tidak peduli, daripada ia berdebat panjang dengan laki-laki yang tidak dikenalnya lebih baik ia meminta maaf dan meninggalkan laki-laki itu toh juga ia memang bersalah dan juga tidak ada kerugian dari laki-laki yang barusan ditabraknya.
Tidak memperdulikan lagi apa yang dilakukan oleh laki-laki itu Naomi segera menuju ke sebuah taman, di mana dirinya dan Vino dulu sering menghabiskan waktu kedua ketika santai dan di sanalah Naomi menangis, menumpahkan apa yang ada di dalam hatinya yang saat ini masih terasa sesak.
Naomi tidak menyangka jika 2 tahun menunggu Vino, kenyataan yang diterima adalah seperti ini. Vino memang kembali tetapi bukan kembali untuk dirinya melainkan kembali untuk merajut kebahagiaan bersama perempuan lain.
Tidak menyangka apa yang Naomi impikan sejak dulu akhirnya berantakan seperti ini, hancur sudah harapan Naomi untuk bisa bersama dengan Vino.
Naomi kembali mengeluarkan air matanya ketika ia mengingat apa yang dilakukan oleh Vino pagi ini dan Naomi tidak menyangka jika Vino tega melakukan seperti itu.
Beberapa jam Naomi berada di taman itu hingga akhirnya ia yang lelah menangis dan lelah hati yang sudah tersakiti, akhirnya pergi dari taman itu tentu saja bukan kembali ke rumah tetapi ke sebuah cafe di mana kafe itu berada di samping kampus yang pastinya ia akan menghubungi Siska dan mengeluarkan semua yang ada di dalam hatinya.
Keluar dari taman, seperti tadi Naomi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli dengan keselamatan nyawanya , yang ada di dalam hatinya saat ini adalah kecewa hancur dan juga kesedihan yang mendalam.
Mungkin saja kalau terjadi sesuatu yang menimpa Naomi gadis itu akan merasa senang, bahkan Naomi berniat untuk bunuh diri demi melupakan semua yang ada di dalam hatinya, ia tidak bisa hidup tanpa seorang Vino yang nyatanya jelas-jelas kekasihnya itu telah berkhianat dan pergi meninggalkan dirinya untuk menikah dengan perempuan lain.
Tetapi Naomi sadar, bunuh diri tidak bisa menyelesaikan suatu masalah. Iya kalau ia langsung mati kalau tidak maka akan panjang ceritanya lagi dan Naomi juga memikirkan kedua orang tuanya yang sudah berjuang mati-matian untuk membesarkan dirinya dan menyekolahkannya hingga tinggi, juga hanya dirinya lah anak dari kedua orang tuanya itu.
Beberapa menit kemudian Naomi sudah berada di cafe tentu saja ia berusaha seger mungkin tidak menunjukkan kesedihannya di mata orang lain meskipun di dalam hatinya hancur.
Mami juga sudah menghubungi Siska dan ternyata memang benar pergantian mata kuliah membuat Siska langsung saja menuju ke cafe di mana Naomi berada saat ini.
Ia tahu kalau Naomi sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan bantuannya meskipun Siska sendiri belum tahu apa masalah yang menimpa Naomi saat ini.
"Hei, lo kenapa?"
Siska yang baru saja tiba di kafe langsung saja menemui sahabatnya itu dan memang benar apa yang dipikirkan kalau Naomi sedang ada masalah yang membuat gadis itu murung.
Siska paham, meskipun Naomi berusaha untuk menutupi suatu masalah dengan dirinya tetapi Siska yang sudah bersahabat lama dengan Naomi pastinya tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini, tentu saja ia paham betul apa yang dilakukan oleh Naomi dan apa yang menimpa oleh gadis itu.
Belum juga Naomi bercerita, tetapi air matanya sudah jatuh lagi membasahi pipi gadis itu, mengapa jadi cengeng saat ini atau mungkin memang dirinya yang tidak bisa menahan sesak yang ada di dalam dada.
"Hai Nao, kenapa Lo menangis?"
Siska semakin bingung saja melihat air mata yang bercucuran dari mata Naomi dan membasahi wajah cantik itu, ia pun segera meraih tubuh Naomi dan memeluknya, berusaha untuk membuat Naomi tenang meskipun Naomi sendiri belum cerita apa yang sebenarnya terjadi.
"Minum dulu, setelah itu ceritakan padaku."
Siska memberikan minuman yang ada di depannya tentu saja itu adalah minuman yang sudah dipesan oleh Naomi.
Naomi dengan segera langsung meminumnya, dan setelah itu ia berusaha untuk tegar dan menghapus air matanya kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
Dan Siska juga bingung, padahal seharusnya pagi ini Naomi bahagia karena bertemu dengan Vino tetapi mengapa malahan menangis dan berada di sini.
"Kak Vino, Sis?"
"Kak Vino kenapa?"
Siska jadi bingung sendiri, ada apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Naomi malah berwajah sedih seperti itu dan mengatakan tentang Vino, apa ada yang terjadi dengan Vino?
"Bukannya Vino sudah kembali?"
Belum mendapatkan jawaban dari Naomi karena penasaran Siska langsung saja menanyakan tentang Vino kenapa sahabatnya itu jadi seperti itu saat ini dan pastinya ini bukanlah berita baik melihat ekspresi wajah Naomi yang tidak menyenangkan dan juga nampak sedih.
"Kak Vino memang sudah kembali tetapi dia kembali bersama dengan perempuan lain."
"Apa?"
Meskipun Siska kaget tetapi gadis itu juga percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naomi terlebih lagi memang dari dulu sifatnya Vino seperti itu yang tidak hanya berlabuh pada satu perempuan saja melainkan dengan banyak perempuan dan saat ini kenapa menangis bisa sedih itu padahal ia tahu sendiri kalau kekasihnya itu memang Playboy.
"Iya, kak Vino kembali dengan perempuan lain dan dia mau menikah dengan perempuan itu karena perempuan itu juga sudah hamil anaknya."
Siska menggeleng, firasatnya memang benar jika terjadi sesuatu kepada Vino bukan karena sebuah kecelakaan tetapi tentang penghianatan yang mengakibatkan putusnya hubungan Naomi dengan Vino.
"Jangan bersedih, lo sudah tahu apa yang terjadi dengan kak Vino dan pastinya dia bukan laki-laki yang baik."
Naomi mendongakkan wajahnya ia menatap tajam ke arah Siska yang mengatakan hal yang tidak baik untuk Vino.
"Apa? jangan kamu membela laki-laki itu, sudah jelas dia tidak baik untukmu, dia sudah berkhianat bahkan sudah menghamili perempuan lain, apa kamu masih mempertahankannya? tidak Nao, biarkanlah dia bersama dengan perempuan lain dan masih banyak laki-laki yang mau sama kamu dan tentunya laki-laki itu pasti baik untuk kamu."
Naomi terdiam apa yang dikatakan oleh Siska itu adalah benar karena bagaimanapun ia juga tidak akan merusak rencana pernikahan Vino dengan perempuan itu yang mana Vino sendiri juga mengakui kalau dirinyalah yang telah membuat perempuan itu hamil jadi maka tidak mau menemui harus merelakan kekasihnya itu bersama dengan perempuan lain.