Hati sejatinya tak bisa terbagi...
Cinta tak seharusnya menyakiti...
Tapi ... Kenapa aku berani membagi hati?
Kenapa aku menyakiti dua lelaki yang mencintaiku? Bahkan dengan gila-nya aku mencintai sama rata mereka berdua!
__Simak aja yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Memang Sudah Berubah Menjadi Bajingan!
Saat pulang keesokan harinya, Issac dikejutkan dengan perkataan Mamanya.
"Apa maksud Mama jika Alex pergi dari rumah?"
"Mama bilang, Alexandra mengemasi semua barang-barangnya lalu pergi dia mengatakan akan mulai tinggal di Apartemen."
"Sendiri? Atau dengan kekasihnya?"
"Entahlah, tapi coba kamu telepon dan tanyakan sendiri. Tapi... Ngomong-ngomong tubuhmu bau--"
"Semalam di rumah Deri ada yang menumpahkan minuman..." Issac memotong perkataan Ibunya, tanpa banyak bicara lagi dia pergi dari ruang depan menuju kamarnya.
Tiga hari kemudian karena gelisah, Issac datang ke Perusahaan sang Ayah. Dia ingin menemui Alexandra karena nomer kontaknya di blokir oleh perempuan itu, dia masuk dengan mudah karena semua sudah mengenalnya sebagai putra dari Presdir mereka.
Tok.
Tok.
Tok.
"Papa, ini aku Issac."
Kendrick merasa aneh putra yang biasanya susah sekali diajak ke Perusahaan tiba-tiba datang. "Masuklah."
Pintu terbuka putranya masuk dengan wajah ditekut, Kendrick sudah merasa bosan melihat wajah galau putranya itu.
"Ada apa? Wajahmu semakin hari semakin mengerikan Issac, apa terjadi sesuatu?"
"Aku ingin bertemu Alex, bisakah Papa memanggilnya untuk menemuiku?"
"Kenapa tidak kamu telepon?" Kendrick menyipitkan matanya curiga.
"I-itu karena Alex memblokir nomerku," jawab Issac jujur.
"Kalian bertengkar karena masalah apa?" Kendrick menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bersedekap memandang putranya dengan curiga.
"Hanya bertengkar biasa, Pah."
"Benar?"
"Bener, Pah. Ayolah... bantu aku."
Kendrick menghembuskan nafasnya, "Sebentar, kamu ingin bertemu dimana?"
"Di ruangan kosong, aku butuh bicara serius dengan dia."
Kendrick memijit interkom memanggil Alexandra melalui kepala divisi.
"Pergilah ke ruangan meeting. Disana sedang kosong, tanyakan ruangannya pada sekertaris Papa."
"Terima kasih, Pah," Issac segera keluar menanyakan ke sekertaris Ayahnya lalu dia diantar ke ruangan meeting.
Issac menunggu di dalam, selang tak berapa lama Alexandra membuka pintu. Perempuan itu menatap benci lelaki yang sedang duduk di kursi di depan meja panjang tempat meeting selalu dilakukan.
Alexandra mendekat maju dengan langkah malas, "Ada apa?"
"Duduklah sebentar."
"Hahhhh..." dessah malas Alexandra seraya duduk, pemuda yang ia kenal selama belasan tahun kini ia merasa muak saat melihatnya.
"Kenapa kamu menghindariku, Lex?"
"Kamu bertanya karena tidak mengerti atau pura-pura tak mengerti?"
"Aku melihat noda merah di seprai, aku kira kamu sudah pernah berhubungan badan dengan kekasihmu Jefri. Tapi... aku tak mengira kamu masih..."
"Kamu pikir aku adalah perempuan sembarangan yang akan memberikan kesucianku begitu saja pada lelaki, a--aku..." air mata menggenang di mata Alexandra, ia menahan sekuat tenaga.
"Alex... bukan itu maksudku---"
"Aku menjaga kesucianku untuk Jefri, aku menunggu hubungan kami lebih serius yaitu menikah. Aku selama ini menjaganya untuk suamiku, tapi kau..." bibir Alexandra bergetar.
Issac bangkit dari duduknya berjalan mendekat ke tempat perempuan itu duduk.
Alexandra ikut bangun, dia tidak sudi harus berdekatan dengan Issac lagi. "Aku membencimu Issac! Sampai kapanpun aku akan membencimu!"
Issac tidak mau menyerah dia menarik tubuh Alexandra dengan paksa memeluk wanita itu.
Alexandra mendorong tubuh Issac, PLAKK!
Kepala Issac berpaling ke samping saat tamparan keras mendarat di pipinya, seketika sebelah wajahnya memerah.
"Kau memang sudah berubah menjadi bajingan Issac! Kau bukan Issac yang aku kenal! Jangan pernah lagi berani menyentuhku! Aku bahkan sudah menjadi wanita hina karena kau memper kosaku!"
"Apa?! Apa yang kau katakan Alexandra?!" di ruangannya Kendrick mengintip putranya dan Alexandra melalui Cctv, ia hanya ingin tau ada masalah apa diantara mereka berdua. Lalu dia menyusul menuju ruangan meeting setelah melihat dalam rekaman keduanya bersitegang. Tak disangka saat baru saja akan membuka pintu, ia mendengar teriakan marah Alexandra.
______ DIANTARA CINTA DUA LELAKI ______