Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 - Dilema cinta pertama
Katanya, cinta pertama selalu mendapat tempat istimewa di hati. Mungkin seperti itulah yang dirasakan oleh Wirra Pramudya.
Cinta pertama itu mengakar begitu kuat di hatinya, tidak akan pernah mati, tidak akan pernah pudar dan tidak akan pernah kehilangan kilaunya.
Sulit bagi Wirra untuk bisa melupakan Meyta, kala itu. Walaupun Meyta telah meninggalkan dirinya tanpa kejelasan, nama wanita itu tetap bersarang di hatinya. Dia tak pernah melupakan Meyta. Bahkan, setelah dia menikahi Anna karena perjodohan, Wirra masih menyimpan rapat rasa cinta untuk mantan kekasihnya itu.
Meyta bukan hanya cinta pertamanya, wanita itu juga obsesinya. Memiliki Meyta adalah impiannya.
Tapi, saat Meyta memintanya untuk berpisah dengan Anna, Wirra tak mampu mengabulkannya. Segila apapun dia mencintai Meyta, tapi Wirra masih punya hati.
Anna sudah menjadi istri yang sangat baik selama ini. Wanita itu melayaninya dengan baik. Anna mengurusi dirinya dengan telaten mulai dari membuka mata di pagi hari, hingga dirinya kembali terlelap. Walau dia tak mencintai Anna, tapi Wirra menyayanginya. Dia menghormati Anna.
“Aku tidak bisa berpisah dengan Anna, Mey.”
Seketika Meyta tersenyum sinis. Pria yang ada di hadapannya kini terlihat begitu egois. Mantan kekasihnya itu ingin memiliki dua wanita di sisinya.
“Kalau begitu, hentikan bualan kamu tentang cinta. Aku tau Wir, aku tau kamu ingin menikahiku bukan karena cinta. Kamu ingin menikahiku karena hawa naf*sumu saja. Dan aku tidak akan pernah menikahi pria yang tidak mencintaiku. Bagaimana mungkin pria itu akan menyayangi anakku jika diriku saja tidak dicintainya?”
Lagi-lagi Wirra menghela napas berat. Dia pikir, setelah pertempuran panas itu, Meyta akan dengan mudah menerima lamarannya. Perkiraan Wirra ternyata salah.
“Aku tidak membual. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu, Mey. Sejak dulu hingga sekarang, aku terus mencintai kamu. Dan aku akan dengan mudah menyayangi Rara.”
Meyta tersentak saat Wirra menyebutkan nama anaknya. Dari mana pria itu mengetahuinya?
“Kamu terkejut kenapa aku bisa mengetahui nama anak kamu?” tanya Wirra. Meyta tentu saja tidak menjawabnya. Wanita itu hanya terus menatap Wirra, berharap pria itu akan langsung memberikan penjelasan.
“Sejak aku melihat namamu di grup reuni. Aku langsung mencari semua informasi tentang kamu di sosial media. Akhirnya aku tau kalau suami kamu telah berpulang dan kamu mempunyai anak bernama Mutiara,” jelas Wirra.
“Mutiara ... Bukankah itu adalah nama yang kita rancang ketika kelak kita memiliki seorang anak perempuan? Karena kata Mutiara terdengar seperti gabungan nama kita berdua. Meyta dan Wirra.”
Mata Meyta membulat sempurna. Wanita itu tak menyangka jika ternyata Wirra masih mengingat hal itu. Meyta memang sengaja memberikan nama Mutiara pada anak perempuannya. Itu semua karena dia berharap jika Wirra lah yang menjadi ayah dari anaknya itu. Perselingkuhan sang suami saat dirinya tengah mengandung, membuat Meyta benar-benar menyesal karena dahulu dia meninggalkan Wirra.
“Aku tau Mey. Kamu juga belum bisa sepenuhnya melupakan aku” ucap Wirra.
Wajah Meyta pun seketika bersemu merah. Kenangan akan cerita itu kembali terlintas. Cerita bagaimana mereka merangkai sebuah nama dari nama mereka berdua. Hingga akhirnya disepakati jika kelak mereka memiliki seorang anak perempuan, mereka akan memberikan nama Mutiara. Sesuatu yg berkilau seperti cinta mereka.
“Sejak tau kamu menjanda, terlebih sejak tau jika nama putrimu adalah Mutiara. Aku sudah berniat untuk mendekati kamu dan menjadikan kamu sebagai istri keduaku.”
Meyta yang tadi sempat berbunga kini kembali redup. Pria itu kembali menginginkan dirinya sebagai istri kedua.
“Maaf Wir, aku tidak bisa berbagi suami. Aku pun tidak mau menghancurkan rumah tangga kamu dan istrimu.”
“Tidak akan ada rumah tangga yang hancur, Mey. Rumah tangga aku dan Anna akan baik-baik saja jika kita menikah, karena dialah yang menginginkan aku untuk berpoligami,” jelas Wirra.
Dahi Meyta berkerut. Wanita itu terlihat menggelengkan kepalanya. Dia bingung dengan ucapan Wirra. Meyta tau jika Wirra tengah berkata jujur. Tapi wanita itu menolak untuk percaya. Wanita itu masih belum bisa menerima jika ada seorang wanita yang rela untuk dipoligami.
“Apa kamu mau ikut aku pulang dan bertemu Anna?” tanya Wirra.
Meyta tersenyum kecut menanggapinya. “Kamu mau mengajakku pulang ke rumahmu?” tanya Meyta. Sembari tersenyum lembut, Wirra menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia ingin mengajak Meyta ke rumahnya. Semakin cepat dia mengenalkan Meyta pada Anna, semakin cepat juga keinginannya untuk menikahi Meyta, terwujud.
“Setelah kamu tidak kembali ke rumah kalian tadi malam, kamu mau mengajakku pulang bersamamu? Kamu mau mengatakan apa kepada istrimu, Wir? Kamu mau mengatakan kepada istrimu itu, kalau kita baru saja selesai memadu kasih di sebuah kamar selama semalam suntuk? Kamu mau membawa wanita yang baru saja kamu tiduri ke hadapan istrimu dan memintanya untuk memberikan restunya pada kita??”
Wirra terhenyak. Pria itu tak memikirkannya. Benar apa yang dikatakan Meyta. Apa yang akan dipikirkan oleh Anna tentang Meyta jika pagi ini dia membawa wanita itu ke kediamannya? Anna pasti akan berpikiran buruk tentang Meyta. Wirra tak mau jika itu terjadi. Bisa saja Anna menarik kembali ucapannya mengenai poligami jika dia menilai Meyta sebagai wanita yang buruk. Kali ini, dia tak mau kehilangan Meyta lagi.
“Baiklah. Aku akan mencari waktu yang pas untuk membicarakan tentang kamu pada Anna. Setelah itu, aku akan mengenalkan kalian berdua.”
Meyta terdiam. Wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Di satu sisi dia sangat ingin terus bersama Wirra. Menjadi sepasang suami istri membentuk sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia seperti impian mereka dulu. Tapi, di lain sisi, dia menolak untuk menjadi yang kedua. Dia hanya mau Wirra hanya untuknya sendiri. Dia tak mau cinta pria itu terbagi.
Haruskah dia bersiasat agar Wirra dan istrinya segera berpisah, lalu memiliki pria itu hanya untuknya?
Tapi, jika itu dia lakukan, bukankah dia sama saja dengan para wanita yang menggoda suaminya dulu?
Meyta menggelengkan kepalanya. Harga dirinya tak serendah itu. Dia bukan wanita hina seperti itu.
“Aku antar kamu pulang sekarang,” ucap Wirra.
Sebenarnya pria itu ingin sekali menggandeng Meyta dan berjalan tepat di sisi wanita itu. Tapi, melihat Meyta hanya diam sedari tadi, Wirra mengurungkan niatnya.
Bahkan selama perjalanan mengantar Meyta, sepasang mantan kekasih itu hanya saling diam. Dan Wirra membiarkan hal itu. Wirra membiarkan Meyta berdialog dengan pikirannya sendiri. Dia tau jika saat ini Meyta pasti memikirkan banyak hal.
“Apa aku boleh berkenalan dengan Rara?” tanya Wirra saat mereka baru saja tiba di kediaman Meyta.
Meyta terdiam sejenak. “Lain kali saja,” jawab wanita itu.
Wirra menghargai keputusan Meyta. Pria itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lembut.
“Aku akan membicarakan perihal kita pada Anna, secepatnya. Setelah itu akan aku perkenalkan kalian berdua. Aku juga sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan anak kita—Rara.”
Meyta kembali tertegun mendengar ucapan Wirra. Pria itu memang begitu pandai mengambil hatinya.
“Kamu istirahat ya setelah ini. Maaf karena sudah membuat kamu kelelahan sejak malam tadi.”
Meyta hanya diam dan melangkahkan kaki meninggalkan Wirra yang terus menatapnya dengan tersenyum sampai wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
“Aku akan mengusahakan apapun agar kamu menjadi istriku, Mey.”
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus