NovelToon NovelToon
PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA

Status: tamat
Genre:Berondong / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: ara cahya

Terpaksa dia harus menyamar sebagai tenaga pengajar di sekolah bergengsi dan terkenal di kota tersebut.

Rencana tersebut terpaksa dilakukan lantaran, sampai detik ini, tersangka pembunuhan berantai yang melibatkan siswa SMA sebagai korbannya belum juga di temukan.

Alhasil, pihak kepolisian harus menggunakan cara tersebut.

Membuat Bulan, mau tak mau harus melakukan tugas yang di bebankan pada dirinya.

Bagaimana jadinya seorang polwan cantik, masuk ke dalam area sekolah. Bahkan menjadi seorang guru di sekolah tersebut.

Apa Bulan akan mengalami kesulitan, atau malah menemukan pelaku dari pembunuhan berantai tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PaS 08

Bulan masih berada di ruang perpustakaan. Tangannya tergerak mencari sesuatu. "Bisa jadi ada di sini." gumamnya.

"Mumpung jadwal mengajarku kosong." imbuhnya.

Bulan mencari sebuah buku yang terbesit di benaknya. "Sebuah kejadian, yang ditutup dengan sengaja. Sehingga tidak akan diketahui oleh manusia di masa mendatang." gumam Bulan.

Tangan Bulan terhenti, saat memegang sebuah buku yang terlihat lusuh. Bulan mengambilnya. "Ternyata bukan." cicitnya mengembalikannya lagi.

Bulan terdiam. Berpikir sesaat. Lalu tersenyum. "Koran." gumamnya. "Bukankah di perpustakaan seharusnya ada." ucap Bulan dalam hati.

Bulan bertanya pada penjaga perpustakaan. "Apa masih tersedia koran tahun lalu. Maksudnya koran yang sangat lama." tanya Bulan.

"Semua ada di sana bu, tapi seingat saya. Koran zaman dulu tidak tersedia di perpustakaan sekolah kita. Jika ibu ingin melihatnya, ibu bisa kunjungi perpustakaan umum yang ada di pusat kota. Di sana semua ada." jelasnya dengan ramah.

"Terimakasih." Bulan pergi ke pojok perpustakaan. Dimana ada banyak koran di sana. Tertata dengan rapi menurut tanggal kapan koran di keluarkan.

Dan ternyata benar, seperti yang penjaga perpustakaan katakan. Koran di perpustakaan ini hanya menyediakan koran dengan keluaran beberapa tahun terakhir.

Bulan meninggalkan perpustakaan. Berjalan kembali ke ruang guru. Namun langkah kakinya terhenti, melihat sesuatu yang mencurigakan.

Apalagi suasana lorong sekolah sudah sepi. Bel istirahat susah selesai, para murid masuk kembali ke dalam kelas masing-masing.

Seseorang memakai jaket, berjalan sedikit menunduk dengan topi menutupi wajahnya. Berjalan dengan santai. Tapi dia berputar balik, saat menyadari jika Bulan mengamatinya.

Dengan langkah cepat, Bulan mengejarnya. Berharap dapat menangkapnya. Setidaknya dia tahu, siapa orang dibalik jaket tersebut. Lelaki atau perempuan.

"Aaa......!!" jerit seorang, Bulan dengan reflek menyerangnya, saat dia berbelok arah. Mengikuti sosok misterius tersebut.

Bulan segera melepas tangannya. "Maaf, saya hanya terkejut." ujar Bulan. Yang ternyata orang yang dia serang adalah pak Hendri.

Pak Hendri mengibas-ibaskan lengannya yang sakit karena dipelintir oleh Bulan. "Ibu jago berkelahi ya?" tanya pak Hendri meringis kesakitan.

Bulan tidak menjawab. Pandangannya menyapu sekitar. Mencari orang yang dia kejar tadi. Bulan tidak menemukannya. Dan malah ada pak Hendri yang tiba-tiba muncul.

"Bu, ibu cari apa?" tanya pak Hendri.

"Tidak. Kenapa pak Hendri ada di sini?" tanya Bulan.

Pak Hendri mengambil sesuatu dari kantong celananya. "Mengambil ini. Tadi ada anak yang menjatuhkan keluar jendela. Saya mengalah, jadi saya sendiri yang mengambilnya." cicit pak Hendri, memperlihatkan sebuah spidol.

"Bapak lihat seseorang di sekitar sini?" tanya Bulan.

Pak Hendri menggeleng. "Tidak ada, saya juga baru sampai. Langsung mengambil ini, dan kembali." jelasnya.

Bulan mengamati gestur tubuh dan ekspresi pak Hendri. "Dia tidak berbohong."

Pak Hendri menoleh ke belakang. "Bu Bulan, tadi ibu melihat apa?" tanya pak Hendri dengan tangan memegang tengkuknya yang terasa merinding.

Bulan tersenyum lalu menggeleng. "Hanya sekelebat bayangan. Mungkin saja saya yang sedang tidak konsentrasi." jelas Bulan berbohong.

Pak Hendri mengangguk. "Memang begitu bu, ada yang sering melihat bayangan akhir-akhir ini. Kemarin pak kepala sekolah juga. Katanya melihat di sana." pak Hendri menunjuk ke atas gedung tertinggi di sekolah.

"Kata pak kepala sekolah seperti ada yang berdiri di sana. Bahkan saya dan beliau juga beberapa petugas kebersihan berlari ke sana. Takutnya ada pembulian. Ternyata tidak ada siapa-siapa." jelasnya.

"Maaf, mungkin pak Hendri sedang di tunggu anak-anak di kelas."

Pak Hendri menepuk pelan dahinya. "Astaga. Maaf bu, malah keasyikan ngobrol. Saya permisi dulu bu." pamitnya.

Bulan memandang sekitarnya lagi. Tidak ada yang mencurigakan. "Bagaimana bisa." gumam Bulan.

"Tidak mungkin pak Hendri. Terlalu cepat untuk berganti pakaian." Bulan mencoba menerka.

Bulan berjalan dengan tenang, dengan mata mengamati sekitar. Sekiranya ada sesuatu yang dia curigai. "Kenapa juga dia mesti lari saat lihat gue." batin Bulan semakin curiga.

Bulan ingat, SMA ini sama sekali belum terjamah oleh pembunuh tersebut. Dengan artian, bisa jadi target selanjutnya siswa atau siswi di SMA ini.

Bulan berhenti di sebuah pintu yang tertutup. "Ruangan apa ini?" gumam Bulan.

Tangan Bulan terulur ingin membukanya, namun suara seseorang menghentikan niatnya. "Ibu Bulan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perempuan, berpakaian seragam petugas kebersihan.

"Ruangan apa ini?"

Dia menggeleng. "Saya sendiri kurang tahu bu. Selama saya di sini, saya tidak pernah membukanya." paparnya.

"Kenapa?"

"Karena pintunya terkunci bu. Saat saya tanya petugas kebersihan yang sudah bekerja sebelum saya, mereka bilang jika ruangan ini awalnya ruang laboratorium. Tapi berubah menjadi gudang."

Bulan mengangguk. "Kamu punya kuncinya?"

Dia kembali menggeleng. "Tidak bu, hanya beberapa orang yang mempunyai setiap kunci di ruangan ini. Saya tidak mempunyai hak sebesar itu." jelasnya.

"Baiklah, saya hanya penasaran saja."

"Maaf bu, memang ibu mau kemana?"

"Sekedar berjalan-jalan. Hari ini pertama saya masuk. Mumpung saya tidak punya jadwal mengajar, jadi saya berkeliling."

"Ooo,,,, mau mengenal lingkungan sekolah ini ya bu."

Bulan mengangguk. "Saya duluan." pamit Bulan.

"Iya bu, silahkan." sahutnya.

Bulan berjalan meninggalkan dia. Tapi telinga Bulan kembali menangkap percakapan di belakangnya. Bulan memperlambat langkah kakinya. Mengeluarkan ponsel. Melihat apa yang terjadi di belakangnya lewat layar ponselnya.

"Hey, apa yang dia tanyakan?" tanya seseorang, menghampiri petugas kebersihan yang berbincang bersama Bulan tadi.

"Tidak mbak. Hanya tanya, ini ruangan apa." jelasnya.

"Kamu tidak ceritakan, jika kuncinya aku hilangkan." ucap orang tersebut, yang memakai seragam yang sama dengannya.

"Tenang. Tentu saja tidak. Bu Bulan tidak bertanya mengenai itu."

"Ya sudah ayo. Kita ke depan." ajaknya.

Bulan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Hilang." gumamnya.

Sepanjang Bulan berjalan di belokan, dimana orang yang dia kejar menghilang. Tidak ada belokan lain lagi. "Lantas kemana dia pergi." cicit Bulan.

Kembali berjalan ke jalan yang sudah dia lalui sebelumnya. Karena memang jalan tersebut buntu. Dan tidak ada belokan lain lagi.

Bulan kembali memandang pintu tersebut. "Mungkin sekarang belum saatnya. Tapi segera gue akan membukanya." batinnya.

Bulan berjalan ke lorong lain. Tentu saja bukan lorong kelas. Tapi lorong-lorong penghubung lainnya.

"Aula." Bulan masuk ke dalam. "Cukup luas dan sangat lebar." pandangan Bulan menyapu seluruh aula.

Bulan keluar, dan kembali melangkahkan kakinya. Kali ini, Bulan berjalan di belakang sekolah. Langkahnya terhenti, mendengar suara yang membuatnya memejamkan mata sesaat.

"Apa iya ada yang ***-*** di sini." gumam Bulan.

Dengan langkah yang ringan dan tak terdengar, Bulan mendekati sebuah ruangan. Dimana pintunya tertutup rapat.

Bulan mendengar suara menjijikkan dari dalam. Meski suaranya pelan, namun indera pendengaran Bulan yang tajam bisa dengan mudah mendengarnya.

Menggunakan keahliannya, Bulan membuka sedikit pintu dengan mudah tanpa menimbulkan suara. Bulan menggelengkan kepala melihat apa yang terjadi di dalam.

Sayangnya, Bulan tidak melihat wajah sepasang sejoli yang sedang memadu kasih tersebut. Bulan tersenyum jahil. Menutup kembali pintu.

"Percuma gue masuk dan memergoki mereka. Pasti mereka sudah sering melakukannya." batin Bulan.

"Anak-anak rusak." gumam Bulan, menaruh sesuatu di depan pintu.

"Kalian nggak akan bisa keluar dengan mudah, tanpa ada yang menolong. Kita lihat, siapa yang ada di dalam sana." seringai Bulan, meninggalkan tempat tersebut.

1
Musri
bolak balik d cek,sapa tau thor nya baik hati mau lanjutin season 2 nya🤭
Rayhan Febriansyah
kasian gara, setiap jatuh cinta harus merasakan sakit hatinya Krn merasa dirinya cacat jadi ga bisa menggapai cinta nya ..semoga gara mendapatkan kekasih yg bisa menerima dia apa adanya
Siska S
season 2 thor boleh😊
Reza Talita
kurang dong soal romantis nya Jeno sama bulan ..
Reza Talita
maaf kakak dama apa sama kakak soal kata sama sering ada jadi 😕
DeeDE
ibu yang hebat ibu yang keren... istri yg bijaksana...
etina_
Thor ini cerita nya udh end kahh?
ciru
cakeepp
ciru
cakeep
Rui Holib
nunggu kabar lanjut ceritanya kapan sudah kangen cerita jeno Dan bulan
Ami Siti
wah keren thoot,tapi kurang seru cb sampai bulan dan jeno menikah dan jeno lulus,bekerja...he he he tks
ciru
cakeepp
ciru
cakeep
Rhien
lanjut kak
semangat💪😊
ciru
cakeep. bab ini mengandung bawang yg pekat 😭😭😭😭😭
ciru
cakeep
ciru
😭😭😭😭😭😭😭smoga Gara bisa terselamatkan
ciru
cakeepp
ciru
cakeep
Sri Wahyuni
1000
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!