NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Impoten

Menikahi Duda Impoten

Status: tamat
Genre:Duda / Pengantin Pengganti / Beda Usia / Keluarga & Kasih Sayang / Disfungsi Ereksi / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

"Katanya impoten? Kok bisa tegak menjulang begitu?" Mata bulat gadis itu membeliak.

"Kenapa? Apa kamu berniat mundur?"
______

Lelah di desak untuk menikah, Dinka akhirnya menjatuhkan pilihan pada seorang pria yang pada hari itu gagal menikah.

Dia tahu dengan jelas, kalau pria itu duda impoten karena kecelakaan. Bahkan konon katanya pria bernama Abid itu mandul.

Tante ... anaknya nikah sama saya saja." Dinka tersenyum lebar saat mengatakan hal itu di hadapan ibunda dari Abid bernama Resti. "Saya ikhlas menerima kondisi putra Tante."
Jelas hal itu membuat Desy melotot tak terima. Dinka jelas tidak paham bagaimana berumah tangga yang harmonis.
"Daripada Mama merugi, kan? Nggak masalah kalau aku yang gantiin pengantin wanitanya. Mama tetap dapet mantu, dan bunga mama nggak terbuang sia-sia."
"Mama lebih baik merugi daripada masa depan anak mama hancur!"
"Justru aku akan bahagia, Ma."
Dinka takut hamil, takut punya anak, dan takut karma, jadi memilih duda impoten sebagai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi, Gimana Din?

Apa ada yang lebih menyebalkan dari melihat kamar pengantinmu masih bertahtakan nama wanita lain?

Oke, Dinka mengerti kalau dirinya hanya pengganti dan tidak boleh merasa kesal apalagi marah atas kesalahan teknis kecil seperti ini. Tapi, segala sesuatu yang terjadi di ruang resepsi sesiangan tadi, sudah berhasil meminimalisir pertanyaan: kok pengantin wanitanya beda? Namun, coba lihat ke sini, ke ranjang yang akan ditempati mereka berdua—meski tidak akan terjadi apa–apa, ada nama Olla terpampang memenuhi permukaan kasur dan di tembok tertempel balon dengan nama yang sama. Susah ya, beli lagi balon atau kasih tau WO buat ganti nama jadi Dinka?

"Gila aja ini orang." Dinka duduk dengan gaun lebarnya yang mirip kurungan ayam. Tulisan dari kelopak bunga mawar itu disentuhnya perlahan. "Di luar aja kaya menghargai aku, nggak taunya di sini begini, haih!"

Itu mungkin hanya awal dan sesepele masalah nama. Dinka baru sadar apa arti ucapan Darren beberapa waktu lalu. Gaun pasti tidak ada yang tahu, makanan, dekorasi pelaminan, dan konsep pernikahan, semua orang pasti berpikir: tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua Abid, meski pengantinnya telah berganti. Tapi di kamar ini, hati Dinka tidak bisa tidak merasa kalau dia murni hanya orang lain yang secara ajaib menggantikan posisi Olla.

"Dinka ... kamu nggak boleh kesel! Ingat, hanya Abid yang bisa bikin kamu damai lahir batin seumur hidup." Dinka berkata pada dirinya sendiri, kemudian dia berdiri untuk melepas seluruh perhiasan yang melekat di badannya.

Beberapa set seserahan yang Dinka sendiri bantu membuat, teronggok di kaki ranjang, mas kawin yang dibuat oleh Mamanya bersandar di pigura besar dekat meja rias, bersebelahan dengan tas miliknya yang berisi pakaian ganti. Dinka menarik napas panjang. Pernikahan ini terasa tidak terlalu istimewa, sebab dia bukan wanita yang seharusnya menerima semua itu. Rasa menjadi pengganti benar–benar terasa saat ini.

Tapi dia tidak bisa mundur lagi. Ini bukan waktunya memikirkan hal yang sudah diketahuinya sejak awal. Dia harus yakin pernikahan ini akan bahagia. Dia harus memikirkan bagaimana membuat pernikahan ini langgeng selamanya.

"Eh ...!" Abid masuk begitu saja dan kaget bukan main saat melihat ranjang dan balon yang tergantung di tembok. Dia sudah mengatakan pada WO kalau nama pengantinnya berubah. Tapi ....

"Din, maaf—"

"Nggak apa–apa, Mas." Dinka memutar badan dengan lembut dan manis. "Jangan dipermasalahkan. Kita harus siap–siap buat makan malam sama keluarga kita."

Abid mana bisa tidak curiga jika wanita itu manis begini. Tapi dia juga tidak mau membahas lebih jauh. Tidak apa–apa artinya ya, sudah ... nggak perlu diomongin lagi. Selesai di sini soal ini.

Abid langsung masuk ke kamar mandi, dengan pikiran masih tertuju pada nama itu. Siapa yang menggantinya?

Dinka hanya mengendik. Lagian mereka siapa, kalau mau saling peduli atau mengucapkan kata–kata yang hangat?

***

Setengah jam kemudian, Dinka turun dari kamar ke restoran hotel, dimana kedua keluarga melangsungkan makan malam. Abid jelas tidak menunggunya, untuk apa? Biar terlihat akur? Ayolah, semua orang tahu bagaimana hubungan mereka saat ini. Sebatas pengganti yang sesungguhnya.

"Mbak nekat juga?"

Dinka kaget mendengar suara Olla dari arah belakangnya. Langkah wanita itu terdengar mendekat, hingga Dinka terpaksa menoleh.

"Apa sih, Mbak?" Dinka agak risih dengan tatapan Olla. "Nggak ada yang menghentikan aku juga, kan? Jadi apa masalahnya? Masih nggak rela?"

Olla bersedekap. Pakaian formal masih melekat di badan wanita itu, tampak sekali kalau dia datang tergesa-gesa usai bekerja. "Abid impoten, Mbak Dinka."

"Ya terus, masalahnya apa? Urusannya sama Mbak Olla apa?" Dinka kali ini tidak bisa menyembunyikan tawa meremehkan dari mulutnya. Kelihatan sekali, sih, Mbak Olla ini! Kelihatan kalau nggak rela posisinya diganti wanita lain.

"Mbak tau kan, alasan aku putus sama dia bukan karena Bee atau Honey?" Olla berusaha menjelaskan apa yang tidak bisa disampaikannya kemarin di hadapan Abid.

"Saya tau sekali, Mbak ... saya sudah dengar dari Mama Resti langsung." Dinka memasang gesture santai dan tidak peduli. "Terus apa? Mau nyuruh aku mundur juga?"

Olla mengerutkan kening. Jujur saja dia tidak percaya kalau cinta tulus dan menerima apa adanya itu ada, semua itu hanya ada di dongeng karangan Disney belaka. Oh, ayolah ... mempesona di luar saja tidak cukup. Abid baik, tampan, keren, mapan, shaleh, tapi barang miliknya tidak berfungsi. Jadi bagaimana dia akan bahagia, punya anak dan langgeng?

"Di bayar berapa sama Abid, kamu?" Olla to the point menuduh. "Nggak mungkin kalau kamu tulus sama dia, Mbak Dinka! Abid pasti bayar kamu untuk menyelamatkan muka."

Dinka tertawa. "Ya Allah, Mbak ... apa muka saya ini muka kekurangan uang? Saya meski nggak sekaya Embak, tapi saya punya usaha. Saya hanya butuh suami, Mbak ... yang akan menuntun jalan saya ke surga. Saya nikah bukan cuma untuk memuaskan nafsù saja, bukan untuk mendapatkan keturunan semata, tetapi saya menyempurnakan ibadah saya."

Ya elah, Din ... ceramah ustazah siapa yang kamu copy itu?

"Inshaa Allah, Mbak ... saya nikah cari berkah. Andai Mas Abid sakit, akan saya dukung pengobatannya. Kami akan berusaha bersama–sama, Mbak ... bukan malah ditinggal pergi begitu saja."

Olla memalingkan wajahnya dengan perasaan jengkel. Dia merasa digurui oleh gadis kecil ingusan yang tidak tahu apa–apa. "Aku nggak butuh ceramah kamu, ya—"

"Sama kaya aku juga nggak butuh pemberitahuan nggak penting itu dari Mbak Olla. Yang datang kemari kan Mbak Olla, yang cari perkara kan bukan saya!" balas Dinka dengan gaya santainya. "Yang niat banget bikin saya mundur kan Mbak Olla, saya hanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Olla berdecih. "Tunggu aja sampai kamu tertampar sendiri sama ucapanmu yang sok ini! Kita lihat sejauh apa kamu bertahan dengan omongan sok agamis mu itu!"

"Baik ... saya nggak takut, Mbak!" Dinka bersedekap seraya menaikan wajah membalas tatapan Olla yang penuh kekesalan.

Olla membuang muka usai beradu pandang penuh permusuhan dengan Dinka. Wanita itu melangkah cepat meninggalkan Dinka.

"Aya–aya wae nih dedemit satu!" Dinka bergegas menuju restoran dimana dia sudah ditunggu sama kelaurga besarnya.

Bee masih dengan wajah tidak sukanya menatap Dinka, walau begitu dia pasrah saja ketika dia harus duduk bersebelahan dengan Dinka, bahkan dia tidak keberatan dengan usapan juga senyum manis wanita itu.

"Ah, Sayang ... ayo segera makan!" Resti langsung menyilakan Dinka makan tanpa bertanya dari mana atau kenapa terlambat. Berbeda dengan sang Mama yang sudah siap menyemburkan api kemarahan padanya.

"Makasih, Ma ...." Dinka sudah kelaparan, jadi dia langsung mengambil menu pembuka dan melahapnya cepat, tetapi masih dalam batas kesopanan yang wajar.

Namun, Dinka menghentikan suapan saat dirasa mulutnya terasa panas hingga ke hidung. Rasa pedas dan tajam itu membuat Dinka memejamkan mata, wajahnya merah padam. Tangannya menggapai gelas, namun benda yang tadi berada di sekitar piringnya itu lenyap mendadak.

Dinka terbatuk-batuk, merasakan seluruh wajahnya terbakar. "Sial, siapa yang naruh wasabi di supku!" batin Dinka.

"Ya Allah, Dinka ... kamu kenapa?" Mama Resti langsung menyodorkan gelas berisi air, lantas berteriak menghardik Bee.

"Bee, apa yang kamu lakukan pada Mama Dinka?!"

*

*

*

1
Toko Arezky cianjur
ya ampuuun 🤣🤣🤣
Ati Yulianti
uluh-uluh meleleh ade bang 😍
Ati Yulianti
jangan dong din ntar buat kamu mana
Siti Aminah
cerita yg sangat bagus
Asyatun 1
keren thoor
mamaqe
suka sm karakter ceweknya..tetap jiwa perempuan tp ta lemah.. logika tetap jalan..sayangnya ga ada kelanjutannya ni otornya
Aminah Min
walaupun sm suami tetep batal wudhu.soalnya suami itu mahrom dalam ikatan pernikahan bukan ikatan darah
jeje
Luar biasa
YPermana
otww
Daniah Andini
jadi Olla dikejar Alvin gitu kak Miss?
Daniah Andini
Dinka tegar ngga ada tangisan ratapan, tapi mak2 detergen yang baca malah yang pada ber miror2 matanya
Daniah Andini
kenapa ngga dari kemaren bikin yas nangis didepan Dinka yah Abid
Daniah Andini
akhir yang membahagiakan
ngekek2 ngga berhenti.
makasih ya akak otor misshel ngga membuat mati mereka
Daniah Andini
abid nyetir....
ya Alloh aku takuuut
Daniah Andini
horeeee.
tawon mulai ketar ketir
Daniah Andini
sudah direndahkan dihinakan diinjak-injak tapi masih bebal juga, urat malu sudah putus nih bikin geregetan saja
Daniah Andini
siapa yang ikut esmosi cuuuungg
berati kita waras, ngga kaya dokter itu, nggilani
Daniah Andini
haduuuhhh,,, aku degdegan
apa yang terjadi kak otooorr missshaaa
Daniah Andini
hahahaha
kalo yatim piatu memang harus disayang di baik baikin tapi yang kayak apa dulu
Daniah Andini
hah, jadi bayinya laki apa perempuan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!