BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayan dulu barulah istri
Andin masih berdiri terdiam dengan memegangi obat kulit itu sampai Bi Darmi selesai mencuci piring. Bi Darmi berbalik ketika selesai menata piring pada rak nya.
"Nona? Kenapa masih diem disini? Ada perlu apa nona?"
Andin menjawabnya dengan senyuman kecil dan menggelengkan kepala setelah nya.
"Kalau tidak ada perlu, nona bisa tidur, ini sudah malam loh,,,"
Beranjak hendak ke kamar tidur.
"Bi?, Andin boleh nggak kalau tidur di kamar bibi?, Soalnya Andin nggak tau harus tidur dimana,,,"
"Boleh kok nona, tapi kamar bibi kamar pelayan, yakin nona mau? Bukannya masih ada kamar tamu?"
"Iya, Tapi Andin nggak berani, Andin takut laki laki itu marah lagi, Andin mau tidur di kamar bibi aja"
Bi Darmi mengiyakan dia menggandeng tangan Andin, Andin dan Bi Darmi tidur di satu ruangan. Saat pertama masuk, Andin terkesima akan kamar itu;
*Wah, inikah kamar pelayan? Di kamarnya bahkan ada tv! ada lemari kayu nya juga! bahkan kamar mandi nya ada di dalam ruangan, ranjang nya juga bukan ranjang yang murah sepertinya lelaki tadi itu bukan orang biasa...
Pandangan Andin berputar ke setiap penjuru ruangan itu, di dalam hatinya berbicara sendiri.
"Nona? lihat apa?"
"Ah?, bukan kok bi"
"Kamar nya bibi bau ya?"
"Enggak bi, enggak" Andin menjawabnya dengan cepat.
"Bi? lemari itu.. punya bibi?"
"Bukan non, dulu bibi cuma seorang gelandangan yang di usir dari rumah karena suami mau tinggal sama istri keduanya....(Duduk di tepi ranjang)"
Andin mengikuti Bi Darmi duduk di tepian ranjang, dia mendengarkan cerita Bi Darmi dan tak mengatakan sepatah kata pun. Bi Darmi bercerita bagaimana dia bertemu dan menjadi pelayan di villa ini.
"Kalau bukan tuan yang tolong, mungkin bi darmi bakalan tidur beralas kardus di jalanan. Semua barang yang ada disini, semuanya memang sudah begini sejak bibi baru pertama datang dan jadi pelayan disini."
Bi Darmi memegang tangan Andin.
"Tuan orang yang baik, kalau tuan buat begitu ke nona pasti ada alasan tersendiri, kalau di lihat lihat, tuan memang orang yang jarang ber-ekspresi ketika bicara. Tapi jujur, hatinya sangat baik! saya tau sendiri itu!"
Andin hanya tersenyum dia tak ingin melanjutkan pembicaraan dengan topik orang yang menyakiti dirinya.
"Bi? Andin ngantuk ni..."
"Oh, yaudah nona tidur aja, bantal disini cuma ada satu, nona aja yang pake, bibi nggak ada bantal juga nggak apa"
"Udah, buat bibi aja, bibi yang lebih tua, Andin masih muda nggak pantas kalau begitu"
Andin merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia dan Bi Darmi berbaring saling membelakangi, Andin menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.
☆Begini yah guys kira kira tapi ga pake bantal ya, thor kasih ini biar kalian makin lancar halu nya😂☆
Mata Andin tak mau tertutup, rasanya asing bagi Andin jika tidur bukan di rumahnya.
*Apanya yang baik? laki-laki kasar begitu,...
Walau tak bisa tertidur Andin hanya mengedip kedipkan matanya, dia tak mengatakan atau memulai pembicaraan. Dan perlahan mulai terlelap tidur.
--------------
Kini matahari telah naik, karena kamar pembantu ini terpisah dari villa, maka ada jendela kecil di sana, sinar matahari pagi ini menembus kaca jendela membuat Andin menggeliat merasa aneh.
Andin terbangun, matanya menyipit melihat ke arah jam dinding.
"Jam berapa sekarang?.."
"Ah, jam 8.. (Menata tempat hendak kembali tidur) tunggu! jam 8!!?"
Andin tergesah gesah bangun dari ranjang itu, dia mandi dengan sangat cepat, dan memakai pakaian yang sama karena ia tak membawa pakaian apapun.
Dia keluar dari tempat itu, Andin masuk kembali ke villa lewat pintu belakang yang ia lalui semalam bersama Bi Darmi.
Saat itu di fikiran Andin hanya ia telat bekerja, dia akan di pecat dan menjadi pengangguran. Andin merasa khawatir takut tak karuan, karena hanya ada pintu itu maka Andin melalui pintu itu. Siapa sangka saat ia berlari tubuh mungil nya menabrak dada Hans.
Dan disaat itulah Andin tersadar bahwa dirinya berada di tempat yang ia sendiri tak tahu.
Hans memegang erat lengan Andin, dia mendorong Andin dengan mata mengerikan miliknya yang tertuju ke Andin. Kini punggung Andin menyentuh dinding.
Apa yang Andin lakukan?? tidak ada jawabnya.
Andin hanya menatap wajah tampan yang berada dekat dengan wajahnya.
"Berani main sembunyi sembunyian yah?!! Apa sudah tak sayang Ayah?!!.."
Hans mendekatkan wajahnya, Andin memalingkan wajahnya mata indahnya ia tutup rapat rapat.
"Memangnya siapa kamu yang bisa bisanya buat aku mrncari cari kamu kemana-mana!!?"
Teriak Hans membuat hati Andin bergetar, memangnya kapan Andin bersembunyi? Di sinilah Andin menjadi serba salah. Dia tak berani tidur di kamar tamu karena takut dimarahi, sekarang dia tidur di kamar pembantu juga tetap dimarahi.
"Kemari! ikut denganku!"
Hans membawa Andin keluar, apa yang dia coba tunjukkan?.. dia hanya membawa Andin melihat bagaimana Hans membakar kemeja putih miliknya.
"Lihat itu!! Mata kamu tidak buta kan?!!"
"Darah kotor yang mengalir di pembuluh darahmu telah menodai kemeja mahal ku!! Memangnya apa lagi yang bisa aku buat selain membakar?? kalau di cuci pun belum tentu hilang juga kan? Jadi...!! Mulai sekarang jangan menyentuh barang barang apapun yang bergaris bawah milikku!!"
Andin hanya menyimak apa yang Hans katakan. Dia tak mengatakan sepatah kata pun Andin tak ingin memperbesar masalah.
"Biiii..... Bi Darmiii" Teriak Hans memanggil Bi Darmi yang tengah membersihkan piring bekas makanan.
Mendengar tuannya memanggil, Bi Darmi segera berlari keluar memenuhi panggilan itu.
"Iya tuan,,"
"Bukankah dia semalam tidur di kamar pembantu?"
"Iya tuan"
"Kalau begitu kamu bawa dia dan ganti pakaiannya dengan seragam pelayan di villa ini! Ajarkan dia bagaimana bekerja di sini dan aturan apa saja yang tertera maupun tidak yang ada di villa ini!! Ajarkan dia segalanya karena aku menginginkan dia menjadi pelayan yang baik dalam 3 hari! dan itu dihitung mulai hari ini!!"
Berjalan meninggalkan Andin dan Bi Darmi, tiba tiba terhenti dan berbalik melanjutkan kalimatnya.
"Aku harap tak ada pertanyaan! Bukankah Bi Darmi sudah bekerja selama 2 tahun?!"
"Iya tuan, mengerti"
Bi Darmi langsung saja menarik pergelangan tangan Andin dan membawanya, maksudnya baik, dia ingin Andin tak lebih lama menerima kata kata kasar dari Hans.
Dibawanya Andin ke sebuah ruangan. Andin memang tak memperhatikan kemana ia dibawa pergi, di fikiran nya masih terputar jelas kata kata yang Hans keluarkan dari mulut tajam nya.
'Darah kotor yang mengalir di pembuluh darahmu telah menodai kemeja mahal ku!! Memangnya apa lagi yang bisa aku buat selain membakar?? kalau di cuci pun belum tentu hilang juga kan? Jadi...!! Mulai sekarang jangan menyentuh barang barang apapun yang bergaris bawah milikku!!'
Kata kata tersebut lah yang membuat Andin terdiam dan mata nya mulai berlinang air mata.
"Nona cantik? Ayo lepas pakaiannya, lalu ganti pakai yang ini yah" Ujar Bi darmi dengan pakaian yang terlipat di tangannya.
Andin hanya menggeleng berulang, kini air mata sudah tak sanggup lagi ia tahan, pecah sudah..
Dia melakukan pekerjaan baru disini, lalu siapa yang akan melakukan pekerjaan Andin di restoran?.. Ayahnya ka? tidak mungkin!
"Bi.. enggak bi.. jangan bi.. Andin nggak mau.. bi.. jangan.." Andin merintih dengan air mata yang telah lebih dulu jatuh.
"Nona cantik jangan nangis, bibi nggak tega, rasa rasanya bibi sudah buat kesalahan besar ke nona. Bibi tau nona cantik anak yang baik, bibi mohon ke nona, nona mau ya kerja disini (Menyatukan kedua telapak tangannya dan melipat 10 jemari tangan nya memohon)
☆Gini yah guys, thor sulit buat jelasin lewat kata kata, jangan di hujat ya, thor cuma pengen reader sekalian nggak bingung sama kata-kata yang thor sampaikan☆
"Bibi minta tolong ke nona ya, bibi butuh pekerjaan ini, kalau nona nolak bibi pasti kehilangan pekerjaan ini. Bibi mohon nona" Lanjut Bi Darmi.
Andin masih menangis, dia tertunduk dan merenung;
*Kemarin bi darmi yang tolong Andin, jadi sekarang saat yang benar buat balas budi, soal hutang di bi miran...., mungkin bisa lunasin dengan begini.
Segera Andin menghapus air matanya. Dia membubarkan jemari bi darmi yang tengah memohon.
"Yaudah bi, Andin mau kok, bibi jangan begini ya"
Sementara Hans yang melihat dari kejauhan bergumam di dalam hatinya.
*Hmph!, kalau aja hari itu kamu tidur di ranjang ku, mungkin akan segera aku nikahi, tapi ini akan lebih menarik lagi, jadilah pelayan ku dulu barulah kamu rasakan menjadi istriku, ini semua agar kamu tidak terlalu sombong kelak.
------------------
BERSAMBUNG...