Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Lin Ye menunduk dan mencelupkan dua jarinya ke dalam genangan darah segar yang berasal dari potongan tubuh para penjaga sebelumnya.
Ia kemudian berjalan ke arah dinding utama ruangan yang masih utuh dan mulai menuliskan karakter huruf raksasa dengan menggunakan darah kental tersebut.
Setiap goresan jarinya memancarkan aura kematian yang tertanam dalam ke dalam pori-pori dinding batu bata.
Hanya dalam beberapa detik, sebuah kalimat mengerikan yang ditulis dengan darah segar terpampang sangat jelas di dinding ruangan.
"Hutang darah dari Jurang Kematian akan ditagih ribuan kali lipat. Bersihkan lehermu dan tunggulah aku, Chu Yan."
Darah dari tulisan itu menetes perlahan ke lantai marmer, menciptakan efek visual yang sangat mengerikan dan mengancam.
Lin Ye mundur beberapa langkah untuk mengagumi hasil karya seninya yang berdarah dengan kepuasan yang dingin.
Ia kemudian mengangkat telapak tangannya dan menyulut sebuah bola api gaib yang berwarna biru kelam dengan pinggiran hitam pekat.
Ini adalah Api Penyedot Jiwa, sebuah variasi serangan elemen dari energi Yin yang tidak menghasilkan panas, melainkan membekukan apa pun yang disentuhnya menjadi debu.
Lin Ye melemparkan bola api biru itu ke arah ranjang sutra mewah milik Zhao Ming yang segera berkobar dengan api tanpa suara.
Api aneh itu menyebar dengan sangat cepat, melahap tirai-tirai mahal, karpet bulu binatang, dan seluruh dinding ruangan dalam sekejap mata.
Ruangan itu tidak terbakar menjadi arang, melainkan membeku dan hancur menjadi serpihan debu hitam es yang mematikan.
Lin Ye tidak repot-repot melihat kehancuran di belakangnya dan langsung menggunakan Langkah Hantu Bayangan untuk menyelinap keluar dari jendela.
Tubuhnya berubah menjadi kabut tipis dan seketika menyatu dengan kegelapan malam, menghilang tanpa meninggalkan jejak hawa kehidupan sedikit pun.
Waktu terus berlalu dalam keheningan hingga sinar mentari pagi akhirnya menyingsing di ufuk timur, membawa kehangatan palsu ke Benua Awan Ilahi.
Suasana di pelataran luar Sekte Pedang Surgawi biasanya sangat ramai dan bising oleh aktivitas latihan ribuan murid tingkat rendah di pagi hari.
Namun, rutinitas pagi ini tiba-tiba hancur berantakan oleh sebuah jeritan melengking yang sangat histeris dari arah bukit tempat kediaman Zhao Ming berada.
Seorang murid pelayan pelataran luar yang bertugas mengantarkan sarapan pagi untuk Zhao Ming jatuh terduduk di depan gerbang paviliun dengan wajah pucat pasi.
Nampan kayu berisi bubur dan lauk pauk mewah berserakan di tanah, tak dihiraukan oleh murid pelayan yang terus menjerit ketakutan sambil menunjuk ke depan.
Di hadapannya, gerbang utama paviliun yang kokoh telah hancur berkeping-keping, memperlihatkan pemandangan neraka jahanam di halaman utama.
Potongan anggota tubuh manusia, daging yang tercincang halus, dan genangan darah beku menutupi hampir seluruh permukaan lantai batu halaman.
Bebatuan hias yang mahal telah hancur dan kolam teratai berubah menjadi lautan darah yang sangat pekat dan bau menyengat.
Mayat empat penjaga elit yang membusuk dalam posisi dicekik dengan leher patah tergantung mengerikan di dinding gerbang yang tersisa.
Jeritan murid pelayan itu dengan cepat menarik perhatian ratusan murid pelataran luar lainnya yang segera berkerumun di sekitar bukit.
Kepanikan yang luar biasa langsung meledak saat mereka melihat pembantaian brutal yang tidak masuk akal tersebut.
Banyak murid perempuan yang langsung muntah-muntah dan pingsan karena tidak tahan melihat tumpukan organ dalam manusia yang berserakan.
"Ya Dewa! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?! Siapa yang berani membantai seluruh penjaga Kakak Zhao Ming?!"
"Ini pasti perbuatan iblis! Lihatlah cara mereka dibunuh, tidak mungkin ada kultivator lurus yang menggunakan metode sekejam ini!"
Keriuhan dan kepanikan para murid langsung terhenti ketika sebuah tekanan energi spiritual yang sangat kuat dan menindas turun dari udara.
Sesosok pria paruh baya bertubuh gemuk dengan jubah biru tua mendarat dengan keras di tengah kerumunan murid, membuat tanah bergetar pelan.
Dia adalah Tetua Liu, salah satu penatua pelataran luar yang bertanggung jawab atas keamanan dan penegakan hukum di wilayah tersebut.
Wajah Tetua Liu yang biasanya terlihat sombong dan penuh wibawa kini dipenuhi oleh keringat dingin dan otot wajah yang berkedut menahan amarah.
Ia melangkah maju menembus kerumunan murid dan matanya membelalak lebar saat melihat kehancuran total di halaman paviliun.
Sebagai seorang kultivator Alam Pembentukan Inti tahap awal, Tetua Liu bisa merasakan dengan jelas sisa-sisa aura energi Yin purba yang sangat kental di udara.
"Ini... ini adalah perbuatan seorang kultivator seni iblis tingkat tinggi! Energi kematian ini sangat murni dan mematikan!" seru Tetua Liu dengan suara bergetar.
Ia segera memerintahkan puluhan murid penegak hukum untuk mengamankan lokasi dan melarang siapa pun untuk masuk lebih jauh.
Dengan langkah gontai dan kewaspadaan tingkat tinggi, Tetua Liu berjalan melewati lautan darah menuju bangunan utama paviliun yang terlihat aneh.
Bangunan kayu itu tidak hancur, namun seluruh permukaannya ditutupi oleh lapisan es hitam yang terus memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Ketika Tetua Liu melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi Zhao Ming, ia langsung disambut oleh kekosongan yang membeku.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada mayat Zhao Ming, hanya ada tumpukan debu abu-abu aneh di tengah ruangan yang hancur.
Namun, pandangan Tetua Liu langsung terpaku pada tulisan raksasa berwarna merah darah yang menghiasi dinding utama ruangan tersebut.
Ia membaca tulisan ancaman itu dan seketika wajahnya berubah menjadi seputih kertas seolah seluruh darah di tubuhnya telah terkuras habis.
"Chu Yan... Tuan Muda Chu Yan menjadi target pembunuhan iblis ini?!" gumam Tetua Liu dengan lutut yang tiba-tiba terasa lemas.
Jika Tetua Agung dari pelataran dalam mengetahui bahwa cucu kesayangannya diancam di bawah wilayah pengawasannya, nyawa Tetua Liu pasti akan melayang hari ini juga.
Ia menelan ludah dengan susah payah dan menyadari bahwa masalah ini sudah berada di luar batas kemampuannya untuk ditangani.
Zhao Ming adalah pion penting bagi Chu Yan, dan kematian brutalnya beserta seluruh penjaganya adalah sebuah deklarasi perang terbuka.
"Tutup seluruh gerbang pelataran luar! Aktifkan Formasi Pelindung Seribu Pedang sekarang juga!" teriak Tetua Liu dengan panik yang meledak-ledak.
"Kirimkan merpati spiritual darurat ke pelataran dalam! Beritahu Tetua Agung bahwa ada penyusup sekte iblis yang mengincar nyawa Tuan Muda Chu!"
Perintah panik dari Tetua Liu langsung membuat seluruh pelataran luar tenggelam dalam kekacauan dan ketakutan yang tak terkendali.
Suara lonceng peringatan berdentang keras berkali-kali dari puncak menara, menandakan status siaga merah yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun.
Para murid berlarian ke sana kemari menghunuskan senjata mereka dengan wajah pucat, mencari bayangan musuh yang sama sekali tidak terlihat.
Sementara itu, di sebuah puncak bukit batu yang jaraknya belasan mil dari keributan tersebut, Lin Ye sedang duduk bersila dengan sangat tenang.
Angin pagi yang sejuk membelai rambut hitamnya yang panjang dan jubah baru berwarna abu-abu gelap yang ia ambil dari ruang penyimpanan.
Ia membuka kedua matanya yang memancarkan ketenangan absolut di tengah lautan kekacauan yang sengaja ia ciptakan sendiri.
Dari tempatnya duduk tinggi, ia bisa melihat ribuan murid sekte yang berlarian seperti kawanan semut yang sarangnya baru saja disiram dengan air panas.
Senyuman tipis dan mengerikan perlahan terukir di wajahnya saat ia menikmati simfoni kepanikan yang menggema dari pelataran luar.
"Teruslah berlari dan berteriak dalam ketakutan, karena sebentar lagi bayangan kematian akan mengetuk setiap pintu di pelataran ini," bisik Lin Ye dengan pelan.
Jenderal Wu An yang berwujud bayangan mengerikan perlahan muncul dari belakang punggungnya dan menunduk hormat dengan kepatuhan mutlak.
"Tuanku, pasukan bayangan di dalam dasar jurang sedang menunggu panggilan kemarahanmu untuk membasuh sekte ini dengan darah."
Lin Ye berdiri dari duduknya dan menatap lurus menembus lapisan awan menuju puncak gunung pelataran dalam yang berkilauan ditimpa sinar matahari pagi.
"Sabar, Jenderal. Pesta utama belum dimulai, kita harus memastikan hidangan utamanya sudah benar-benar merasa putus asa sebelum kita melahapnya."
Tatapan matanya menyipit dengan kilatan ambisi gelap yang siap menelan seluruh langit dan bumi tanpa menyisakan secercah cahaya pun.
Permainan kucing dan tikus yang berdarah di Benua Awan Ilahi baru saja resmi dibuka.