CINTA BEDA USIA
Semua pasti sudah tidak asing dengat kalimat tersebut kan?
Itulah yang sedang dialami oleh seorang gadis cantik keturunan Turki Jawa itu. Saat pertama kali dia melihat sosok Jendra, pria tampan mantan playboy yang sudah memiliki Cucu tetapi masih bujangan itu.
Entah bagaimana caranya, Pria berusia 47 tahun itu mampu meluluh lantahkan hati Khanza, membuat wanita yang tadinya berpikir bahwa pacaran adalah sebuah hal yang sangat membuang waktu saja itu. Akhirnya memilih melabuhkan hatinya pada seorang kakek bujang tua seperti Jendra.
Bagaimankah kisah selanjutnya? Apakah Jendra mau menerima dan menikahi wanita yang seumuran dengan anaknya? Apakah anaknya akan mengizinkan dirinya mengakhiri masa lajang dengan seorang wanita muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrieta rendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Jendra
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah mereka berdua makan pagi bersama, kembali terlihat Jendra mengantar Khanza untuk balik pulang.
“Mau mampir?” Tanya Khanza, menawarkan hal itu kembali.
Jika kemarin Jendra menolak, kali ini Jendra mau menerimanya. “Boleh,” jawab Jendra, lalu mencari tempat parkir yang ada di depan saja.
“ ya Khan.” Ucap Jendra sebelum mereka turun dari mobil.
“Kamu tidak merasa risih ya, kaya gini sama saya?” Tanya Jendra, menatap Khanza dengan lekat.
“Risih, maksudnya risih dalam hal apa nih Bang?” Tanyanya balik, ingin memperjelas pertanyaan dari Jendra.
“Sayakan sudah berumur ya, sudah punya cucu juga, kamu gak malu atau risih kalau jalan sama saya gitu? Tidak apa - apa kalau saya mampir gitu?” Tanyanya, mengulang kembali kalimatnya dengan yang lebih baik.
“Ngapain risih sih, kan sama - sama manusia juga.” Ucap Khanza dengan begitu santai, lalu dia keluar dari mobil milik Jendra.
“Ayo turun.” Ajak Khanza lagi.
Lalu Jendra menganggukan kepalanya pelan, dan mengikuti Khanza untuk turun dari mobil.
***
“Silahkan masuk,” seru Khanza mempersilahkan Jendra untuk masuk ke dalam apartemennya.
Jendra melangkahkan kakinya masuk, dan melihat ke sekitarannya. “Kamu masih belum beres - beres ya?” Tanya Jendra, ketika melihat masih banyak barang - barang yang di tutupin.
Khanza menoleh, lalu menganggukan kepalanya pelan. “Iya, masih belum punya waktu sih, jadi yah udahlah.” Jawab Khanza, lalu memilih melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuatkan Jendra minum.
“Coffe atau Tea?” Tanya Khanza dari dapur.
“Tea boleh, tadi sudah minum kopi.” Jawab Jendra, lalu kembali fokus dengan sekitaraannya melihat barang - barang milik Khanza.
“Kamu bisa main piano?” Tanya Jendra, ketika melihat piano ada di sudut apartemen Khanza.
“Bisa, emang hobby dalam waktu luang sih.” Jelasnya, lalu membawakan secangkir tea untuk Jendra.
“So, gimana?” Tanya Khanza, membuat Jendra menoleh ke arahnya.
“Maksudnya, gimana apanya?” Tanya Jendra bingung, ke mana arah pertanyaan Khanza ini .
“Tentang masa lalu kamu, semuanya aku ingin tahu, tentang siapa gadis yang kamu hamili di masa lalu.” Jawab Khanza, membuat Jendra tersenyum mendengarnya.
“Apa keuntungan untuk kamu bisa tahu semuanya?” Tanya Jendra, merasa sangat tidak penting menjawab hal itu.
“Karena aku ingin tahu, dan supaya aku bisa menentukan untuk diri aku sendiri, apa aku bisa mengejarmu atau tidak.” Jawab Khanza, dengan wajahnya yang serius.
Bahkan Jendra yang tadi tersenyum, lalu perlahan memudar, karena tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Khanza ini.
“Mengejar saya? Maksudnya seperti apa?” Tanya Jendra, ingin memperjelas kalimat Khanza.
“Aku Mencintaimu Bang, tapi aku gak tahu bagaimana? Atau dengan siapa kamu berhubungan saat ini, dengan informasi yang aku dapatkan, kamu adalah laki - laki single yang belum mempunyai pasangan, makanya aku ingin tahu semunya.” Ungkap Khanza, membuat Jendra hanya bisa menghela nafasnya kasar.
“Jangan jatuh cinta sama saya Khanza, saya adalah laki - laki terburuk yang ada di dunia ini.” Tegas Jendra, namun itu sama sekali tidak membuat Khanza gentar. Bahkan ekpresi wajah wanita itu, masih tetap sama seperti tadi.
“Baiklah, saya akan menceritakannya kepada kamu,” Jendra akhirnya menyerah, dan mulai mengambil posisi untuk menceritakan semuanya kepada Khanza
Flash Back On
Avika Nataliea Fortuta, seorang gadis yatim yang hidup hanya dengan Ibunya saja yang bekerja sebagai penjaga toko baju.
Hidup dengan kesederhanaan tak membuat semagat Vika menurun, dia bahkan menjadi sosok murid paling pintar di sekolahnya.
Hingga kerap kali kepintaraanya itu selalu di manfaatkan oleh teman-teman sekitarnya.
Vika adalah sosok yang periang, cantik, cerewet dan baik hati. Namun sayang karna dia di anggap misikin kebanyakan teman-teman sekolahnya tidak ada yang mau berteman denganya.
Dia adalah satu-satunya murid yang menerima Bea siswa di SMA Seksyen itu, di mana sekolah itu masuk dalam jejeran sekolah paling Ellite di daerahnya.
Saat ini Vika tengah serius menatap ke arah papan tulis di sekolahnya yang menampilkan jadwal ujian nasional yang akan di adakan beberapa hari lagi, membuat beberapa siswa jadi menangis takut menghadapi Ujian akhir yang menentukan kelulusan mereka.
"Ehm,,ini mata pelajaranya yang paling susah malah duluan ya," lirihnya berbicara sendiri sambil menggerakan bibirnya ke kanan dan kiri membuat kesan menggemaskan dari wajahnya.
Dan tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang menepuk pundaknya. "Serius banget sih liatnya," ucap seseorang yang sontak menganggetkanya.
Vika langsung memegang jantungnya yang terasa ingin copot saat ini, "Jendra kamu ngagetin aja sih," sahutnya pelang sambil mengatur nafasnya perlahan.
Namun Jendra hanya terkekeh melihat ekspresi wajah manis dari Vika.
Rajendra Vico Ardiona adalah teman sekelas Vika yang paling populer di sekolah itu, dia adalah sosok anak pengusaha paling kaya di Negara ini, dan wajahnya yang sangat tampan itu mampu membuat siapa pun klepek-klepek kepadanya, termasuk Vika.
Dia menyimpan rasa pada Jendra sudah sangat lama, berawal dari dirinya masuk di saat masa Orientasi sekolah dia melihat Jendra dan langsung jatuh hati pada pria ini.
Namun sayang, dia sudah menyadari posisi dirinya yang mungkin masuk dalam katagori buruk rupa, sehingga untuk menatap wajah Jendra saja, Vika sama sekali tidak berani melakukanya.
"Vik, loe sibuk gak sih hari ini?" tanya Jendra yang tiba-tiba saja membuat Vika melongo mendengar itu.
Vika memperbaiki rambutnya dengan menyelipkan di belakang telinga, "gimana-gimana Jen?" tanyanya balik ingin memastikan bahwa Jendra benar-benar sedang menanyakan waktunya.
Bukanya apa, selama hampir tiga tahun dia bersekolah, ini adalah pertama kalinya Jendra bertanya basa-basi seperti itu, karna biasanya pria itu hanyalah tersenyum dan menyapnya saja, tidak pernah lebih dari itu.
"Karna besok lusa kita Ujian Nasional, Gue butuh loe ngajarin Gue, bisa gak Loe hari ini ke rumah gue? Atau elo mau jalan sama pacar loe?" Serunya lagi dengan kalimat yang lebih jelas dan di pahami oleh Vika.
"Ehhmm,, gimana ya ? Masalahanya aku gak pernah ngajarin orang lain, apa lagi sampai ke rumahnya,"Jawab Vika nampak berfikir keras bingung dengan jawabanya sendiri.
"Aelah elu mah, sekali-kali bantu teman napa, elu pintar tapi gak mau bagi-bagi ilmu nih pelit," hardiknya dengan menampilkan wajah ngambeknya, karna Jendra tau pasti Vika akan menolaknya.
Vika semakin terlihat bingung, dia takut jika para fans Jendra akan kebakaran jenggot kalo misalkan mereka tau Vika datang ke rumah Jendra, walaupun itu tujuanya hanya untuk belajar, mereka pasti tidak akan ada yang mau mengerti itu.
Melihat Vika yang diam saja, Jendra langsung mengambil keputusanya sendiri, "lu diam berarti jawabanya iya, pokoknya pulang sekolah kita langsung ke rumah gue, kalo masalah nyokap lu, nantikan elu bisa ngabarin dia di rumah gue," sahut Jendra yang membuat mulut Vika menganga tidak percaya, dengan begitu beraninya Jendra memutuskannya secara sepihak.
Dan baru saja dia mau menolaknya, Jendra sudah lebih dulu pergi meningglkanya yang masih berdiri tegak di depan papan tulis.
Krrrriiingg,,krrriiinggg, bell tanda masuk sudah terdengar, menandakan jika jam istirahat telah usai.
Namun sepanjang pelajaran terakhir ini Vika menjadi tidak tenang, "aduh gimana ini, belum jalan sama dia aja mata fansnya udah menceleng gitu, aku harus alasan apa ini," gumamnya dalam hati dnegan keringat yang terus keluar di wajahnya menandakan kepanikanya.
Berbeda dengan Jendra yang sedari tadi semenjak dia berbicara dan menatap langsung ke arah mata Vika, tiba-tiba saja dia merasakan jika jantungnya itu tidak normal dalam berdetak.
"Sepertinya gue sudah mau mati." Lirihnya pelan, lalu berusaha fokus dengan pelajaran yang di terangkan, namun dia sama sekali tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya.
Hingga beberapa waktu dua jam telah usai, dan menandakan bahwa pelajaraan hari ini telah selesai di laksanakan.
Mereka tengah bersiap-siap untuk pulang, dan Jendra yang melihat guru sudah keluar dari kelas, langsung segera mendekat ke arah Vika dan menarik tangan mungil itu agar tidak kabur.
"Jendra lepasainn, aku malu di liatin banyak orang," ucapnya dengan berusaha menepis tangan Jendra dari pergelangan tanganya.
Namun Jendra seperti menulikan telinganya dan terus membawa Vika sampai masuk ke dalam mobil Sport Lamborghininya.
"Masuk," perintahnya sambil membukakan pintu untuk Vika.
Sejenak Vika melihat ke sekelilingnya yang menjadikanya sorotan kali ini. "Kan aku bilang juga apa, baru di gandeng aja mata mereka udah kaya mau terkeluar gitu, gimana kalo mereka semua tau aku akan belajar bareng Jendra, bisa kejang-kejang kali mereka," batinya yang merasa takut jika di terkam macan-macan sekolahnya.
"Avika Nataliea, aku bilang masuk," Ucap Jendra lagi yang melihat Vika tak kunjung masuk, malah dia berdiri dengan melamun.
Sontak Vika terkejut mendengar suara Jendra yang terdengar memerintah itu. "I--iya," balasnya lalu masuk ke dalam mobil, dengan Jendra yang masih setia menutup kembali pintu mobil itu.
Setelah memastikan Vika sudah naik dengan benar ke dalam mobil, Jendra langsung melangkah masuk ke dalam kendali di sebelah, "makasih ya lu udah mau ikut sama gue," lirihnya pelan dengan senyum lembutnya, lalu dia segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan raya.
Vika yang melihat Jendra sudah jauh dari sekolah kini hanya ampu mengeduskam nafasanya berat. "Terima kasih, sumpah ya untung cinta, kalo engga udah aku jitak nih cowok, orang jelas-jelas dirinya lah yang memaksa Vika agar tetap ikut bersamanya.
Sekarang malah dia mengatakan jika dirinya lah yang menyetujui permintaan Jendra.
"Kita mau kemana Jendra?" tanya Vika yang bingung melihat jalan yang tidak pernah dia liat sebelumnya.
Jendra tersenyum melihat wajah bingung dari gadis cantik di sebelahnya ini, "kita cari makan dulu yuk, baru kita ke apartemen gue, biar di sana lebih nyaman belajarnya," serunya yang di balasa anggukan kepala singkat oleh Vika yang sedang merasa canggung dengan situasi ini.
*To qBe Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*