Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Lamaran Hana
Aku menatapnya horor kupilih duduk disebelahnya, saat melewatinya tanganku ditarik hingga keseimbanganku goyah. Terduduk dipangkuannya. Tangannya bergerak melingkari perutku, terperangkap sudah.
"Tadi dari antar kamu ke rumah, Abang langsung ke mesjid. Habis shalat maghrib ada ceramah gitu, jadi Abang ikut dengerin. Kalau gak salah 40 menit ceramahnya, karena nanggung pulang jadii..."
"Jadi apa"tanyaku
"Jadi Abang ngaji bentar, gak lama setelah itu azan, ya ikut shalat isya berjamaah"
"Tapi kan, ini telat banget"
"Itu tadi abang ngomong sama pengurus mesjid, sekitar 15 menit lah"
"Jadi jangan bilang lagi ya kalau abang punya wanita lain, Abang gak siap punya dua istri" dicubit hidungku pelan dan mencium pipiku.
Aku benar-benar malu sekarang, tolong aku guys!! Hiks..hiks..
Bersiap untuk tidur aku sudah memakai piama panjang,saat aku melihat Bang Yusuf rasa nya ingin menghilang saja. Aku hanya menunduk, menuju bagian ranjang yang kosong.
Bang Yusuf menatapku, dia mendekat, mau apa dia?. Jantungku berdetak kencang. Bang Yusuf membuka jilbab dan menggerai rambutku. Semoga dia tak meminta hak nya.
"Hey, ayo tidur." Dia sudah berbaring menghadap langit-langit kamar. Kubalikkan badan memunggunginya. Aku takut beneran.
Ku coba pejamkan mata tak bisa, dadaku hampir melompat keluar saat merasakan sebuah tangan memeluk dari belakang, nafasku ikut tak beraturan
"Tenang dek, tidur aja. Gini aja gak papa kan?" Aku takut menjawabnya. Rasa kantuk mengalahkan semua ego takut tidur. Akhirnya.... terlelap.
---
Hari ini adalah hari lamaran adikku Hana atau Nurhasanah. Dari pagi kami bertiga sudah berkutat didapur. Memasak untuk kedatangan keluarga dari calon suami adikku. Kami Masak dari pagi karena keluarga pembelai pria akan datang setelah waktu dhuha.
Begitulah jadinya, aku seperti de javu, mengingat ini disiapkan untuk orang yang sama, tapi yang dilamar pun bukan aku tapi adikku.
Aku merasa miris sebenarnya. Kenapa takdir mempermainkanku sampai seperti ini, dulu aku selalu mencarinya, tapi setelah aku telah jadi milik orang lain malah dengan mudah Allah mempertemukan.
"Kak, kenapa wajahnya ditekuk gitu, kakak sakit ya"
"Mana ada dek, wajah kakak emang dari dulu gini, gak berubah kok"
"Tapi beda kak, lihat tuh bu, gak ada senyumnya, coba lihat tuh, kayak ada sesuatu gitu loh"
" he-em. Tumben biasa pasti ada senyum"
"Gak kenapa-kenapa kok, tenang aja lah, kakak baik kok" ujarku seraya senyum terpaksa untuk menyakinkan ibu dan adikku
"Nah gitu dong, harus bahagia. Inikan hari bahagia, jadi semua harus ikut bahagia" senyum mengembang diwajah Hana. Sungguh imut, menggemaskan. Tak terasa aku juga ikut tersenyum.
Bapak tiba-tiba datang, berdiri tepat di pintu penghubung antara dapur dan ruang tamu.
"Yun, Yusuf gak kamu buatin minum tuh, dari tadi duduk gitu aja gak minum apa-apa" aku memukul kepala pelan, sungguh aku lupa, ck.. ck. Baru 2 hari menikah, aku cepat sekali pikun. Bergegas membuat teh, karena Bang Yusuf memang tak suka kopi.
"Aduhh. Yun, kenapa lupa sih, kan kasian si Yusuf dari tadi"
"Hehe. Maaf bu, tadi lupa" selesai, aku membawa tehnya ke ruang tamu, karena terakhir kulihat tadi bang Yusuf dan Bapak duduk disini. Nah itu dia. Sedang baca koran, dia mengambil cuti 3 hari, jadi ini hari terakhir libur, besok dia akan mulai berkerja, begitu yang dia katakan padaku.
Berdiri tepat disampingnya, dia belum menyadari, kuletakkan cangkir dia masih belum sadar juga
"Bang" dia hanya menoleh, seolah bertanya 'ada apa?'
"Ini tehnya diminum, lain kali kalau abang mau apa-apa bilang aja" dia mengenyit heran dengan penuturanku.
" Tapi dek, abang maunya kamu"
"Iishhh. Au ah gelap" aku berlalu
"Jelas-jelas ini terang loh dek" aku tak menanggapi karena memang tak mau berdebat. Kudengar dia terkekeh pelan. Menyebalkan.
Waktu berlalu begitu cepat, makanan sudah siap seluruhnya, aku pun sudah siap, tinggal membuat adikku seperti putri hari ini.
Hana berceloteh panjang lebar tentang calon suaminya, aku hanya menanggapi sesekali, karena aku tau betul tantangnya.
"Oh ya kak. Rupanya bang Ian itu kuliahnya dulu di Universitas yang sama dengan kakak loh"
"Oh ya?"
"He-em, mungkin cuma beda letingan sama kakak"
"Hmm" begitulah aku tau itu semua. Hanya tak mau menyakiti kebahagiaan adikku
Kudengar ibu memanggil dari bawah, sepertinya calon suami adikku sudah datang. Bergegas kami berdua turun, saat sampai dibawah semua sudah menunggu. Aku hanya menunduk melihat tangga yang kami turuni. Sungguh aku tak siap menatap semua orang termasuk Adrian, sesak rasanya.
Aku dan ibu ingin menyajikan minuman dan kue kering, sementara adikku menyusul karena merasa tak nyaman katanya.
Aku membawa piring berisi kue, adikku membawakan minuman. Dia membagikan minum, aku duduk di samping bang Yusuf.
Berdasarkan kesepakatan semua pihak, pernikahan akan dilaksanakan sebulan lag. Aku ingin menangis melihat ini, seharusnya aku yang dilamar olehnya. Aku hanya tersenyum kecut. Miris
Kulihat wajah heran Bang Yusuf, senyumku mengembang, tak mau membuat dia khawatir. Aku hanya duduk diam tanpa menimpali sedikit pun.
Acara lamaran selesai, semua dipersilahkan memakan makanan yang kami masak bersama. Aku melayani bang Yusuf seperti biasa mengambil makanan kesukaannya. Ku ambil makananku sedikit, aku tak nyaman begini ingin cepat menangis.
Semua sudah selesai, aku bergegas kekamarku. Masuk ke kamar mandi. Menghidupkan air kran. Tangisku tumpah, mengapa dada ini begitu sesak.
"Kenapa aku begini, Yuna kamu harus ikhlas, dia tak mencintaimu lagi, hanya kamu yang terus berharap" menguatkan diri.
"Tapi aku tak sekuat itu" kakiku terasa lemas, ingin luruh jika tak ada tangan menopang di wastafel
"Kenapa aku selemah ini karena cinta" tangisku pecah sudah
Tok tok tok
"Dek, kamu kenapa dek" tanya bang Yusuf masih dibalik pintu. Sepertinya dia khawatir
"Gak papa kok bang"ucapku lemah dari dalam kamar mandi. ku normalkan suara agar tak nampak seperti menangis. Kucuci muka agar tak begitu sembab
Ceklekk.
Bang Yusuf bingung melihatku, mungkin ada yang salah, dia mendekat, memperbaiki letak jilbab yang agak berantakan mungkin, dia menangkup pipiku yang membuatku menatapnya
"Kamu kenapa dek" kami saling bertatap
"matamu merah, jilbabmu berantakan, kamu nangis, kenapa?" Lanjutnya
Air mataku tumpah lagi, aku tak bisa berbohong lagi. Tapi aku juga tak bisa mengatakan kebenaran
"Maaf bang" refleks ku peluk dia menumpahkan tangisku, aku tak sanggup
"Maaf" dia membalas pelukanku, mengusap kepalaku pelan
"Iya. Abang maafin"
Aku sungguh merasa bersalah, aku menangisi orang lain di pelukannya
"kamu kenapa dek?" aku hanya menggeleng tanda tak bisa bercerita sekarang. Dia tak bertanya lagi, 'maafkan aku bang'
"Abang gak akan maksa kalau memang kamu belum siap bercerita"
"Buruan siap-siap, bentar lagi zhuhur. Abang mau ke mesjid. Tidur siang aja habis sholat, jangan keluar dulu. Ntar yang lain curiga lagi, kirain Abang nyakitin kamu" masih dalam pelukannya, aku merasa sangat malu.
9 Dia begitu perhatian tapi aku menangisi pria lain. Aku hanya bisa mengangguk.
"Udah dong peluk-peluknya, nanti kalau abang udah pulang dari mesjid, peluk sampai puas ya" dia menggodaku lagi, pipiku terasa panas. Aku merenggangkan pelukan padanya
'Ya ampun bajunya basah' Memalukan.
Dia berlalu kekamar mandi, ingin berwudhu mungkin atau berganti pakaian begitulah. Itu ulahku
" Abang ke mesjid dulu ya, jaga diri baik-baik ya cantik" ucapnya mengusap kepalaku yang berbalut jilbab dan berlalu
"Maafkan aku bang"ujarku lirih, aku ingin menangis
'Tahan Yuna, jangan tangisi dia lagi. Mungkin dia memang tak pernah menganggapmu ada' batinku menguatkan
Selesai shalat zhuhur aku merebahkan diri, memang tak mengantuk tapi tetap ku coba tidur. Ku pejamkan mata dan tertidur.
Disela-sela tidur kurasa ada sesuat dihadapanku, seperti angin bertiup. 'Apa ini '. Ku buka mata perlahan, ku lihat Bang Yusuf tepat di depan wajahku. Jantungku berpacu melihat dia begitu dekat
"A-abang ngapain, sana lagi sesak tau kalau deket-deket banget"
" kebetulan udah bangun, sini abang peluk lagi" dia menarik pinggangku hingga diriku sudah berada di pelukannya. Aku hanya diam, tak tau kenapa jantungku berdetak tiga kali lipat dari biasanya. Dia menempelkan wajahku didadanya. Aku juga mendengar suara jantungnya sama sepertiku. Sungguh Aneh
Bang Yusuf mengusap kepalaku pelan hingga sisa tidur tadi berlanjut.
"Tidur dek" aku tertidur, ini nyaman.
Aku terbangun merasa tidur sudah cukup. Masih ada Bang Yusuf dengan posisi seperti tadi memelukku. Dia sangat baik padaku. Aku sungguh menyesal.
Kupandangi wajah teduhnya, dia seperti anak kecil saat tidur. Dasar bayi
Matanya terbuka cepat, kapan dia bangun. Aku gelagapan, ketahuan memandanginya. Habis aku.
*****
hy guys follow, vote, like and comen ya
semoga suka ceritanya
love you all😍😍
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati