Dewa Abraham. CEO tampan dan juga fosessive. Pria yang sangat mencintai Bunga dan sekarang mereka telah bertunangan. Namun dibalik sifat Dewa yang penyayang, ia sangatlah egois.
Indah, perempuan yang berstatus menjadi sahabat Dewa dari sekolah menengah pertama selalu melakukan berbagai cara untuk merebut Dewa dari Bunga. Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan oleh Indah tanpa sepengetahuan Dewa.
"Jujur sama aku Dewa!! kamu sayang sama Indah??" tanya Bunga dengan wajah sendunya.
"Iya. Indah sahabat aku sayang. Apalagi sekarang dia lagi sakit. Kamu ngertiin posisi aku sayang!! aku ngak bisa menjauh dari Indah."
"Tega kamu Wa. Kamu selalu ada waktu sama dia ketimbang sama aku. Dia emangnya ngak punya orang tua ahh?? Kenapa harus kamu selalu ajha kamu??"
"Sayang!!"
"Terserah. Kalau kamu pergi! kita putus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 08 // Nenek Ti
"Anak kurang ajar," wanita tua itu melangkah dengan kemarahan yang cukup memuncak saat ini karena ulah gadis dari anak tirinya itu, Bunga cucu tirinya yang sangat berani melawannya, bahkan ibunya saja tidak berani melawan nenek Ti.
"Hem, nenek dari mana ajha?" itu suara Dimas, cucu kesayangan nenek Ti, Dimas tidak sengaja melihat neneknya yang sedang marah menaiki tangga dan berhadapan dengan dirinya, yang ingin berangkat ke kantor.
"Kamu mau kemana?"
"Dimas ingin berangkat ke kantor nek, nenek dari mana ajha? Dimas nyariin nenek dari tadi."
"Nenek dari rumah sakit."
"Siapa yang sakit nek?" tanya Dimas khawatir.
"Itu mamanya Bunga."
"Tente Elina?"
"Iya, penyakitnya kambuh."
"Nanti Dimas jenguk tante Elina."
"Ngak perlu."
"Aku khawatir sama tante Elina, pasti Bunga sangat sedih melihat mamanya sakit nek."
"Itu urusan dia, bukan urusan kamu."
"Biar bagaimanapun Bunga sepupu Dimas nek, Dimas peduli sama Bunga."
"Terserah kamu, ingat pesan nenek, jangan dekat-dekat dengan Bunga, nenek tidak suka."
"Apapun kata nenek, Dimas akan tetap ke rumah sakit, Dimas udah anggap Bunga seperti adek kandung Dimas sendiri," tegas Dimas melangkah pergi meninggalkan neneknya di depan pintu kamarnya.
"Aku tidak habis pikir dengan pemikiran nenek, selalu saja ia mencoba menjauhiku dengan Bunga, apa salah gadis itu? hingga nenek sebenci itu kepada Bunga, maupun tante Elina."
Dimas memasukki mobil mewahnya dengan kecepatan sedang di dampingi sopir pribadinya menuju kantor Fikram papanya Bunga.
"Mama!!" Isti memanggil nenek Ti yang hendak memasukki kamarnya, nenek Ti menoleh mengasih kode kepada Isti agar ia masuk ke kamar mamanya.
"Bagaimana ma? Elina masih hidup?" tanya Isti tidak sabar mendengar jawaban dari mamanya.
"Dia sehat," balas nenek Ti singkat.
"Yah mama, kok dia sehat sih, terus hartanya bagaimana?" sudah kebiasaan Isti bersikap manja kepada mamanya dari dulu sampai sekarang, walaupun wanita itu sudah menikah, sikapnya terlalu sulit untuk dihilangkan.
"Tenang saja Isti, mama akan berusaha membujuk Elina agar ia mau menandatangani surat perjanjian itu."
"Tapi bagaimana kalau gagal ma? kita sudah berusaha dari dulu tetap saja tidak membuahkan hasil."
"Makanya kamu bantu mama, jangan hanya menyalahkan mama saja, mungkin Elina akan cepat terpegaruh, tapi ini soal gadis tengil itu, dia selalu saja menghalangi mama."
"Maksud mama Bunga?" tanya Isti penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan dia, mama dari dulu sangat membencinya, kenapa dia tidak mati saja, pas mama mencelakakan Elina," nenek Ti sudah beberapa kali mencoba menggugurkan kandungan Elina ketika Elina sedang mengandung Bunga, entah ia memasukkan racun ke minuman Elina, pernah juga nenek Ti sengaja mendorong Elina dari belakang agar terjatuh di tangga, namun semuanya tidak ada efeknya bagi kandungan Elina, selalu saja anak tirinya itu selamat, apalagi dengan Bunga, bocah tengil itu selalu menyusahkan nenek Ti, kalau nenek Ti berbuat kejahatan.
Flash Black!!
"Ma!! nenek Ti itu siapanya Bunga sih?" waktu itu Bunga masih berumur
10 tahun, Elina dan Fikram mengajaknya berkunjung ke rumah nenek Ti.
"Nenek Ti itu nenek kamu sayang, mama dari mamanya Bunga," balas Elina lembut.
"Bunga ngak percaya ma."
"Kok ngak percaya sayang, kenapa ngak percaya?"
"Nenek Ti itu jahat ma, udah berapa kali dia cubit Bunga, beda banget kalau sama kak Dimas, pasti nenek belain terus ngak pernah di cubit kayak Bunga."
"Mungkin Bunga nakal, makanya di cubit."
"Ngak ma, Bunga ngak nakal kok, nenek Ti ajha yang selalu jahat sama Bunga, dia itu kesel banget kalau lihat Bunga ma."
"Hus!! ngak boleh ngomong kayak gitu sayang, dosa."
"Iya deh ma, Bunga takut dosa."
"Tapi besok kalau nenek Ti cubit Bunga lagi, Bunga akan gigit tangan nenek Ti sampai berdarah, biar dia ngak bisa cubit Bunga lagi."
"Bunga!!"
"Iya ma."
"Ngak boleh sayang!! mama sama papa ngak pernah ajarin Bunga buat balas dendam, itu ngak baik."
"Baiklah ma, ini demi mama dan papa ya? bukan nenek sihir itu."
Flash On!!
"Jadi Bunga itu udah benci sama mama dari dulu," tanya Isti penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
"Bocah tengil itu selalu mempengaruhi mamanya, dia bahkan ingin balas dendam ke mama."
"Dia anak kecik ma, masak mama kalah dengan bocah seprti Bunga."
"Dia itu cerdas, tidak seperti mamanya yang lemah lembut."
Bersambung!!!
ga mau di php in ni cerita ak udh bca judulnya udh ok Lit komen2 nya jga kyana seru tpi liat part traktir kpn jdi diem di t4 ak jg dia smpe mna ni cerita di lnjut
maaf ya thor