Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan saya
Anggia beberapa kali mengusap peluh yang membasahi dahinya, hari sudah semakin sore namun warung sang nenek masih sangat ramai pengunjung, gado-gado serta bubur sumsum yang dijual nenek Widuri memang sangat terkenal dengan rasanya yang khas.
Tidak heran jika setiap harinya banyak pelanggan yang rela mengantre hanya demi seporsi gado-gado atau seporsi bubur sumsum buatan nenek Widuri.
"Non Anggia ini sudah sore non, apa nggak sebaiknya non Anggia pulang saja." ujar Lasmini asisten rumah tangga yang dikirim mama Indri untuk menemani nenek Widuri beberapa hari yang lalu.
"Sebentar lagi bi." jawabnya tanpa menoleh, karena kini ia sedang sibuk membuka plastik baru untuk membungkus makanan yang telah habis di bagian depan.
Samar-samar didepan sana ia mendengar suara seseorang yang sudah tak lagi familiar di Indra pendengarannya.
Benar saja, ketika ia mendongakkan wajahnya, Nattan sang suami tengah menatapnya sembari mengobrol dengan sang nenek yang tengah sibuk mengulek bumbu.
"Anggi sini, nak Nattan sudah menjemput." ujar nenek Widuri membuat Anggia mau tidak mau menghampirinya, kemudian ikut pulang bersama Nattan.
Seperti biasa ketika berada didalam mobil yang sama, baik Nattan maupun Anggia keduanya memilih untuk diam hingga mobil yang mereka tumpangi sampai dirumah orang tuanya.
Anggia turun terlebih dulu mengucapkan salam dan mengetuk pintu layaknya seseorang yang tengah bertamu kerumah orang lain.
"Percuma, nggak bakalan ada yang nyahut, tadi siang mama nyusulin papa keluar kota, bi Asti juga ikut mama." ucap Nattan, sembari mengeluarkan kunci cadangan dari dalam saku jasnya.
Sementara Anggia hanya ber oh saja, dan memikirkan berbagai hal dirumah tersebut tanpa mama Indri.
Begitu pintu terbuka, Anggia bergegas masuk menuju kamarnya terlebih dahulu, lengket karena keringat disekujur tubuhnya membuat ia tak tahan ingin segera mandi.
Pukul tujuh malam, Anggia keluar dari kamar, ia mengedarkan pandangannya kesetiap sudut mencari sosok Nattan yang tidak ia lihat dari sejak sore tadi.
Dalam hati ia sudah mengumpulkan banyak kemungkinan terburuk, Nattan meninggalkan nya seorang diri dirumah atau_
Lamunan Anggia buyar seketika saat melihat suaminya tengah berdiri didepan kulkas menenggak langsung air dingin tersebut dari botol besar yang berada ditangannya.
Awalnya Anggia merasa ragu untuk menghampiri, namun ia tidak bisa lagi untuk menahan rasa lapar diperutnya yang belum sempat ia isi dari tadi siang.
Ia sedikit menyesali saat sang nenek beberapa kali menyuruhnya untuk makan saat berada di warung tadi, namun ia menolak dengan alasan belum lapar.
Alhasil saat ini ia merasa sangat kelaparan.
"Kamu bisa masak kan,? saya lapar!" ujar Nattan yang kini menyandarkan tubuhnya ditembok, membuat Anggia terperangah menatapnya.
"Euhmz bisa, mas Nattan mau di masakin apa?"
"Apa saja, selagi makanannya layak untuk dimakan, apapun pasti saya makan."
"B-baik mas!"
Dengan sigap Anggiapun membuka kulkas mencari bahan makanan yang bisa ia masak, namun ternyata didalam sana hanya tersisa dua butir telur, dan satu ikat sawi.
Kemudian Anggia membuka tutup rice cooker dan tersenyum lega saat masih ada sisa nasi disana yang ia yakini cukup untuk dimakan berdua dengan suaminya.
Sementara dibelakangnya Nattan memutuskan untuk mengambil laptop, dan menunggu di meja makan saja, sembari memeriksa beberapa laporan yang masuk melalui email yang belum sempat ia buka keseluruhannya ketika berada dikantor tadi.
Sesekali ia melirik kearah Anggia memperhatikan cara gadis itu memasak dengan sangat cekatan.
Tak lama dua piring nasi goreng pun telah tersaji dihadapannya, "Maaf mas, bahan yang tersisa didapur hanya ada ini, apa mas Nattan tidak apa-apa?" tanyanya gugup bercampur takut.
Nattan menghela napas, kemudian menarik salah satu piring berisi nasi goreng tersebut.
"Tadi kan saya sudah bilang, saya bisa makan apapun, asal makanannya layak dimakan." jawab Nattan seraya mulai menyendok makanan yang kemudian ia masukan kedalam mulutnya.
"Nggak enak ya mas, maaf ya?" lagi-lagi Anggia merasa tidak enak terlebih saat melihat Nattan berhenti mengunyah saat memasukkan suapan pertamanya.
"Lumayan! tidak terlalu buruk." jawabnya santai, kemudian ia menghabiskan makanannya dengan lahap hingga tak bersisa sedikitpun.
"Minumnya mas." Anggia menyodorkan segelas air putih yang kemudian diterima Nattan dengan anggukan kepala.
Usai makan keduanya memilih bersantai diruang TV, lebih tepatnya Nattan yang mengajaknya ia pikir mengenali Anggia lebih dekat mungkin tidak akan jadi masalah, terlebih Anggia memang istri sahnya.
"Tadi kewarung nenek diantar siapa?"
"Oh euhm itu_ saya naik angkot mas."
"Angkot?" Nattan yang semula fokus melanjutkan pekerjaan lewat laptop yang berada dipangkuannya seketika mendongak, menatap Anggia dengan dahi berlipat.
"Iya mas."
Nattan men desah pelan, ia menutup laptop dan meletakkannya di meja kecil yang berada dihadapannya.
"Kenapa harus angkot, memangnya kamu tidak takut bahaya."
"Tidak mas, saya dari kecil sudah biasa menumpangi angkot setiap kali saya mau sekolah, atau kemanapun."
"CK, mungkin kemarin-kemarin belum, tapi bisa saja kan selanjutnya kamu_"
"Saya rasa saya akan selalu baik-baik saja mas." sela Anggia cepat.
"Saya pikir kamu memang gadis yang keras kepala."
"Maaf!"
"Saya heran sama mama saya sendiri kenapa dia bersikukuh menginginkan saya agar tetap menikahi kamu, padahal kalau dipikir-pikir kamu tidak memiliki apa-apa, selain itu kamu juga tidak terampil dalam mengurus diri."
Deg!
Anggia menggigit bibir bawahnya berusaha untuk terlihat tak peduli dengan ucapan Nattan yang sebenarnya sangat menusuk bagian relung hatinya yang paling dalam.
Ia berusaha menguatkan hatinya sendiri, bahwa mungkin saja kedepannya ia akan mendapatkan hinaan yang lebih besar lagi dari Nattan.
Ingat Anggia, ini baru awal! kedepannya kamu harus lebih kuat lagi, hatinya memperingatkan.
"Maaf mas, saya memang tidak memiliki apa-apa, dan yang mas Nattan bilang memang benar, saya tidak pandai merawat diri, untuk itu saya siap jika mas Nattan mau menceraikan saya kapanpun mas Nattan mau."
Deg!
Nattan terkesiap, tak menyangka jawaban Anggia membuat hatinya tertohok dengan ucapannya, namun detik berikutnya setelah mengendalikan diri ia kembali memasang wajah datarnya.
"Kamu berani bilang begini hanya didepan saya kan, tapi kamu nggak berani bilang didepan mama saya, iya kan?"
"Saya bukan tidak berani, tapi saya sangat menjaga perasaan mama Indri yang sudah banyak membantu saya dan nenek saya."
"Kamu_"
''Maaf mas, sepertinya saya harus kekamar duluan, karena saya memiliki tugas sekolah yang belum sempat saya kerjakan, permisi." ucapnya sambil beranjak dari duduknya, membiarkan Nattan mengumpat sendirian diruangan tersebut.
*
*