Warning 21+
Derap langkah terdengar. Aroma peppermint kian menguar. Nara merasa seseorang datang. Lalu berkata,-
“Siapa kau?!” delikkan mata. Suara berat nan tegas saat bertanya terdengar begitu maskulin di telinga. Dia Cakra. Lalu Nara yang setengah sadar menggeliat, membalikkan badan.
“To-tolong sa-saya, Tuan. S-saya sudah . . . tidak tahan!” suara Nara terdengar parau. Mata sayunya memohon kepada sepasang mata elang yang saat ini sedang memperhatikannya.
Apa yg akan terjadi selanjutnya? Penasaran? Yuk, simak kisah selengkapnya!
Follow IG : @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Hotel?
“Kau lihat, Brady, sudah jam segini tapi putrimu belum pulang?” Lena bersidekap, berdiri di depan sofa. Memicingkan mata, menatap Brady yang duduk di depannya.
“Mungkin dia ada urusan mendadak,” ucap Brady.
“What, urusan mendadak? Are you sure?”
“Possible?” Brady mengedikkan bahunya. Ia sendiri juga tidak tau ke mana Nara pergi. Gadis itu tidak mengatakan apapun padanya. Padahal selama ini Nara adalah putrinya yang penurut.
“Dia chek in di kamar hotel,” timbrung Bellinda. Putri bungsu Brady.
Ucapan Bellinda mencuri atensi Brady, pun dengan Magdalena. Keduanya lantas memandang Bellinda dengan wajah serius.
“Jangan ngawur kamu. Mana mungkin, Nara__”
“Dad, mau lihat buktinya?” sela Bellinda. Mengangkat tangan, menggoyang-goyangkan gawai canggih miliknya. Lalu Bellinda membuka kode dari benda pipih tersebut. Mencari sebuah foto. Lantas memperlihatkannya kepada Brady.
“Mungkin itu kamar temannya?” mengangkat kedua alis. Brady mengedikkan bahunya. Ia tidak ingin berspekulasi jauh. Meskipun benar gadis yang di foto itu adalah Nara.
“Come on, Dad. Ini dia sudah masuk kamar hotel loh. Masa Dad masih membelanya?” tanya Bellinda. Menatap tidak percaya. Gadis itu mulai jengah. Selama ini Brady selalu saja membela Nara. Sementara dirinya, Brady selalu mencela.
“Kau lihat? Bukankah itu sudah jelas? Nara masuk ke dalam kamar hotel dan sampai sekarang gadis itu masih belum pulang!” sambung Lena tegas. Bersuara keras. Kesal karena Brady selalu membela Nara.
Di mata Lena, Brady memperlakukan Nara seperti anak emas. Sementara putrinya Bellinda selalu di nomor duakan. Layaknya anak tiri?
“Apa kalian punya fotonya? Punya bukti kalau Nara melakukan hal seperti itu di dalam?” Brady menatap Magdalena, lalu beralih kepada Bellinda. “Don’t accuse if there’s no evidence!” tegasnya. Lantas berlalu meninggalkan pasangan Ibu dan Anak tersebut.
Kalimat Brady membuat mulut Ibu dan Anak itu menganga. Tidak menyangka jika Brady akan sampai segitunya membela Nara. Padahal sudah jelas jika bukti foto itu menunjukkan gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar hotel!
“Mom, lihat? Dad, selalu saja begitu. Membela Nara padahal sudah jelas wanita itu adalah seorang ja lang!” Bellinda jengah.
Lalu Lena mendekati putrinya. Mengusap bahunya.
“Mom, tau. Tapi Dad benar. Kita tidak punya cukup bukti menuduh Nara melakukan hal seperti itu.” menatap mata putrinya dalam. Lalu Lena mengusap pucuk kepalanya. “Kita harus punya cukup bukti, sayang. Bukan hanya gambar saat ia masuk ke dalam kamar. Tapi lebih dari itu.”
“Kalau begitu sekarang juga kita cari buktinya. Perlihatkan kepada Dad, supaya ia tidak lagi bisa membela ja lang itu.”
Di sebuah paviliun yang terletak di belakang rumah. Brady mendudukkan tubuhnya di sofa. Tangannya merogoh saku jas, meraih ponsel yang ada pada saku bagian dalam jas. Menekan sebuah nomor telepon, menghubungi seseorang.
Ia resah. Apalagi setelah tadi melihat foto yang diperlihatkan Bellinda. Menunjukkan Nara yang masuk ke dalamnya. Ditambah lagi saat ini putri kesayangannya itu belum pulang. Membuat hati dan pikirannya bertambah gundah.
“Halo, Kevin. Nara belum pulang. Barusan ada yang menunjukkan padaku jika ia masuk ke dalam kamar hotel. Aku khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Segera cari dan temukan ia. Nanti aku kirimkan nomor kamar hotel tersebut melalui pesan.”
Setelah itu Brady menutup panggilannya. Lalu mencari keberadaan di hotel mana Nara berada melalui GPS yang sudah dipasang di ponselnya.
TBC.
ternyata Rendi sama2 penghianat,
sama2 butuh pelampiasan ini mah, awal dari segalanya,🤣