NovelToon NovelToon
Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Supernatural
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lombu Willem

Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.

Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.

Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permata

Seorang wanita bergaun sederhana warna putih, dengan rambut disanggul ketat ditutup kerudung brokat sedang terbaring di ranjang tempat tidur. Dia mati.

"Apa ini mayat juga?" Stefanie melihat ke Gideon "Ia berbeda dari yang lain. Apa ia pribumi? bule? atau peranakan?" kulitnya mulus bagai susu, dengan rambut bewarna perak. Hampir mirip dengan Stefanie. Bedanya ia sangat putih pucat. Ras albino.

"Entahlah. Itu tidak penting," meraih lengan wanita itu, memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan, "Tidak ada denyutnya. Ia cuma bongkahan mayat,"

Stefanie menarik tangan yang satunya lagi, menangkupkan kedua telapak tangannya, memanjatkan doa agar roh wanita itu tenang dalam kerajaan sorga.

"What are you doing?" tanya Gideon setelah gadis itu membuka matanya.

"Aku berdoa buatnya,"

"Buat apa?" melepas kalung, gelang, anting dan cincin yang melekat ditubuhnya, "Mending kau bantu saya. I need your help,"

"Apa kau tidak pernah berdoa?"

Gideon berhenti sejenak dari aktivitasnya. Sambil berkacak pinggang ia melihat kearah Stefanie, "Dulu. Lama sekali, sewaktu kecil," mengalihkan pandangan kebongkahan tubuh perempuan yang terbaring, "Tapi apa hasilnya? Tidak ada yang berubah dalam hidupku,"

"You're still alive. Itu kan sebuah berkat,"

"Berkat siapa? Tuhan?" tertawa mengejek, "Tidak ada yang namanya Tuhan. Banyak orang tidak percaya, hidupnya bergelimang harta. Untuk apa menyembah sesuatu yang tidak pasti, tetapi hidup tetap miskin,"

"You are poor sad man,"

Gideon tercekat. Apapun jawabannya, ia tidak akan pernah menang beradu argumen dengan gadis dihadapannya. Dia terlalu cerdas. Cara terbaik adalah mengiyakan dan setuju pada setiap pernyataannya.

"Tapi gadis ini aneh sekali. Hanya tubuhnya saja yang masih mulus," melepas Gelang dari pergelangan tangannya. "Kau dengar itu?"

"Yup. Like a gunshoots,"

"Tunggu disini. Aku akan mengeceknya,"

Gideon melangkahi tubuh gadis itu, melompat turun dari atas ranjang. Saat ia melangkahkan kaki, Stefanie menarik tangan Gideon, agar tidak beranjak pergi.

Menggelengkan kepalanya, berharap pria itu tidak sampai tega hati meninggalkannya sendirian, di tempat penuh dengan mayat. Bukan berarti ia ingin turun ke lantai satu bersama dengan Gideon, ditengah desingan peluru yang saling sahut-menyahut.

"Gideon," gumam Stefanie, "Please, don't do that,"

"Ayo. Kita harus bergegas. Kita tak boleh membuang waktu," membatalkan niatnya turun ke lantai satu.

Keduanya keluar dari kamar dan menguncinya kembali. Cepat-cepat Gideon mencari kunci kamar nomor sembilan sesuai dengan yang tertulis di pintu kamar.

Klik... pintu terbuka dan keduanya bergegas masuk. Mereka tidak sadar ada mata yang memandang mereka dari kejauhan, ditengah kegelapan. Sesampainya dikamar, Gideon menutup pintu dari dalam, tetapi tidak menggerendel-nya.

"Apa mereka baik-baik saja?" berdiri di dekat ranjang, "Haga. Dia sendirian dibawah sana,"

"Jangan risau. Ada Bertus dan Hamid bersamanya," menurunkan buntalan kain berisikan bermacam emas perak dari lengannya dan meletakkannya ditepi ranjang. Satu lagi mumi baru yang harus dirampas perhiasannya. Gideon mendekati mayat itu, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti.

Stefanie yang melihatnya juga paham. Seperti mereka pernah melihatnya, namun berbeda dengan yang sebelumnya, gadis ini tidak seutuh mayat dikamar sebelah. Seperti mumi lainnya, ia mengalami sedikit pembusukan.

Namun pakaian mereka persis mirip. Bergaun sederhana warna putih, dengan rambut disanggul ketat ditutup kerudung brokat sedang terbaring di ranjang tempat tidur. "Tapi kenapa ini tubuhnya mengalami pembusukan?" Selain itu, ada satu lagi yang membedakannya, warna permata pada kalung.

Haga memeriksa buntalan, mengambil kalung yang desainnya sama persis dengan kalung yang masih tersemat pada leher mumi itu. Gideon mengangkat tinggi kalung itu, yang ditangannya memiliki batu permata bewarna kehitaman. Sementara yang satunya lagi warna hijau tua.

"Wah.. ini kalung yang sangat indah," mata Stefanie berbinar, dan Gideon memahaminya.

"Kau mau?" menyodorkan kalung permata hitam.

"Apa kau sudah gila?"

"Haha... Jangan marah. Gimana kalau sekedar mencobanya?" mendekat ke Stefanie, menarik tangannya menuju cermin disebelah ranjang, "Bukan berarti kau mencurinya kan?" mengarahkan wanita itu duduk di kursi rias.

Dari belakang, Gideon melingkarkan kalung itu keleher gadis tersebut. Putih, mulus dan lembut terasa ketika kulit tangan Gideon secara tidak sengaja bersentuhan dengan leher Stefanie. Kalung itu menjuntai dengan indah di tubuh Stefanie.

Pintu terbuka. Adakalanya disuatu momen ketika waktu berjalan terasa begitu lambat. Dan inilah moment dimana Gideon merasakannya. Haga berhenti di depan pintu, dan tubuhnya menegang.

Stefanie tidak sadar Haga memperhatikan mereka untuk beberapa saat, karena terpukau dengan kemilau permata. Sementara Gideon melangkah mundur. Sedetik kemudian Stefanie menyadari keberadaan Haga.

"Oh, Haga!" beranjak dari kursi rias, datang mendekati kekasihnya, "Bagaimana menurutmu? Cantik bukan?"

"Apa ini?"

"Kalung sayang,"

"Aku tanya apa ini?" Stefanie dan Gideon terkesiap mendengar suara Haga meninggi. Haga menatap tajam dan wajahnya sama sekali kosong. Ia meneliti Stefanie dari ujung kaki hingga ubun-ubun kepala. Mendadak ia mendongak dengan satu alis diangkat.

"Apakah aku memergoki kalian?" melihat kearah Gideon. Lalu berpaling ke Stefanie. Mengangkat tangan, memegang mata kalung dan mengusap-usap batu permatanya, "Apakah ini hadiah sehabis ****?"

"Watch your mouth man!" kata Gideon.

"Wow. Englishmen," mata Haga membelalak.

"Haga," ucap Gideon sedikit memelas.

"Diam kau! Tutup mulutmu!" wajahnya merah padam.

Kini tangan itu beralih dari kalung, naik melalui leher dan sekarang berada dirambut Stefanie. Haga mengelus belakang kepala gadis itu. Stefanie menangis. Ia menatap lurus ke mata Haga, menggelengkan kepala "You're wrong babe,"

"Pelacur! Kau perempuan murahan!" Haga berteriak.

Plakk. Stefanie menampar Haga dengan sangat keras. Sejurus kemudian Haga menarik rambut wanita itu kebelakang. Stefanie menjerit kesakitan, memohon-mohon ampun kepada Haga. "I am sorry babe. You hurts me,"

Tubuh Gideon bergetar hebat. Haga berhenti menjambak Stefanie, kini tangan kanannya beralih cepat ke leher. Haga menarik kalung itu dari leher Stefanie.

Tetapi karena kaitan kalung itu kuat, leher Stefanie menunduk mengikuti kemanapun arah tangan Haga bergerak. Tidak lepas, sampai gadis itu tersungkur. Haga menarik lagi, membuat gadis itu terseret. Ia menjerit kesakitan.

Dahi Gideon berdenyut-denyut sampai memperlihatkan dua urat bercabang dilehernya. Ia melompati ruang kosong, menerjang tubuh Haga, terdorong hingga jatuh ke lantai. Namun yang tidak diperhitungkan Gideon adalah genggaman Haga masih kuat mencekram kalung dileher Stefanie.

Meski kalung itu terlepas, Stefanie malah tersungkur hebat sampai membuat kepalanya membentur sudut tembok. Ia pun kehilangan kesadaran. Gadis itu pingsan.

Haga terbaring dilantai kamar. Gideon menindih diatasnya. "Tidak bapak, tidak anak, sama-sama bangsat," mendaratkan satu bogem mentah ke wajah Haga. Membuat hidung pria dibawahnya patah. Darah mengucur deras sesudahnya. Pukulan demi pukulan berikutnya menyusul bertubi-tubi.

"Apa kau sedang meludahi wajah sendiri? Kau sadar keparat!"

Gideon menggeram, Haga pun menggeram. Kini giliran Haga menarik kerah baju Gideon dan mendorongnya kesamping. Bertukar posisi, kini Haga berada diatas tubuh Gideon. Meninju dan membentur-benturkan kepala Gideon hingga ia merasakan langit-langit disekelilingnya berputar.

Perkelahian keduanya terhenti setelah kamar itu kedatangan tamu lain. Sama-sama saling mencekik, keduanya melihat dua pemusik datang menodongkan senjata.

1
Ansar rauf
pusing bacanya, alur ceritanya berbelit-belit
Ansar rauf
mantap
Ansar rauf
👍
Lady Meilina (Meilina07.)
mampir thor
Honeybee_🐝
Hadir thor....🥰
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
Ummu Jihad Elmoro
aku mampir, kk.. 😇
Nnzxy
lanjut kak semangat!!
aku udh mampir
Lombu Willem
Terimaksih kak 🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
dh mampir thor
anggita
gunungsitoli,, sumatra utara.👏
anggita: smoga novel sampeyan sukses yah.,
total 2 replies
anggita
👍👌👍👌
anggita
trus berkrya.
anggita
mpir nglike👍 ae lah.
qinan_velvet
Ikut nyimak Kak...... gelar karpet dulu..... Semangat
KumiKimut
lanjut ❤️
Lombu Willem
terimakasih juga kak 🙏
Pangeran Matahari
semangat y kk..

mampir jg kekisah cinta cucu manja oma
Pangeran Matahari
keren novelnya
ForGoodluck
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Lombu Willem: menyegarkan atau bikin sakit gigi 😅
total 1 replies
Lombu Willem
Sip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!