Lahir dengan bakat dan mencintai pertarungan berdarah, dia tumbuh dengan acuh tanpa hasrat pada dunia, kemampuan menciptakan metode kultivasinya sendiri, analisis pertarungan, dan betarung dengan pendekar yang berada pada beberapa tahap Alam kultivasi yang lebih tinggi darinya tanpa kalah..
Dikenal dengan membunuh ratusan ribu nyawa tanpa mengerutkan alis, membuat setiap pendekar berkeringat dingin hanya dengan mendengar namanya 'Zen Kagendra, Dewa Perang Ares', dia eksistensi yang diagungkan dan tak terkendali bahkan oleh leluhurnya sendiri...
Tapi semua berubah ketika dia bertemu dengan wanita tanpa kemampuan bertarung.. menatap tajam matanya tanpa rasa takut... Wanita itu muncul sebagai alasan Zen Kagendra membantai dimensi ketujuh dan akhirnya berenkarnasi ke sebuah kerajaan kecil di dimensi ke tiga...
Genius? Kaisar langit? Dewa terhormat?
Aku akan menginjak - injak mereka, menikmati setiap jerit sakit mereka dan memandang rendah mereka dari puncak piramida kekuatan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SepatuMerah98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 Memasuki Gunung Penanggungan
Chapter 7
Memasuki Gunung Penanggungan
Malam telah usai dan sinar matahari telah menyinari wilayah Kerajaan Zen. Penduduk Kerajaan Zen sudah memulai aktivitas seperti biasa, tapi hari ini sedikit berbeda. Rumor tentang kejadian di istana Kerajaan Zen yang melibatkan Zen Kagendra menjadi topik hangat pembicaraan pagi ini.
Rumor dimulai dari para petinggi tamu istana Kerajaan Zen. Mereka menceritakanya pada anaknya dan orang terdekatnya. Lalu rumor itu melewati para pelayan Kerajaan Zen dan akhirnya meluas menjadi sarapan hangat pembicaraan pagi ini di wilayah Kerajaan Zen.
“Hei hei, Tuan Muda Zen Kagendra begitu muda, tapi dia sudah begitu kuat”.
“Iya kau benar, umurnya baru 7 tahun saat tadi malam, tapi dia sudah membuat situasi yang sensasional seperti ini.”
“Hei, kau tau nama yang ditampar Tuan Muda Zen Kagendra?”
“Aku dengar namanya Wi Gupi dia merupakan ‘Alam Dasar’ tingkar 8 dan kalah hanya dengan satu tamparan.”
Disaat orang-orang sibuk menyebarkan berita dari mulut ke mulut, rombongan Zen Kagendra melewati mereka. Zen Kagendra memasang telinganya untuk mendengar pembicaraan para penduduk, tapi dia hanya tersenyum kecut dan segera mengalihkan pandanganya ke depan.
Rombongan Zen Kagendra terdiri dari 22 orang. Dua di antaranya adalah Zen Kagendra dan Arya Mayang, lima diantaranya adalah pendekar dengan tingkat kultivasi ‘Alam Prajurit’ tingat 10 puncak, sedangkan sisanya adalah pendekar ‘Alam Prajurit’ dengan tingkat yang bervariasi. Namun, mayoritas adalah ‘Alam Prajurit’ tingkat awal antara tingkat 1 sampai 3.
Mereka berjalan kaki dan beberapa pengawal membawa perlengkapan kemah. Mereka menggunakan pakaian yang membaur dengan masyarakat agar tidak menarik mata saat perjalanan. Setelah beberapa saat perjalanan mereka sudah tiba di depan jalan masuk gunung penanggungan, tapi saat itu Zen Kagendra tiba-tiba berjalan ke depan dan berbalik berbicara pada rombongan.
“Aku akan berbicara beberapa kondisi.”
“Saat kita memasuki gunung, akan ada bahaya serangan dari binatang setan. Ingatlah jangan menyerang binatang dengan membabi buta karena kita tidak sedang melakukan pembataian. Ketika kita kembali aku akan memberi kalian masing-masing 1000 keping emas. Apa ada pertanyaan?” Zen Kagendra menyelesaikan fatwa singkatnya.
Meskipun dia baru berusia 7 tahun, tapi karena dia adalah Tuan Muda Kerajaan Zen, setiap pengawal tidak pernah mempertanyakan posisinya untuk berbicara dan mengontrol rombongan. Zen Kagendra melihat rombongan dan tersenyum.
“Jika tidak ada pertanyaan mari kita mulai masuk gunung.”
Rombongan mulai melangkah memasuki gunung. Hawa gunung yang mencekam makin merangsang kewaspadaan rombongan. Mereka semua tidak berani lengah karena taruhanya adalah nyawa. Satu hari cepat berlalu, saat para rombongan berhenti untuk berkemah. Ada 6 tenda yang didirikan, masing-masing tenda digunakan empat pengawal yang sedang beristirahat, sedangkat satu tenda yang elegan digunakan oleh dua orang, yaitu Zen Kagendra dan Arya Mayang. Arya Mayang wajahnya merah semerah tomat memikirkan dia akan tidur satu tenda dengan Zen Kagendra.
“Saudara perempuan Arya Mayang, kita tidur satu tenda apa itu dorongan dari ayah?”.
Zen Kagendra menatap Arya Mayang bertanya, tentu pertanyaan itu didasari oleh fakta karena sebelum mereka berangkat perjalanan, Raja Zen Kuntara memanggil Arya Mayang secara pribadi untuk memilih tenda ke gudang penyimpanan.
Arya Mayang memandang wajah Zen Kagendra dan mengangguk “Emm, ini diatur oleh paman.” Setelah mendengar jawaban Arya Mayang, Zen Kagendra menghembuskan nafas panjang.
“Aku akan menjelaskan ini semua, aku tidak tertarik dengan cinta atau perjodohan atau hal-hal sulit yang diinginkan ayahku.”
Setelah mendengar kata-kata Zen Kagendra, mata Arya Mayang merah dia merasakatan sakit. Meskipun dia belum menyukai Zen Kagendra, dia masih mengangguminya. Sebagai anak perempuan yang menginjak usia percintaan, dia sedikit berharap dengan dukungan Zen Kuntara bahwa dia mungkin bisa bersatu dengan Zen Kagendra.
Arya Mayang terdiam sejenak, “Aku mengerti, tapi kenapa kau mengatakanya? Apa aku tidak pantas?” Arya Mayang berbicara, tapi wajahnya tidak berani memandang Zen Kagendra.
Zen Kagendra sedikit tersenyum memandang Arya Mayang, “Ini bukan masalah pantas tidak pantas, tapi entah kenapa aku tidak tertarik pada cinta. Mungkin aku masih terlalu bocah atau mungkin saja aku hanya ingin menjadi kuat, alasanya tidak pasti.” Zen Kagendra berbicara sambil mengusap-usap rambut hitam Arya Mayang.
Pada kenyataanya tidak saja dia menolak seorang wanita yang bisa dikatakan sudah menyukainya, tapi dia sudah menolak seorang wanita yang kecantikanya bisa membuat ribuan mata lelaki iri menginginkanya. Zen Kagendra tersenyum kecut saat memikirkanya.
Setelah mendengar Zen Kagendra berbicara Arya Mayang masih menahan luka di hatinya, tapi dia lega. Memang Zen Kagendra menolaknya, tapi itu hanya karena dia ingin menjadi kuat. Alasan ini bisa diterima untuk sekarang dan masih ada kesempatan pada masa depan. Setidaknya masih ada secercah harapan untuknya. Tolakan dari Zen Kagendra meyiratkan bahwa dia tidak harus terlalu intim denganya dan tidak perlumenganggap dia sebagai suami masa depanya. Hanya itu yang ditangkap Arya Mayang dari perkataan Zen Kagendra.
“Sudahlah, mari istirahat. Kita akan melanjutkan perjalanan besok. Aku harap kau hati-hati.” Zen Kagendra berbicara dengan penuh makna. Mendengar Zen Kagendra, mata Arya Mayang berkelebat menatap Zen Kagendra.
“Apa maksudmu?” Tanya Arya Mayang. Zen Kagendra memalingkan wajahnya dari tatapan Arya Mayang dan memandang ke sudut yang berbeda sebentar lalu kembali menatap Arya Mayang.
“Tentang buah apel perak menurut informasi dari Paman Arya Prabu, letaknya beberapa kilometer dari sini bukan?”
“Emm, memang letaknya beberapa kilometer dari sini, lalu?” Arya Mayang mengangguk.
“Begini, tentang petinggi Wi Harja dan Wi Gupi yang kemarin, aku mendengar bahwa mereka sebenarnya tidak berdua tapi mereka bersama rombongan berisi empat sampai lima orang termasuk mereka, maka dugaanku mereka juga akan mengincar buah apel perak agar dapat membantu Wi Gupi mencapai puncak ‘Alam Dasar’ secepatnya.” Zen Kagendra menjelaskan, “Ya, ini hanya baru dugaanku, tapi aku rasa 50% dugaanku benar”. Zen Kagendra melihat tatapan Arya Mayang yang mulai cemas.
“Tenang saja mereka hanya beberapa orang dan kita lebih banyak, tapi tentu saja selalu ada hal-hal tidak terduga dalam pertempuran.”
“Kenapa kau bisa begitu tenang? Apa kau sudah punya persiapan?” Arya Mayang menatap Zen Kagendra dengan wajah yang masih cemas terhadap situasi tersebut.
“Persiapan, ya? Ahahah aku memang punya, tapi persiapanku tidak terlalu penting.” Zen Kagendra masih memandang Arya dan melanjutkan berbicara.
“Pokoknya mari kita istirahat agar kita mempunyai energi untuk besok.”
Persiapan yang di katakan Zen Kagendra hanya mengacu pada cincin, pedang, dan 30 pisau yang di berikan ayahnya tadi pagi. Meskipun hanya beberapa barang sepele, tapi dengan pengalaman pertempuranya dia cukup yakin dengan kekuatanya.
“Emm..” Arya Mayang mengangguk. Segera ia membaringkan tubuhnya dan mulai menutup mata. Pembicaraan masalah Wi Gupi dan rombonganya tersebut membuat dia lupa tentang rasa malunya yang tidur satu tenda.
Melihat Arya Mayang beranjak tidur, Zen Kagendra juga membaringkan tubuhnya dan segera menutup matanya. Seperti biasa, dia tidur dan menyisakan 5% kesadaranya untuk berjaga-jaga. Dia melakukan ini karena dia menganggap bahwa dalam kehidupan akan selalu ada hal tak terduga dan dia bisa selalu siap.