Menikah adalah suatu yang sakrar yang dinanti-nantikan oleh semua umat manusia dan merupakan salah satu ibadah. Menikah? yang pasti mereka ingin menikah dengan orang yang mereka cintai dan sayangi. Lalu bagaimana dengan zahra yang menikah bukan karena cinta. ini bukan pernikahan karena cinta dan bukan juga pernikahan karena perjodohan.. lalu pernikahan apa ini? ya pernikahan paksa oleh lelaki bejat. lelaki ini bukan mencintai zahra tapi untuk menikmati tubuh zahra. ya Zahra menikahi lelaki yang hampir saja memperkosannya.
lalu bagaimana pernikahan ini bisa terjadi?
dan apa yang akan terjadi setelah pernikahan ini? apa zahra akan membiarkan lelaki ini menjamahnya karena statusnya sudah menjadi suami zahra apalagi bagi zahra yang alim dan mengenal agama? apakah mereka akan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Permata Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Perintah
Setelah makan. Pelayan membersihkan dan Zahra ingin membantu, namun dilarang keras oleh Sofian.
"Kau tidak perlu membantu. Istirahat saja."
"Tapi.."
"Tak usah tapi-tapian. Aku tidak suka di bantah. Tidur saja! aku tau kau lelah"
Zahra hanya menurut. Tubuhnya memang sangat lelah perutnya sakit walau sudah makan, Mungkin maag nya kambuh.
Zahra berbaring. Sofian menyelimutinya
"Mas. Aku kepanasan tidak perlu diselimuti"
Sofian memberhentikan gerakannya. mengusap kening Zahra.
"Baiklah, kau tidur saja"
Sofian melangkah akan keluar kamar.
Zahra bangkit dari tidurnya dan berdiri.
"Kenapa kau bangun? aku sudah menyuruhmu istirahatkan?" tanya Sofian galak.
Zahra diam dan berjalan ke toilet. Perutnya sakit suara sofian tidak terdengar olehnya.
"*B*erani sekali dia mengabaikanku"
"Kau suka sekali membantah ya?"
Sofian menarik bahu Zahra kuat karena merasa diabaikan.
Zahra hanya melihatnya dengan mata sayupnya.
"Maaf"
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sofian khawatir melihat muka pucat Zahra.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengambil wudhu" jawab Zahra.
Sofian mendengar suara azan dan melirik jam.
"Oh. Tapi mukamu pucat?"
"*Ji*ka aku melihatnya seperti ini. Aku akan menggira dia orang yang baik" batin zahra
"Aku baik-baik saja"
Zahra kembali melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sofian yang melihat pintu kamar mandi tertutup ia langsung keluar kamar mandi dan turun ke bawah.
7 menit kemudian.
Sofian ke dapur.
"Tolong siapkan teh hangat" perintahnya pada salah satu pelayan.
"Teh? tuan" tanya pelayan itu meyakinkan. karena tuannya tidak pernah minum teh.
"Emm" jawab Sofian singkat dan duduk ruang makan
"Tuan ini teh nya" kata pelayan dengan meletakan secangkir teh.
"Biarkan di nampan itu"
"Iya?"
"Apa kai budek? aku bilang biarkan dinampan itu" bentak Sofian.
"Ba..baik tuan" kata pelayan itu gugup.
Sofian mengambil nampan itu dan pergi ke atas.
"Kan sudah aku bilang itu untuk nyonya. mana ada tuan minum teh"-pelayan yang lain.
"Iya, kau benar. Bahkan tuan sendiri yang mengantarkannya"
"Aku salut sama nyonya diculik, diikat, dan diipaksa nikah namun tabah"
"Bukan hanya itu yang paling penting bisa melunakkan tuan kita yang bagai singa"
"Kalian, ingin dipecat kah?" kata Endah kepala pelayan.
Kedua pelayan tadi menunduk.
"Tidak usah bergosip. Lanjutkan perkerjaan kalian jika kita mau selamat"
Untuk penculikan Zahra semua pelayan dan perkerja di rumah itu tau semua namun mereka tutup mulut. Karena bukan hanya hidup mereka yang dalam bahaya namun keluarga mereka. Sofian adalah orang yang tidak suka dibantah, kejam dan keji.
Zahra selesai sholat langsung ke kasur. Perutnya nambah sakit. Zahra punya maag jadi dia tidak bisa telat makan maka perutnya sakit. Sebelum tidur ia minum obat maag namun tidak minun langsung sembuh.
Perutnya sakit, tubuhnya berketingat. Zahra meringkut di dalam selimut.
Sofian yang baru masuk melihat Zahra yang mengenakan selimut. "*I*sh wanita ini katanya panas. Kenapa mengenakan selimut?"
Sofian mendekati Zahra dan melihat Zahra meringis dan berkeringat.
"Kau kenapa?" tanya sofian dan memengang dahi zahra. "pantas?"
"A..ku"
"Aku tidak mau kau bilang kau tidak apa-apa" potong sofian
"Perutku sakit. Mungkin maagku kambuh" jawab Zahra menahan sakit.
Sofian merasa bersalah karena dia Zahra tidak sarapan.
"Sudah minum obat? apa perlu panggil dokter"
"Tidak perlu. Aku sudah minuk obat"
Sofian menegakkan tubuh zahra menjadi duduk. Zahra hanya pasrah saat ini.
"Ini teh. Masih hangat" Zahra hanya mengangguk dan hendak mengambil gelas yang dibawa Sofian.
Mamun malah sofian yang menyuapinya.
kira-kira 1/2 gelas habis.
"Apa masih mau?"
"Tidak.. aku ingin tidur"
Sofian meletakkan gelas ke nakas dan membantu Zahra berbaring dan menyelimutinya kemudian mengecup keningnya.
"Selamat tidur"
Sofian jalan keluar.
5 menit sekali Sofian melihat keadaan Zahra.
Makan malam Zahra dan Sofian seperti tadi siang di kamar. Zahra merasa takut karena dia tidak memasak sesuai perintah sofian.
"Maaf" kata Zahra.
"Kenapa?"
"Aku tidak memasak"
"Emmm..Jika kau sehat besok kau boleh memasak"
"Baiklah. terimakasih"
"Terima kasih? untuk?"
"Telah merawatku tadi"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik"
Zahra berdiri
"}au mau kemana? Isirahat lagi" perintah sofian
"Aku mau sholat isya"
Seperti biasa setelah Zahra menutup pintu Sofian keluar kamar dan ke bawah.
Ke esok paginya. Zahra sudah sehat. Setelah sholat subuh dia langsung ke dapur dan memasak sarapan. Setelah selesai ia membangunkan Sofian.
"Mas, bangun. Sudah siang"
"Emm" sofian bergeliat.
"Kenapa laki-laki ini bangun tidur tapi seperti baru selesai mandi?" tanya Zahra dalam hati.
"Aku memang nganteng, Zahra" Zahra langsung memalingkan wajahnya. Sofian terkekeh.
"Sarapan sudah siap"
"Baiklah. Bagaimana keadaanmu?".
"Alhamdulillah sudah sehatab"
Sofian tidak beranjak dari kasur malah mengangkat-angkat kedua alisnya.
"Ada apa?" tanya zahra
"Mana ciumanku?" pinta Sofian seperti anak kecil minta permen.
"A..ku emm" kata Sofian yang terhenti karena menciumnya singkat.
"Akh singkat sekali"
"Mas. Aku lapar"
"Baiklah"
Sofian bangun langsung ke kamar mandi.
"Kau menungguku? katanya lapar" tanya Sofian yang baru keluar kamar mandi melihat Zahra yang masih duduk di sofa kamar dan kamar telah rapi.
"Ya. Sekalian bersihin kamar"
"Baiklah. Ayo sarapan. Nanti maag mu kambuh lagi"
Setelah mereka selesai sarapan.
"Kau tidak ke kantor"
"Ya. jam 08"
"Baiklah aku akan menyiapkan pakaianmu"
Zahra berjalan ke kamar
"*E*nak ternyata punya istri"
Sofian mengikuti Zahra dan melihat Zahra memilih baju. Zahra meletakkannya di meja. setelah itu Zahra ke nakas samping ranjang menggambil HP.
Zahra terkejut karena Sofian tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"M..mas?"
"Emm"
Sofian menciumi tekuk leher Zahra. Zahra mulai geli.
"Ih ih mas. Apa yang kau lakukan?..Geliiii"
"Sarapan" jawab Sofian ambigu.
Sofian membalikan tubuh Zahra.
"Aku belum mendapatkan ciuman pagiku" kata sofian mesum
"Bukannya sudah. Kau mau ke...emm" kata-kata Zahra terpotong karena di cium Sofian. Yang tadinya hanya kecupan lama-lama lumatan. Sofian mengigit bibir Zahra dan memasukan lidahnya mengabsen semua isi dalam mulut Zahra.
Zahra tidak membalas dan tidak menolak. entah terbuai apa karena itu suaminya dan suaminya punya hak atas tubuhnya.
Sofian menikmati bibir Zahra yang menurutnya semanis madu dan memabukkan serta membuatnya kecanduan.
Sofian melepaskan ciumannya. Zahra langsung mengambil nafas.
"jika kau tidak lagi sakit. Mungkin sekarang kita lagi bermain dan aku tak akan melepaskanmu" kata Sofian memburu.
"Kau.. harus ke kantor" Zahra gugup pipinya juga merah.
"Aku bosnya..."Sofian melihat bibir Zahra dan ingin menerkamnya lagi.
"Akh sudahlah. Aku ganti pakaian saja" kata Sofian frustasi.
Zahra merapihkan jilbabnya
Sofian tanpa malu-malu melepas bajunya di depan Zahra. Zahra langsung menutup matanya
"A..pa yang kau lakukan? gunakan di kamar mandi"
"Untuk apa ke kamar mandi?"
"Apa kau tidak malu aku lihat"
"Tidak! lagi pula kau sudah liat semuanya tanpa sehelai benang pun" ucap Sofian santai.
Zahra tidak menjawab ia lebih baik keluar dari pada mendengar ocehan Sofian yang mesum.
Melihat Sofian telah rapi dan turun kebawah. Zahra mendekati Sofian.
"Sudah mau berangkat?" tanya zahra
"Kenapa? kau tak ingin aku pergi?"
"Bukan begitu"
Sofian menarik pinggang Zahra, sehingga Zahra berada disamping Sofian. Sofian memanggil pelayan.
Zahra mencoba melepaskan tangan Sofian di pinggangnya
Pelayan" teriak Sofian.
"Ada apa tuan"-pelayan
"Panggil semua pelayan dan perkerja dirumah ini"
"Baik tuan"
Zahra mencoba lepas dia malu
"Mas?"
"Diam!"
"apa dia punya kepribadian ganda?" tanya Zahra dalam hati melihat perubahan Sofian yang cepat.
Setelah pelayan datang semua.
"Aku kasih tau pada kalian. Dan yang akan masak sekarang adalah nyonya. Aku hanya makan masakkan nyonya saja. Kalian hanya membantunya"
"Baik tuan"-semua pelayan
"Satu lagi. Dia nyonya di rumah ini. Jadi perintahnya adalah perintahku" lanjut Sofian.
"Baik tuan"
"Kalian bisa pergi"
Semuan pelayan telah pergi ke pekerjaan masing-masing.
"Bisa lepaskan aku?"
Sofian melihat Zahra "*Ra*sanya ingin aku membawanya ke kantor"
"Mas?" Zahra mulai kesal.
"Baiklah, aku berangkat" Sofian melepaskan tanganya di pinggang Zahra.
"Ingat ini perintah. Makan tepat waktu dan jangan keluar dari rumah ini. Jangan harap bisa kabur" ancam Sofian.
Zahra hanya mengangguk dan mengambil tangan Sofian dan menciumnya. Sofian mengecup kening Zahra kemudian mengecup bibir Zahra.
"Mas" ucap zahra malu
"Kau manis sayang" ucap sofian tersenyum "Mas berangkat" lanjutnya.
"*A*kankah kehidupan pernikahanku akan indah?"