Orang ketiga dalam suatu hubungan tentu saja akan sering dibenci dan tidak disukai banyak orang. Hal ini harus Riki tanggung karena dia mengambil peran ini. Pasalnya, Riki akan disebut-sebut sebagai perusak keharmonisan hubungan asmara antara Sintya dan Adit
Hubungan pertemanan Adit yang sudah berjalan 5 tahun harus kandas, karena kehadiran Riki sebagai orang ketiga dari hubungan Adit dan Sintya .
Awalnya Riki hanya disuruh Mira untuk menjauhi Sintya dari Adit. Tetapi diluar rencananya, Riki pun akhirnya jatuh cinta dengan Sintya.
Bagaimana akhir dari kelanjutan cinta antara Adit , Sintya dan Riki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febti Sela Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan Adit
MIRA
Setelah mendapatkan foto-foto dari Riki, Mira langsung keluar dari kantor Adit. Dan menuju ruko foto kopi yang berjarak tidak jauh dari area kafe.
Kemudian dia mencuci fotonya, dan memasukkan ke dalam amplop coklat.
" Beres." kata Mira yang langsung berjalan ke kafe Adit.
Mira melihat ada ayahnya Adit yang sedang berkeliling di lantai dua bersama Adit. Lalu dia menuju kantor Adit yang kosong, dan dengan leluasa dia menaruh amplop coklat itu di meja kerja Adit.
Kemudian Mira langsung keluar dari kafe, dengan senyum kemenangan.
ADIT
Setelah mengajak ayahnya berkeliling kafe, Adit lalu pergi ke ruangan kerjanya untuk mengambil laporan keuangan.
" Lho, Mira kok sudah gak ada?" gumam Adit, " Apa karena aku tinggal terlalu lama makanya dia langsung pulang." ucap Adit.
" Ah sudahlah, lebih baik dia tidak ada di kafe ini. Hanya menyusahkanku aja." umpat Adit.
Saat menuju meja kerja, dia melihat amplop coklat yang terbungkus rapi. Kemudian dia pun mendekati mejanya lalu membuka amplop coklat itu.
Saat dia lihat, ternyata isinya adalah foto Sintya yang sedang tertidur bersama Riki di sampingnya. Seketika Adit pun emosi, dan bertanya kepada para pegawainya.
" Siapa yang menaruh amplop coklat di meja kerjaku?" tanya Adit kepada pegawai kafe yang berada di meja kasir.
" Tidak tahu Pak Adit." jawab salah seorang pegawai kafe.
Kebetulan kafe sangat ramai pengunjung, jadi semua sibuk melayani tamu yang ingin makan.
Tidak ada seorang pun yang memperhatikan seseorang masuk kedalam ruangan Adit. Setelah bertanya kepada seluruh karyawannya. Lalu dengan wajah geram dan penuh emosi. Adit pun langsung menuju kantor tempat Sintya bekerja.
Saat dia memasuki kantor, dia hanya melihat security . Tak ada seorang pun pegawai yang masih di kantor. Adit bertanya pada security-nya, dan jawabannya semua pegawai sudah pulang. Saat dia melihat jam di tangannya ternyata sudah jam enam sore.
Lalu Adit pun menelepon Sintya. Saat membuka ponsel, dirinya semakin cemas melihat banyak panggilan masuk dari Sintya. Adit berfikir ada sesuatu yang buruk terjadi dengan Sintya.
" Sintya jawab telpon aku, kamu lagi dimana?" kata Adit yang mencemaskan Sintya.
Riki menyuruh Sintya untuk mengubah bunyi ponselnya menjadi mode getar. Riki tidak ingin pertemuan bisnis dengan kliennya di ganggu oleh siapa pun. Tapi di sisi lain dia sengaja, karena ingin melancarkan rencana Mira. Riki tahu pasti, Adit akan menghubungi Sintya.
" Gimana Rik, kamu sudah bawa Sintya ke hotel ? " ucap Mira di telpon.
" Sudah." jawab singkat Riki, karena takut ketahuan oleh Sintya soal rencana Mira.
"Bagus, sekarang Adit sedang mencemaskan Sintya. Aku sudah menaruh foto Sintya yang kau kirim tadi. Tunggu rencana ku berikutnya . " tawa licik Mira.
" Oke !" Riki pun menjawab dengan singkat, lalu menutup ponselnya.
Adit menghubungi kedua orang tua Sintya, dan jawabannya mereka belum tahu. Karena kedua orang tua Sintya belum kembali kerumahnya dan sedang berada di toko kue.
Adit pun mencoba menghubungi Rasha yaitu adik Sintya . Dan jawaban Rasha adalah Sintya belum pulang kerumahnya.
Adit pun semakin cemas, dia mencoba menghubungi Riki tetapi ponselnya tidak juga menjawab.
Adit pun semakin cemas, takut sesuatu terjadi pada Sintya. Adit berharap Riki tidak melakukan hal-hal yang buruk terhadap Sintya.
HOTEL
" Sin, kamu sudah paham cara kerja sekretaris?" tanya Riki yang menyeruput secangkir kopi.
" Sudah Kak !" jawab Sintya sambil memegang buku dan pulpen yang mencatat semua pemesanan klien yang memesan baju.
" Mulai besok kamu mengatur semua jadwalku, pastikan tidak ada meeting yang terlewat." perintah Riki.
" Baik Kak !" sahut Sintya yang masih mencatat.
" Bagus juga ide Mira mempekerjakan Sintya di kantor ku, ada suasana baru ditemani wanita cantik." gumam Riki dalam hati.
" Maaf ya Dit, kalau nanti aku akan jatuh cinta pada Sintya " tawa Riki dalam hati.
Riki pun langsung mengantarkan Sintya pulang kerumahnya.
RUMAH SINTYA
" Makasih ya Kak, sudah mengantarku pulang." ucap Sintya.
" Ya, ingat besok kamu jangan sampai terlambat." ujar Riki.
Lalu Sintya hanya tersenyum mendengar perkataan Riki. Dan lagi-lagi Riki terpesona melihat senyum manis Sintya .
" Assalamualaikum. " ucap Sintya memberikan salam.
" Walaikum salam." jawab Mama Anita.
" Sin, kamu pulang dengan siapa?" tanya Mama Anita.
" Aku pulang dengan bosku, Mama. Tadi dia mengajakku meeting dan ketemu klien di Hotel Sahid." sahut Sintya sambil membuka sepatunya.
" Meeting di hotel?" suara Adit yang cemas dari arah ruang tamu yang sudah menunggu Sintya sedari tadi.
" Adit ...!" kata Sintya yang terkejut melihat keberadaan Adit, " Kamu kok ada disini..?"
" Adit khawatir sama kamu Sintya, soalnya dari pulang kerja kamu gak ada kabar. Ditelpon pun tak diangkat. " ucap mama Anita menjelaskan.
" Oh, tadi aku mengubah mode bunyi telponku Ma. Kata bosku, dia tak ingin diganggu karena akan ada meeting. Aku pun lupa mengabarkan kepada Mama. Karena meetingnya pun mendadak . Maafkan aku yang pulang sudah larut. Lain kali aku akan mengabarkan kepada Mama kalau ada meeting diluar jam kantor. " jelas Sintya kepada Mama Anita.
-
-
-
Dukung terus karya author, karena dukungan kalian para reader akan membuat author lebih semangat dalam mencari inspirasi. Like, vote dan kasih komentar ya🙏