Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Akhirnya satu tahun sudah berlalu, pernikahan Andra dan Indah semakin bertambah harmonis saja, bahkan mereka jarang sekali bertengkar, kalau pun bertengar itu hanya karena masalah sepele saja belum dua jam juga sudah baikan lagi, ya mungkin banyak orang bilang pertengkaran adalah bumbu-bumbu cinta, yang sudah biasa dalam rumah tangga.
Setelah satu tahun berlalu, Andra dan Indah kini sudah memiliki Rumah, dan Restaurant, yang sudah memiliki cabang di beberapa kota, bahkan baru-baru ini mereka membeli sebuah mobil, walau pun hanya mobil yang sederhana tapi tetap saja mereka sekarang sudah terlihat sukses, bahkan di garansi rumah mereka sudah terparkir empat mobil koleksi Andra.
Itu semua mereka dapatkan berkat uang tabungan Indah yang di kelola oleh Andra, sementara Indah juga membangun sebuah Kos-kosan untuk tabungan masa depan mereka.
Tapi sayang di balik ke bahagian itu mereka belum juga memiliki keturunan, padahal Indah mau pun Andra sudah sangat menantikan hal tersebut.
"Sayang" Andra memecahkan lamunan Indah, yang sedang berdiri di balkon kamar mereka.
Indah terkejut karena dari tadi pikirannya melayang memikirkan seorang anak.
"Eh ya Ndra" jawab Indah dengan terkejut dan di sadari oleh Andara.
Andra mendekat pada Indah, mengikis jarang di antara mereka memberikan pelukan kehangatan pada Istrinya itu, Andra terus saja menciumi kening Istrinya.
"Sayang kamu mikirin apa," tanya Andra, dengan suara yang sangat lembut tanpa melepaskan pelukannya.
"Aku sedih Ndra" jawab Indah, yang wajahnya tampak murung, Andra mundur satu langkah agar bisa melihat wajah Indah yang sangat sedih, Andra memegang ke dua pipi Indah lalu menatap mata sayu itu yang sepertinya akan segera mengeluarkan air mata.
Andra kembali mencium kening, pipi, dan bibir Istrinya lalu kembali memeluk Indah dengan sangat erat. Andra tau apa yang di maksud Istrinya, ia tau Indah merasa sedih karna belum bisa memberikan anak pada Andra.
"Sayang mungkin TUHAN belum percaya sama kita untuk merawat dan membesarkan seorang anak" kata Andra, sambil membelai Istrinya itu dengan lembut.
"Tapi Ndra, aku benar-benar sedih" kata Indah yang sudah meneteskan air mata nya mengenai kemeja suaminya itu.
"Sayang" kata Andra dengan suara paraunya Indah masih di dalam pelukannya.
"kita kan sudah selalu berdo'a namun sepertinya itu belum cukup karena kita juga butuh usaha" kata andra memegang lekuk Istrinya, dan berbisik di telinga istrinya yang sesekali ia jilati itu.
Andra terus meraba tubuh Istrinya sambil sesekali mencium, dan memberi napas hangat pada telinga Indah, ia tau itu adalah bagian sensitiv Istrinya itu.
"Sayang " sekali lagi Andra memanggil Istrinya itu dengan suara parau karena sudah menahan hasrat.
Andra mengangkat tubuh Istrinya ke dalam kamar, dan meletakannya dengan lembut di atas ranjang, Indah tau apa yang akan terjadi selanjutnya walaupun hari masih cukup siang untuk melakukan aktipitas olah raga ranjang di siang itu.
"Ndraa" indah memanggil suaminya karena merasa sesuatu yang aneh pada tubuhnya, karena ulah suaminya yang terus meraba meremas dan menghisap di sana.
Sudah satu jam mereka lewati olah raga ranjang di siang hari kata Andra itu usaha dalam pembuatan Andra junior, kini keduanya telah selesai mandi, dan memakai pakaian karena sebentar lagi mereka berdua akan ke Restaurant untuk mengawasi para pekerja dan membatu sediki di sana.
"Sayang, ini udah siang kita makan dulu yuk" kata Andra pada Indah yang juga merasa sangat lapar, karena mereka berdua sekarang sudah berada di Restaurant milik Indah sebelum ia menikah dengan Andra.
"Ya aku juga lapar ni " kata Indah yang memang sudah merasa cukup lapar karena sudah hampir pukul tiga siang tapi perutnya belum juga di isi.
"Baiklah aku ke dapur sebentar, kamu duluan ke ruangan kita, nanti aku suruh pelayan yang mengantar makan kita ya " kata Andra pada Indah. Indah hanya mengangguk saja dan berjalan ke arah ruangannya ia sudah terbiasa dengan perhatian yang Andra berikan padanya.
Tidak lama kemudian Andra masuk juga keruangan itu, dengan seorang pelayan yang mengikutinya sambil membawa napan yang berisi makanan lalu menghidangkannya di atas meja yang, biasa di gunakan Indah dan Andra bila sedang makan di Restaurant tersebut.
Mereka berdua duduk di kedua kursi makan, dan memakan makanan dengan Indah yang sesekali bertanya pada Andra apa yang ia inginkan.
"Sayang" pangil Andra dengan suara lembutnya, setelah keduanya selesai makan piring kotor pun sebelumnya sudah di bereskan pelayan.
"Ya " jawab Indah yang keduanya kini sudah duduk di sofa ruangan tersebut.
"Apa kau tidak ingin kita pergi berbulan madu" kata Andra pada Indah
"Bulan Madu???." Indah bingung dan Andra mengangguki pertanyaan Indah barusan.
"Sayang, ini lagi Pandemi aku engga mau pulang-pulang kita terpapar Virus aku takut" jawab Indah .
"Ya juga sih," kata Andra membenarkan ucapan Indah.
"Lagi pula dulu kita setelah dua hari menikah kita sudah berbulan madu le Bali kan" Indah bertanya pada suaminya.
"Tapi sekali lagi kan boleh yang" kata Andra.
"Engga usah sekarang ya Ndra, Restaurant juga lagi rame-ramenya" kata Indah
"Emmmmz" Andra mengangguk-angguk saja, Andra berdiri dan berjalan kearah sofa yang di duduki Indah, sebelumnya mereka duduk saling berhadapan kini saling bersebelahan berbagi sofa single yang sangat sempit bila di duduki dua orang.
Andra mengangkat tubuh Istrinya agar duduk di pangkuannya, Andra memaluk pinggang Istrinya dan Indah mengalungkan tangannya di leher Andra.
Andra terus saja mencium laher jenjang Istrinya, Indah hanya menerima saja dengan senyuman di bibirnya.
Andra kini telah berpindah pada bibir Istrinya perlahan dan bertambah panas.
Tok tok tok!.. Terdengar suara seseorang mengetuk pintu, keduanya melepaskan pangutan mereka. Indah segera turun dari pangkuan Suaminya, dan merapikan bajunya karna sudah di berantaki tadi oleh Suaminya.
Indah berjalan mendekati pintu, dan Clek.. Indah membuka pintu dan melihat wanita bertubuh lansing dengan pakaia yang sangat sexy.
"Hey " sapa Indah pada orang itu.
"Hey juga " balas Wanita itu sambil mereka berpelukan, Indah membawa Wanita itu masuk dan mempersilahkannya duduk
"Hai " Dinda mengulurkan tangan pada Andra, mereka memang sudah sering bertemu dari semenjak Indah menikah, Dinda selalu bertemu dengan Indah, memang tidak pernah ada jarak di antara mereka, walaupun Indah sedang dalam kondisi tidak baik dengan keluarganya.
"Ayo duduk
" kata Andra, membalas setelah membalas uluran tangan Dinda, mereka memang sudah biasa bertemu, Dinda juga sering datang ke Restaurant itu apa lagi saat ia ingin curhat karena mendapat pacar baru, lalu curhat ketika sudah putus pula pada Indah. Mereka terus berbincang sesekali tertawa karna hal lucu yang mereka bahas.