Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kamar motel itu mendadak terasa begitu sempit. Padahal, hanya ada dua orang di dalamnya.
Kenzo duduk di pinggir ranjang yang berderit. Di bawah kakinya, sesosok pemuda berambut acak-acakan sedang bersila di lantai dingin.
Itu Azzy. Sepasang mata ungunya yang gelap menatap Kenzo tanpa berkedip.
Suhu ruangan merosot tajam, menyamai dinginnya ruang hampa udara. Namun, senyum di wajah pucat pemuda itu justru terlihat sangat hangat. Bahkan cenderung polos.
Sistem tidak memberiku petunjuk apa pun, batin Kenzo. Ia harus memutar otak. Aku harus mencari tahu sendiri bagaimana makhluk ini bekerja.
Ia berdehem kecil untuk memecah keheningan. "Azzy."
"Ya, Kenzo!" sahut Azzy cepat.
Tubuh Azzy condong ke depan. Gerakannya seolah menunjukkan ia siap melompat memeluk Kenzo lagi kapan saja.
"Kau ingat siapa dirimu?" Kenzo mulai mengorek informasi dasar. "Atau, dari mana asalmu?"
Azzy memiringkan kepalanya. Poni hitamnya yang panjang jatuh menutupi sebagian matanya yang gelap.
"Dari sana," jawab Azzy singkat.
Jemari pucatnya menunjuk ke udara kosong. Seolah di sana ada sebuah pintu tidak terlihat yang menghubungkan dunia mereka.
"Lalu Kenzo panggil. Jadi Azzy di sini. Azzy milik Kenzo," lanjutnya dengan nada riang.
Kenzo menyandarkan punggungnya ke dinding semen yang lembap. Otaknya bekerja keras, menimbang jawaban yang terlampau sederhana untuk entitas sekuat ini.
Pandangannya menyapu isi kamar. Ia lalu meraih asbak kaca usang dari atas meja kecil di samping kasur.
Prak.
Kenzo menaruh asbak itu di tengah meja kayu berkaki tiga.
"Azzy, kau lihat benda itu?" tanya Kenzo.
Azzy melirik sekilas, lalu kembali menatap Kenzo. "Lihat."
"Hancurkan asbak itu," perintah Kenzo datar.
Ia ingin melihat bagaimana cara Azzy menyerang. Apakah menggunakan pukulan fisik, energi misterius, atau ledakan?
Otot perak di tubuh Kenzo bersiap. Ia bersiaga menahan kemungkinan adanya pecahan kaca yang meluncur ke arahnya.
Namun, Azzy tetap diam di tempatnya bersila. Ia hanya memandangi asbak itu dengan malas.
Satu detik. Dua detik. Tidak terjadi apa-apa.
Kenzo mengerutkan dahi. "Kenapa tidak kau hancurkan?"
Azzy memajukan bibir bawahnya, terlihat cemberut.
"Asbak itu tidak menyakiti Kenzo," gerutu Azzy. Suaranya terdengar merajuk.
"Benda itu juga tidak mau meninggalkan Azzy. Kenapa Azzy harus repot?" ia menambahkan.
Kenzo tertegun.
Apakah pelayan ini menolak perintahnya? Tidak, bukan begitu.
Sistem dengan jelas menyatakan kepatuhan Azzy adalah mutlak. Ini berarti Azzy memiliki jalan pikirannya sendiri.
Ia bukan robot tanpa otak. Ia memiliki ego yang sepenuhnya berputar pada keselamatan Kenzo.
Kenzo mengubah strategi. Ia melembutkan suaranya.
"Jika kau menghancurkannya sekarang ... aku akan sangat senang," kata Kenzo pelan.
Mata ungu Azzy langsung membelalak lebar. Tubuhnya menegang tegak.
"Kenzo senang?" tanyanya antusias.
"Ya. Sangat senang."
Suara Kenzo belum sepenuhnya hilang di udara ketika ruangan di sekitar meja itu mendadak terdistorsi.
Kenzo bahkan tidak melihat Azzy bergerak atau mengangkat tangannya. Tidak ada suara hantaman keras. Tidak ada kilatan cahaya.
Asbak kaca itu lenyap begitu saja.
Lenyap tanpa bekas. Di tengah meja kayu kini terdapat lubang bulat sempurna, seukuran asbak tadi.
Tepian lubang itu begitu halus. Seolah baru saja dipotong menggunakan alat pemotong paling presisi di dunia.
Bulu kuduk Kenzo meremang seketika.
Ini bukan sekadar kekuatan fisik. Ini adalah kemampuan menghapus keberadaan sesuatu secara mutlak.
"Sudah! Azzy sudah hancurkan!" seru Azzy gembira.
Suara ceria itu membuyarkan ketegangan di dalam kamar. Azzy merangkak mendekat, menempelkan pipinya ke lutut Kenzo.
Ia mendamba pujian, persis seperti seekor kucing peliharaan yang manja.
"Kenzo senang, kan?" matanya menatap penuh harap.
Kenzo menelan ludah. Ia berusaha menyembunyikan rasa ngerinya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus rambut berantakan itu.
Ujung rambut Azzy terasa ganjil. Kadang terasa nyata di jemari Kenzo, kadang memudar menjadi kabut dingin yang menusuk kulit.
"Ya. Aku senang. Kerja bagus, Azzy."
Dua hal kini tertanam kuat di kepala Kenzo.
Pertama, kekuatan Azzy terlalu berbahaya. Ini adalah alat pembunuh paling senyap yang pernah ada.
Kedua, makhluk ini tidak memiliki moral. Ia tidak peduli baik atau buruk.
Ia hanya akan bergerak demi menyenangkan Kenzo, atau melindungi nyawa majikannya.
'Dia seperti senjata pemusnah massal tanpa pengaman,' pikir Kenzo. Salah perintah sedikit saja, satu kota bisa rata dengan tanah.
Kenzo berdiri. Azzy ikut melompat tegak dengan tubuh yang terasa begitu ringan, seakan tidak terikat gaya gravitasi bumi.
"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," ujar Kenzo sambil menyampirkan ransel usangnya ke pundak.
Sisa uang yang ia rampas kemarin masih cukup untuk beberapa hari ke depan. Namun, ia butuh informasi akurat.
Ia harus melacak kelompok berseragam hitam yang mengacau pagi tadi. Di kota sebesar ini, dunia bawah pasti meninggalkan jejak.
"Kita pergi?" tanya Azzy dengan mata berbinar-binar.
"Ya. Tapi ingat, jangan gunakan kekuatanmu tanpa izin dariku. Kecuali, ada yang mencoba membunuhku. Mengerti?"
Azzy mengangguk patuh dengan cepat.
"Satu lagi," Kenzo menunjuk pakaian Azzy yang aneh dan kabut hitam yang tipis di sekitarnya. "Bisa kau sembunyikan wujudmu?"
Azzy tersenyum lebar.
Detik berikutnya, tubuh pemuda itu terurai menjadi kabut gelap. Kabut itu mengalir cepat, lalu menyelinap masuk ke dalam bayangan Kenzo di lantai.
Sebuah suara kekanak-kanakan bergema di dalam kepala Kenzo.
'Azzy selalu ikut Kenzo.'
Kenzo mengembuskan napas panjang. Ia melangkah mendekati pintu, memutar kunci ganda, lalu mendorongnya terbuka.