Kisah tentang cinta dan persahabatan yang konyol..
Tentang bagaimana kehilangan lalu bangkit dan terus melanjutkan hidup...
Kita tak bisa melawan takdir.Karena sekeras apapun kita menolak takdir tetap akan berjalan sebagaimana mestinya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia ketemu mantan
...Aku sudah pernah mengatakannya, bukan?Sekali aku memutuskan untuk pergi, aku tidak akan pernah kembali....
...-...
...Nindya...
...°...
...°...
...°...
...Now playing...
...Halsey - Without Me...
...°°°°°...
Nindya tidak perlu repot menunjukkan jalan ketika ia menjelaskan kalau dirinya tinggal di kos dimana terdapat kentungan berbentuk cabe dan terong yang menggantung di depan rumah tersebut.
Begitu sampai, Nindya pun dengan pedenya meninggalkan Rifan setelah mengucapkan terimakasih. Tapi baru saja ia berbalik, Rifan tiba-tiba menarik ranselnya sampai membuat Nindya hampir jatuh.
"Apa? Mau minta ongkos ojek sama uang buat nyawer tadi?" Tanya Nindya menegaskan. "Nanti deh.., belum ada duit gue. Catet di buku aja dulu, ya? Ntar gua bayar kalo udah ngambil duit tabungan kelas, oke? Deal!" Nindya menarik pergelangan Rifan untuk berjabat tangan dengannya.
Telunjuk Rifan menunjuk kepalanya sendiri reflek membuat Nindya mengikuti instruksonya dan ternyata, "hehe.. maaf." Cengir nya. Melepas helm lalu menyodorkan helm tersebut pada pemiliknya, "maklum biasa jalan kaki."
"Makanya, jangan suka makan pantat ayam," ledeknya sebelum memacu motornya layaknya pembalap profesional.
"Ya ampun itu mulut kalo ngomong suka bener," decaknya. "Untung lo ganteng bang. Coba jelek ma udah gua empanin buat pakan ****** punya bapak kos gue!" Nindya sedikit mengoceh lalu masuk ke dalam kos.
"Kok bisa sih lo kenal anak band disekolah gue?" Nindya hampir terkena serangan jantung ketika ia berbalik mendapati Vemmy yang sebelumnya tidak ada tiba-tiba berdiri tak jauh dirinya.
"Siapa?"
"Rifan. Kok lu bisa kenal?" Tanyanya mengikuti Nindya duduk di kursi yang terdapat didepan kos.
"Oh.., dia anak band? Pantes belagu, Mbak." Komentar Nindya.
"Jangan ngomong begitu. Kamu kan belum kenal aja kamu sama dia."
"Kemana aja baru nyampe?" Nana yang samar-samar mendengar suara Nindya segera keluar kamar menghampiri Nindya di teras.
"Emak!" Nindya dengan wajah memelas sambil menunjukkan plester ditangannya.
Vemmy dan Nana kompak menanyakan kenapa Nindya bisa terluka. Nindya pun menjelaskan rentetan kejadiannya bagaimana bisa ia mendapatkan luka tersebut. Bukannya merasa kasihan dengan nasib yang dialami Nindya, mereka berdua malah menertawakan kesialannya.
°
°
°
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Saat itu Nindya sedang bersiap menunggu Yovan.
Tinn...
Tinn...
Mendengar suara klakson mobil milik Yovan, iapun segera bangkit dari kursinya untuk berpamitan pada Nana sebelum pergi.
"Ayo, Yov," dalam hitungan menit Nindya sudah berpindah ke dalam mobil milik Yovan.
"Mau makan dulu apa langsung nonton?" Tanya Yovan.
"Nonton aja dulu deh," jawab Nindya.
Mobil itupun segera melaju menuju mall dengan kecepatan sedang. Setelah memarkirkan mobilnya, Yovan mengajak Nindya langsung menuju lantai paling atas.
"Mau makan apa, Nin?" Tanya Yovan setelah dua jam lebih empat puluh lima menit mereka duduk di teater satu bioskop tersebut. Dalam kurun waktu selama itu, Yovan sangat yakin kalau Nindya butuh sesuatu untuk mengisi perutnya.
"Burger," Nindya melirik jam ditangannya sudah menunjukkan hampir jam 9 malam.
Nindya memilih untuk duduk sedangkan Yovan mengantri untuk memesan makanan.
"Den, gua gak salah liat, kan? Itu si Nindya bukan, sih?" Tanya Appe saat mereka melewati pintu masuk fastfood yang menjual aneka Burger.
"Mana?" Tanya Deny yang ikut penasaran.
"Tuh, lagi duduk sendirian dia."
"Yaudah yuk samperin aja," Rendy dan Appe berjalan mendahului.
"Sendirian aja, Nin?" Tanya Ervan yang pertama kali menyapa Nindya.
"Ervan? Gak kok, gua sama temen," sahut Nindya tapi pandangan matanya sedikit melirik ke Deny yang diam tanpa ekspresi.
"Kita boleh gabung?" Rendy yang tanpa aba-aba langsung duduk dimeja Nindya.
Lima menit kemudian datanglah Yovan membawa pesanannya dan Nindya.
"Nin, ini pesenan lu." Yovan sengaja mengeraskan suaranya saat menaruh pesanannya di meja. Ia seolah meminta Rendy yang duduk tepat disebelah Nindya untuk pindah posisi.
"Geser," Appe menarik ujung kaos Rendy yang terlambat merespon teguran Yovan padanya.
"Makasih. Gak masalah kan kalo mereka gabung sama kita?" Tanya Nindya yang sebenarnya tidak membutuhkan persetujuan dari Yovan. Ia hanya sekedar berbasa-basi karena merasakan suasana dimeja itu sedikit canggung.
"Gak masalah, Nin."
"Lumayan juga nih mantannya Nindya," ujar Appe berbisik pada Rendy.
"Iya. Kayaknya ada yang panas nih. " Appe dan Rendy kompak melirik kearah Deny yang masih diam.
"Kenalin, Yov. Ini Ervan pacarnya Rita temen aku. Terus ini Appe, Rendy, sama itu Deny," mereka pun saling menyapa sekedar sopan santun.
Merasakan atmosfer disekitarnya semakin berubah tidak nyaman, Nindya pun mempercepat kegiatan makannya lalu segera menarik Yovan untuk pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan Yovan lebih banyak diam memikirkan apakah Nindya dan Deny ada hubungan. Karena menurut pengamatannya, sepertinya Deny tidak senang dengan kedatangannya.
Sementara itu ditempat lain.
"Keliatan banget ya si Yovan masih sayang sama Nindya," Rendy membuka obrolan tentang Nindya.
"Iya. Cuma gua ngerasa si Nindya biasa aja," sahut Appe sembari mengingat cara Nindya berinteraksi dengan Yovan.
"Masih bagus Nindya mau maafin apalagi temenan," Ervan mulai menyahuti.
"Emang kenapa?" Appe yang penasaran sekaligus antusias.
"Dulu dia diselingkuhin," jawab Ervan datar.
"Ini antara emang beneran temenan atau gagal move on Nindya nya!"
"Pada gosip aja lu pada," Deny yang mulai terganggu menyela obrolan mereka.
"Kenapa lu cemburu, Den?" Ledek Rendy mengedipkan sebelah matanya.
"Bukan gua cemburu atau gimana. Cuma kita gak berhak ngurusin hidup orang lain," jelas Deny.
"Yaudah-yaudah...., jangan bahas Nindya lagi," Ervan mulai menengahi.
Yovan segera berpamitan pada Nindya setibanya dikos. Nindya pun turut masuk kekamar lalu membaringkan badannya dikasur. Nana yang saat itu sedang memakai masker hanya menoleh sekilas temannya.
Menurut cerita dari Nindya pada Nana. Dulu Yovan terlihat sangat mencintainya tapi lambat laun perlakuan Yovan padanya mulai berubah. Sampai suatu hari Nindya memergoki langsung Yovan sedang berciuman dengan Mawar adek kelasnya. Tentu Nindya murka karena dikhianati pacarnya. Tapi, lambat laun seiring perasaannya pada Yovan mulai berubah, Nindya tak ingin menaruh dendam dan memilih untuk memaafkan Yovan. Yovan yang mengaku masih mencintai Nindya pun beberapa kali meminta maaf dengan tujuan ia bisa kembali menjalin hubungan dengan Nindya tapi, nasi sudah menjadi bubur. Nindya tidak ingin mengulang rasa sakit itu meski awalnya ia sangat mencintai Yovan.
lagian Deny alasan sebenarnya apa sih waktu mutusin Nindya.....
nikah dulu woy...
otHoR emang bisa bikin hepi ngakak2
jd kl g ada terjemahannya nanti sulit untuk memahami...dan kl sulit paham lama2 mls bacanya...jd ntar sepi dech
semangat y
bkin skit bgt n smpe baper, nangis",, 😭😭