Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
Malam itu, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Kendaraan-kendaraan hitam berjejer rapi di halaman depan, menurunkan pria-pria bertubuh tegap yang memancarkan aura kewaspadaan tinggi. Bima datang ke kamar Nayara dengan wajah serius, memberitahu bahwa Arya memintanya tetap berada di dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat—tak peduli suara apa pun yang terdengar dari luar.
Namun kali ini, suara percakapan yang makin meninggi dan terdengar penuh ancaman justru membuat rasa ingin tahu Nayara berubah menjadi kekhawatiran yang mendesak. Ia melangkah perlahan mendekati pintu yang sedikit terbuka celah, menyembunyikan tubuhnya di balik dinding lorong yang gelap.
Di ruang tengah yang luas itu, Arya duduk bersandar tenang di kursi utamanya. Namun di hadapannya berdiri tiga orang pria yang penampilannya jauh lebih kasar, tatapan mata mereka liar dan penuh permusuhan. Salah satu dari mereka—berbadan besar dengan bekas luka panjang melintasi pipi—terus menunjuk-nunjuk wajah Arya dengan kasar.
"Kau pikir kau bisa menguasai seluruh jalur perdagangan di Semarang sendirian, Satria?" bentak pria itu dengan suara parau. "Kau melanggar perjanjian lama. Dan orang-orangku sudah mulai tidak sabar untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kami."
Arya tidak bergerak sedikit pun. Ia menyesap minuman di gelasnya perlahan, seolah kata-kata penuh ancaman itu hanyalah angin lalu. "Aku tidak mengambil apa yang bukan hakku. Aku hanya membersihkan kotoran yang kalian sebarkan. Kalian menjual barang terlarang, memeras pedagang kecil, dan menumpahkan darah tanpa alasan. Itu bukan bagian dari kesepakatan kita."
"Kesepakatan itu berubah saat kau mulai bertindak seperti raja!" seru pria lain yang berdiri di samping. Tangannya merogoh ke dalam saku jaket, gerakan yang langsung membuat pengawal Arya siap siaga.
"Tarik tanganmu, atau kau tak akan sempat melihat matahari terbit besok," ucap Arya dingin, namun ancamannya terasa begitu nyata hingga pria itu seketika membeku.
Nayara yang mengintip dari kejauhan menahan napasnya erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada orang-orang itu, tapi karena takut sesuatu terjadi pada Arya. Ia baru menyadari betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di dunia yang pria itu jalani setiap hari.
Tanpa sadar, kakinya melangkah maju sedikit. Suara gesekan sepatunya terdengar samar namun cukup untuk memecah perhatian mereka. Semua mata seketika beralih ke arah lorong tempat Nayara bersembunyi.
"Siapa di sana?" bentak pria berbekas luka itu. Ia melangkah hendak mengecek, namun Arya sudah berdiri tegak seketika, menghalangi jalannya.
"Jangan bergerak," perintah Arya tegas, suaranya penuh peringatan mematikan. "Itu bukan urusan kalian."
"Perempuan?" cibir pria itu, menyeringai sinis. "Ternyata pemimpin hebat Arya Satria juga punya kelemahan. Siapa dia? Wanita simpananmu? Atau mungkin sandera baru?"
Kata-kata itu belum selesai terucap, Arya sudah melangkah lebar dan mencengkeram kerah baju pria itu dengan satu tangan saja, mengangkat tubuhnya sedikit hingga kakinya melayang. Mata Arya menyala penuh amarah yang belum pernah dilihat Nayara sebelumnya.
"Jaga lidahmu," desisnya rendah namun mengerikan. "Satu kata kotor lagi keluar dari mulutmu tentang dia... dan kau tak akan pulang hidup-hidup malam ini."
Suasana seketika mencekam. Pengawal di kedua sisi sudah siap menarik senjata. Namun pria yang dicekik itu terlihat ketakutan luar biasa melihat perubahan drastis pada Arya yang biasanya tenang dan terhitung.
"Kau melindunginya..." bisik pria itu tersedak. "Jadi benar... dia adalah kelemahanmu."
Arya melepaskannya dengan kasar hingga pria itu terjatuh ke lantai. "Pergilah sebelum aku mengubah pikiranku. Dan sampaikan pada atasanmu—jangan pernah mencoba menyentuh hal yang kusayangi. Karena itu akan menjadi kesalahan terakhir yang pernah mereka buat."
Orang-orang itu pergi dengan wajah penuh dendam dan ancaman yang tak terucap. Begitu pintu tertutup, kekuatan seketika meninggalkan tubuh Arya. Ia berdiri diam di tengah ruangan, napasnya memburu.
Nayara keluar dari persembunyiannya dengan langkah gemetar. Matanya berkaca-kaca, menatap punggung pria itu yang terlihat begitu kokoh namun kini terasa begitu rapuh.
"Anda... Anda melakukan itu demi saya?" tanyanya lirih.
Arya berbalik perlahan. Wajahnya masih tegang, namun tatapannya melembut saat menatap gadis itu. "Mereka tidak berhak bicara kotor padamu. Dan mereka tidak boleh tahu betapa berartinya kau bagiku. Karena jika mereka tahu... kau akan menjadi sasaran utama mereka."
Ia melangkah mendekat, tangannya terangkat ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh bahu Nayara dengan lembut. "Mulai sekarang, jangan pernah keluar kamar saat ada tamu asing. Kau lihat sendiri seperti apa mereka. Sekali mereka tahu kau ada di sini, mereka tak akan segan melakukan apa saja untuk menghancurkanku lewatmu."
"Saya takut..." akui Nayara, air mata akhirnya menetes. "Saya takut mereka akan datang kembali dan..."
"Selama aku bernapas, tak ada yang boleh menyentuhmu," potong Arya tegas, menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya—pelukan yang erat, penuh perlindungan, dan entah bagaimana membuat rasa takut Nayara perlahan luruh. "Dengar aku, Nayara. Meski seluruh dunia melawanku, aku akan berdiri di depanmu. Meski nyawaku yang harus korbankan, aku tak akan membiarkan satu jari pun menyentuhmu."
Di pelukan itu, Nayara merasakan detak jantung pria itu yang berpacu cepat, sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa terkurung atau terancam saat berada dekat Arya. Ia merasa terlindungi. Dan di saat yang sama, ia sadar bahwa keterikatannya pada pria berbahaya ini sudah menjadi takdir yang tak bisa ia tolak lagi.
Lanjut ke Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan? 😊