NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Bola Panas Makin Liar

Di luar ruangan, suasana justru semakin panas. Beberapa karyawan berkumpul di dekat pantry, berbisik dengan suara yang tidak lagi pelan.

“Lihat, dia langsung dipanggil ke ruangan Pak Raka.”

“Pasti dimarahi. Kemarin masih kelihatan deket banget, sekarang ketahuan main sama cowok lain.”

“Kasihan Pak Raka. Sudah jelas perhatian banget sama dia, tapi dia main di belakang.”

“Atau malah Pak Raka yang dimanfaatkan dari awal?”

“Pinter sih. Kemarin bos, hari ini yang lebih kaya. Besok siapa lagi?”

Mira yang kebetulan lewat mencoba membela, tapi langsung dibalas sinis. “Mira, jangan belain terus. Foto sudah jelas. Tidak mungkin foto itu palsu.”

Di lantai lain, grup chat semakin liar. Ada yang menyebarkan screenshot komentar, ada yang menambahkan teori baru. Bahkan beberapa mulai mempertanyakan apakah Alena memang dijaga Raka karena alasan pribadi, bukan profesional.

Sementara itu, di dalam ruangan, Raka berdiri. Ia berjalan mengelilingi meja, lalu berhenti di depan Alena. Tubuhnya tinggi menaungi gadis itu. “Aku tidak peduli dengan gosip mereka,” katanya pelan, tapi setiap kata terasa berat. “Yang kuinginkan hanya satu jawaban jujur. Apa kau punya hubungan dengan pria itu?”

Alena mengangkat wajah, menatap mata Raka yang penuh badai. “Tidak,” jawabnya tegas. “Sama sekali tidak. Aku bersumpah.”

Raka menatapnya dalam-dalam, seolah mencari kebohongan. Beberapa detik berlalu. Lalu ia menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu yang ingin meledak.

“Baik,” gumamnya. “Aku percaya.”

Namun nada suaranya masih tegang. Ia berbalik, mengambil ponselnya, lalu menekan satu nomor. “Dito. Cari tahu siapa yang membuat akun itu dan siapa yang menyebarkan foto. Aku ingin nama dan wajahnya dalam satu jam.”

Setelah menutup telepon, Raka kembali menatap Alena. “Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar sendirian. Tidak boleh makan siang sendirian. Tidak boleh pulang sendirian. Aku akan mengatur semuanya.”

Alena membuka mulut, ingin protes, tapi Raka sudah mendekat. Ia mencondongkan tubuh, kedua tangan bertumpu di sandaran kursi Alena, mengurungnya. “Dan soal gosip di luar itu…” suaranya turun menjadi bisikan yang berbahaya. “Biarkan mereka bicara. Aku akan membuat mereka menyesal sudah membuka mulut.”

Di luar, bisik-bisik semakin kencang. Ada yang bahkan berdiri di dekat pintu ruang Raka, berusaha mendengar. Seseorang bergumam, “Tadi pintunya ditutup keras. Pasti sedang ribut.”

Yang lain menimpali, “Atau sedang… yang lain.”

Tawa kecil terdengar, sinis.

Di dalam, Alena menatap Raka yang masih mengurungnya. Jantungnya berdegup kencang—bukan hanya karena takut pada gosip, tapi karena intensitas di mata pria di depannya. Raka mengangkat tangan, ibu jarinya mengusap pelan sudut bibir Alena.

“Mereka bilang kau ganti-ganti pria,” bisiknya. “Tapi aku akan buat mereka melihat… bahwa kau hanya milik satu orang.”

Alena menelan ludah. “Raka… jangan—”

“Sudah terlambat untuk meminta itu,” potongnya lembut, tapi tidak bisa ditolak. “Aku sudah memutuskan.”

Raka melepaskan tangan dari sandaran kursi Alena. Ia berdiri tegak, merapikan lengan kemejanya, lalu berjalan menuju pintu.

“Tunggu di sini,” perintahnya singkat pada Alena.

Alena ingin menahan, tapi Raka sudah membuka pintu dan keluar. Suasana di area kerja langsung berubah. Bisik-bisik yang tadi ramai seketika berhenti. Semua kepala menoleh. Beberapa karyawan yang tadi berkumpul di dekat pantry dan lorong segera pura-pura kembali ke meja.

Raka berdiri di tengah ruangan, wajahnya datar, tapi matanya menyapu satu per satu wajah karyawan. “Sepertinya kalian sedang sangat sibuk pagi ini,” katanya dengan suara tenang yang justru membuat semua orang tegang. “Sibuk membahas sesuatu yang bukan urusan kalian.”

Tidak ada yang berani menjawab.

Raka melangkah pelan. “Foto yang beredar di grup. Komentar-komentar di bawahnya. Aku sudah membaca semuanya.”

Ia berhenti di depan meja Tina. Gadis itu yang tadi paling vokal di pantry sekarang menunduk, tapi rahangnya mengeras.

“Mulai saat ini,” lanjut Raka, suaranya terdengar di seluruh ruangan, “siapa pun yang masih menyebarkan, mengomentari, atau bahkan hanya meneruskan gosip tentang Alena… akan langsung berurusan dengan saya. Tidak ada peringatan kedua.”

Beberapa karyawan saling berpandangan. Suasana semakin sunyi. Tapi Tina mengangkat wajah. Matanya menantang.

“Dengan hormat, Pak,” katanya jelas, cukup keras agar semua mendengar. “Kami hanya membahas apa yang kami lihat. Foto itu nyata. Kemarin Alena datang bersama Bapak, hari ini foto dengan pria lain sudah beredar. Apakah kami tidak boleh berbicara tentang apa yang terjadi di depan mata kami?”

Raka menatapnya tajam. “Kalian boleh berbicara. Tapi bukan dengan cara menjelek-jelekkan rekan kerja kalian sendiri di grup kantor.”

Tina tidak mundur. Ia bahkan berdiri dari kursinya. “Kami hanya jujur, Pak. Banyak yang merasa… tidak nyaman. Apalagi Alena kelihatan dekat sekali dengan Bapak belakangan ini. Lalu tiba-tiba ada pria lain. Wajar jika kami bertanya-tanya.”

Beberapa karyawan mengangguk pelan, mendukung Tina diam-diam. Raka terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak ramah.

“Jadi menurutmu,” katanya pelan, “aku tidak tahu apa yang terjadi di perusahaan ini? Atau kau merasa berhak mengadili kehidupan pribadi seseorang hanya karena foto yang bahkan tidak kau ketahui konteksnya?”

Tina menegakkan bahu. “Saya hanya bilang apa adanya, Pak. Kalau Bapak membela Alena terus seperti ini, jangan salahkan kami jika kami berpikir ada sesuatu di antara kalian.”

Udara di ruangan seolah membeku. Beberapa orang menahan napas. Mira yang berdiri di kejauhan sudah memucat.

Raka melangkah mendekat ke meja Tina. Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah tapi setiap kata terasa menusuk. “Kau berani sekali.”

Tina menelan ludah, tapi tetap bertahan. “Saya hanya menyuarakan apa yang dipikirkan banyak orang di sini, Pak.”

Raka menegakkan tubuh. Ia menatap seluruh ruangan. “Baik. Kalau begitu, biar aku perjelas di depan kalian semua.”

Ia menoleh ke arah pintu ruangannya, di mana Alena berdiri diam di ambang pintu dengan wajah pucat. “Alena berada di bawah perlindungan saya. Bukan karena hubungan pribadi seperti yang kalian bayangkan. Tapi karena ada ancaman nyata terhadap keselamatannya. Siapa pun yang masih nekat menyebarkan fitnah, atau bahkan hanya ikut-ikutan memperburuk situasi… akan saya anggap sebagai orang yang menghalangi upaya perlindungan itu.”

Tina mengerutkan dahi. “Ancaman? Apa maksudnya—”

“Bukan urusanmu,” potong Raka dingin. “Dan soal ‘keputusan’ saya… ini bukan ajakan diskusi. Ini perintah.” Ia menatap Tina dalam-dalam. “Kalau kau masih ingin bekerja di sini, berhentilah sekarang juga. Kalau tidak… meja itu bisa segera dikosongkan.”

Tina membelalak. Wajahnya memerah, campuran marah dan terhina. Beberapa karyawan di sekitarnya menunduk, tidak berani mendukung lagi. “Bapak tidak adil,” kata Tina pelan, tapi masih terdengar. “Membela satu orang sampai mengancam karyawan lain.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Tina sampai gadis itu akhirnya duduk kembali dengan wajah tegang. Lalu Raka berbalik, memandang seluruh ruangan sekali lagi. “Kerjaan kalian masih banyak. Kembali bekerja.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!