NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Korban Pertama

Namanya maut, ia tidak pernah mengetuk pintu dengan sopan. Ia datang seperti pencuri di sepertiga malam, merayap di antara celah lantai kayu, dan meninggalkan bau busuk yang membekukan darah.

Bagi lintasan takdir Sekar, maut itu kini memiliki nama yang teramat agung sekaligus terkutuk: Kalingga. Entitas gaib itu tidak lagi sekadar bermain-main di dalam labirin mimpinya atau menakut-nakuti preman di gang ruko yang gelap. Kalingga mulai memetakan batas wilayahnya di dunia fana. Siapa pun yang berani melintasi garis tak kasat mata itu, siapa pun yang menatap Sekar dengan syahwat atau agresi manusiawi, harus membayar harganya dengan nyawa.

Dan malam itu, giliran Bagas yang menerima nota tagihan berdarah tersebut.

Bagas adalah mantan kekasih Sekar dari masa awal perkuliahan—seorang pria bertubuh tegap, berwajah rupawan dengan rahang tegas, namun memiliki watak yang keras, posesif, dan temperamental. Hubungan mereka sudah kandas hampir setahun lalu karena tabiat Bagas yang ringan tangan. Namun, Bagas tidak pernah benar-benar menerima kata putus. Bagi Bagas, Sekar adalah hak miliknya yang tertunda.

Bahkan setelah insiden Rian mencuat di kampus, Bagas justru kian gencar mengejar Sekar. Dia menganggap Sekar hanya sedang mencari perhatian, atau lebih buruk lagi, sedang digoda oleh pria-pria lain. Sifat arogan Bagas membuatnya buta terhadap tanda-tanda bahaya yang sudah terpampang nyata di depan matanya.

Empat hari lalu, Bagas sempat mencegat Sekar di parkiran belakang fakultas. Dengan kasar, dia mencengkeram pergelangan tangan Sekar, memaksa gadis itu untuk mendengarkan permintaannya agar mereka kembali bersama. Saat itu, Sekar hanya diam. Dia tidak menangis atau memohon seperti biasanya. Sekar hanya menatap lurus ke dalam manik mata Bagas dengan sepasang mata yang hampa, dingin, dan memancarkan pendar kuning keemasan yang redup selama sepersekian detik.

"Lepaskan aku, Bagas. Kulitmu akan melepuh jika terus menyentuhku," bisik Sekar saat itu, suaranya terdengar datar, monoton, dan teramat luwes seperti desisan angin malam.

Bagas tertawa meremehkan. Dia menghempaskan tangan Sekar dan meludah ke tanah sebelum pergi. "Lu pikir lu siapa, hah? Setan? Jangan belagu lu, Sekar!" gertak Bagas penuh kesombongan.

Bagas tidak pernah tahu bahwa ucapan Sekar bukanlah sebuah ancaman kosong. Itu adalah sebuah peringatan terakhir dari sang penjaga gaib yang bersemayam di balik tanda lahir bersisik di punggung gadis itu. Kalingga telah mencatat nama Bagas di atas lembaran batu nisan gaibnya.

Malam merayap menuju pukul dua dini hari. Angin malam berembun menusuk-nusuk kisi-kisi jendela kamar kos Bagas yang terletak di lantai dua sebuah kompleks perumahan mahasiswa yang sepi. Kamar itu berantakan; baju-baju kotor berserakan di lantai, beberapa botol minuman keras kosong berdiri di sudut meja, dan sebuah kipas angin dinding berputar dengan suara derit yang ritmis.

Bagas berbaring terlentang di atas kasur busanya yang tanpa seprei. Dia hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaus, membiarkan dadanya yang bidang terekspos hawa malam. Pikirannya masih dongkol karena penolakan Sekar siang tadi. Dia terus memandangi layar ponselnya, menatap foto-foto lama mereka dengan rasa kepemilikan yang beracun.

Klek.

Suara itu teramat lirih. Bukan berasal dari pintu depan kosan, melainkan dari arah jendela kamarnya yang menghadap ke rimbunnya pohon mangga di luar.

Bagas menurunkan ponselnya, menatap ke arah jendela. "Angin..." pikirnya acuh. Dia kembali menatap layar ponsel.

Namun, dalam hitungan detik, suasana di dalam kamar kos itu berubah secara drastis. Kipas angin dinding yang tadinya berderit berisik mendadak mati total, meskipun lampu kamar masih menyala suram. Suhu udara di dalam ruangan merosot tajam, anjlok hingga ke titik yang membuat embun napas Bagas keluar membentuk kabut tipis dari sela bibirnya.

Sreeet... sreeet... sssss...

Sebuah suara gesekan yang sangat halus mulai terdengar dari arah kolong tempat tidurnya. Suara itu terdengar seperti kain sutra mahal yang diseret di atas lantai semen yang kasar, namun memiliki ritme yang lambat dan berat. Di saat yang sama, aroma kamar kos yang biasanya berbau apek rokok dan keringat mendadak lenyap, digantikan oleh ledakan wangi bunga kenanga yang teramat ranum, pekat, dan busuk. Bau itu begitu menyengat hingga membuat paru-paru Bagas terasa seperti terbakar.

Bagas tersentak. Dia mencoba bangkit dari posisi tidurnya, berniat memeriksa kolong kasur atau menyalakan lampu utama yang lebih terang.

Gagal.

Seluruh persendian di tubuh Bagas mendadak kaku. Dia tidak bisa menggerakkan bahkan ujung kelingking tangannya sekalipun. Otaknya sadar, matanya melotot liar, namun tubuhnya seolah telah disemen mati ke atas kasur. Skenario ketindihan (sleep paralysis) langsung melintas di kepalanya, namun rasa takut yang murni mulai membubung ketika dia menyadari bahwa ini bukan sekadar gangguan saraf tidur biasa.

Dari arah kolong tempat tidur, sebuah bayangan hitam yang teramat pekat mulai merayap naik ke atas kasurnya.

Bayangan itu bergerak lambat, meliuk-liuk di atas permukaan kulit kaki Bagas. Sensasi yang dirasakan Bagas bukanlah sentuhan kain atau bayangan tak bermassa; itu adalah sentuhan fisik yang teramat dingin, basah, berlendir, sekaligus bersisik kasar. Seperti ada seekor reptil berukuran raksasa yang sedang merangkak naik ke atas tubuhnya.

Bagas mencoba berteriak. Dia mengerahkan seluruh urat di lehernya hingga menegang merah, namun tidak ada satu pun gelombang suara yang mampu menembus tenggorokannya yang mendadak terasa kaku dan kering.

Di dalam keremangan cahaya lampu kamar, bayangan hitam itu perlahan mengental, memadat, dan membentuk sesosok figur pria yang berdiri tegak di sisi kasurnya.

Pria itu bertubuh jangkung dengan pakaian bangsawan Jawa kuno berwarna hitam legam. Wajahnya luar biasa tampan, simetris, namun putih pucat tanpa ada setitik pun aliran darah di bawah kulitnya. Di atas kepalanya, sebuah mahkota emas naga melingkar anggun.

Kalingga berdiri di sana, menatap Bagas dengan sepasang mata kuning keemasan yang menyala benderang di tengah kegelapan. Pupil matanya berbentuk manik vertikal tajam, menatap Bagas seolah-olah pria tegap itu hanyalah seonggok daging mati yang siap didekonstruksi.

Kalingga tersenyum tipis, menampilkan deretan gigi putih dengan taring yang berkilat mematikan.

"Kau... berani menyentuh milikku dengan tangan kotarmu, manusia?" Suara Kalingga terdengar berupa bisikan halus di dalam kepala Bagas, namun getarannya begitu masif hingga membuat gendang telinga Bagas terasa seperti mau pecah.

Kalingga melangkah maju. Dia tidak menggunakan tangan manusianya untuk menyerang. Dia hanya mengulurkan tangan kanannya yang berkuku hitam meruncing, lalu menempelkan telapak tangannya yang sedingin es tepat di atas dada Bagas.

Begitu telapak tangan Kalingga menyentuh kulit dadanya, Bagas merasakan rasa sakit yang belum pernah dia bayangkan seumur hidupnya. Itu bukan rasa sakit akibat hantaman fisik, melainkan seperti ada ribuan jarum es yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darahnya, membekukan jantungnya, dan mematahkan tulang-tulang rusuknya dari dalam.

Di bawah cengkeraman telapak tangan Kalingga yang sedingin es, tubuh Bagas mulai mengalami dekonstruksi yang mengerikan. Jeritan yang tertahan di tenggorokannya berubah menjadi suara sesak yang parau.

KRETEK... KRETEK...

Suara mengerikan dari tulang-tulang yang patah mulai terdengar memantul di dinding kamar kos yang sempit. Tanpa ada luka robek di permukaan kulitnya, tulang rusuk Bagas patah satu per satu, melesak ke dalam seolah-olah tubuhnya sedang dililit oleh lilitan tak kasat mata dari seekor ular sanca raksasa. Sendi bahunya bergeser ke sudut yang tidak wajar, dan kedua kakinya berputar kaku, menekuk ke belakang hingga mematahkan tulang paha.

Bagas melotot gila. Matanya memerah sempurna karena pembuluh darah di matanya pecah akibat tekanan yang teramat masif.

Kalingga mencondongkan wajah tampannya yang pucat, menatap tepat di depan wajah Bagas yang sedang sekarat. Rahang pria tampan itu mendadak merenggang secara tidak alami, melebar hingga batas yang mustahil bagi manusia, menampilkan deretan gigi tajam dan lidah bercabang yang mendesis halus di sela bibirnya.

Dari sela taringnya, setetes cairan kental berwarna hijau gelap kehitaman menetes jatuh, tepat masuk ke dalam mulut Bagas yang terbuka karena menahan sakit.

Cairan itu adalah bisa ular tanah yang teramat pekat. Begitu cairan itu menyentuh lidah Bagas, rasanya seperti meminum asam sulfat yang mendidih. Organ dalam Bagas melepuh seketika. Saluran pernapasannya menutup, dan cairan racun itu dengan cepat menyerang saraf pusatnya, menghentikan detak jantungnya dalam hitungan detik.

Kalingga menarik kembali tangannya, berdiri tegak dengan keanggunan seorang raja yang baru saja menginjak seekor serangga. Wajahnya kembali menjadi paras pria rupawan yang statis.

"Jejakmu sudah terhapus, manusia," bisik Kalingga pelan.

Sosoknya perlahan-lahan mengabur, meliuk menjadi untaian kabut hitam yang panjang, lalu menyusut masuk ke dalam celah lantai kayu dan hilang tanpa meninggalkan bekas apa pun. Kamar kos itu kembali sunyi, menyisakan derit kipas angin dinding yang mendadak menyala kembali, berputar monoton di atas tubuh yang sudah tidak bernyawa.

Keesokan harinya, sekitar pukul sembilan pagi, kompleks kos-kosan itu digemparkan oleh jeritan histeris dari penjaga kos. Bagas ditemukan tewas di atas kasurnya setelah tidak merespons panggilan untuk kuliah pagi.

Garis polisi berwarna kuning segera dipasang mengelilingi lorong lantai dua. Tiga orang petugas tim lapor dan dua agen kepolisian berpakaian preman melangkah masuk ke dalam kamar yang kini dipenuhi oleh bau anyir dan wangi kenanga yang ganjil.

"Demi Tuhan... apa yang terjadi dengan anak ini?" bisik salah satu petugas forensik saat pertama kali memeriksa kondisi mayat Bagas.

Kondisi jenazah Bagas benar-benar menantang logika medis. Tubuhnya membiru lebam, kaku sempurna dalam posisi yang teramat mengerikan. Kedua tangan dan kakinya melilit kaku ke arah dada, patah total di bagian sendi-sendi utamanya, seolah-olah seluruh kerangka tubuhnya telah diremukkan oleh mesin pres bertekanan tinggi. Kulit dadanya menghitam, namun tidak ada luka sayatan, lebam pukulan, ataupun jejak cengkeraman tangan manusia di sana.

Lebih mengerikan lagi, dari sela bibir Bagas yang membiru, keluar sisa cairan berbusa kental berwarna hijau gelap yang telah mengering di sekitar dagunya.

Dokter forensik yang melakukan pemeriksaan awal di TKP menggelengkan kepalanya dengan wajah pucat. "Penyebab kematian utamanya adalah gagal napas akut akibat kerusakan saraf total. Dan cairan di mulutnya ini... dari aromanya, ini mirip dengan bisa ular dari keluarga Viperidae (ular tanah). Tapi konsentrasinya ratusan kali lebih pekat dari gigitan biasa."

"Ular?" salah satu detektif polisi mengernyitkan dahi, menatap sekeliling kamar yang tertutup rapat. "Kamar ini ada di lantai dua. Jendela teralisnya terkunci dari dalam, pintu depan digembok dari dalam oleh korban. Bagaimana bisa ada ular tanah masuk, melilitnya sampai tulangnya patah semua, menggigitnya di dalam mulut, lalu keluar tanpa meninggalkan jejak satu pun?"

Polisi benar-benar buntu. Tidak ada tanda-tanda pemaksaan masuk. Tidak ada sidik jari asing. Tidak ada barang berharga yang hilang. Secara hukum, kasus ini adalah sebuah anomali medis yang mustahil untuk dijelaskan.

Di sudut lain kota, di dalam kamarnya sendiri, Sekar terbangun dengan rasa sakit yang mendadak hilang dari punggungnya. Namun, rasa tenang itu segera hancur ketika ponselnya bergetar, menampilkan pesan berantai di grup angkatan kampus tentang kematian tragis Bagas.

Sekar menjatuhkan ponselnya ke atas lantai. Tubuhnya gemetar hebat.

Dia tahu. Tanpa perlu penjelasan polisi, dia tahu siapa yang telah mendatangi kamar kos Bagas semalam. Kalingga tidak sekadar mengawasinya; mahluk itu telah mulai melenyapkan siapa pun yang dianggap sebagai ancaman atau pengganggu bagi jalannya upacara Sabtu Kliwon yang terus digemakannya.

Sekar melangkah ke depan cermin lemari pakaiannya. Dengan tangan gemetar, dia menyisak rambut panjangnya ke depan dan menurunkan kerah kausnya.

Tanda lahir bersisik di punggung kanannya kini telah berubah seutuhnya. Sisik-sisik hitam itu kini mengilap, menebal, dan membentuk pola kepala ular yang sempurna, yang seolah-olah sedang menatap balik ke arah Sekar dari dalam pantulan cermin. Dan dari balik kulitnya yang pucat, Sekar bisa merasakan getaran halus yang berbisik di dalam benaknya:

“Satu pengganggu sudah lenyap, Cah Ayu... Sebentar lagi, kau akan sepenuhnya menjadi milikku.”

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!