NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Mantan Istri

“Urusan lama yang sudah terlalu lama menunggu.”

Rudi tidak mengejar pertanyaan itu. Mungkin karena ia melihat wajah Ardi berubah. Mungkin juga karena di IGD, setiap orang belajar bahwa tidak semua luka bisa ditanya di lorong rumah sakit.

Ardi membaca pesan itu sekali lagi.

Ardi? Ini Dewi. Kita perlu bicara soal anak-anak.

Tidak ada kata maaf. Tidak ada salam. Tidak ada pertanyaan apakah ia masih hidup setelah dua hari nyaris tanpa tidur.

Hanya anak-anak.

Kata itu cukup membuat semua rasa lelah di tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang dingin.

Ia membalas singkat.

Di mana?

Jawaban Dewi datang satu menit kemudian.

Kafe dekat Tunjungan. Jam empat. Jangan terlambat.

Ardi menatap jam. Ia punya kurang dari dua jam untuk mandi, mengganti pakaian, dan menenangkan wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang baru keluar dari tiga ruang operasi berturut-turut.

Di kost, air kamar mandi bersama terasa dingin menggigit. Ia berdiri di bawah shower yang alirannya kecil, membiarkan noda darah dari lengan dan lehernya larut ke lantai. Di cermin retak, wajahnya tampak lebih kurus daripada saat keluar dari lapas.

Tapi matanya berbeda.

Dulu, saat berdiri di depan pagar rumah Ibu Sumiati, ia datang dengan tangan kosong dan hati yang nyaris hancur. Sekarang di dompetnya ada foto Gatra dan Sari, kartu firma hukum Hartono, kartu nama Yuni, dan satu senjata yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Sistem Modifier.

Namun untuk urusan anak, skill bedah tidak cukup.

Ia butuh bukti. Uang. Alamat tinggal yang layak. Rekam kerja. Saksi. Pengacara. Putusan Pengadilan Agama.

Ia butuh menang dengan cara yang tidak bisa dibatalkan oleh teriakan Ibu Sumiati.

Kafe itu terlalu bersih untuk percakapan kotor.

Dewi sudah duduk di dekat jendela ketika Ardi masuk. Rambutnya rapi, tas branded kecil tergantung di kursi, dan kunci mobil dengan logo mahal diletakkan sengaja di atas meja. Dari kaca, Ardi melihat mobil putih mengilap di parkiran.

Mobil Rangga, mungkin.

Atau mobil yang dibeli dengan uang keluarga Pradana.

Dewi mengangkat mata. Tatapannya turun dari wajah Ardi ke sepatu yang sudah usang, lalu ke jaket sederhana yang ia pakai.

“Kamu kelihatan capek.”

“Aku kerja.”

“Tenaga kontrak juga bisa sesibuk itu?”

Ardi duduk tanpa menjawab sindiran. “Kamu bilang mau bicara soal anak-anak.”

Dewi tersenyum tipis, seperti sudah menyiapkan kalimat itu sejak lama. Ia membuka map tipis dari tasnya dan meletakkannya di meja.

“Tanda tangani ini.”

Ardi tidak menyentuh map itu. “Apa isinya?”

“Pernyataan bahwa kamu setuju membatasi kunjungan. Untuk sementara kamu tidak akan menemui Gatra dan Sari tanpa persetujuan aku dan Mama. Kamu juga tidak akan menghubungi sekolah, dokter anak, atau keluarga besarku.”

Suara di sekitar mereka mendadak menjauh. Mesin kopi, obrolan meja sebelah, sendok beradu dengan cangkir, semuanya menjadi bunyi tanpa arti.

Ardi membuka map itu.

Bahasanya rapi. Terlalu rapi untuk Dewi. Pasti dibuat oleh pengacara atau staf kantor Rangga.

Di bagian bawah ada ruang tanda tangan.

Nama Ardi.

Kosong.

“Sebagai gantinya,” kata Dewi, “aku tidak akan mempermasalahkan tunggakan nafkah selama kamu di penjara. Aku juga bisa bicara ke Mama supaya tidak melapor kalau kamu datang ke rumah lagi.”

Ardi mengangkat wajah. “Kamu menukar anak-anak dengan ancaman laporan?”

“Jangan dramatis.” Dewi menyandarkan punggung. “Aku realistis. Kamu mantan napi. Tinggal di kost. SIP saja belum jelas. Kamu mau mengajak anak-anak hidup bagaimana?”

“Aku tidak mengajak mereka tidur di jalan.”

“Tapi kamu juga tidak punya apa-apa.” Suara Dewi menjadi lebih tajam. “Pengadilan tidak akan memberi hak asuh kepada mantan napi yang tinggal di kost dan gajinya bahkan tidak cukup untuk bayar sekolah anak.”

Kata-kata itu diarahkan dengan tepat.

Dulu, mungkin Ardi akan terpukul sampai tidak bisa bicara. Karena sebagian kalimat itu memang fakta. Ia belum punya rumah. Belum punya SIP aktif. Utangnya masih menumpuk.

Tapi Dewi lupa satu hal.

Fakta hari ini bukan vonis untuk besok.

“Gatra pernah telepon,” kata Ardi pelan.

Wajah Dewi berubah sedikit. “Apa?”

“Waktu aku masih di lapas. Dia tanya, ‘Ayah, kapan kamu jemput kami?’”

Dewi mengalihkan pandangan. “Anak kecil ngomong macam-macam.”

“Dia anakku.”

“Dia anakku juga.”

“Kalau begitu jangan jadikan dia alat tawar.”

Dewi memukul meja dengan ujung jarinya, tidak keras tapi cukup untuk menunjukkan kesal. “Kamu pikir aku jahat? Aku melindungi mereka. Kamu tahu apa yang mereka dengar di sekolah nanti kalau orang tahu ayahnya pernah dipenjara?”

Ardi mencondongkan tubuh sedikit. “Yang membuat mereka malu bukan ayahnya pernah difitnah. Yang membuat mereka hancur adalah kalau ibunya mengajari mereka bahwa ayahnya tidak layak dicintai.”

Mata Dewi menyala.

Ponselnya berdering sebelum ia menjawab. Nama “Mama” muncul di layar. Dewi mengangkat dengan loudspeaker tanpa meminta izin, mungkin sengaja.

“Sudah tanda tangan?” suara Ibu Sumiati langsung terdengar.

Dewi melirik Ardi. “Belum.”

“Kasih tahu dia, Wi. Jangan lembek. Mantan napi seperti dia tidak punya hak mengatur cucu-cucu saya.”

Ardi menatap ponsel itu.

“Bu Sumiati,” katanya.

Di seberang, suara itu berhenti sesaat. Lalu menjadi lebih keras. “Oh, kamu ada di situ? Bagus. Dengar, Ardi. Gatra dan Sari sudah mulai tenang. Jangan datang membawa sial lagi.”

Jari Ardi menekan tepi map.

Ia teringat Gatra memanggil dari balik pintu.

Ayah?

Suara kecil itu masih menempel di tulang.

“Saya akan datang,” kata Ardi.

“Coba saja. Saya panggil satpam, saya panggil polisi.”

“Bukan ke rumah Ibu.” Ardi menatap Dewi, bukan ponsel. “Saya akan datang ke Pengadilan Agama.”

Dewi membeku.

Di ujung telepon, Ibu Sumiati mendadak diam.

Ardi menutup map, mendorongnya kembali ke arah Dewi.

“Aku tidak tanda tangan.”

Dewi tertawa sinis, tapi tawanya sedikit terlambat. “Kamu mau menggugat hak asuh? Dengan apa? Foto anak di dompet? Cerita sedih dari penjara?”

“Dengan bukti.”

“Bukti apa?”

“Bukti bahwa aku bekerja. Bukti bahwa aku bisa menafkahi. Bukti bahwa aku tidak pernah meninggalkan mereka. Bukti bahwa kamu dan keluargamu menghalangi hubungan anak-anak dengan ayahnya.”

Wajah Dewi memucat tipis, lalu memerah karena marah.

“Kamu berubah.”

“Tidak.” Ardi berdiri. “Aku cuma berhenti memohon di depan pintu yang selalu kamu kunci.”

Dewi ikut berdiri. Beberapa pengunjung menoleh. “Jangan sok kuat, Ardi. Kamu belum tahu siapa yang ada di belakangku.”

Rangga.

Nama itu tidak diucapkan, tapi duduk di antara mereka seperti bayangan di meja.

Ardi mengambil dompetnya, mengeluarkan uang pas untuk teh yang belum ia minum. “Dan kamu belum tahu siapa yang mulai berdiri di sampingku.”

Ia pergi sebelum Dewi bisa menjawab.

Di luar kafe, udara Surabaya terasa panas dan penuh asap kendaraan. Ardi berjalan ke motor tuanya, tapi tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya masuk ke dompet, menyentuh foto Gatra dan Sari.

Lalu menyentuh kartu firma hukum Hartono.

Ia mengeluarkan ponsel.

Untuk beberapa detik, ia menatap nama Hartono yang baru ia simpan pagi tadi.

Hubungan itu masih baru. Terlalu baru untuk langsung memakai panggilan akrab. Tapi bantuan yang ditawarkan Hartono bukan sekadar sopan santun. Itu jembatan.

Ardi menekan tombol panggil.

Telepon tersambung pada dering kedua.

“Dokter Ardi?”

Ardi menarik napas. “Pak Hartono... soal pengacara yang Anda tawarkan. Saya butuh bantuan.”

Suara Hartono berubah serius. “Untuk anak-anak?”

“Ya. Saya ingin memulai proses hak asuh.”

“Baik. Saya hubungi Prabowo sekarang. Anda jangan tanda tangani dokumen apa pun dari pihak Dewi tanpa pengacara.”

Ardi menutup mata sesaat.

Satu kalimat itu terasa seperti seseorang memasang pagar di depan jurang.

“Saya tidak tanda tangan.”

“Bagus. Kirim lokasi Anda. Tim hukum saya akan mengatur pertemuan awal malam ini atau besok pagi.”

“Terima kasih.”

“Dokter Ardi,” kata Hartono sebelum panggilan ditutup, “Anda menyelamatkan anak saya. Sekarang kita pastikan Anda tidak kehilangan anak-anak Anda.”

Panggilan berakhir.

Untuk pertama kalinya, kata hak asuh tidak terasa seperti mimpi jauh.

Ia menyalakan motor.

Namun sebelum roda bergerak, panel biru Sistem Modifier muncul di depan matanya.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Baru Terdeteksi!】 ║

║ Misi Emas: Diseksi Aorta Darurat ║

║ ║

║ Pasien VIP membutuhkan operasi ║

║ jantung darurat. ║

║ ║

║ Target: Pak Haji Qosim ║

║ Kondisi: Diseksi Aorta Akut ║

║ ║

║ Hadiah: 50 PM + Peti Harta Perak ║

║ Batas Waktu: 6 jam ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menatap panel itu, lalu jalan yang penuh kendaraan.

Anak-anaknya menunggu.

Namanya menunggu dibersihkan.

Dan di tempat lain, seorang pasien sedang menunggu jantungnya tidak robek lebih jauh.

Ardi memutar gas.

“Baik,” gumamnya. “Satu per satu.”

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!