Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Alek Adat yang Megah
Hari menjelang siang. Matahari bersinar cukup terik. Langit tampak sangat cerah. Angin gunung yang dingin bertiup pelan dan lembut. Meski begitu, hawa udara di nagari Tangah Sawah tetap dingin. Bahkan minyak tanak alias minyak manih tetap saja membeku.
Seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik jelita berjalan menyusuri jalanan desa yang lebar dan bersih. Orang orang yang berpapasan memandang dengan kagum pasangan yang sangat serasi itu.
Sepasang kekasih itu sampai di depan pintu pagar sebuah rumah gadang yang berhalaman luas. Dua orang yang menjaga gerbang tiba-tiba kaget.
"Kak Nirmala... Anda, anda telah kembali ?" Dua penjaga itu langsung menjura dalam. Salah seorang langsung berbalik dan berseru.
Kakak Nirmala telah pulaaang...!!
Suaranya yang keras membahana. Sesaat kemudian halaman rumah gadang yang luas itu langsung di penuhi banyak orang. Tuangku Labai Barewah alias Harimau Kumango juga muncul di pintu masuk rumah gadang. Dia terkejut mendengar teriakan dari penjaga gerbang.
Sesaat kemudian dia melesat dengan cepat. Langsung berdiri didepan Dewi Rimau Kumango dan Pandeka Pedang Suling Kumala.
"Nirmala....!" Suara Harimau Kumango terdengar serak oleh beban rindu dan rasa tidak percaya.
"Ayaaah...!"
Dewi Rimau Kumango langsung basimpuah dihadapan Tuangku Labai Barewah.
"Maafkan Nirmala, karena baru bisa pulang sekarang." Wajah Nirmala telah sabak dan kelopak matanya sudah merah. Telinga dimata Dewi Rimau Kumango telah meluap dan hampir tumpah.
Tuangku Labai Barewah segera menahan pundak Dewi Rimau Kumango dan menarik gadis cantik jelita itu berdiri.
"Ayah aku..."
"Ayah sudah tahu semua putri ku. Ayah bahagia mendengar pernikahan mu dengan Pandeka Pedang Suling Kumala. Kita akan segera mengadakan pesta adat dan baralek Gadang."
"Ay... ayah sudah tahu ? Dari siapa, siapa yang menyampaikan berita itu pada ayah ??". Tuangku Labai Barewah tersenyum, mari kita bicara di dalam.
Ayo mantuku Bagaga Alam. Mari kita masuk kedalam rumah." Tuangku Labai Barewah menepuk pundak Pandeka Pedang Suling Kumala dengan penuh kasih. Mereka berjalan bergandengan menuju rumah gadang utama.
"Bagaimana ayah bisa tahu tentang pernikahan kami...?" Dewi Rimau Kumango kembali bertanya setelah mereka bertiga duduk di anjuang suok rumah gadang.
"Mestinya kalian berdua yang bercerita lebih dulu kepada Ayah."
Dewi Rimau Kumango bertukar pandang dengan suami yang sangat dia cintai, Pandeka Pedang Suling Kumala. Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum kecil dan mengangguk.
"Ayah..." Suara Pandeka Pedang Suling Kumala terdengar sedikit bergetar.
"Pertama daku mohon maaf yang tulus dan sebesar besarnya pada Ayah. Sungguh tidak ada niat di hati untuk melangkahi Ayah."
Harimau Kumango, Tuangku Labai Barewah tersenyum arif dan mengangguk. "Lanjutkan Bagaga."
Pandeka Pedang Suling Kumala kemudian menuturkan dengan rinci dan runtun tentang pernikahan dirinya dengan Dewi Rimau Kumango. Tuangku Labai Barewah mengangguk angguk mendengar penuturan dari Pandeka Pedang Suling Kumala.
"...nah begitulah Ayah. Kami memang dari awal berniat untuk baralek nya di nagari Tangah Sawah ini."
"Baiklah, sekarang kalian berdua istirahat lah. Kamar kalian berada di lantai dua disisi kanan rumah gadang ini. Nanti seusai makan malam, kita bahas bersama rencana baralek kalian." Ucap Harimau Kumango ayahanda Dewi Rimau Kumango.
Setelah Dewi Rimau Kumango dan Pandeka Pedang Suling Kumala beranjak menuju kamar mereka. Harimau Kumango alias Tuangku Labai Barewah menghela nafas lega dan melihat jauh ke balik awan lewat jendela besar yang ada dianjuang rumah gadang.
Tuangku Labai Barewah sekarang bisa bernafas lega. Apa yang dikatakan oleh Datuak Aluih Tapa hampir setahun yang lalu. Masih sangat jelas suara Datuak Aluih Tapa dan selalu terngiang ngiang di telinganya.
"Harimau Kumango, aku sengaja datang untuk menemui mu." Saat itu Tuangku Labai Barewah sedang duduk dianjuang tempat dia duduk saat.
Tentu saja dia kaget mendengar suara. Namun tidak ada sosok makhluk lain disitu. Tuangku Labai Barewah celingukan mencari siapa yang telah bicara.
Tuangku Labai Barewah hampir saja terjengkang ketika satu sosok gagah seorang pria muncul begitu saja dari kehampaan. Pria gagah itu langsung naik ke anjuan dan duduk baselo di hadapan Tuangku Labai Barewah.
Setelah hatinya tenang, Tuangku Labai Barewah bertanya.
"Mohon maaf, siapakah Datuk ? Boleh kah aku yang rendah ini mengetahui siapakah Datuk yang mulia ini ?" Tuangku Labai Barewah menunduk kan tubuhnya dan meletakan jari nan sapuluah didepan wajah.
Siang berlalu dengan cepat. Rumah gadang Tuangku Labai Barewah terlihat lebih sibuk dari biasa.
"Apakah kalian sudah menentukan waktu untuk baralek kalian ?" Tuangku Labai Barewah bertanya kepada Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango. Mereka baru saja usai makan malam bersama.
"Sebetulnya aku dan Lala belum menetapkan waktu untuk baralek Ayah. Karena kami sepakat untuk minta pandangan Ayah lebih dulu." Dewi Rimau Kumango mengangguk mendengar ucapan Pandeka Pedang Suling Kumala. Tuangku Labai Barewah mengangguk. Wajah pria baya itu terlihat cerah.
Mereka bertiga berembuk untuSk menetapkan kapan waktu baralek yang baik. Setelah membahas berbagai hal mulai dari hal kecil printilan, sampai pada hal besar. Seperti kebiasaan adat, telah bulek aiah dek pambuluah dan bulek kato dek mufakaik. Ditetapkan alek diluar satu purnama kedepan.
Sejak malam itu kesibukan di rumah gadang rang Kumango di nagari Tangah Sawah meningkat. Murid murid perguruan silat Kumango menyebar untuk menyampaikan undangan.
Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango menemui uwak gurunya Datuk Rajo Langik di puncak gunung Singgalang. Setelah itu mereka menuju padepokan Alang Babega yang telah pindah ke nagari Ulakan. Mereka melakukan semua itu dengan menggunakan ilmu menembus ruang dan waktu.
Sehingga semua bisa terlaksana dalam waktu yang singkat. Tentu saja mereka juga mengundang Yuvaraja Mauli Balanaga dan lainnya.
Waktu berlalu dengan cepat. Dua puluh hari telah berlalu dalam banyak kesibukan. Sore itu Tuangku Labai Barewah duduk bersama Pandeka Pedang Suling Kumala dan Pendekar Golok Ganda Talaud. Sebuah palanta yang menghadirkan gunung Marapi dan gunung Singgalang serta hamparan sawah dan ladang sebagai pemandangan alam. Dewi Rimau Kumango dan Walet Pasisia muncul membawa kopi panas, teh daun dan kembang marunggai serta beberapa macam cemilan.
"Lingga, Nilam, terimakasih untuk kehadiran kalian yang mau repot repot untuk alek kami."
"Saudaraku Bagaga, apalah pula yang kau ucapkan itu...? Kau adalah satu-satunya saudara ku. Apalah guna ku jika di pesta pernikahan saudara ku saja aku tidak berguna. Bukankah begitu Tuangku Labai ?"
"Kau benar Pendekar Golok Ganda Talaud...."
"Paman Tuangku, panggil aku Lingga saja. Karena semenjak pernikahan kakak Bagaga dengan Nirmala di vihara Budhayana di negeri Siam Sukothai. Kita telah menjadi keluarga."
"Nah karena engkau sudah memanggil aku Paman. Aku baru berani memanggil mu dengan Lingga saja, ha ha haa haaa..."
Mereka tertawa bersama mendengar ucapan Tuangku Labai Barewah yang jelas bercanda.
Sebuah panggung besar akhirnya berdiri di halaman rumah gadang yang sangat luas. Panggung yang akan menjadi tempat pasangan marapulai Jo anak daro dihias dengan sangat bagus. Terlihat sangat megah.
Hari yang di tunggu pun tiba. Alek besar dilaksanakan. Ribuan orang datang menghadiri acara baralek gadang Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango. Mulai dari warga biasa, kaum Ninik mamak dan cerdik pandai, sampai Yuvaraja Mauli Balanaga bersama Dewi Bulan, Senopati muda Hanusa dan keluarga Kiemas juga datang. Mapati Giring Amarta datang bersama Senopati Talang Perigi dan Pati Mantiak Suri, sebagai wakil dari Dapunta Hyang. Tentu saja Nguyen Lan dan Ngo Chian serta Tombak Maut dan Pendekar Bayangan ikut hadir. Bahkan dua orang terakhir tidak lagi kembali ke Dharmasraya. Mereka menetap di nagari Tangah Sawah.
Dari kaum rimba hijau datang para Patriak sekte, padepokan dan Klan. Bahkan guru Pandeka Pedang Suling Kumala, Datuk Rajo Langik ikut hadir.
Alek besar itu berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan.
\=\=\=\=\=***\=®
# minyak tanak - minyak manih \= minyak goreng yang dibuat dari santan kelapa, yang dimasak.
# baralek \= pesta pernikahan. Baralek gadang \= pesta besar besaran
# alek \= menyiapkan segala sesuatu sampai acara pesta terlaksana.