NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kiara yang masih merasakan nyeri di sekujur tubuhnya terpaksa memaksakan diri bangun. Ia harus membantu Mbak Asih memasak, jika tidak hukumannya akan ditambah dan ia tak akan diberi makan. Dengan susah payah Kiara berusaha bangkit dari tempat tidur dan melangkah perlahan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, tampaklah Anton berdiri di sana dengan wajah dingin dan datar. Pandangannya tertuju pada luka-luka di lengan Kiara, serta bekas tamparan di pipinya yang merupakan perbuatan Risma.

Anton hanya menghela napas melihat keadaan itu. Selama ini ia tak pernah menanyakan kondisi Kiara, bersikap acuh tak acuh setiap kali gadis itu diperlakukan kasar dan kejam oleh Risma. Bahkan ketika Angga pernah membuat Kiara terjatuh hingga kepalanya terbentur, barulah Anton terpaksa membawa Kiara ke rumah sakit.

“Obati lukamu,” hanya itu yang terucap dari mulut Anton. Ia lalu menyodorkan sejumlah uang kepada Kiara.

“Tidak usah, Pa. Kiara sudah sembuh. Lebih baik uang itu Papa simpan saja. Kiara tidak ingin menambah masalah lagi,” tolak Kiara lembut.

“Ambil saja, dan jangan beritahu ibumu soal ini,” ucap Anton tetap dengan nada dingin.

“Tolong jangan, Pa… Kiara mohon…” Kiara takut jika nanti diketahui Risma, ia akan kembali dipukuli padahal lukanya saja belum sembuh sempurna.

“Baiklah kalau begitu.” Anton pun berbalik dan pergi meninggalkan Kiara menuju ruang tamu. Kiara hanya menatap punggung lebar ayahnya dengan perasaan sedih, lalu ia pun berjalan menuju dapur.

 

Sementara itu, di kamar Rico masih terlelap pulas hingga tak mendengar suara alarm ponselnya. Padahal hari ini ia dijadwalkan pergi ke kantor, karena ayahnya menugaskannya untuk mulai belajar memegang kendali di salah satu anak perusahaan. Ia masih tidur nyenyak dengan bantal menutupi sebagian wajahnya.

Di luar kamar, Angga yang sudah rapi dan siap berangkat mengetuk pintu adiknya.

Tok… tok… tok…

“Rico! Bangun, woy! Hari ini kau harus ke kantor!” teriak Angga dari balik pintu, namun tak ada jawaban sedikit pun dari dalam.

“Dasar anak ini, susah sekali dibangunkan,” gerutu Angga. Ternyata pintu kamar tidak terkunci, sehingga ia langsung masuk dan mencoba membangunkan Rico.

“Hei, bangun!” Angga mengguncang tubuh adiknya dengan kasar, namun Rico tetap tak bergerak. Akhirnya Angga mengambil segelas air di atas nakas, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Rico.

Rico tersentak kaget dan terbatuk-batuk, lalu terbangun seketika.

“Apa-apaan sih, Mas! Padahal aku sedang bermimpi indah, malah dibangunkan dengan cara begini,” omel Rico sambil mengusap wajahnya yang basah.

“Makanya jangan susah dibangunkan! Cepat bangun, Papa sudah menunggu di bawah,” sahut Angga. Ia lalu berbalik keluar dari kamar, meninggalkan Rico yang masih mengantuk dan kesal. Namun tak ada pilihan lain, Rico pun bangkit dan berjalan masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya.

 

Di lantai bawah, Anton dan Risma sedang duduk menikmati teh hangat dan biskuit di meja ruang tamu. Tak lama kemudian, Angga datang dan duduk di samping Risma.

“Loh, teh untuk Angga mana, Ma?” tanya Angga.

“Sebentar lagi, sedang dibuat oleh gadis tak tahu diri itu,” jawab Risma ketus.

“Adikmu sudah bangun?” tanya Anton.

“Sudah, Pa. Sedang mandi sekarang,” jawab Angga sambil memainkan ponselnya.

Tak lama berselang, Kiara datang membawa nampan berisi dua gelas teh. Ia meletakkan satu gelas di hadapan Angga, dan satu lagi di sampingnya.

Melihat itu, Risma merasa tidak senang dan segera mencari kesalahan Kiara.

“Kenapa kau buat dua gelas teh? Kenapa tidak cukup satu saja untuk Angga?” tanyanya dengan nada tajam.

“Maaf, Ma. Satu lagi ini Kiara buat untuk Mas Rico juga,” jawab Kiara pelan.

“Memang selalu saja ada alasan! Lain kali kalau membuat, cukup satu saja. Lagi pula Rico belum juga turun dari kamar!” sewot Risma.

Angga yang melihat Kiara hanya menghela napas kasar. “Lain kali jangan cari masalah. Pagi-pagi sudah bikin suasana jadi buruk. Sudah sana, pergi ke dapur dan jangan tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!” bentaknya.

Pada saat itu, Rico yang sudah berpakaian rapi turun dari tangga. Ia melihat kembali Kiara yang dimarahi oleh ibu dan kakaknya. Yang membuat hati Rico semakin geram adalah sikap ayahnya yang diam saja, tidak membela sedikit pun dan seolah tak melihat apa yang terjadi.

“Apa-apaan kalian ini? Pagi-pagi sudah memarahi Kiara! Apa salahnya dia sebenarnya?” sahut Rico sambil mendekati Kiara. “Kau tidak apa-apa, Ra?” tanyanya lembut.

“Kiara tidak apa-apa, Mas,” jawab Kiara pelan.

“Eh, eh, eh! Jangan-jangan kau mau membela gadis kampungan ini? Ingat, jangan coba-coba membela dia kalau tidak mau kena masalah juga!” ancam Risma.

“Baiklah, aku tidak membela. Tapi kenapa dia dimarahi kali ini?”

“Dia membuat teh dua gelas! Seharusnya cukup satu saja untukku!” sahut Angga.

“Ah, cuma soal teh saja sampai ribut begini,” gumam Rico santai. Ia lalu mengambil gelas teh yang ada di samping Angga dan meminumnya hingga tandas.

“Ri… Rico! Hati-hati, teh itu masih panas!” seru Risma terkejut.

“Biasanya kalau Kiara yang membuatkan untukku, tidak pernah terlalu panas kok, Ma. Sudahlah, Kiara, sana mandi dulu. Nanti kita sarapan bersama. Sudah lama rasanya aku tidak makan bersama denganmu,” ucap Rico ramah. Kiara pun mengangguk dan pamit menuju dapur.

“Kenapa sih kau malah menyuruhnya mandi dan mengajaknya makan bersama?” tanya Risma kesal. Anton yang mendengar itu hanya bisa menghela napas panjang karena jengah.

“Sudahlah, Risma. Jangan sampai urusan sarapan pun kau jadikan masalah,” ucap Anton.

“Wah, sekarang Papa malah membela dia juga?” sahut Risma dengan nada tinggi.

“Cukup, Risma! Aku bilang cukup! Bisakah kau tidak merusak suasana pagi ini?” desis Anton geram. Ia lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju ruang kerjanya.

“Dasar menyebalkan,” gumam Risma kesal.

“Sudahlah, Ma. Lebih baik kita duduk di belakang saja, dekat kolam,” ajak Angga tanpa memedulikan keberadaan Rico di sana.

Risma dan Angga pun berjalan menuju halaman belakang sambil membawa teh masing-masing. Sementara itu, Rico masih duduk di ruang tamu dengan senyum tipis yang penuh arti. Sepertinya ia mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain. Ia memang sering bersikap misterius, terkadang membuat kedua orang tuanya marah karena kelakuannya, namun senyumnya pagi itu terasa berbeda—bahkan membuat siapa saja yang melihatnya merasa ngeri sekaligus penasaran.

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!