Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Paket Kematian
"Layar sialan!" umpat Cala pelan. Jarinya menekan layar sentuh itu berulang kali dengan brutal, namun tetap tidak ada respons sama sekali. Benda canggih di dinding itu benar-benar mati seolah aliran listriknya dicabut paksa dari luar.
Bel apartemen berbunyi untuk ketiga kalinya. Suaranya terdengar makin melengking dan mengancam di telinga Cala.
"Siapa di luar?" teriak Cala dari balik pintu baja.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian mencekam yang menyusul teriakan tersebut.
Otak Cala bekerja sangat cepat. Aturan dasar bertahan hidup di situasi berbahaya adalah jangan pernah membuka pintu untuk orang asing. Ia bukan wanita bodoh yang rela menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma.
Ia mengangkat ponselnya kembali. Jari-jarinya dengan sigap menekan nomor kontak darurat yang diberikan oleh komandan kepolisian saat di markas tadi. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum suara bariton yang tegas menjawab panggilan tersebut.
"Bantuan darurat. Ada masalah di sana, Cala?"
"Pak Komandan, ada orang misterius di depan pintuku! Layar interkom keamanan tiba-tiba mati total. Mobil van hitam mencurigakan masih terparkir di seberang gedung. Tolong kirimkan anggota Bapak sekarang juga!" lapor Cala secepat kilat tanpa jeda bernapas.
"Jangan sentuh gagang pintunya. Mengunci ganda dari dalam. Tim pengawas tersembunyi kami sedang bergerak naik ke lantai delapan detik ini juga," perintah komandan dengan nada tegang. Sambungan langsung terputus sepihak.
Cala mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak meja konsol. Tangannya merogoh tas selempang, mencari tabung semprotan merica andalannya. Ia menggenggam benda kecil pelindung nyawanya itu erat-erat. Jantungnya berdebar kencang, tapi matanya menatap nyalang ke arah pintu. Ia siap melawan siapa pun yang berani mendobrak masuk.
Suara derap langkah kaki berat terdengar samar dari arah lorong luar. Bukan satu atau dua orang, melainkan gerombolan. Terdengar suara teriakan taktis dan bunyi orang lari-lari menyusuri lorong panjang.
"Area aman! Lorong bersih!"
Suara petugas kepolisian terdengar menembus pintu tebal apartemen. Disusul ketukan keras tiga kali berturut-turut.
"Cala, ini tim pengamanan khusus! Buka pintunya sekarang!" seru seorang pria dari luar.
Cala tidak langsung percaya. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu. "Sebutkan kode sandi darurat dari komandan!"
"Elang Merah."
Cala menghela napas panjang. Beban berat di dadanya terangkat seketika. Ia memutar kunci ganda dan membuka pintu baja itu secara perlahan.
Lorong apartemen kini dipenuhi oleh empat petugas berseragam rompi pelindung dan senjata api. Mereka sibuk menyisir setiap sudut lorong, memastikan tidak ada penyusup yang bersembunyi.
"Kamu aman, Cala," ucap petugas yang berdiri paling dekat dengan pintu. Pria itu menunjuk ke arah lantai, tepat di depan keset apartemen. "Orang yang menekan bel sudah kabur lewat tangga darurat. Dia memotong kabel daya kamera interkom, lalu meninggalkan ini."
Mata Cala turun mengikuti arah telunjuk petugas tersebut. Sebuah kotak kardus cokelat berukuran sedang tergeletak rapi di atas keset. Tidak ada nama pengirim, tidak ada resi, apalagi nama penerima. Kardus itu terlihat sangat polos.
"Apakah itu bom?" tanya Cala ngeri. Ia memundurkan kakinya masuk kembali ke dalam apartemen.
"Tim penjinak peledak sedang dalam perjalanan ke mari," jawab petugas itu.
Suara denting lift khusus penghuni berbunyi nyaring. Pintu lift terbuka lebar.
Sosok Ronan melangkah keluar dengan gerakan sangat tergesa-gesa. Kemeja hitamnya berantakan. Napas pria itu memburu cepat, dadanya naik turun dengan ritme tidak beraturan. Garis wajahnya terlihat kaku, rahangnya mengeras, namun ada kilat kepanikan yang sangat jelas tergambar di kedua matanya.
Pria yang selalu berjalan santai dengan gaya arogan itu kini setengah berlari melewati para petugas kepolisian. Ia berhenti tepat di depan Cala, menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan memindai layaknya mesin medis.
"Kamu terluka? Ada cairan kimia yang terhirup? Ada kontak fisik?" tanya Ronan beruntun dengan suara serak.
Cala terpaku sesaat. Ini pertama kalinya ia melihat dokter forensik yang sedingin es itu kehilangan ketenangannya. Ronan benar-benar terlihat sangat panik dan peduli.
"Aku baik-baik saja, Dokter. Pintunya tertutup rapat. Aku langsung menelepon polisi sesuai protokol akal sehatku," jawab Cala. Ia berusaha terdengar sangat tangguh.
Ronan menutup matanya rapat-rapat, mengembuskan napas panjang. Ia merapikan kerah bajunya dengan kasar, berusaha mengambil alih kembali kendali dirinya dari kepanikan sesaat.
"Bagus. Berarti otakmu masih berfungsi normal di bawah tekanan," ucap Ronan kembali ke nada angkuh andalannya, meski dadanya masih naik turun. Pria itu menoleh menatap kotak kardus cokelat di lantai lorong. "Barang apa ini?"
"Paket tanpa identitas. Ditinggalkan oleh orang yang merusak kamera luar," jelas petugas kepolisian. "Biar kami yang membawanya ke markas untuk dianalisis, Dokter."
"Tidak perlu," tolak Ronan cepat. Ia melangkah maju, menghalangi petugas yang hendak mengambil kotak tersebut. "Kalian bisa merusak sidik jari mikro atau jejak residu di permukaan kardusnya. Bawa kotak ini masuk ke dalam ruang tamuku."
"Tapi Dokter, ini bisa jadi bahan peledak," sanggah petugas itu ragu.
"Aku merancang sistem keamanan gedung ini. Detektor metal dan pemindai bahan kimia di pintu lobi bawah akan berbunyi nyaring dan mengunci seluruh gedung jika ada bahan peledak yang lewat. Kotak ini lolos karena isinya material organik murni. Angkat perlahan dan letakkan di atas meja bajaku," perintah Ronan sangat tegas.
Petugas kepolisian akhirnya mengalah. Mereka memakai sarung tangan tebal, mengangkat kotak itu dengan sangat hati-hati, lalu membawanya masuk dan meletakkannya di atas meja. Setelah memastikan situasi lorong aman, para petugas itu berjaga di luar pintu.
Ronan berjalan cepat menuju lemari kaca penyimpanannya. Ia mengambil sepasang sarung tangan lateks putih, memakainya dengan gerakan cekatan. Pria itu menatap kotak cokelat tersebut layaknya elang yang siap membedah mangsa.
Cala berdiri tidak jauh dari meja, memeluk lengannya sendiri. Rasa penasaran bercampur ketakutan membuatnya tidak bisa memalingkan pandangan.
"Apakah aman membuka benda tidak jelas itu di dalam apartemenmu sendiri?" tanya Cala ragu.
"Satu-satunya hal berbahaya yang masuk ke apartemenku sejauh ini hanyalah parfum bungamu," balas Ronan tajam tanpa menoleh. Pria itu mengambil pisau bedah bermata sangat tipis dari dalam kotak peralatannya.
Ronan menggeser pisau itu perlahan di sepanjang celah kardus, memotong pita perekat yang mengunci kotak tersebut tanpa merobek kardusnya. Gerakannya sangat presisi dan teliti.
Celah kardus terbuka. Hening seketika menyelimuti ruang tamu yang luas itu.
Tidak ada ledakan, tidak ada gas beracun, dan tidak ada alarm bahaya yang berbunyi nyaring.
Namun, saat Ronan membuka penutup kardus itu sepenuhnya, aroma yang sangat kuat langsung menyerbu indra penciuman mereka. Bukan bau bahan kimia berbahaya, melainkan bau wewangian alam yang memabukkan sekaligus menusuk hidung.
Ronan terdiam kaku. Matanya menatap tajam ke dalam kotak tersebut. Rahangnya mengeras melihat isi di dalamnya.
Cala maju selangkah, memberanikan diri mengintip benda di atas meja. Napasnya tercekat hebat. Tangannya langsung menutupi mulutnya sendiri.
Di dalam kardus cokelat kusam itu, terbaring sebuket bunga segar yang disusun sangat rapi. Bunga-bunga itu memiliki kelopak besar berwarna putih bersih, sangat kontras dengan pita hitam pekat yang mengikat bagian tangkainya. Bunga yang sangat familier bagi seorang perencana pernikahan seperti Cala.
Ronan mengeluarkan sekuntum bunga tersebut menggunakan capit besinya, lalu meletakkannya di bawah cahaya lampu terang. Pria itu memeriksa serbuk sari di kelopaknya dengan tatapan mematikan.
"Bunga lili putih," bisik Cala dengan suara gemetar parah, menatap kosong pada simbol duka cita segar di depannya.
Ronan meletakkan capit itu kembali, menoleh menatap mata Cala. "Bunga kematian.
berasa nonton adegan action