"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTRAKSI DAN SEBUAH DUGAAN
Malam berganti pagi, membawa ketegangan yang kian memuncak di kediaman Dirgantara. Baru saja fajar menyingsing, jeritan histeris dari arah kamar utama memecah keheningan mansion. Keysha tersungkur di lantai marmer, mencengkeram perutnya yang membuncit dengan wajah yang memucat pasi akibat peluh dingin yang bercucuran.
Janin yang ada di dalam rahimnya memaksa ingin keluar jauh sebelum hari perkiraan lahir (HPL) yang ditentukan dokter. Kontraksi hebat melanda Keysha secara mendadak.
Arga yang baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kampus segera menghampiri sumber suara. Meskipun hatinya dipenuhi rasa muak yang teramat dalam karena tahu janin itu bukanlah darah dagingnya, naluri kemanusiaannya sebagai seorang pria berpendidikan tidak membiarkannya tinggal diam.
"Mas... sakit, Mas! Tolong aku... bayinya, Mas!" jerit Keysha tersengal-sengal, mencengkeram ujung celana bahan Arga dengan sisa-sisa tenaganya.
Arga mengembuskan napas pendek, menekan egonya dalam-dalam. "Tahan, saya telepon ambulans sekarang," ucapnya dengan suara bariton yang datar namun sigap.
Namun, air ketuban Keysha ternyata sudah pecah membasahi lantai. Keadaan menjadi sangat darurat. Dengan cekatan dan setenang mungkin, Arga membantu memindahkan tubuh Keysha ke atas ranjang. Di bawah panduan darurat dari tim medis rumah sakit yang dihubungi lewat telepon, Arga terpaksa turun tangan membantu proses persalinan darurat tersebut sebelum ambulans tiba di kediaman mereka. Bagaimanapun juga, keselamatan nyawa manusia di hadapannya tetap menjadi prioritas utama.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer di ruang kelas Fakultas Ekonomi terasa sangat bertolak belakang. Di barisan bangku tengah, Queen duduk dengan menyangga kepalanya menggunakan kedua tangan. Wajah baby face-nya yang biasanya memancarkan binar nakal nan ceria, kini tampak pucat pasi bagai kekurangan darah.
"Ugh..." Queen melenguh pelan, tangan kanannya refleks meremas perutnya sendiri. Tiba-tiba saja, rasa mual yang teramat hebat bergejolak di ulu hatinya, membuat lambungnya serasa diaduk-aduk tanpa ampun.
Karin yang duduk tepat di sebelah Queen langsung menyadari perubahan drastis sahabatnya itu. Sebagai sahabat yang paling peka, pengertian, dan keibuan, Karin langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Queen.
"Eh, Queen! Lo kenapa? Muka lo pucat banget gila, kayak mayat hidup," tanya Karin panik, menatap cemas ke arah sahabat cegil-nya. "Lo lagi sakit, ya? Belum sarapan lu pasti?"
"Gak tahu, Rin... tiba-tiba pusing banget, terus... hoek..." Queen membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan, berusaha sekuat tenaga menahan cairan yang hendak mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Aduh, ya ampun! Lo tunggu di sini bentar ya. Gue ke UKS dulu mintain minyak kayu putih sama teh anget buat merendahkan rasa mual lo," ucap Karin cekatan. Tanpa menunggu jawaban Queen, gadis itu langsung berdiri dan berlari keluar kelas menuju ruang kesehatan kampus.
Setelah Karin menghilang di balik pintu, tinggal Queen dan Alya yang tersisa di bangku tersebut. Alya yang sejak kemarin sudah mengetahui rahasia besar hubungan intim antara Queen dan kakak kandungnya, Arga, langsung menyipitkan mata bulatnya. Alih-alih panik seperti Karin, ekspresi Alya justru berubah menjadi sangat menyelidik dan penuh kecurigaan.
Alya memajukan tubuhnya, berbisik sangat pelan di dekat telinga Queen. "Heh, Queen. Lo jujur sama gue sekarang."
"Apaan sih, Al... pala gue muter nih," keluh Queen dengan suara lemas.
"Jangan-jangan... lo hamil, ya?" tebak Alya blak-blakan dengan nada berbisik namun sarat akan penekanan. "Gue tahu ya, lo berdua abis 'main' kan kemarin siang di apartemen, terus di kantor privat Mas Arga juga. Gue mau nanya... selama berhubungan badan sama kakak gue, dia buangnya di dalam atau di luar?"
Mendengar pertanyaan frontal bin ugal-ugalan dari calon adik iparnya, Queen seketika membelalakkan matanya yang sayu. Rasa mualnya mendadak terdistraksi oleh rasa malu yang menjalar hingga ke leher.
"Di dalam..." jawab Queen jujur dengan suara yang teramat cicit dan wajah yang mendadak memerah tipis di tengah kepucatannya. Namun, ia segera membela diri. "Tapi... masa langsung jadi sih, Al? Perasaan baru beberapa kali doang semenjak resmi pacaran rahasia."
Alya langsung menepuk jidatnya sendiri, menatap Queen dengan pandangan gemas sekaligus tidak percaya. "Ya ampun, Queen! Ya gimana gak langsung jadi, Cegil! Lo berdua itu rutin banget melakukannya sama Mas Arga! Kakak gue itu pria matang yang subur, dan lo juga lagi di usia produktif. Ditambah lagi, emang dasar lo-nya aja yang ugal-ugalan pasrah dimakan sama dia!"
Queen hanya bisa mengerucutkan bibirnya lemas, tidak punya tenaga lagi untuk mendebat ucapan bar-bar Alya yang entah kenapa ada benarnya juga.
Alya kemudian melirik ponselnya, membaca pesan singkat dari asisten rumah tangga di mansionnya yang mengabarkan situasi darurat di sana. Senyum miring penuh kemenangan terukir di bibir Alya.
"Kebetulan banget, Queen. Hari ini nenek sihir itu lagi kontraksi hebat dan lagi melahirkan di rumah dibantu Mas Arga sebelum ambulans dateng," bisik Alya penuh arti. "Nanti pulang kampus, kita langsung ke apotek beli testpack, terus kita periksa ya. Kalau lo beneran hamil anak Mas Arga, ini bakal jadi skakmat paling epik buat mendepak Keysha dari keluarga Dirgantara untuk selamanya!"