Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Billboard Scandal (B)
Raphael tak menjawab. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku dalam jasnya, menarik sebatang, menyalakannya perlahan dengan korek perak. Sekilas, wajah tegas dan gagahnya tampak tersembunyi di balik kabut asap dan cahaya kelap-kelip Times Square.
Setelah menghembuskan napas panjang, pria itu hanya mengangkat dagunya, mengisyaratkan Emily untuk menoleh ke arah yang ia maksud.
Dengan alis mengernyit, Emily mengikuti arah pandang sang pria. Dan saat itulah matanya kemudian membelalak—nafasnya tercekat.
Seketika.
Di tengah keramaian Times Square, tepat di permukaan raksasa Gedung One Times Square, terpampang layar LED yang memutar sebuah video. Video itu tanpa sensor menampilkan sosok yang sangat mirip dirinya. Seorang wanita yang tampak seperti Emily sedang terlibat dalam adegan intim dengan dua pria paruh baya. Di bagian bawah video, tercetak tulisan besar:
"Seberapa jauh seorang wanita akan melangkah untuk menyelamatkan bisnisnya? Menjual tubuh demi kekuasaan? Lihat skandal yang sebenarnya terungkap."
Kepalanya mendadak berat. Hampir limbung tubuhnya.
"Tidak...," bisiknya lirih, tak terdengar di antara hiruk-pikuk obrolan, suara kamera ponsel, dan bisik-bisik penasaran orang-orang yang mulai menyadari tayangan itu.
Suara tawa, gumaman jijik, bahkan teriakan kaget dari kerumunan turis dan warga lokal mulai membanjiri sekitar.
Sesak. Dadanya terasa nyeri seperti ditusuk duri-duri panas. Emily berdiri membeku, rahangnya mengeras, matanya mulai berair. Bukan karena bersedih, melainkan marah. Sungguh. Marah karena ia tahu siapa pelakunya. Sudah pasti. Andrew. Si bajingan itu. Ia kembali melakukan serangan murahan seperti ini.
Namun Emily tidak akan menangis. Tidak. Tak rela air matanya jatuh sia-sia untuk sesuatu yang bukan dirinya. Tidak di depan Raphael. Tidak di hadapan kota.
Dengan geram, ia mengepalkan tangannya. "Brengsek.." cibirnya bergetar.
Raphael yang masih menghisap rokoknya, kini mengalihkan pandangan ke arah wanita itu. Tatapan matanya tajam dan dalam sebagaimana biasanya ia memandang, namun tak ada cengiran licik atau komentar sarkas di wajahnya.
"Sekarang kau paham kenapa aku menyeretmu keluar dari kantormu itu?"
Emily menoleh sekilas ke arahnya dengan tatapan sulit dibaca, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia hanya memutar tubuhnya dan melangkah hendak menjauh dari tempat itu, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang sudah panas tersulut amarah dan rasa malu.
Namun langkahnya terhenti kala Raphael menangkap pergelangan tangannya. Tubuh mereka kini hanya berjarak satu tarikan napas. Sisa asap rokoknya masih mengudara di sekitar wajah sang pria.
"Mau ke mana kau pergi?" tanya Raphael.
Emily menarik tangannya dengan kasar, menatap pria itu dengan dingin. "Ke mana pun aku pergi, itu bukan urusanmu."
Ia kembali mencoba melangkah, namun sekali lagi Raphael mencegatnya. Tangannya menjulur kini, menahan bahu Emily dengan sedikit menekan agar tidak bergerak lebih jauh.
"Itu urusanku," tegasnya. "Aku yang membawamu ke sini. Aku juga yang akan mengantarkanmu pulang."
Emily mendengus pelan. "Aku bisa menyuruh supirku menjemput. Jangan bertingkah seolah kau—"
"Sok jadi pahlawan?" potong Raphael, satu alisnya terangkat sinis. "Too late for that, sweetheart."
Sebelum Emily sempat melayangkan makian berikutnya, Raphael membungkuk sedikit, menyambar pinggangnya, dan cepat-cepat mengangkat tubuh wanita itu ke dalam mobil.
"Raphael—what the hell?! Turunkan aku!" seru Emily, terpekik.
Beberapa orang menoleh ke arah mereka, namun Raphael tampak sama sekali tak peduli. Ia menutup pintu mobil di sisi penumpang, lalu berjalan santai ke sisi pengemudi.
Sesaat kemudian, mesin Lamborghini itu meraung gagah, menyatu dengan gemuruh jalanan Manhattan.
"Kau benar-benar gila," lontar Emily sinis pada Raphael. Ingin sekali ia jambak dan cabik-cabik wajah pria birahi itu. Sialan.
...•••...
"Sudah kubilang, aku tidak mau makan!" hardik Emily, garang. Ini sudah entah keberapa kalinya perdebatan kecil mereka terjadi, apalagi saat ia mulai menyadari bahwa mobil Raphael kini melaju semakin dekat ke arah sebuah restoran mewah tak jauh dari Manhattan Bridge.
Raphael mengeratkan genggamannya pada stir. "Tidak ada juga yang mengajakmu makan, Nona Cooper," balasnya dingin. "Ini sudah lewat jam makan malamku. Aku lapar. Aku harus makan."
Emily mengerutkan alis, jengkel. "Kalau begitu, turunkan aku di sini. Sudah kubilang aku tidak mau ikut denganmu!"
Raphael menoleh sekilas, matanya memejam sejenak, pun kemudian mendecak pelan. Kesabarannya habis. Berisik sekali wanita ini yang tiada henti-henti mengomel. Menyusahkan!
Tiba-tiba, ia menginjak rem tajam, mobil itu berhenti mendadak. Ban depan berdecit keras di aspal, membelah kesunyian malam dengan suara nyaring. Tubuh Emily sontak terlempar sedikit ke depan, membuatnya nyaris membentur dashboard. Ia menahan diri dengan satu tangan, terperangah.
"Keluar," ucap Raphael datar, namun sorot matanya begitu gelap.
Emily diam, matanya menyipit menahan marah kala menatap pria itu.
"Ku bilang keluar!" ulang Raphael, kali ini dengan membentak, tak ingin berdebat lagi. Pusing sudah dia.
Emily mengepalkan tangan, giginya terkatup rapat. "Brengsek kau," umpatnya sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan turun. Di bantingnya kuat pintu mobil itu dan segera melangkah cepat, menjauh.
Di belakangnya, suara mesin Lamborghini kembali meraung, melaju gesit dan berbelok tajam ke arah kiri. Ia mendengarnya pergi, namun tak sedikit pun menghentikan langkahnya. Emily terus berjalan menyusuri trotoar malam New York, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya. Tak peduli.
Berjalan Emily terus tanpa arah, membiarkan langkahnya mengembara entah ke mana. Angin malam Manhattan yang dingin tam mampu menetralkan suasana hati dan pikirannya yang kalut.
Ia sudah terlalu lelah secara mental, emosional, bahkan fisik. Sebulan terakhir hidupnya tak ubahnya ladang ranjau, penuh jebakan licik Andrew dan taktik kotor yang menghancurkan martabatnya sedikit demi sedikit. Dan Raphael? Pria itu hanya menambah kekacauan dalam daftar panjang yang tak pernah ia harapkan.
Ia baru tersadar ketika kakinya membawanya ke tengah-tengah Manhattan Bridge. Deru kendaraan lalu-lalang di sekitarnya tak membuyarkan lamunannya. Ia seperti seonggok daging tanpa nyawa, berjalan sendirian di antara kerlap-kerlip lampu kota yang tampak jauh di seberang.
Tatapannya kosong saat menunduk menatap permukaan air gelap yang membentang tenang antara Manhattan dan Brooklyn. Di kejauhan, cahaya dari Jembatan Brooklyn berpendar lembut nan indah. Udara malam merasuk ke tulangnya, tapi ia tetap berdiri di sana, diam seperti patung, membiarkan waktu habis.
Sampai akhirnya, langkah dua pria mendekat dari arah belakang. Suara tawa yang sedikit mabuk menginterupsi keheningan damainya.
"Hei, nona cantik... malam-malam begini berdiri sendirian di jembatan? Kau mau bunuh diri?" tanya salah satu pria sambil mendekat, suaranya diiringi tawa sumbang.
"Sayang sekali kalau mati," timpal pria satunya, mengedarkan pandangan nakal ke tubuh Emily, dari atas sampai ke bawah, penuh niat buruk. "Kalau kau butuh pelarian, kenapa tidak ikut kami saja? Kami bisa membantumu lebih rileks. Bahkan akan kami bayar, tergantung seberapa... baik servismu," katanya dengan intonasi menghina.
Tawa mereka meledak, kasar dan menjijikkan.
Emily masih tak menjawab. Matanya tetap terpaku ke arah cahaya di seberang, tak sudi memberikan mereka sedikit pun balasan. Tak guna. Tapi tubuhnya mulai menegang ketika satu dari mereka mulai mendekat, kian mendekat dan terlalu dekat.
Pria itu menyentuh ujung lengan mantelnya, mencoba meraih tangan mungil Emily.
Namun dalam sekejap, Emily menepis tangan itu dengan keras, membuat pria tersebut terhuyung mundur. Meringis disengaja, persis seperti orang gila. Terlalu berlebihan.
"Sentuh aku lagi, dan kupastikan tanganmu tidak bisa kau gunakan lagi," ucapnya tajam.
Kedua pria itu tampak kaget sejenak, atau lebih tepatnya pura-pura kaget. Pun kini tertawa semakin keras.
"Ganas juga ternyata. Tapi yang seperti ini biasanya paling liar di ranjang," ejek salah satu dari mereka sambil kembali mendekat.
Emily segera mengangkat kepalan tangannya tinggi di udara. "Jangan mendekat, atau kupukul!" ancamnya.
Alih-alih takut, mereka justru tertawa lebih keras.
"Aw... I'm so scared," ucap pria itu berlakon gemetar. "Lihat, temanku... dia mau main keras rupanya."
Langkah mereka kian dekat. Emily mundur satu-dua langkah, tapi mereka sudah mulai mengepung, menyudutkannya ke sisi pembatas jembatan.
"Pergi!" teriak Emily, suaranya menggema di antara deru kendaraan yang lalu-lalang tak acuh.
Tapi tentu saja, dua pria bajingan itu tak peduli. Senyum mereka penuh nafsu, dan dalam hitungan detik, keduanya serempak menjulur tangan dan memeluk Emily dari dua sisi—merenggut tubuhnya.
Emily mulai menggeliat berontak, menjerit pun memukul, sebisanya ia mencakar, apapun untuk lepas dari cengkeraman menjijikkan itu. "Lepaskan aku! Tolong!!" teriaknya nyaring.
Tapi sialnya, tak ada yang mendengarkan. Tak ada yang peduli.