Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Langkah kaki berayun pelan. Menciptakan pola unik, bekas sepatu yang tertanam. Di bawah cahaya lembut rembulan. Serta puluhan lampu taman, yang menyorot samar keindahan bunga tabebuya bermekaran.
"Momon"
"Hmm"
"Tadi kok lo lama"
"Biasa"
"Biasa apa?"
"Gitu deh"
"Wajah lo tadi kaya beda"
"Biasa ajah"
"Tapi momon..."
"Cerewet" ia genggam erat jemari lentik gadis di sampingnya.
"Eh eh eh, kita mau kemana ?"
"Pulang"
"Yaah... gue bosen dikamar mulu"
Helaan kecil terdengar. Sepasang remaja berjalan tanpa jeda. Si gadis mengikuti tanpa suara.
"Kita mau kemana momon? dibilang gue bosen di kamar, juga"
"Belum ada seminggu lo udah bosen?"
"Hehehe"
Ting
Pintu besi terbuka otomatis. Bagaikan terhipnotis, Naysilla melangkah keluar dengan mata berbinar. Pandangannya meliar, menangkap indah dari segala sisi dunia disekelilingnya.
Tak tinggal diam, Mohan keluar dari lift dengan langkah pelan. Penglihatannya terfokus pada satu titik keindahan. Gadis berambut panjang terurai yang tersorot cahaya malam.
"Cantik" bisiknya lirih.
"Iyah cantik banget. Indah banget. Bagus, sejuk, nyaman. Gue suka tempat ini momon" ucapnya dengan mata mengarah pada taman dibawah.
"Gue juga suka" bisiknya lirih, dengan mata yang belum teralih.
*****
Secangkir kopi dan Milo panas tersaji di meja. Di temani sepiring pisang goreng dan satu toples kecil kue bawang yang terlihat menggoda.
Naysilla terlihat begitu sibuk dengan lembaran kertas dan pena. Sesekali ia menyeruput Milo hangat, lantas tersenyum sambil menuangkan imajinasinya.
Mohan menatap sejenak gadis yang tengah berkreasi.Bibirnya tersenyum samar, lantas membuang muka, untuk menutupi perasaan aneh yang datang tiba-tiba.
"Lo suka menggambar?"
"Iya"
"Sejak kapan?" ditatapnya kembali gadis itu.
"Ngga ingat awal mulanya kapan. Tapi sejak kecil gue udah suka menggambar sih, bisa dibilang hobi ku menggambar"
"Itu artinya, lo suka melukis sejak kecil oon" ucapnya sarkas, lantas memutar bola matanya malas.
"Ih, engga momon, aku mulai suka lukis itu baru-baru ajah, belum lama. Kalo menggambar itu dari kecil"
"Emang apa bedanya gambar sama lukis?" Ditatapnya lamat-lamat wajah gadis memasang wajah polos tanpa dosa itu.
"Ya jelas beda lah momon. Gambar itu pake media kering. Semisal kertas dan pena. Sedangkan melukis itu pake media basah, kuas dan kanvas"
"Oh"
"Lo tau ngga, menggambar itu bukan sekedar hobi. Ini sebagai sarana buat meluapkan emosi atau perasaan yang ngga bisa di ungkapkan lewat kata"
"Kan Lo bisa nulis diary, Na"
"Tulisan tangan gue jelek momon"
pppffff......
"Apa ketawa?"
"Ngga ada"
Di sisi lain, sosok pria berhoodie hitam bersembunyi dibalik kegelapan. Ia membidik potret kebersamaan sepasang remaja.
Selepas sosok pria misteri itu hilang, sosok asing lain datang dengan tujuan yang sama.
*****
"Momon tungguin!" Seorang gadis berseragam SMA, lari terseok-seok diatas rumput basah.
"Ngapain lari?" ucap Mohan acuh. Ditatapnya sekilas gadis berambut panjang itu. Dengan gayanya yang cool, ia masukkan tangan disaku celana, lantas berlalu tanpa kata. Menyebalkan sekali bukan?
"Momon, tungguin ih...! Lo jalannya cepet banget sih, gue ajah sampe lari gini, tapi mesih ajah ketinggalan"
"Kaki lo pendek"
"Kaki lo yang kepanjangan"
"Cerewet" digenggamnya erat-erat jemari lentik gadis itu. Tanpa mempedulikan ocehan, ia menulikan pendengaran. Fokusnya hanya satu, berangkat cepat tanpa terlambat.
Tapi sayangnya, kali ini waktu kembali tak berpihak padanya.
"Yang terlambat harap segera masuk barisan! Eh kalian... jangan pacaran Mulu! Ayo cepat masuk barisan...!"
Pekik ketua OSIS menggema keras di tengah lapangan, bersahutan lewat pengeras suara. Kalimat itu seketika menghentikan segala aktivitas, menciptakan kehebohan yang tak bisa di cegah.
Adegan Mohan dan Naysilla, lari-larian sambil bergandengan tangan cukup mencuri perhatian kalangan siswa. Sebagian yang telah masuk kelas, keluar kembali demi menyaksikan kehebohan yang memicu rasa penasaran.
Mohan melepas genggamannya. Berjalan tanpa acuh, begitu cool dengan wajah cupu nya.
Naysilla pun melakukan hal yang sama. Berjalan dengan langkah berani, tapi tetap anggun.
Mereka berdiri bersisian, begitu dekat, tanpa sekat.
"Jadi ini bentukan anak baru yang semalam godain satria, cowoknya queen?"
"Padahal keliatannya anak baik-baik"
"Liat deh! dari satria, langsung terjun payung ke cowok cupu. Seleranya anjlok abis"
Hahahaha....
"Cantik sih, tapi mesih cantikan gue"
Huuuuuu.....
Bisik-bisik terdengar samar. Naysilla tak paham, jika yang mereka bicarakan adalah dirinya.
Seusai ceramah panjang yang membosankan, ia berjalan patuh mengikuti instruksi ketua OSIS, membersihkan area kolam renang sekolah.
Dunia begitu sempit. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan trio bully ? Menyebalkan sekali.
"Panas banget si. Len, mana sunscreen lo!"
"Tadi ada sama Angel"
"Kok gue sih? mana ada yah"
"Tadi udah gue kasihin, lo yang pinjem kan?"
"Mana ada yah, orang lo cuma ngasih permen"
"Tapi tadi gue"
"Aduuuh, berisik...! Bisa diem ngga sih? Dasar miskin, sunscreen ajah ngga punya"
Jessy mengibaskan rambut pirangnya. Melangkah kearah gadis berambut sebahu yang tengah sibuk menyapu area kolam. Tanpa sadar, si rambut keriting mengepalkan tangan, menahan geram.
"Olivia..." Sapanya lembut. Namun kejadian tak terduga mengejutkannya.
Di depan sana, seorang siswa menahan pinggang siswi berambut panjang, dengan tangan sebelah saling bertautan. Terlihat begitu intim, bagai sepasang kekasih yang sangat serasi. Fokusnya terkunci pada obyek didepan, begitu pun si Jessy pirang yang menatap kesal dengan wajah merah padam.
"Ya ampun. Naysilla... kamu nggak apa-apa?" Pekik Olivia dari kejauhan. Membuyarkan keterpanaan siswa, pada gadis di depannya.
"Gue nggak apa-apa. Lo bisa lepasin gue sekarang" ucap Naysilla lirih. Ia menyentuh dadanya yang berdebar, dengan pura-pura merapikan pakaian.
"Lain kali hati-hati!"
"Iyah"
"Oh iya. Kenalin, nama gue Satria" Ucapnya lirih, dengan senyum manis sekali.
Naysilla diam sejenak. Memandang siswa berparas manis didepannya, lantas mengulurkan tangan. Tapi seketika.
Plak !
Tamparan keras mendarat di pipi. Semua terjadi begitu cepat, tanpa sempat menghindar atau membalas.
"Dasar cewek ganjen, murahan! Mesih berani lo godain cowok gue, hah?"
"Pinter banget Lo ngejalang. Belajar dari mana?"
"Atau jangan-jangan, Lo anak jalang!"
"Apa nyokap lo yang seorang jalang itu, yang nyuruh lo buat sekolah di sini. Secara, ini kan sekolah elite, dan lo bisa dengan mudah dapetin cowok-cowk kaya disini. Iya kan?"
"Dah satu lagi, lo bisa masuk ke sekolah ini pasti karena jual diri. Jadi ngga usah macem-macem, ngga usah banyak tingkah, Ngerti...?"
"Atau..."
"Atau apa?" gumaman lirih terdengar, begitu emosional.
Naysilla melangkah pelan. Setiap langkah membawa amarah. Wajahnya menunduk, dalam. Dengan sorot mata tajam.
"Atau apa?" Lanjutnya dengan suara sedikit bergetar. Ia mengusap kasar pipinya. Rasanya perih dan panas, tapi tak sebanding dengan kata-kata yang diucapkan untuk menghina ibunya.
Aura yang terpancar kuat sekali. Nyali Jessy mulai menciut. Tapi ia nekad melanjutkan narasinya.
"Atau, lo bakal dikeluarin dari sekolah ini. Dan di blacklist dari sekolah manapun!" Pekiknya dengan jeritan nyaring.
"Coba ajah kalo bisa" balasnya angkuh, dilengkapi senyuman miring. Ia kembali mengusap kasar pipinya, lantas mengembalikan tamparan pada si pirang.
Plak !
Plak !
Dua tamparan mendarat sempurna di pipinya. Wajahnya memanas dengan tatapan tak terima. Sedangkan si pelaku, tersenyum puas dengan tiupan pelan pada telapak tangannya.
"Aaaaaaah... Kurang ajar Lo yah!" Pekiknya nyaring. Langkahnya tegas, penuh emosi, berapi-api. Ia menyingkap rambutnya yang pirang, lantas tangan terulur hendak menyerang.
Gerakan nya kasar, ia mencabik dengan kukunya yang tajam. Keadaan semakin mencekam. Serangan balik diterima lawan. Tak ada yang berani memisahkan. Semua hanya menjadi penonton dalam diam. Hingga tiba-tiba...
"Naysilla...Jessy... Udah dong, jangan berantem disini...!" jerit Olivia ikut campur. Ia berjalan mendekat, persis di tepi kolam, tempat kedua temannya bertengkar. Namun sialnya, niat baiknya berujung petaka baginya.
Byuuuuurrr......
Deburan air kolam memecah fokus semua orang. Termasuk Jessy dan Naysilla yang menghentikan aksinya.
Tidak ada yang tau siapa pelaku sebenarnya. Naysilla memandang sekitar, Mereka yang hanya diam menyaksikan temannya tenggelam. Pandangannya teralih pada Olivia yang melambai-lambai, meminta pertolongan.
"To-long" ucapnya terputus-putus.
Naysilla maju dengan sedikit ragu. Pejamkan matanya dengan tarikan nafas panjang.
Satu
Dua
Ti-ga
Ia menghitung dalam hatinya, lantas melompat ke air dengan sempurna. Aksinya sontak mengejutkan semua orang, melebihi ketika Olivia terjatuh diawal.
Ketika kaki tak dapat menyentuh tanah, dan hidung tak dapat menghirup udara. Dalam benaknya, ia ingin menggapai Olivia, lantas membawanya ke tepian. Tapi semua tak tersampaikan.
Ia tenggelam semakin dalam. Teriakan orang-orang memanggil namanya, terdengar di telinga. Ia paksa membuka mata, untuk menatap dunia. Ada sepasang kaki melayang tak jauh darinya, dan uluran tangan cowok berparas manis, dengan wajah panik.
Semua terekam dikepala. Begitu jelas, bahkan suara halus yang memanggilnya, ia hafal pemiliknya.
Hingga semuanya melemah. Matanya terpejam. Pendengaran memudar. Kesadaran pun mulai hilang.
"Momon" ucapnya terakhir kali, sebelum gravitasi menariknya semakin dalam, sampai dasar.
cupu tuh apaan ?