NovelToon NovelToon
KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Komedi / Romantis
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.

Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.

Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!

Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETIKA SANG RIVAL ANGKAT BICARA.

Ponsel pintar milik Ghufran yang diletakkan di atas meja kayu bergetar hebat. Nama Doni tertera di layar. Ghufran menggeser tombol hijau, lalu menempelkan gawai itu ke telinganya dengan malas.

"Halo, Doni. Ada apa?" tanya Ghufran datar.

"Pak Ghufran, syukurlah akhirnya ponsel Anda aktif!" suara Doni terdengar sangat panik dari seberang sana. "Hari ini jadwal Anda bertemu dengan jajaran direksi dari konsorsium global di Singapura. Kontrak kerja sama ini bernilai triliunan rupiah, Pak. Mereka sudah bersiap di ruang rapat utama."

Ghufran terdiam sejenak. Sebelum ia sempat menjawab, Rian berjalan masuk ke teras rumah membawa sepiring pisang goreng hangat. "Ghufran, aku baru saja mendapat kabar dari warga pasar. Kang Asep, tunangannya Zhawa, sudah pulang dari proyek kota pagi ini!"

Mendengar nama itu, mata Ghufran mendadak melebar. Ambisi kompetitifnya langsung tersulut. Ia kembali berbicara pada ponselnya. "Doni, batalkan janji temu hari ini. Katakan pada konsorsium Singapura bahwa saya sedang ada urusan ekspansi yang jauh lebih krusial di luar kota."

"Tapi, Pak! Ini proyek triliunan rupiah!" jerit Doni histeris.

"Saya tidak peduli. Cepat lakukan," potong Ghufran mutlak, lalu memutus sambungan telepon secara sepihak.

Rian yang mendengar percakapan itu langsung melongo hingga pisang goreng di tangannya hampir terjatuh. "Kau membatalkan proyek triliunan rupiah hanya demi kuli bangunan bernama Asep? Ghufran, kau benar-benar sudah gila! Kau kena tulah karena kesombonganmu dulu!"

Ghufran bangkit berdiri, merapikan kaos oblongnya yang longgar. "Tulah apa maksudmu?"

"Dulu kau bilang wanita hanya penghambat kesuksesan, investasi bodong yang merugikan. Sekarang? Kau mengorbankan uang triliunan rupiah hanya untuk melihat rupa seorang pria desa. Kau kena batunya sendiri, Bujang Lapuk!" seru Rian berapi-api.

Ghufran mendengus, mengabaikan ejekan sahabatnya. "Gelar CEO-ku akan dipertanyakan jika aku mundur sebelum melihat medan perang. Ayo, Rian. Antar aku ke rumah Zhawa. Aku ingin melihat sekaya apa taktik pria bernama Asep itu."

Kedua pria kota itu kembali menyusuri jalan setapak menuju rumah Zhawa. Namun, baru saja melewati pohon mangga di batas tanah warga, Ghufran mendadak menghentikan langkahnya secara ekstrem. Matanya bergerak liar, memindai semak-semak di sekitarnya.

Rian ikut berhenti dengan bingung. "Kenapa lagi kau, Fran?"

"Rian, periksa sekeliling kita. Apakah kawanan angsa pembunuh milik Zhawa akan datang menyerang lagi?" bisik Ghufran penuh kewaspadaan.

Rian memicingkan mata, memandang ke arah lapangan yang terletak agak jauh di depan mereka. "Tenang, radar aman. Angsa-angsa itu sedang mandi di kubangan dekat rawa. Jarak mereka cukup jauh dari kita."

Ghufran mengembuskan napas lega. "Bagus. Mari kita lanjutkan spionase ini dengan senyap."

Mereka mulai berjalan mengendap-endap lagi, berlindung di balik pagar bambu samping rumah Zhawa. Ghufran sudah bersiap mengintip ke arah teras rumah. Namun, nasib sial tampaknya belum mau beranjak dari pundak sang CEO. Dari arah kandang kambing di samping rumah, terdengar suara gunggungan yang sangat berat dan keras.

Guk! Guk! Guk!

Seekor anjing jantan bertubuh besar dengan bulu hitam legam mendadak muncul dari balik semak. Matanya menatap tajam ke arah Ghufran dan Rian, air liurnya menetes, menunjukkan taringnya yang tajam.

"Rian, itu bukan angsa," desis Ghufran, tubuhnya gemetar.

"Itu anjing herder lokal, Ghufran! Lari!" teriak Rian histeris.

Anjing hitam itu langsung melesat kencang mengejar mereka. Ghufran dan Rian berteriak histeris, berlari tunggang langgang tanpa memedulikan arah lagi. Harga diri mereka sebagai eksekutif muda runtuh total dalam hitungan detik.

"Emaaak! Tolong, ada monster hitam!" jerit Rian sembari celingukan mencari tempat aman. Matanya menangkap sebuah pohon jambu klutuk di dekat pematang. Dengan kekuatan supernatural yang muncul tiba-tiba, Rian melompat tinggi dan langsung memanjat dahan pohon itu seperti monyet lincah.

Ghufran yang tertinggal di belakang panik setengah mati. "Rian! Tarik tanganku! Aku tidak bisa memanjat pohon!"

"Lompat ke tempat lain, Fran! Anjingnya sudah di tumitmu!" teriak Rian dari atas dahan.

Ghufran menoleh ke belakang, moncong anjing itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari celana kolornya. "Mamaaa... Tolongin Fraan! Ada anjing gila Mamaaa!" teriaknya, dan ia tak punya pilihan lain. Tanpa berpikir panjang, Ghufran memejamkan mata dan melompat pasrah ke arah kanan.

Byurr!

Tubuh Ghufran mendarat dengan sukses di dalam petakan sawah yang berlumpur. Sialnya, sawah itu adalah sawah milik Pak Imran yang baru saja diperbaiki seminggu lalu akibat ulah konyol Ghufran sebelumnya. Kini, hamparan padi muda itu kembali berantakan tersapu tubuh sang CEO.

Mendengar keributan yang luar biasa, pintu rumah panggung terbuka. Pak Imran, Zhawa, dan seorang pria bertubuh cungkring dengan kaos parpol usang keluar dengan tergesa-gesa.

"Blacky, diam! Duduk!" seru pria cungkring itu tegas.

Anjing hitam itu seketika berhenti menggonggong, lalu berjalan pelan dan duduk patuh di kaki pria tersebut. Pria itu tidak lain adalah Asep Sunandar, sang rival cinta yang dicari Ghufran.

Asep segera berlari ke pinggir sawah, mengulurkan tangannya yang kasar kepada Ghufran yang sedang berusaha berdiri di tengah lumpur. "Astagfirullah, Akang tidak apa-apa? Mari saya bantu naik."

Ghufran menatap tangan Asep, lalu beralih menatap penampilannya sendiri yang sudah tertutup lumpur hitam dari kepala hingga kaki. Harga dirinya runtuh, hancur lebur di depan saingannya sendiri. Dengan berat hati, ia menerima uluran tangan Asep dan merangkak naik ke pematang.

Di belakang mereka, Pak Imran berdiri sembari menepuk keningnya dengan keras, menatap nanar ke arah sawahnya yang kembali rusak. "Ya Allah, baru juga seminggu diperbaiki, sekarang hancur lagi oleh orang kota ini."

"Maaf, Pak Imran. Tadi anjingnya sangat agresif," ujar Rian yang baru turun dari pohon jambu dengan wajah bersalah.

Pak Imran hanya bisa menghela napas pasrah. "Sudahlah. Kang Ghufran, cepat bersihkan badanmu di sungai kecil belakang rumah seperti kemarin. Nanti bajunya dipinjamkan lagi oleh Zhawa."

Ghufran yang merasa martabatnya sebagai pemilik GA Corp telah diinjak-injak oleh realitas desa, menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak perlu, Pak Imran. Saya memilih pulang sekarang juga."

Tanpa memedulikan tubuhnya yang kotor dan berbau lumpur sawah, Ghufran berbalik dan berjalan cepat meninggalkan halaman rumah Zhawa. Rian terpaksa berlari menyusul di belakangnya sambil meminta maaf berkali-kali pada keluarga Zhawa.

Sepanjang jalan menuju rumah kakek, wajah Ghufran tampak sangat masam. Kemarahan dan kebingungan berkecamuk di dalam dadanya. "Rian, aku tidak habis pikir. Mengapa Zhawa bisa memilih pria cungkring berwajah pas-pasan seperti Asep itu? Padahal aku jauh lebih tampan, lebih mapan, dan punya segalanya!"

Rian menepuk bahu Ghufran yang masih basah oleh lumpur. "Ghufran, di desa ini ketampanan dan isi dompet bukan jadi prioritas utama bagi para gadis. Bagi mereka, pria yang bertanggung jawab, menyayangi keluarga, dan rajin ibadah seperti Kang Asep adalah kunci kebahagiaan sejati."

Ghufran hanya bisa mendengus kesal, menolak menerima kenyataan tersebut. Namun, penderitaan mereka belum berakhir. Saat mereka mulai memasuki gang menuju rumah kakek Rian, beberapa anak kecil yang sedang bermain kelereng mendadak berhenti. Mereka menatap Ghufran yang penuh lumpur, lalu bersorak gembira.

"Hore! Ada orang gila baru! Orang gila, orang gila, orang gila!" sorak anak-anak itu sambil bertepuk tangan dan berjalan mengekor di belakang Ghufran.

"Heh! Bubar kalian! Saya bukan orang gila, saya CEO!" teriak Ghufran emosi, namun anak-anak itu justru tertawa semakin keras.

Tak lama kemudian, kakek Rian muncul dari arah depan dengan membawa sapu lidi. "Hus! Hus! Bubar kalian, jangan menggoda tamu Kakek!" usir sang Kakek, membuat anak-anak itu langsung lari berhamburan.

Kakek Rian memandangi tubuh Ghufran dengan tatapan iba yang sangat dalam. "Nak Fran, cepat masuk dan bersihkan dirimu di kamar mandi."

Setelah Ghufran selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, ia duduk termenung di teras. Sang Kakek datang membawa secangkir teh hangat, lalu duduk di hadapannya.

"Nak Fran, Kakek kasihan melihatmu sampai begini," ujar Kakek lembut. "Saran Kakek, sebaiknya kau berhenti mengejar Zhawa. Kesetiaan gadis desa itu sudah mengakar kuat pada tunangannya. Apapun yang kau lakukan, semuanya hanya akan berakhir sia-sia dan membuatmu semakin terluka."

Ghufran terdiam, menatap cangkir teh di tangannya dengan hati yang kembali terasa nyeri. Apakah sang penguasa pasar modal ini benar-benar harus menelan kekalahan pertamanya di desa terpencil ini?

1
Radya Arynda
semangaaaat💪💪💪💪
Elina thea
maaf nich Thor,kalo gak salah bukannya Rian dah punya istri dan anak yah...bahkan di awal episode saat kang CEO minta pulang dari desa ke kota Rian di sambut istrinya yg namanya Fitri,trus saat Rian berkunjung ke rumah ibunya kang CEO...ibu Halimah jelas2 nanya ke Rian gimana keadaan anak sama istrinya...dan jawab sama Rian kalo mereka baik baik saja....tapi kenapa di episode ini kang CEO malah suruh Rian buat cari istri biar gak kesepian/Doubt/,jadi bingung aku yg bener yg mana....?
Elina thea
lanjutannya dong~~~
Elina thea
cinta di tolak ibu negara bertindak....
Elina thea
keapesan kang CEO masih berlanjut toh....mana kali ini di kejar banci lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Elina thea
apes bener nasib sang CEO semenjak pergi ke desa...teruskan perjuanganmu kang CEO,tapi harus hati-hati nanti sarungnya beneran melorot lagi🤣🤣🤣
Elina thea
baru kali ini pemeran cowoknya CEO yg punya sisi humoris....keren euyyy,lanjut sampai tamat....
Radya Arynda
akhirnya meleleh juga gunung ES nya
Nana Biella
penyesalan datang kan
Radya Arynda
sadar fran ghufran,,,,dholim sama istri itu yang parah
Nana Biella
lanjutkan
Radya Arynda
akhirnyaaa bangun juga,,,,ya zhawa di angurin biar aja bebas cari suami yang mencintainya
Ira Imel
di balik cuek bebe nya
Radya Arynda
mantap rian,,,biar ghufan bangun nanti sydah tidak menyalahkan mi
Nana Biella
ternyata si keponakannya sendiri
Enny Suhartini
semangat Rian 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah berlanjut lagi cerita nya
terimakasih
Indriani Kartini
dzolim sih sama istri jdi usahanya hmpir bangkrut
Radya Arynda
semogah saat kamu bangun nanti sudah ngaak sombong dan angkuh lagi fran ghufran
Ira Imel
menurutku cerita ini sangat menarik ada sedih ketawa keluargah bahkan sangat menghibur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!