NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Rumah yang Akan Ditinggali

Pagi di kediaman keluarga Kalandra berlangsung seperti biasa.

Meja makan besar itu sudah tertata rapi sejak pukul tujuh. Aroma roti panggang, telur dadar, bubur ayam, dan kopi hitam memenuhi ruang makan yang hangat oleh cahaya matahari pagi. Di kursi kepala meja, Aditya membaca beberapa pesan singkat dari rekan lamanya, sementara Aruna sibuk menuangkan teh untuk suaminya.

Shaka turun beberapa menit kemudian.

Ia mengenakan kemeja putih, celana bahan gelap, dan jam tangan yang sudah melingkar rapi di pergelangan tangannya. Wajahnya masih sama seperti biasa—tenang, dingin, dan sulit ditebak. Namun Aruna yang mengenalnya sejak kecil tahu, ada sesuatu yang berbeda dari putranya beberapa hari terakhir.

Shaka terlihat lebih banyak berpikir.

Bukan soal pekerjaan.

Melainkan soal hidupnya yang sebentar lagi berubah.

“Assalamu’alaikum,” ucap Shaka ketika memasuki ruang makan.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Aditya dan Aruna hampir bersamaan.

Shaka mencium tangan ayah dan ibunya, lalu duduk di kursinya.

Aruna menatapnya sambil tersenyum. “Hari ini benar-benar hari terakhir kerja sebelum cuti?”

“Iya,” jawab Shaka singkat.

“Bagus. Mama sudah hampir berpikir harus menyita laptopmu.”

Shaka mengambil gelas air putih. “Mama tidak akan berhasil.”

“Jangan yakin. Mama bisa bekerja sama dengan Rafa.”

Shaka langsung menatap ibunya.

Aditya tertawa kecil. “Rafa itu memang terlihat lebih mudah diajak kompromi daripada kamu.”

“Dia mudah dibeli,” gumam Shaka.

Aruna tertawa pelan, lalu mulai mengambilkan lauk untuk putranya. Meski Shaka sudah dewasa, kebiasaan itu belum hilang. Ia selalu memastikan piring anaknya terisi cukup, seolah Shaka masih anak kecil yang sering lupa makan karena terlalu sibuk belajar.

Sarapan berjalan tenang.

Namun di sela-sela keheningan itu, Shaka tiba-tiba meletakkan sendoknya.

“Ada yang ingin Shaka sampaikan.”

Aruna dan Aditya sama-sama menoleh.

Nada suara Shaka tidak terlalu berat, tetapi cukup membuat suasana meja makan berubah lebih serius.

“Apa?” tanya Aditya.

Shaka menatap kedua orang tuanya bergantian.

“Nanti setelah menikah, Shaka dan Jenna akan tinggal sendiri.”

Aruna terdiam.

Tangannya yang hendak mengambil cangkir teh berhenti di udara.

Aditya tidak langsung menjawab. Ia menatap putranya dalam-dalam, membaca ketegasan di balik kalimat itu.

“Tinggal sendiri?” ulang Aruna pelan.

Shaka mengangguk. “Iya, Ma.”

“Di rumah yang kamu siapkan itu?”

“Iya. Rumahnya sudah siap. Tidak terlalu jauh dari sini dan juga tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Nirankara.”

Aruna menurunkan tangannya perlahan.

Untuk beberapa detik, ia tidak berkata apa-apa.

Sejak lamaran Jenna diterima, Aruna diam-diam membayangkan banyak hal. Ia membayangkan memiliki menantu perempuan yang lembut di rumah ini. Membayangkan Jenna duduk bersamanya saat sore, membantunya memilih bunga untuk ruang keluarga, atau sekadar berbincang ringan setelah makan malam. Ia sudah lama ingin ada kehangatan baru di rumah Kalandra.

Dan kini, sebelum Jenna benar-benar masuk ke keluarga mereka, Shaka sudah mengatakan bahwa ia akan membawa istrinya tinggal terpisah.

Ada rasa sedih yang langsung menyentuh hati Aruna.

Namun ia juga tahu, ini bukan keputusan yang salah.

Setelah menikah, Shaka dan Jenna berhak membangun rumah tangga mereka sendiri. Sebagai orang tua, Aruna boleh berharap, tetapi tidak boleh mengikat. Ia boleh menyayangi, tetapi tidak boleh mengatur terlalu jauh.

Aruna menarik napas pelan.

“Mama sebenarnya ingin kamu dan Jenna tinggal di sini,” ucapnya jujur. “Setidaknya untuk beberapa waktu.”

Shaka diam.

Ia sudah menduga ibunya akan sedih.

“Tapi,” lanjut Aruna, suaranya lebih lembut, “Mama juga tahu, setelah menikah kamu punya rumah tangga sendiri. Mama tidak berhak ikut campur terlalu jauh.”

Shaka menatap ibunya.

Ada rasa bersalah kecil yang muncul di dadanya. Ia tahu Aruna menyayangi Jenna bahkan sebelum perempuan itu resmi menjadi menantunya. Ia juga tahu ibunya pasti ingin rumah ini lebih ramai.

Namun keputusan itu ia ambil bukan untuk menjauh dari orang tuanya.

Justru karena ia ingin memberi ruang yang sehat untuk Jenna.

Pernikahan mereka sudah terlalu cepat. Jenna akan masuk ke hidupnya, ke keluarganya, dan ke dunia Kalandra dalam waktu singkat. Shaka tidak ingin membuatnya merasa seperti tamu di rumah besar yang sudah punya aturan sendiri. Ia ingin Jenna punya tempat di mana ia bisa bernapas, memilih, dan belajar menjadi istri tanpa merasa diawasi banyak mata.

“Ma,” ucap Shaka lebih pelan, “Shaka bukan menjauh.”

Aruna menatapnya.

“Rumah itu dekat. Mama dan Papa bisa datang kapan saja. Jenna juga bisa ke sini kapan saja. Tapi Shaka ingin kami punya ruang sendiri.”

Aditya mengangguk perlahan.

“Papa setuju.”

Aruna menoleh kepada suaminya.

Aditya menatap istrinya dengan lembut. “Anak kita sudah dewasa, Ma. Setelah menikah, dia perlu belajar menjadi kepala rumah tangga. Jenna juga perlu merasa rumah itu miliknya, bukan hanya rumah keluarga Kalandra.”

Aruna menunduk sebentar.

Kalimat itu benar.

Dan justru karena benar, ia tidak bisa membantah.

Akhirnya Aruna tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca.

“Baiklah,” katanya dengan berat hati. “Mama setuju.”

Shaka menatap ibunya.

“Terima kasih, Ma.”

“Tapi Mama punya syarat.”

Shaka sudah curiga. “Apa?”

“Setiap minggu kamu dan Jenna harus makan malam di sini.”

Shaka diam sebentar.

Aditya tersenyum kecil.

Aruna menambahkan, “Dan kalian juga harus sering ke rumah Reza dan Zahra. Jenna juga anak perempuan mereka. Jangan sampai setelah menikah dia merasa terpisah dari keluarganya.”

Shaka mengangguk.

“Itu memang rencana Shaka.”

Wajah Aruna sedikit lega.

“Kalau begitu Mama tidak akan protes.”

“Benar?”

“Untuk sekarang.”

Shaka mendengus pelan.

Aditya tertawa kecil.

“Jangan khawatir, Shaka. Mamamu hanya perlu waktu untuk terbiasa.”

Aruna menatap Aditya. “Papa bicara seolah Papa tidak sedih.”

“Papa sedih,” jawab Aditya tenang. “Tapi Papa lebih sedih kalau anak kita menikah lalu masih diperlakukan seperti anak kecil.”

Aruna terdiam, lalu menghela napas.

“Baiklah. Mama kalah dua lawan satu.”

Shaka menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul.

Sarapan kembali berlanjut. Namun suasananya tidak sepenuhnya sama. Ada rasa haru yang menggantung pelan di antara mereka. Rasa sadar bahwa keluarga kecil itu akan berubah. Tidak berkurang, hanya bertambah. Tetapi setiap pertambahan tetap membawa jarak baru yang harus diterima.

Setelah sarapan selesai, Shaka mencium tangan kedua orang tuanya sebelum berangkat.

Aruna menahan tangan putranya sebentar.

“Shaka.”

“Iya, Ma?”

“Nanti kalau Jenna sudah menjadi istrimu, jadikan rumah kalian tempat yang nyaman untuknya.”

Shaka menatap ibunya.

“Iya.”

“Jangan hanya memberi rumah. Beri dia rasa pulang.”

Kalimat itu membuat Shaka diam.

Ia belum pernah memikirkan pernikahan sedalam itu.

Rumah baginya selama ini hanya tempat yang aman, rapi, dan tenang. Namun bagi Jenna, mungkin rumah harus berarti lebih dari sekadar bangunan.

Rasa pulang.

Shaka mengangguk pelan.

“Shaka akan coba.”

Aruna tersenyum lembut.

“Itu sudah cukup untuk awal.”

 

Ketika Shaka sampai di kantor, suasana gedung Kalandra Group sudah ramai seperti biasa.

Para staf menyapanya dengan sopan. Beberapa direktur yang berpapasan langsung memberi salam hormat. Shaka menjawab singkat, lalu masuk ke lift khusus menuju lantai ruang kerjanya.

Begitu pintu ruang kerjanya terbuka, ia langsung menemukan Rafa duduk santai di sofa, seolah ruangan itu miliknya sendiri.

Di tangannya ada tablet. Di wajahnya ada senyum menyebalkan.

“Selamat pagi, calon pengantin H-3.”

Shaka berhenti di ambang pintu.

“Kenapa lo ada di ruangan gue sepagi ini?”

Rafa berdiri sambil tersenyum lebar.

“Sebagai sekretaris setia, gue menyambut hari terakhir kerja bos gue sebelum resmi menjadi suami orang.”

Shaka berjalan melewatinya tanpa ekspresi.

“Kerjaan lo kurang banyak?”

“Banyak. Tapi ngeledek lo itu bagian dari keseimbangan hidup.”

Shaka duduk di kursi kerjanya, membuka laptop, dan mulai memeriksa jadwal.

Rafa mendekat ke meja.

“Gimana rasanya, Ka?”

“Rasanya apa?”

“Tiga hari lagi lo menikah.”

“Biasa.”

Rafa menatapnya tidak percaya.

“Biasa? Bro, hidup lo mau berubah total. Lo yang dulu alergi komitmen sekarang mau akad. Lo yang dulu kalau dengar kata cinta langsung sinis, sekarang punya calon istri bermata cokelat cantik.”

Shaka langsung menatapnya tajam.

“Jangan bawa-bawa mata Jenna.”

Rafa berhenti.

Lalu perlahan senyumnya melebar.

“Nah.”

Shaka sadar ia baru saja memberi bahan baru untuk Rafa.

“Diam.”

“Gue belum ngomong.”

“Wajah lo berisik.”

Rafa tertawa puas.

“Parah. Sekarang sudah protektif. Padahal belum akad.”

Shaka menghela napas kesal, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.

“Rafa.”

“Iya, calon suami?”

“Kalau lo masih terus ngomong seperti itu, gue potong bonus lo.”

Rafa langsung menegakkan badan. “Oke, masuk mode profesional.”

Shaka mengambil beberapa berkas dari mejanya dan menyerahkannya kepada Rafa.

“Selama gue cuti, lo pegang koordinasi utama. Laporan harian tetap masuk ke email gue, tapi jangan hubungi gue kecuali ada hal penting.”

Rafa menerima berkas itu, lalu membuka halaman pertama.

“Definisi penting menurut lo apa?”

“Masalah hukum, keputusan investasi besar, krisis operasional, atau hal yang bisa merugikan perusahaan.”

“Kalau cuma direktur keuangan panik karena lo tidak membalas pesan?”

“Abaikan.”

“Kalau investor minta meeting mendadak?”

“Jadwalkan ulang.”

“Kalau Mama Aruna menelepon kantor mencari lo?”

Shaka menatap Rafa datar.

“Angkat.”

Rafa tertawa. “Nah, itu baru keputusan bijak.”

Shaka menunjuk berkas lain.

“Ini daftar proyek yang harus dipantau. Jangan ubah keputusan strategis tanpa konfirmasi gue. Untuk divisi media digital, minta laporan dari Rendra. Untuk legal, koordinasi dengan Nadia. Kalau ada masalah dari cabang Surabaya, langsung kirim ringkasannya.”

Rafa mengangguk sambil mencatat di tablet.

“Siap. Jadi intinya selama lo cuti nikah, gue jadi bemper utama.”

“Iya.”

“Dan tanggung jawab gue bertambah.”

“Memang.”

“Beban mental gue naik.”

Shaka menyipitkan mata. “Maksud lo?”

Rafa menutup tablet, lalu menatap Shaka serius sekali.

“Bonus gue naik dua kali lipat.”

Shaka mendengus kesal.

“Lo selalu cari kesempatan.”

“Namanya negosiasi. Lo sendiri yang ngajarin.”

“Gue ngajarin negosiasi, bukan pemerasan.”

“Ini bukan pemerasan. Ini kompensasi atas penderitaan sekretaris yang ditinggal bosnya menikah.”

“Drama.”

Rafa mencondongkan tubuh sedikit.

“Ka, lo cuti. Gue yang akan jadi tameng dari semua orang yang biasa takut ganggu lo. Semua pertanyaan akan lari ke gue. Semua laporan akan masuk ke gue. Semua orang yang panik akan cari gue. Bonus dua kali lipat itu sangat rasional.”

Shaka menatapnya beberapa detik.

Rafa balas menatap dengan wajah paling serius yang bisa ia buat.

Akhirnya Shaka menghela napas.

“Fine.”

Rafa langsung tersenyum menang. “Deal?”

“Dua kali lipat untuk bulan ini saja.”

“Cukup. Gue terima.”

“Tapi kalau ada satu masalah besar yang lolos karena lo ceroboh, bonus itu batal.”

Rafa menepuk dadanya pelan.

“Tenang. Perusahaan aman di tangan gue.”

“Itu yang bikin gue tidak tenang.”

“Jahat banget. Padahal gue sahabat terbaik lo.”

“Sekretaris paling berisik.”

“Tapi efektif.”

Shaka tidak membantah.

Karena meski Rafa menyebalkan, ia memang bisa diandalkan.

Rafa kembali duduk di depan meja Shaka, kali ini wajahnya sedikit lebih serius.

“Ka.”

“Apa lagi?”

“Lo beneran siap cuti?”

Shaka tidak langsung menjawab.

“Harus siap.”

“Bukan itu yang gue tanya.”

Shaka menatap sahabatnya.

Rafa melanjutkan, “Gue tahu lo bisa ninggalin kantor beberapa hari. Yang gue tanya, lo siap menghadapi hidup di luar kantor? Setelah akad nanti, lo nggak bisa terus kabur ke kerjaan kalau ada yang bikin lo nggak nyaman.”

Shaka diam.

Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang ia sendiri sadari.

Selama ini, pekerjaan selalu menjadi tempat pelarian paling aman. Tidak ada yang menuntut kelembutan dari laporan keuangan. Tidak ada yang meminta perasaan dari rapat direksi. Tidak ada yang bisa mengkhianati dari angka-angka yang jelas.

Tapi Jenna bukan laporan.

Jenna manusia.

Dan sebentar lagi ia akan menjadi istrinya.

“Gue akan belajar,” jawab Shaka akhirnya.

Rafa menatapnya, lalu mengangguk pelan.

“Jawaban bagus.”

“Jangan sok jadi konselor.”

“Gue bukan konselor. Gue cuma sahabat yang sudah terlalu lama lihat lo hidup kayak robot mahal.”

Shaka menatapnya datar.

Rafa berdiri sebelum Shaka sempat membalas.

“Oke, gue kerja. Tenang aja, calon pengantin. Perusahaan aman. Lo fokus aja belajar jadi suami yang tidak sekaku laporan tahunan.”

“Rafa.”

“Cabut.”

Rafa keluar dari ruangan dengan cepat, meninggalkan Shaka yang hanya bisa menghela napas.

Namun setelah pintu tertutup, Shaka menatap berkas di hadapannya tanpa benar-benar membacanya.

Beri dia rasa pulang.

Kalimat Aruna kembali muncul di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya, Shaka menyadari bahwa tugas terbesarnya setelah menikah bukan menjaga perusahaan.

Melainkan menjaga hati seseorang.

 

Malam harinya, keluarga Nirankara berkumpul di meja makan seperti biasa.

Rumah itu terasa hangat oleh aroma sup ayam, ikan bakar, tumis kangkung, dan sambal terasi kesukaan Reza. Zahra duduk di sisi kanan suaminya, sementara Abizar dan Jenna duduk berhadapan.

Namun malam itu, ada perasaan yang berbeda.

Pernikahan tinggal beberapa hari lagi.

Setiap sudut rumah seolah menyimpan kesadaran bahwa tidak lama lagi, Jenna tidak akan selalu duduk di meja makan itu setiap malam.

Zahra beberapa kali memperhatikan putrinya diam-diam.

Jenna menyadarinya.

“Ibu kenapa melihat Jenna terus?”

Zahra tersenyum kecil, tetapi matanya tampak sendu.

“Tidak apa-apa, Nak.”

Abizar melirik ibunya, lalu melirik Jenna.

“Kalau Ibu bilang tidak apa-apa, biasanya ada apa-apa.”

Jenna menatap kakaknya. “Kak Abi jangan mulai.”

“Abi cuma menerjemahkan bahasa Ibu.”

Reza meletakkan gelasnya, menatap Zahra dengan lembut.

“Kamu sedih?”

Zahra terdiam sebentar, lalu menghela napas pelan.

“Sedikit.”

Jenna langsung menatap ibunya dengan mata melembut.

Zahra tersenyum, tetapi kesedihan itu tetap terlihat.

“Nanti setelah kamu menikah, rumah ini pasti terasa berbeda. Biasanya Ibu bisa melihat kamu sarapan di sini, makan malam di sini, pulang dari kafe, cerita soal pelanggan, soal bunga, soal Naya dan yang lain.”

Jenna menunduk.

Zahra melanjutkan, suaranya semakin lembut.

“Tapi setelah menikah, sebagai perempuan, kamu akan mengikuti ke mana suamimu tinggal. Ibu tahu itu. Ibu juga tidak ingin menahanmu. Hanya saja…”

Zahra berhenti sebentar.

Jenna menggenggam tangan ibunya yang berada di atas meja.

“Hanya saja Ibu akan rindu?”

Mata Zahra berkaca-kaca.

“Iya.”

Jenna merasakan dadanya ikut menghangat.

Sejak kecil, ia sangat dekat dengan ibunya. Zahra bukan hanya ibu yang merawatnya, tetapi juga tempat pulang untuk semua cerita kecil. Saat Jenna pertama kali memutuskan bercadar, Zahra menjadi orang pertama yang memeluknya. Saat Jenna ingin membuka kafe sendiri, Zahra pula yang membantunya memilih warna interior dan mencicipi menu pertama.

Membayangkan tidak lagi tinggal satu rumah dengan ibunya membuat hati Jenna ikut berat.

Namun ia tahu, hidupnya akan berubah.

Dan perubahan tidak selalu berarti kehilangan.

“Bu,” ucap Jenna lembut, “Jenna mungkin tinggal terpisah, tapi Jenna tidak akan jauh. Jenna tetap akan datang. Ibu juga bisa datang kapan saja.”

Zahra mengangguk, tetapi wajahnya tetap sendu.

Abizar yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

“Kalau Ibu kesepian, Abi masih ada di rumah.”

Zahra menoleh kepada putranya, lalu tersenyum kecil.

“Itu yang membuat Ibu agak tenang.”

Jenna tiba-tiba menatap Abizar dengan mata jahil.

“Tapi Kak Abi juga harus segera mencari calon istri.”

Abizar yang sedang minum air hampir tersedak.

Reza langsung menahan senyum.

Zahra menatap Jenna, sedikit terkejut, lalu tertawa pelan.

Abizar meletakkan gelasnya dan menatap adiknya.

“Kenapa jadi Kakak yang diserang?”

Jenna tersenyum dari balik cadarnya.

“Supaya nanti Ibu tidak kesepian setelah Jenna tinggal terpisah.”

Abizar menyipitkan mata.

“Jadi menurutmu solusi kesedihan Ibu adalah Kak Abi menikah?”

“Iya.”

“Praktis sekali.”

“Lagi pula usia Kak Abi juga sudah cukup.”

Reza tertawa kecil. “Jenna benar.”

Abizar langsung menatap ayahnya. “Ayah ikut juga?”

Reza mengangkat bahu. “Ayah hanya mendukung fakta.”

Zahra mulai tersenyum lebih lebar.

“Memang sudah waktunya Abi memikirkan itu.”

Abizar menghela napas, merasa terjebak di meja makan keluarganya sendiri.

“Luar biasa. Tadi pembahasannya Jenna akan menikah. Sekarang pindah ke Abi.”

Jenna menatapnya polos.

“Kak Abi sendiri yang bilang masih ada di rumah.”

“Bukan berarti harus langsung membawa istri ke rumah.”

“Kenapa tidak?”

“Karena Kakak belum punya calon.”

Jenna memiringkan kepala sedikit.

“Berarti cari.”

Abizar menatap adiknya lama, lalu tertawa tidak percaya.

“Kamu ini baru mau menikah, sudah berani mengatur hidup Kakak.”

“Bukan mengatur. Memberi saran.”

“Saran yang sangat berbahaya.”

Reza tersenyum sambil mengambil lauk.

“Abi, mungkin setelah acara Jenna selesai, giliranmu yang perlu dibahas.”

“Ayah.”

Zahra akhirnya tertawa. Suasana sendu yang tadi memenuhi meja makan perlahan mencair.

Jenna ikut tertawa kecil, merasa lega melihat ibunya tersenyum lagi.

Namun setelah tawa itu mereda, Zahra tetap menggenggam tangan Jenna.

“Nak,” katanya pelan, “Ibu mungkin sedih, tapi Ibu juga bahagia. Kamu akan memulai hidup baru. Ibu hanya berdoa, semoga Shaka menjadi suami yang baik untukmu.”

Jenna menunduk.

“Aamiin.”

Abizar menatap adiknya. Kali ini wajahnya lebih serius.

“Dek, kalau nanti kamu tinggal di rumah Shaka dan ada apa-apa, kamu tahu harus hubungi siapa?”

Jenna menoleh.

“Kak Abi?”

“Benar. Kapan saja.”

Reza menambahkan dengan tenang, “Dan rumah ini tetap rumahmu. Menikah tidak membuatmu kehilangan tempat pulang.”

Mata Jenna mulai berkaca-kaca.

Ia menatap ayah, ibu, dan kakaknya satu per satu.

Keluarga cemara itu.

Tempat ia tumbuh, berlindung, dan belajar mencintai dengan cara yang paling lembut.

Sebentar lagi ia akan keluar dari rumah itu sebagai seorang istri. Namun malam itu, Jenna sadar satu hal: ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya memperluas rumahnya. Dari rumah Nirankara, menuju rumah baru yang akan ia bangun bersama Shaka.

Mungkin jalannya tidak mudah.

Mungkin Shaka belum sepenuhnya terbuka.

Mungkin ia sendiri masih canggung dan takut.

Tapi dengan doa keluarganya, Jenna merasa sedikit lebih kuat.

Ia tersenyum lembut.

“Jenna akan baik-baik saja, Insyaallah.”

Zahra mengangguk, meski air matanya akhirnya jatuh satu.

Abizar cepat-cepat mengambil tisu dan menyodorkannya kepada ibunya.

“Sudah, Bu. Jangan menangis dulu. Kalau Ibu menangis sekarang, nanti pas akad bagaimana?”

Zahra menerima tisu itu sambil tertawa kecil. “Pasti lebih parah.”

Jenna ikut tertawa, meski matanya juga basah.

Reza memandangi keluarganya dengan dada penuh haru.

Di luar sana, nama Nirankara mungkin dikenal sebagai nama besar. Reza mungkin pendiri perusahaan media raksasa, Abizar mungkin pewaris yang disiapkan, dan Jenna mungkin putri bungsu yang sebentar lagi menikah dengan keluarga terpandang.

Namun di meja makan itu, mereka bukan siapa-siapa selain keluarga.

Ayah, ibu, kakak, dan adik.

Yang saling menggoda agar tidak terlalu sedih.

Yang saling menguatkan agar tidak terlalu takut.

Yang diam-diam belajar melepas, tanpa benar-benar kehilangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!