Tak ada orang baik
Yang tak punya masa lalu
Dan tiada orang jahat
Yang tak punya masa depan
Lihatlah yang kelam dari sudut pandang benderang
Niscaya pelita hatimu tak akan temaram..
Seperti itu lah aku memandang Ariana...
Tidak peduli ia seorang simpanan sekalipun
-Krisna-
****
Aku tidak berharap dia mencintaiku, aku hanyalah seorang wanita simpanan. aku tidak suci dan tidak pantas untuk aktivis sepertinya. Aku tidak ingin ia berada di dalam hidupku yang rumit, tapi sebaliknya pria itu semakin mendekatiku. Bahkan disaat dia tahu aku adalah seorang pelacur, dia tetap mendekatiku.
"Aku mencintaimu, tapi aku tidak pantas untukmu." Ariana Putri
Created: 2 October 2017
Finished: 7 Februari 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
BAB 6
Karena Aku Mencintaimu
Krisna turun dari mobil Rakan, lalu mereka berjalan beriringan menuju sebuah cafe. Ketika menemukan meja kosong, mereka langsung menepatinya. Café itu sederhana, namun tidak menghilangkan suasana klasiknya. Jadi café itu terlihat elegan bukan dengan kemewahannya tapi dengan penataan dan cita rasa makanan yang enak. Krisna memperhatikan ruangan ini, matanya menapaki setiap lukisan yang di pajang. Namun ada satu pandangan yang membuat mata Krisna menajam. Gadis itu duduk bersama laki-laki yang tadi pagi membuatnya uring-uringan.
Tanpa Krisna sadari, kakinya melangkah mendekati tempat itu. Ia tidak peduli dengan Rakan yang duduk di sampingnya. Ia malah dengan percaya diri menarik kursi kosong di sebelah Ariana yang mau tidak mau ia berhadapan langsung dengan Andre, Sang Rektor. Andre menyipitkan matanya, ia tidak suka jika ada orang lain berada di dekat miliknya. Namun ia berusaha menahan diri untuk tidak terlewat batas, karena bukan hanya sosok Krisna yang ia dapati tapi juga Rakan.
Rakan adalah Presiden BEM, namun yang membuatnya ditakuti oleh orang-orang selain itu tentu saja nama yang Rakan sandang dari keluarga Salman Al-Fatih. Keluarga yang terpandang di negeri ini, kalau bisa dibilang Andre kalah jauh dengan sosok Rakan. Kehadiran Rakan yang duduk di sebelah Andre membuat suasana di tempat itu mencengkam, karena aura Rakan yang begitu kentara.
"Asaalamualaikum bapak Andre, maafkan kami yang telah lancang bergabung di sini."
"Waalaikumsalam, tentu saja tidak apa-apa. Sudahlah anggap saja kita ini saudara," ujar Andre dengan senyum lebar kepada Rakan.
Ariana, tersenyum kikuk jujur ia kaget melihat kedatangan orang-orang ini disaat keadaan yang tidak tepat. Jantung Ariana berpacu, ia takut rahasianya terbongkar ia takut jika orang-orang ini mengetahuinya. Arianna menatap Andre bingung, namun Andre membalasnya dengan tenang seakan-akan jika ini hanyalah hal yang sepele.
Sepanjang makan malam, Rakan dan Andrelah yang mendominasi percakapan. Sedang Krisna dan Ariana terdiam mereka kikuk satu sama lain.
"Padahal tadi pagi, anak muda itu begitu cerewet berbicara padaku." Ujar Andre ada sedikit nada sindiran di sana.
"Kau tahu ia berusaha membuatku berada dipihaknya, nekad sekali anak muda itu. seharusnya ia melihat siapa orang yang ia ingin dia doktrin, hahahah"
"Tapi saya juga sedikit terkesan dengan Krisna, ia begitu pandai bicara."
"Tapi, lihatlah sekarang Rakan ia begitu diam. Ada apa dengan temanmu."
"Mungkin dia lagi kena virus merah jambu pak, biasalah anak muda." Rakanpun ikut mengejek Krisna.
Krisna menatap Rakan sebal, baru ia akan protes. Suara ponsel Ariana mengalihkan Krisna, kening Krisna mengerut ketika Ariana keluar meminta ijin untuk pergi. Ditenggaknya air yang di depannya, tanpa pamit Krisna pergi menyusul kepergian Ariana. Ariana terlihat begitu gelisah, entahlah kenapa ia terlihat seperti apa. Ariana merasa seperti memiliki urusan yang penting dan Krisna penasaran.
Dilihatnya Ariana berdiri di tepi jalan, sepertinya Ariana sedang menunggu kendaraan. Krisna dengan cepat ke arah parkiran mengambil mobilnya. Sebuah mobil berwarna hitam, yang Krisna yakini adalah mobil jemputan mendatangi Ariana, namun sebelum mobil itu tiba di hadapan Ariana. Krisna mendahuluinya, tanpa Ariana sadari jika mobil yang ia naiki adalah mobil Krisna. Karena mobil mereka kebetulan sama dan semerek.
Ariana duduk gelisah di kursi penumpang, ketika ia ingin menyebutkan alamatnya. Wajahnya kaget ketika melihat jika supirnya adalah Krisna.
"Mau kemana?" tanya Krisna.
Ariana yang kaget langsung ke arah pintu, tanpa menjawab ia berusaha membuka pintu. Tapi sayangnya pintu itu terkunci, mau tidak mau Ariana duduk kembali dan bernapas kecewa.
"Mau kemana?" ulang Krisna.
"Taman indah," ujar Ariana, ia tidak ingin Krisna tahu kemana tempat seharusnya pergi. Ia tidak mungkin mengatakan, jika ibunya kambuh di rumah sakit. Hanya hening tidak ada percakapan di antara mereka, hanya ada deru suara mobil membelah jalan raya.
"Baiklah," dengan laju yang cepat Krisna ke tempat itu, walau keheranan masih bersemanyam di hatinya. ia ragu jika tempat yang ingin Ariana kunjungi adalah Taman. Karena apa tadi Ariana terlihat sangat gelisah dan terburu-buru.
****
Ariana keluar dengan cepat dari mobil, ia tidak menghiraukan Krisna. Jujur perasaaanya kalut ia ingin tahu bagaimana keadaaan ibunya, Ariana berjalan tanpa arah menyusuri gelapnya taman. Tanpa ariana sadari jika Krisna mengikuti setiap langkahnya, Ariana menangis begitu menyesakkan, ia tidak mempedulikan apapun. Krisna berjalan mengikuti Ariana dibelakang. Bahkan Krisna bisa mendengar setiap isak dan tangis yang Ariana tahan.
Hati Krisna tergerak, entahlah rasa itu datang kembali. Rasa tidak ingin mendengar suara isak itu, rasa tidak ingin melihat rasa sakit gadis itu, dan rasa ingin memeluk gadis itu. Krisna tidak peduli lagi jika ia harus jatuh ke dalam dosa itu, Krisna mempercepat langkahnya, tiga kali hentakan langkah kaki, Krisna membalikan tubuh Ariana. Lalu ia membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Kedalam dekapan hangatnya, jantung Krisna berdebar begitu kencangnya merasakan kehangatan itu. mereka berpelukan di tengah malam berbintang, di bawah kelamnya lampu taman.
Ariana terhenyak, ia tidak menyangka jika Krisna akan memeluknya. Entahlah ada perasaan terlindungi di dalam pelukan pria itu. perlindungan yang tidak pernah ia dapatkan dari laki-laki manapun termasuk ayahnya. Namun sedetik kemudian, Ariana tersadar jika semua pria adalah berengsek jika ayahnya saja bisa menjualnya bahkan melukainya apalagi laki-laki di luar sana. Ariana melepaskan pelukan hangat itu.
"Kenapa?" tanya Krisna di saat Ariana melepaskan pelukan itu, Ariana diam ia malah berlari meninggalkan Krisna.
Namanya bukan Krisna kalau tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan. Krisna berlari mengejar Ariana lalu entahlah bisikan dari setan mana, ketika melihat mata sendu Ariana ada hastrat ingin mencium gadis itu. Krisna menangkap tangan gadis itu, lalu membawanya kepelukan. Krisna mencium Ariana bibir Krisna menyentuh bibir Ariana lembut, mata Ariana membulat menerima ciuman mendadak Krisna. Mereka berciuman, entah berapa lama.
Jujur Ariana sudah biasa melakukan ini dengan Andre, namun dengan Krisna Ariana seperti remaja yang baru pertama kali melakukan ciuman. Tubuhnya gemetar, hatinya berdebar ia tidak pernah diperlakukan selembut ini. biasanya ia hanya dijadikan objek pemuas, tapi bukankah sama saja dicium dengan nafsu atau tidak ia sama-sama menjadi tempat pelampiasan. Lalu super ego Ariana muncul kembali, ia lagi-lagi mendorong Krisna. Matanya yang bulat menatap Krisna, masih tersisa air mata dipipi Ariana.
"Maafkan aku," ucap Krisna.
"Kamu benar-benar,,," Ariaana tidak bisa melanjutkan perkataannya, jujur ia bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. jujur ia senang tapi ada perasaan jijik terhadap dirinya sendiri yang lagi-lagi menjadi pelampiasan nafsu seorang pria. Kenapa tidak pernah ada pria yang menghormatinya sebagai seorang wanita?
"Maafkan aku, aku mohon." Ucap Krisna.
"Aku maafkan," Krisna menghembuskan nafas lega.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan," Krisna menatap Ariana dalam,
"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan,"
"Aku tahu, kamu merasakan rasa sakit yang mendalam."
Ariana terdiam, matanya balas menatap Krisna.
"Izinkan aku melindungimu, izinkan aku menjadi penghapus lukamu, dan izinkan aku menyembuhkan rasa sakitmu,"
"Aku merasa bertanggung jawab akan rasa sakit yang timbul di hatimu... Ariana"
"Kenapa kau peduli padaku?" Ariana menatap Krisna sendu, hatinya rapuh jujur ia tidak ingin percaya dengan perkata Krisna. Namun hatinya berkata lain, hatinya memaksanya untuk berada di samping Krisna. Hatinya berkata jika Krisna adalah pahlawannya, orang yang akan membawanya pergi dari dunia yang ia anggap kejam ini.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu,"
Tiga kata itu mampu melumpuhkan otak Ariana saat itu juga,,,
Kala itu malam hening, hanya angin berhembus... mata mereka saling memandang, mencari kebenaran akan rasa yang tercipta.
terbawa suasana.. memang benar, menikah karena surga Allah.. itu rasa nya beda, walau pahit di jlni, tp kita bisa pasrah..
terserah bagaimana Allah menjadikan kita seperti apa..
lanjut dong tor