Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Bermata Biru
Alea melangkah perlahan memasuki kastil megah milik Damian. Suasana di dalam kastil terasa begitu asing baginya. Aroma khas para Werewolf masih memenuhi setiap sudut bangunan batu itu, membuat wanita vampir tersebut tanpa sadar mengernyitkan hidung.
Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan rasa enggan yang sulit disembunyikan. Entah sampai kapan dia harus tinggal berdampingan dengan kaum Werewolf.
Kalau saja bukan demi Sonja, Alea tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki di tempat ini, apalagi hidup di bawah atap yang sama dengan ras yang selama berabad-abad menjadi musuh para vampir.
"Lea, kau dari mana saja?"
Suara ceria itu menghentikan langkah Alea. Elleanor sudah berdiri beberapa meter di depannya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Ada urusan yang harus kuselesaikan. Kenapa kau mencariku?" jawab Alea tenang, berusaha terdengar biasa.
Elle tidak langsung menjawab. Tatapan matanya justru menelusuri tubuh Alea dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian, seringai jahil menghiasi wajah cantiknya."Urusan cinta, maksudmu?"
Alea mengembuskan napas panjang sambil memutar bola matanya. Percuma menyembunyikan apa pun dari Elleanor. Indra penciuman vampir wanita itu terlalu tajam, ditambah lagi nalurinya memang luar biasa.
"Tubuhmu dipenuhi aroma Pangeran Alex," goda Elle sambil menyenggol pelan lengan sahabatnya."Kau pasti bertemu dengannya, kan? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa Pangeran baik-baik saja?" Pertanyaan itu meluncur begitu cepat hingga Alea bahkan tidak sempat menyela.
"Dia baik," jawab Alea akhirnya."Hanya saja, sepertinya dia masih berkabung atas kematian ayahnya. Kesedihan itu masih sangat jelas terlihat di wajahnya."
Senyum jahil Elleanor perlahan memudar. Keduanya terdiam beberapa saat."Apa Pangeran masih marah pada kita?" gumam Elle lirih. Ada rasa bersalah yang terselip dalam suaranya.
Alea menggeleng pelan."Awalnya dia memang cukup kesal saat bertemu denganku. Tetapi kemudian..." Kalimat itu menggantung. Pipi Alea nyaris terlihat memerah, namun ia memilih mengalihkan pandangan. Ia tahu benar, jika menceritakan kelanjutannya, Elleanor pasti akan menggodanya tanpa ampun.
"Kemudian apa?" desak Elle, matanya berbinar penuh rasa penasaran.
"Sudahlah. Lupakan saja. Yang terpenting sekarang, dia sudah mengerti alasan kita bergabung dengan Arthur."
"Alea..." Elle mendekat sambil tersenyum usil. "Aku mengenalmu sudah sangat lama. Semakin kau menyembunyikannya, semakin aku yakin ada sesuatu yang terjadi."
"Tidak ada."
"Bohong."
"Aku serius."
"Lea..."
"Apa Sonja belum keluar dari kamarnya?" tanya Alea cepat, sengaja mengalihkan pembicaraan.
Elleanor langsung mendengus kesal."Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat ceritakan padaku."
"Kemudian Alex dan Alea saling melepas rindu."
Suara berat yang tiba-tiba terdengar dari belakang mereka membuat kedua vampir itu langsung menoleh bersamaan. Arthur berdiri di sana dengan wajah tenang, sementara Sonja berdiri di sampingnya sambil tersenyum cerah.
Elleanor dan Alea sama-sama terkejut. Namun perhatian mereka seketika beralih kepada Sonja. Mata gadis itu kini berubah menjadi biru muda yang berkilau indah. Kulitnya yang dahulu hangat kini tampak jauh lebih pucat, menyerupai kulit para vampir.
"Sonja, apa yang terjadi dengan matamu?" seru Elleanor takjub."Astaga indah sekali." Tanpa sadar ia langsung menghampiri Sonja, melupakan rasa penasarannya terhadap Alea.
Sonja tersenyum malu."Aku juga tidak tahu. Waktu bangun tidur, tiba-tiba saja mataku sudah berubah seperti ini, Elle."
Elleanor memperhatikan wajah Sonja dari jarak sangat dekat."Bukan hanya matamu. Kulitmu juga mulai menyerupai kami. Apa kau sudah berubah menjadi..."
"Sonja hanya menyerap sebagian kekuatanku." Arthur memotong ucapan Elleanor sebelum pertanyaan itu selesai."Dia tetap manusia. Hanya saja sekarang tubuhnya memiliki kemampuan seorang vampir."
Elleanor berkedip beberapa kali."Luar biasa..." gumamnya penuh kekaguman."Aku bahkan belum pernah melihat hal seperti ini."
Sonja hanya tersenyum kecil, sementara kedua tangannya saling menggenggam. Ia sendiri masih belum sepenuhnya terbiasa dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
"Hari ini Sonja ingin berkeliling sekaligus mencoba kemampuan barunya," ujar Arthur kemudian. "Sayangnya aku memiliki urusan penting yang harus kuselesaikan."
Tatapan merahnya beralih kepada Elleanor."Temani dia. Yuno juga akan ikut bersama kalian."
"Aku juga akan ikut menjaga Sonja," ujar Alea cepat.
Arthur menggeleng tegas."Tidak."
Suasana langsung berubah hening."Yuno dan Elleanor sudah cukup."
Tatapan Arthur kemudian tertuju lurus kepada Alea."Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Jadi tetaplah berada di dalam kastil."
Alea hanya mampu menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak isi pembicaraan itu. Pasti mengenai Alex.
Di sisi lain, Arthur sebenarnya tidak lagi terlalu khawatir membiarkan Sonja berada jauh darinya. Ritual penyatuan darah telah menghubungkan jiwa mereka. Selama ikatan itu masih ada, Arthur akan selalu bisa merasakan keberadaan Sonja, bahkan mengetahui jika istrinya berada dalam bahaya.
"Baiklah, nona-nona cantik," sela Yuno yang baru saja datang sambil tersenyum lebar. "Kurasa kita sebaiknya berangkat sekarang sebelum Lord Arthur berubah pikiran." Ucapan santainya berhasil mencairkan suasana yang sempat menegang.
Sonja terkekeh pelan. Elleanor ikut tersenyum, sementara Alea hanya menggeleng kecil melihat tingkah Yuno. Namun sebelum mereka melangkah pergi, suara Arthur kembali terdengar, kali ini jauh lebih dingin.
"Aku titipkan Sonja kepada kalian." Tatapannya bergantian mengarah kepada Yuno dan Elleanor."Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya..." Aura mengerikan perlahan memenuhi ruangan."Nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya."
Yuno yang semula masih tersenyum langsung menelan ludah."Ba,baik, My Lord," jawabnya gugup.
Elleanor hanya menghela napas kecil sambil menggeleng."Dasar suami posesif."
Arthur tidak menanggapi. Tatapan tajamnya tetap tertuju kepada Sonja, seolah memastikan tidak ada seorang pun yang berani membahayakan wanita yang kini menjadi bagian dari hidup dan jiwanya.
***
Ketiga sosok itu melesat dengan kecepatan luar biasa, berpindah dari satu pohon ke pohon lain hingga hanya menyisakan embusan angin yang menggoyangkan dedaunan.
Yuno berada di garis terdepan, memimpin perjalanan sekaligus memastikan jalur yang mereka lewati aman. Sementara itu, Elle tetap berada di belakang Sonja, mengawasi setiap gerakan di sekeliling mereka. Mereka telah menerima satu tugas yang tidak boleh gagal. Menjaga keselamatan Sonja.
Awalnya Sonja sempat gugup, tetapi semakin lama ia justru menikmati sensasi luar biasa itu. Angin menerpa wajahnya, membuat rambut panjangnya menari bebas di udara. Dress pendek berwarna biru yang senada dengan kedua bola matanya ikut berkibar mengikuti setiap lompatan. Senyuman lebar tak pernah lepas dari bibir mungilnya."Aku masih tidak percaya bisa melakukan ini, Elle," ucap Sonja sambil tertawa kecil. "Rasanya seperti sedang terbang."
Elle yang melihat ekspresi bahagia sahabatnya ikut tersenyum hangat."Aku sudah bilang, kan? Tubuhmu sekarang jauh lebih kuat daripada manusia biasa. Lama-kelamaan kau akan terbiasa."
"Aku menyukainya!"
"Itu baru permulaan. Masih banyak kemampuan lain yang belum kau sadari."
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari rimbunnya hutan. Di hadapan mereka terbentang padang rumput hijau yang sangat luas. Hamparan rumput bergoyang lembut diterpa angin, sementara sinar matahari menyelimuti seluruh padang dengan cahaya keemasan yang menenangkan. Ketiganya pun berhenti.
Yuno menoleh ke arah Sonja, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat."Lakukan apa pun yang My Lady inginkan. Tempat ini aman untuk berlatih."
Sonja mengangguk pelan, meski masih merasa canggung mendengar panggilan itu.
Elle berjalan mendekati Sonja hingga berdiri tepat di sampingnya."Pejamkan matamu," bisiknya lembut.
Sonja langsung menuruti perkataan itu.
"Tenangkan pikiranmu, lalu berkonsentrasilah. Jangan gunakan matamu. Gunakan seluruh inderamu. Rasakan setiap kehidupan yang ada di tempat ini."
Sonja menarik napas panjang. Perlahan dunia di sekitarnya terasa berubah. Ia mendengar desir angin yang menyapu rerumputan. Mendengar kepakan sayap burung yang melintas tinggi di langit. Suara langkah-langkah kecil para hewan yang berlari di balik semak. Bahkan suara serangga yang merayap di antara dedaunan pun terdengar begitu jelas.
Senyuman kecil terukir di wajahnya."Aku bisa merasakan mereka."
"Bagus," puji Elle pelan. "Sekarang buka matamu."
Kelopak mata Sonja terbuka perlahan. Manik birunya langsung mengarah pada seekor kelinci putih kecil yang sedang bersembunyi di balik rerumputan tinggi. Hewan mungil itu sama sekali belum menyadari keberadaan mereka.
Elle tersenyum tipis."Kau bisa menangkapnya."
Sonja menoleh."Benarkah?"
Elle mengangguk mantap."Dengan kecepatanmu sekarang, itu sangat mudah."
Yuno ikut menyahut dari belakang."Jangan ragu, My Lady. Fokus pada targetmu."
Sonja mengembuskan napas pelan."Baik, aku akan mencobanya."
Dalam sekejap tubuhnya menghilang dari tempat semula.
Wuussh!
Hanya embusan angin yang tertinggal. Sesaat kemudian Sonja sudah kembali berdiri di tempatnya semula sambil mendekap seekor kelinci putih yang tampak kebingungan."Aku berhasil!" serunya penuh kegembiraan.
Elle tertawa kecil."Lihat? Kau jauh lebih hebat daripada yang kau kira."
Sonja mengusap bulu halus kelinci itu dengan penuh kasih sayang."Lucunya..."
Kelinci kecil itu hanya menggerakkan hidung mungilnya tanpa berusaha melarikan diri. Melihat pemandangan itu, Yuno ikut tersenyum tipis. Namun tak lama kemudian pria itu kembali menatap Elle.
"Jangan tidak sopan begitu, sayang," katanya santai."Panggil dia dengan sebutan My Lady."
Elle langsung memutar bola matanya kesal."Sonja. Aku akan tetap memanggilnya Sonja."
"Itu tidak pantas."
"Menurut siapa?"
"Menurutku."
Elle mendengus pelan."Dia sahabatku. Dia sendiri tidak keberatan. Kenapa justru kau yang sibuk mengurusinya? Dasar bodoh."
Yuno sama sekali tidak tersinggung. Sebaliknya, senyum tipis justru muncul di sudut bibirnya."Kau memang keras kepala."
"Memangnya kenapa?"
"Aku sangat menyukai wanita yang keras kepala."
Elle spontan memasang wajah jijik."Sayang sekali."
"Sayang?"
"Aku sama sekali tidak menyukaimu."
Yuno terkekeh pelan."Benarkah?"
"Benar."
"Itu tidak masalah."
Pria itu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti. Tatapan matanya terkunci pada wajah Elle yang mulai kesal."Karena cepat atau lambat..." Yuno menyunggingkan senyum penuh percaya diri."aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."
"Percaya diri sekali."
"Aku memang selalu percaya diri."
Elle mendecak kesal."Bermimpilah terus, Yuno." Dia mendorong pelan dada pria itu agar menyingkir dari hadapannya."Minggir!"
Tanpa menunggu jawaban, Elle segera berbalik dan berjalan cepat menghampiri Sonja yang masih asyik mengelus kelinci putih di pelukannya. Sementara itu, Yuno hanya menatap punggung wanita tersebut dengan senyum yang semakin lebar.
"Dasar pria idiot," gerutu Elle lirih.
Meski mendengar ucapan itu, Yuno sama sekali tidak marah. Baginya, melihat Elle kesal justru terasa menggemaskan. Dan entah sejak kapan, wanita keras kepala itu selalu berhasil membuat sudut bibirnya terangkat tanpa alasan.