Perempuan adalah permata hati dan berlian yang sungguh sangat indah, menawan. Aku adalah laki-laki sederhana yang tidak memiliki paras sempurna atau harta melimpah, yang kupunya hanya segenggam hati yang terpatri dan hanya tertulis satu nama Risna Anzalea Farizal, berlatar keluarga sempurna kalangan aparat. Apalah dayaku yang bukan siapa-siapa dengan perbandingan jauh dibawahnya, kekasih hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang Berpikir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TA7 Mahasiswi gila
"Ti tidak. Aku gak sakit!"
Terdiam sejenak. Suara deru mesin honda terus merongrong seiring pedal gas yang terus masih saja berputar.
"Sayangg!" Lirih panggil mendayu perempuan dibalik telpon itu "sayang kenapa diam. Sayanggg ketemuan yuk!"
"Boleh sayang. Tapi aku lihat jadwal kerjaku dulu ya!"
"Terima kasih sayang," girang perempuan itu.
...###...
Wanita yang baru saja menginjak usia dewasa itu yang sekarang beralih status menjadi seorang mahasiswi, duduk diantara barisan kursi yang juga diduduki para mahasiswi lainnya.
Barisan kursi paling belakang, kolom tengah bersebelahan dengan mahasiswa. Mahasiswi bernama lengkap Risna Anzalea Farizal yang kini sudah berusia sembilan belas tahun begitu sibuk memutar pulpen diantara sela-sela jarinya.
Suara, kata-kata, berbentuk kalimat terucap samar di depan sana. Membosankan, batin Risna berteriak. "Apalah bapak itu ngomongnya gak jelas jangankan kami yang dibelakang, untuk telinganya sendiri kurasa tidak kesampean suaranya itu," lirih Risna menatap datar infokus yang menampilkan power point (ppt) di depannya.
Mahasiswa/i yang duduk bersebelahan dengan Risna seketika menolah ke arah Risna kala lirihan Risna belum selesai terucap. Sang mahasiswa itu mengulum senyum, mengalihkan pandangan ke lain arah, mengusap ujung hidungnya yang tidak gatal yang kemudian merapikan rambut panjangnya yang terikat karet warna hitam.
Sedangkan mahasiswi, sebelah kanan Risna dengan lancang menepuk kasar punggung badan Risna sambil tawanya yang pecah seketika.
Risna memelototkan matanya, reflek menurunkan kakinya yang sengaja ia lipat, duduk bersila, di atas kursi. Apa yang kamu lakukan, geram ucap Risna tanpa mengeluarkan suara.
Si mahasiswi yang sering dipanggil dengan sebutan nama Opa itu bukannya berhenti malah semakin menjadi-jadi. Memukul mukul meja yang tersambung dengan kursi itu dengan kegirangan.
Tiga puluh sembilan orang mahasiswa/i mengalihkan atensi mereka ke belakang menatap Risna yang sudah memajang wajah datar sedangkan Opa masih tertawa, terlupa di mana posisinya sekarang.
Hening dan senyap begitu mendominasi.
Decitan halus terdengar dari bibir Risna, "Pa!" Lirih panggil Risna memberikan kode untuk menghentikan tawanya.
Opa setan, monolog Risna dalam kecepatan sekedip mata Risna melayangkan tangannya dan mengenai tengkuk leher Opa "diam," ucap tertahan Risna, memelototkan matanya.
Napas yang seharusnya berderu teratur kini malah terasa tertahan.
Laki-laki dengan stelan kemeja batik lengan panjang dan juga celana kain hitam, tidak lupa kacamata kecil andalannya yang terpajang di jidat mengkilatnya itu. "Keluar kalian berdua," ucapnya keras, muka memerah walau kulitnya itu berwarna coklat.
Napas Opa dan Risna seakan terhenti terlebih Opa yang belum juga bisa mengenali keadaan yang sedang dilewatinya.
Hels pendek yang Risna kenakan terpijak kuat, sekuat tenaga menahan rasa kesal luar biasa pada rekannya "Maaf pak," ucap Risna tulus, meletakkan tangan kanannya di dada dan membungkuk singkat sebelum benar-benar ia dan Opa keluar dari ruangan. Sedangkan Opa hanya menunduk, memegang lengan Risna mengekor, ketakutan.
"Tunggu!"
Tidak ada kata sebagai jawaban, hanya saja Risna berhenti melangkah, membalikkan badan, menatap langsung ke bola mata dosennya itu.
"kamu buka kontrak mata kuliah, buatkan masing-masing sub tema dalam bentuk makalah dan ppt. Ingat harus detail. Mulai pertemuan selanjutnya kamu yang mengajar, sayang yang jadi mahasiswanya.
"Baik pak. Terima kasih," sedikit senyuman terukir di wajah Risna. Minimalnya aku aman di nilai nanti, pikirnya.
Dalam derap langka yang Risna tapaki, Risna bisa merasakan getaran di lengannya akibat cengkraman Opa.
Bangunan klasik bagai perumahan belanda yang bagian tengah terdapat aspal hitam mulus, bagian trotoar terdapat jejeran motor para mahasiswa dan mahasiswi, satu dua ada kendaraan milik dosen ataupun milik mahasiswa/i.
Gerombolan monyet bergelantungan di ranting-ranting pohon besar yang sengaja di tanam di sepanjang jalan, pinggiran trotoar.
"Lepaskan!" Menghempaskan tangan Opa kasar.
Opa yang tidak siap malah terhuyung dan hampir jatuh.
"Lancang kamu ya. Kamu siapa berani-beraninya sok akrab denganku, bahkan untuk ngobrol intens saja tidak pernah. Gila kamu ya, ngapain kamu tadi di dalam. Mau buat nilaiku anjlok. Iya,!" Menunjuk.
Tidak ada jawaban yang terdengar hanya saja pandangan Opa yang menunduk semakin dalam.
"Bagaimana bisa kamu masuk ke Universitas yang terakreditasi A ini tapi pola pikirmu yang tidak normal. Entah orang yang ngedidikmu yang bodoh, entah kamu sendiri yang sudah gila!"
"Rissss," lirih panggilnya.
"Gak usah sok akrab. Kamu bukan siapa-siapanya aku!"
Kulit sawo matang Risna menjadi kemerahan di bagian pipi terlebih lagi urat besar menonjol sampai dua garis di dahinya itu. Matanya sedikit melotot dan salah satu tangan tergenggam keras, menahan diri agar tidak melayangkan tinju ke wajah rekannya, Opa yang menampilkan wajah paling tersakiti dan paling tersiksa.
Cuplikan Bab Selanjutnya -->
"Anak siapa lagi yang kamu bodohi kali ini, Fariz?" Melipat
sehat selalu untuk kakak thor yaang cantik and maniss😘😘😘🤗🤗🤗
masuk banget sama realnyaa
terbaik thor....semangat teruss🥰🥰🥰😘😘😘
update lagi...
thanks thoor🥳🥳🥳🥳🥰🥰🥰
Penasaran nih, kelanjutannya