"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."
Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.
Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
Tuan Ludwig bicara dengan santai, "Ahhh...Soal itu ya,"
Shanti terkejut, Ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tuannya yang begitu dekat dengannya sekarang. Terlalu dekat!!, Shanti sedikit mundur dari tempatnya. Tetapi tubuhnya sudah tidak bisa bergerak karena di belakangnya meja, Ia juga terjingkat di saat kedua tangan tuannya tiba-tiba menghalanginya di setiap sisi. Terjebak, Shanti tidak bisa bergerak sedikitpun.
“Saat itu saya sedang melakukan pekerjaan dan tidak sengaja terluka karena terkena tebasan dari senjata tajamnya dari orang itu,”
"Tuan Ludwig," Lirih Shanti.
“Menarik, bukan?” lanjutnya, nadanya kini penuh dengan penekanan dan makna rahasia. “Betapa kecilnya dunia yang kita tinggali ini. Kamu datang ke kediamanku ini tanpa tahu, bahwa kita sudah bertemu seminggu yang lalu. Di gerbong kereta itu, Shanti.”
“Maafkan saya, Tapi saya benar-benar tidak bisa mengenali jika orang itu adalah Tuan.” Kata Shanti, Sembari ia memalingkan pandangannya ke arah lain. “Lalu, bagaimana dengan luka tuan waktu itu?? Apakah tuan sudah mengobatinya dengan benar.”Gugup Santi.
"Ppfftt..." Tuan Ludwig terkekeh melihat Shanti yang memalingkan wajahnya dengan gugup seperti itu, Ia pun segera menarik tangannya yang membatasi gerakan Shanti. “Aku selamat berkatmu Shanti, Aku langsung memanggil dokter saat itu juga.” Sembari ia membuka lengan kemeja yang ia pakai.
“.....*
“Dokter sudah mengobati saya dengan baik dan menjahit lukanya, Weet je wat de dokter eerder tegen mij zei Shanti??( Apa kau tahu apa yang dikatakan dokter itu sebelumnya padaku Shanti??)”
Shanti menggelengkan kepalanya, “Tidak, Tuan.”
“De dokter zei tegen me: "Het is maar goed dat de wond zo strak verbonden was. Als hij toen open was gebleven, had ik misschien gestikt door gebrek aan bloed. (Dokter itu bilang padaku, Untung saja luka itu dibalut dengan begitu erat. Jika luka itu tetap terbuka saat itu, Mungkin aku sudah mati lemas kekurangan darah.)” Kata Tuan Ludwig, Sembari Ia menunjukkan luka jahit yang belum sepenuhnya kering di lengannya yang kekar.
“Ah, Syukurlah kalau tuan sudah mengobatinya.” suaranya kini sedikit lebih tinggi dari biasa. Tiba-tiba, perut Shanti terasa dingin. Sebuah rasa ngeri tipis kini menjalar di kulitnya, membayangkan benda tajam yang membuat luka mengerikan itu, dan bagaimana Tuan Ludwig menahan sakitnya. Di matanya, Tuannya itu selalu terlihat begitu kokoh dan tak terganggu oleh apapun. Seolah tidak ingin berlama-lama menatap bekas luka yang terasa terlalu intim itu, Shanti segera mencari jalan keluar.
“Ekhem, Tuan Ludwig.”
Aku harus mengalihkan pembicaraan sebelum dia mengatakan sesuatu dan bertanya lebih jauh atau, lebih buruk lagi. Aku harus kembali ke alasan utama kenapa aku masih ada di ruangan ini tadi setelah mengantarkan makanannya ke sini. Ia mengalihkan pandangannya dari lengan tuan Ludwig ke arah berkas-berkas yang ada di meja.
“Bukannya Tuan ingin dibacakan surat tadi?? Saya akan membacakan isi surat itu sekarang,” Ucap Shanti, ia pun membawa surat yang ada di tangannya itu duduk di kursi kayu tempat dimana sebuah peta besar tengah terpajang di atas meja dengan berbagai coretan disana. “Apakah ini bagian pekerjaan milik tuan?? Tapi ini hanya peta yang dicoret dengan tinta berwarna merah dan hitam saja.”
Tuan Ludwig menarik nafas, seolah kembali dari sebuah ingatan yang jauh. Ia kembali menggulirkan lengan kemejanya ke bawah, menyembunyikan jahitan itu di balik kain tebal. Kembali mengambil penggaris kayunya dan bersandar ke meja besar dengan satu tangannya tempat peta. “Bacakan saja sekarang, Pekerjaanku belum selesai. Aku bisa mendengarnya dari sini, Bacakan saja keras-keras.”
Shanti pun memecahkan cap lilin merah tua dengan hati-hati. Aromanya begitu manis, seperti madu dan tembakau yang sering ia rasakan saat di ladang. Ia pun menarik keluar kertas tebal, yang pinggirannya sudah menguning karena jarak dan waktu.
... ...
...Kepada Yang Mulia Tuan Ludwig van Der Hauotten...
... ...
...Tuan Ludwig yang baik, sudah terlalu lama sejak telegram terakhir sampai di sini. Kami sangat gembira mendengar bahwa segala urusan di Hindia Belanda berjalan lancar, dan kesehatanmu setelah peristiwa yang mengkhawatirkan itu, kini kuharap tuan baik baik saja sekarang ini....
... ...
...Tujuan surat ini adalah untuk menyampaikan rasa terima kasih mendalam kami, sekaligus permohonan kecil. Seperti yang kau tahu, berkat kebaikan dan bantuanmu bisnis keluarga kami berhasil bangkit kembali. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana kau mempertaruhkan reputasi di dewan hanya untukku, saat semua orang menarik diri. Hutang budi ini takkan pernah terbayar, Ludwig....
Shanti berhenti sejenak, menelan ludah sembari ia melirik ke arah Tuan Ludwig tampak tenang. Jadi, itu sebabnya dia begitu kaya dan berpengaruh, dia bahkan membantu perusahaan-perusahaan di negeri asalnya.
Shanti pun melanjutkan dengan membuka lembaran kedua surat itu, dengan suaranya yang kini sedikit melunak:
...Oleh karena itu, Nyonya van Deventer dan aku memutuskan untuk mengadakan pesta perjamuan kecil pada tanggal 20 Desember mendatang, untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-25, sekaligus peresmian salah satu kapal baru kami—yang kami beri nama 'Ludwig'....
... Kami dengan hormat mengundang anda untuk datang ke Batavia, meskipun hanya sebentar. Kami sangat merindukan kehadiranmu dan ingin mengenang masa-masa lama sambil berbagi segelas anggur di tepi Sungai Maas....
...Kami telah mengatur akomodasi dan tentu saja biaya perjalanan penuh. Datanglah, Ludwig. Anggaplah ini sebagai liburan yang pantas kau dapatkan setelah sekian lama bekerja keras di daerah tropis....
...Hormat kami dan salam hangat selalu,...
...Max van Deventer....
Shanti menurunkan surat itu perlahan ke meja. Keheningan segera menyelimuti ruangan, hanya diselingi suara derungan jangkrik dan kodok di luar.
“Hutang budi, ya?” Tuan Ludwig bergumam, tanpa menoleh sedikitpun.
“Maaf tuan, Bukannya ini surat yang penting ya. Kenapa tuan menyuruh saya untuk membacakannya.” Ucap Shanti.
“Itu hanya surat biasa bagiku, Tidak penting.” Singkat tuan Ludwig, Mata hijau tuan Ludwig kini tampak menerawang jauh, seolah ia sedang melihat dermaga pelabuhan alih-alih pohon beringin di pekarangan rumah. Tuan Ludwig akhirnya menoleh ke arah Shanti, sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya.
“ ……”
“Soal tadi aku menyentuhmu, Aku hanya bercanda. Aku kira kau akan menjerit atau berteriak tadi, Tapi kamu begitu tenang. Kamu bisa pergi ke kamarmu sekarang,” Kata Tuan Ludwig, Shanti pun langsung bangkit dari tempatnya duduk. Ia meletakkan surat itu dan mengambil nampan kosong itu keluar dari ruang kerja Tuan Ludwig dengan sangat terburu- buru, Seperti sedang dikejar oleh sesuatu.
...___...
Brakkk...Ceklek....Ceklek....
Shanti mengunci pintu kamarnya dan bersandar di balik pintu, Ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya yang sekarang memburu. Shanti terlihat menggigil, meskipun udara malam itu tidak begitu dingin. Ia berjalan ke ranjang tempatnya tidur dan duduk di tepinya dengan memeluk tubuh tubuhnya sendiri. Seluruh tubuhnya kini merinding ketika mengingat saat-saat tuannya yang tengah mengusap kedua lengannya dengan gerakan sensual, "Tenangkan dirimu Shanti, "
'Lupakan saja apa yang terjadi tadi, Jangan terlalu di pikirkan sekarang.'
“Tuan bilang hanya bercanda tadi, Anggap saja tuan tadi tidak pernah melakukan hal semacam itu. Lebih baik sekarang tidur saja, Besok kamu harus bangun pagi untuk bekerja di kediaman ini. Jangan memikirkan hal yang aneh, demi obat ibu!!” Shanti segera beranjak dari tempatnya, Ia mengambil gelas dan menuangkan air dari teko yang terbuat dari keramik di meja tempatnya tidur. Ia meminum air yang penuh di gelas itu dalam beberapa teguk saja, Hingga ia akhirnya memilih untuk naik ke ranjangnya dan menutupi seluruh bagian dirinya dengan selimut. Entah lelah atau apa di hari ini, Tidak butuh waktu yang lama hingga Shanti tidur dan terlelap, Di dalam kamarnya yang hanya ada cahaya dari lampu minyak yang menyala. Tidak ada yang aneh dari kamar itu, Sebelum ada sebuah bayangan muncul dari sela-sela bawah pintu, Cklek...Cklek.
Terdengar suara kunci, dan terlihat knop pintu berputar dan pintu terbuka. Disana terdapat sosok bayangan pria yang berjalan masuk menuju ke ranjang tempat Shanti tidur.
Sosok itu berdiri berdiri di tepi ranjang, Memperhatikan wajah Shanti yang tertidur pulas hingga tak menyadari kehadiran sosok itu. Sosok itu pun duduk di tepi ranjang, Ia mengangkat tangannya dan mengusap kepalanya dengan begitu lembut. "Bahkan saat dia tidur sekarang, Dia terlihat cantik di kegelapan. Sama saat pertama kali aku bertemu dengannya di gerbong kereta," Gumam sosok itu.
Sesaat gorden kamar itu bergerak karena terkena hembusan angin, Dan ikatan kilatan cahaya mulai menembus jendela itu. Lampu minyak yang menjadi sumber utama penerangan di kamar ikut bergoyang-goyang, Menyoroti sebagian wajah dari sosok yang berada di sisi ranjang itu terlihat. Sepasang mata hijau dan rambutnya yang hitam kemerahan.
JeeDderrrr
Terdengar suara petir yang begitu menggelegar, Tetapi Shanti tidak bergerak sedikitpun dari tidurnya. Sosok melirik arah gorden yang melambai-lambai, Lalu perlahan ia naik ke ranjang dan menyisir lembut rambut hitam Shanti yang panjang dan tergerai, Smirk kecil terlihat di dalam kegelapan itu. Sosok itu merebahkan dirinya di samping Shanti sembari memainkan rambut panjang itu. Suara guntur terus terdengar keras dan suara hujan mulai turun begitu deras, Tapi tampaknya Shanti tidak bergeming sedikitpun dari tidurnya.
Sosok itu mengangkat sebagian rambut Shanti yang panjang, membawanya ke hidungnya, menghirup aroma tanah dan minyak kelapa yang masih melekat, bercampur dengan wangi sabun mahal yang ia sediakan. Ini adalah aroma yang ia cari aroma ketenangan di tengah hiruk pikuk kekuasaannya.
Sosok itu adalah tuan Ludwig, ia menghabiskan beberapa waktu di kamar itu hanya untuk memainkan dan menyisir lembut rambut Shanti dengan jarinya, mengklaim kepemilikan yang hanya diketahui olehnya. Ludwig tersenyum kecil. Senyum itu dingin dan puas. Di tengah kegelapan dan badai malam itu, mata hijaunya tampak lebih bersinar dengan kilau yang penuh perhitungan dan hasrat. Ia tidak mendekat dengan tergesa-gesa, ia hanya mengamati dan menikmati fakta bahwa ia bisa berbaring di sana, di tempat paling pribadi Shanti, tanpa sepengetahuan gadis itu. Itu bukan sentuhan nafsu yang terburu-buru, melainkan sentuhan seperti seorang kolektor yang memeriksa harta paling berharganya. "Hanya aku yang bisa melihatmu seperti ini,” pikir Ludwig. “Hanya aku yang boleh menyentuhmu saat kau tidak tahu."
“Maafkan saya jika membuat kami takut tadi,” Bisiknya, Ia menyentuh kulit pipi Shanti dengan punggung jarinya, sebuah sentuhan seringan seperti sayap kupu-kupu. “Cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku,”