NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Yang di Cari

Mobil itu berhenti tepat di halaman rumah Hendra.

Suara Mesinnya perlahan mati.

Arman yang sejak tadi merasa yang mengancam rumah Hendra, sekarang wajahnya berubah jadi pucat, seolah sekarang dia yang terancam.

Hendra yang melihat reaksi Arman langsung menyahut.

“Kenapa Man? Kok kaya orang ketakutan gitu”

Arman tidak menjawab,ia masih terpaku di tempatnya.

Pak Bambang ikut melihat mobil itu.

“Ada apa sih , sampai segitunya.”

Arman masih diam.

“Kalau aku kasih tahu nanti kamu juga akan takut sepertiku”

Hendra ikut merinding.

“Sebenarnya siapa sih orang itu?”

“Itu bos mafia kota ini, dan itu juga bosku sekarang.”

Husnan ikut melihat mobil itu dari jendela, ia sedikit melihat bayangan tubuh seseorang dari kaca mobil depan.

“Kok kaya aku pernah melihat orang itu” gumam Husnan dalam hati.

Arman langsung bergegas keluar menuju ke mobil tersebut.

Arman menghampirinya dengan harapan ia tidak masuk kedalam rumah.

Sesampainya disana ia langsung membuka pintu mobilnya yang tidak terlihat dari dalam rumah.

Dari kejauhan Hendra, Bambang dan Husnan melihat Arman yang sedang mengobrol dengannya.

“Maaf pak , kayanya orang yang anda cari tidak di sini”

Pria di dalam mobil hanya mengangguk.

“Ya sudah kalau begitu,aku pergi dulu dan kamu jangan ganggu orang yang punya rumah ini.”

“Memangnya kenapa pak?”

“Aku kira ini orang yang mengadopsi anakku.”

Arman mengangguk, kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah Hendra.

“kenapa dia kemari ?”tanya Hendra.

Arman menghela napas.

“Dia itu bos aku, dia sedang mencari keluarganya.”

Husnan langsung merinding, seolah ia yang sedang dicari.

“Lah kenapa mencarinya?”

“Karena ia pergi dari keluarganya dengan alasan yang sama sekali orang tidak tahu.”

“Lalu kenapa dia tidak datang ke rumah keluarganya?”

“Katanya keluarganya sudah pindah, rumah itu sekarang jadi kosong.”

Perasaan Husnan menjadi tidak tenang mendengar perkataan Arman.

“ sudah ya Hendra, aku minta maaf”

“Maaf kenapa?”

“Karena aku kira kamu mengadopsi anak bosku.”

“Oh berarti kamu mengganggu ku itu perintah bosmu?”

Arman hanya mengangguk.

“Ya sudah,kita damai.”

Tak lama kemudian, jam dinding menunjukkan hampir pukul tujuh.

Pak Bambang yang melihat jam dinding langsung menghampiri Husnan.

“Ayo Hus ke sekolah.”

Husnan mengangguk lalu mengambil tasnya di kamar.

Sesudah mengambil tas, ia masuk kedalam mobil yang digunakan pak Bambang.

“Ayo pak”

“Iya, ayo Hus.”

Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah.

“Syukurlah Arman tidak membuat masalah.” Ucap Pak Bambang.

“Iya pak, tapi aku kok malah kepikiran sama bosnya Pak Arman.”

“Kepikiran kenapa?”

“Aku merasa mengenalinya orang yang di dalam mobil.”

“Kamu itu paling lagi banyak pikiran,jadinya salah tangkap.”

Husnan hanya mengangguk.

Tak lama kemudian, mobilnya sudah sampai di depan sekolah.

“Belajar yang rajin ya Nak, jangan mikirin hal yang kamu tidak tahu.”

“Baik Pak” 

Husnan pun berjalan masuk kedalam sekolah.

Ia terus berjalan menuju ke dalam sekolah. Namun pikirannya masih tertuju pada orang yang berada di dalam mobil tadi.

Ia merasa pernah melihat orang itu, tetapi ia tidak bisa mengingat di mana.

“Siapa sebenarnya orang itu?” gumam Husnan pelan.

Sesampainya di kelas, Husnan melihat Fajar dan Ferdi sudah berada di bangku masing-masing.

“Hus, tumben kamu datangnya agak telat,” ucap Fajar.

“Iya, tadi ada sedikit urusan di rumah.”

Ferdi langsung menoleh.

“Urusan apa? Jangan-jangan ada masalah lagi?”

“Enggak kok.”

Husnan langsung duduk di bangkunya.

Fajar memperhatikan wajah Husnan.

“Kamu kelihatan banyak pikiran.”

Husnan terdiam sebentar.

“Aku tadi melihat seseorang di rumah.”

“Siapa?”

“Aku juga tidak tahu. Dia datang mencari keluarga.”

Ferdi langsung ikut penasaran.

“Terus?”

“Katanya keluarga itu sudah pindah.”

Fajar mengerutkan dahi.

“Terus kenapa kamu kepikiran?”

“Aku merasa pernah melihat orang itu.”

Ferdi tertawa kecil.

“Jangan-jangan kamu pernah lihat di mimpi.”

Husnan langsung menatap Ferdi.

“Bisa serius sedikit enggak?”

“Iya, iya. Aku cuma bercanda.”

Fajar kemudian bertanya,

“Orang itu masih ada hubungannya sama Om Hendra?”

Husnan menggeleng.

“Katanya dia bosnya Pak Arman.”

Fajar langsung terdiam.

“Pak Arman?”

“Iya.”

Ferdi yang mendengar nama itu langsung ikut mendekat.

“Bukannya Pak Arman yang kemarin datang mencari kamu?”

Husnan mengangguk.

“Iya.”

Mereka bertiga saling berpandangan.

Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, Bu Guru masuk ke kelas.

“Sudah, semuanya duduk. Pelajaran akan dimulai.”

Para murid langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Husnan membuka bukunya, tetapi pikirannya masih sulit berkonsentrasi.

Ia terus mengingat perkataan Arman.

“Aku kira orang ini yang mengadopsi anakku.”

Kalimat itu membuat Husnan kembali berpikir.

“Anaknya siapa,kalau aku gak mungkin sih karena dulu saat ayah pergi ,aku dan Hasan Sedang tidur dan kata ibu ayahnya sudah meninggal dunia, apakah ibu juga menyembunyikan sesuatu soal ayah?” gumamnya dalam hati.

Ia kemudian teringat ucapan Arman bahwa bosnya sedang mencari keluarganya.

Husnan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Sementara itu, di rumah Hendra, Arman masih berdiri di ruang tamu.

Hendra menatapnya dengan serius.

“Man, sebenarnya aku masih belum percaya dengan cerita kamu.”

“Cerita yang mana?”

“Bosmu mencari keluarganya. Kenapa sampai datang ke sini?”

Arman terdiam.

“Karena dia yakin keluarganya masih ada di sekitar sini.”

Hendra mengerutkan dahinya.

“Kenapa dia bisa yakin?”

Arman menarik napas panjang.

“Karena beberapa hari lalu dia mendapatkan informasi baru.”

“Informasi apa?”

Arman tidak langsung menjawab.

“Dia menemukan sebuah nama.”

Hendra langsung menatapnya.

“Nama siapa?”

Arman memandang Hendra dengan serius.

“Nama yang mungkin tidak ingin kamu dengar.”

Hendra terdiam.

“Siapa?”

Arman mendekat dan berkata pelan,

“Nama itu adalah... Husnan.”

Wajah Hendra langsung berubah.

Arman memperhatikan reaksinya.

“Sekarang kamu mengerti kenapa aku datang ke sini?”

Hendra tidak menjawab.

Ia hanya menatap Arman dengan wajah penuh kekhawatiran.

Sementara itu, tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang masih memperhatikan rumah Hendra dari kejauhan.

Orang itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

“Aku sudah menemukan rumahnya.”

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

“Jangan lakukan apa-apa. Tunggu sampai Husnan pulang.”

Orang itu tersenyum tipis.

“Baik.”

Dan tanpa diketahui Husnan, seseorang sudah mulai menunggunya di luar sekolah.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!