PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
SELAMAT MEMBACA!
***
Erwin memberhentikan mobilnya pada parkiran sebuah bar. Ia lalu keluar dari mobilnya dan masuk kedalam tempat malam itu.
Erwin mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang yang tadi sore mengajaknya kesini.
"Lo lama amat!" cibir Tio, sahabat Erwin yang kerjaannya cuma hura-hura.
"Eh, gue gak sama seperti elo yah gak ada kerjaan," ejek Erwin membuat Tio tersedak minumannya.
"Iya-iya pak pengusaha," balas Tio terkekeh. "Eh, btw istri lo ngizinin gak?" selidik Tio.
"Emang dia siapa yang harus gue minta izinin dulu? Terserah gue mau ngapain aja ini hidup gue!" tegas Erwin membuat Tio membelalakan matanya.
"Gila! Lo bilang siapa? Dia itu istri lo bro! She is your wife!" balas Tio dengan menekankan kata istri.
"Bodoh amat!" kata Erwin lalu mulai memesan minuman favoritnya.
Tio hanya geleng-geleng kepala melihat Erwin yang nampak acuh tak acuh pada istrinya. Padahal jika Tio lihat mereka sangatlah cocok dan serasi, tapi yah gimana lagi kalau orang berhati batu. Mau bicara sepajang apapun kita dia tidak akan mendengarkan apa yang kita ucapkan.
***
Sementara itu di rumah mereka, Delima sudah menggigil kedinginan. Erwin sudah pergi dua jam dan tidak juga kembali.
Apakah dia ingin membunuh Delima dengan cara seperti ini?
Bibir Delima sudah gemetaran karena dingin. Wajahnya pucat. Seharian dia belum makan dan sekarang dia harus berendam dalam kurung waktu yang tidak ditentukan.
"Ya allah," ucap Delima dengan bibir gemetarannya.
Mbok Tini sedari tadi masih melakukan tugasnya. Dia sengaja memperlambat pekerjaannya harap-harap majikan perempuannya itu turun dari sana agar bisa memberinya makan tanpa sepengetahuan majikan laki-lakinya itu.
"Apa terjadi sesuatu dengan nyonya?" gumam mbok Tini menerka-nerka.
"Ya allah lindungilah nyonya. Dia wanita yang sangat baik," doa mbok Tini.
Deru mesin mobil membuat konsentrasi mbok Tini terganggu. Dia pun berjalan menuju pintu guna membukakan pintu untuk orang yang datang tersebut.
Ceklek!
"Selamat malam tuan dan nyonya," sapa mbok Tini saat melihat siapa yang datang. Mereka adalah kedua orangtua Erwin.
"Malam mbok," balas mereka berdua.
"Silahkan masuk tuan, nyonya," imbuh mbok Tini membukakan pintu lebar-lebar untuk mereka.
"Kok sepi mbok? Dimana Erwin dan Delima?" tanya Papa Ardi setelah melangkahkan kakinya memasuki rumah putra dan menantunya itu.
"Iya mbok, kemana mereka berdua?" timpal mama Isnah.
"Tuan keluar tadi belum balik-balik, sedangkan nyonya dari tadi juga tidak pernah keluar dari kamarnya. Saya khawatir terjadi apa-apa dengannya, tapi saya tidak diizinkan untuk masuk kedalam kamar mereka. Seharian ini nyonya belum makan, saya takut dia jatuh pingsan didalam sana," ujar mbok Tini dengan nada cemasnya.
"Baiklah biar mama cek dulu yah pah!" seru mama Isnah lalu naik ke lantai dua.
"Mau saya bikinkan minum tuan?" tanya mbok Tini pada papa Ardi yang sudah duduk di sofa.
"Kopi aja mbok," jawab papa Ardi.
"Baik tuan," balas mbok Tini berlalu menuju dapur.
***
Ceklek!
Mama Isnah membuka kamar putra dan menantunya.
"Sepi, tidak ada siapapun disini. Namun tadi kata mbok Tini Delima belum keluar kamar, lantas dimana dia?" gumam mama Isnah sambil masuk kedalam kamar itu.
"Del! Delima!" panggil mama Isnah, namum tidak disahuti oleh Delima.
"Apa dia di walk in closet sedang berganti pakaian?" terka mama Isnah lalu berjalan menuju walk in closet, namun nihil Delima tidak ada didalam sana.
"Kemana anak itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Suara gemercik air dari dalam kamar mandi mengalihkan perhatiannya untuk menatap kearah kamar mandi.
Mama Isnah pun berjalan mendekat, " Del! Apa kau ada didalam?" panggil mama Isnah, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam sana.
Semua pikiran buruk kini bergerilya dikepalanya. Mama Isnah cemas, takut terjadi apa-apa dengan menantunya itu.
Dengan perasaan was-was, mama Isnah lalu membuka pintu kamar mandi.
Deg!
Mata mama Isnah membulat sempurna saat melihat keadaan Delima yang sudah seperti mayat dibawah guyuran air shower.
"Delima!!" teriak mama Isnah lalu berlari menghampiri Delima.
***
SLOW UP YAH😊
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA🤗
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘